
“Ini seperti penghinaan bagi keluarga Yuda.” Bagas sedang berada di ruang kerjanya, menatap jendela yang berhadapan dengan taman dan kolam renang.
Malam ini dia baru tiba setelah seharian beraktivitas mengurus usahanya dan orang yang ditugaskan mencari tahu tentang seseorang sudah menunggu dan hasil laporannya sangat mengejutkan bagi pria itu.
Bagaimana dia tidak menganggap penghinaan kalau Cakra yang dia lihat sedang bersama seorang perempuan di mall dan perempuan itu adalah Arini putri dari asisten rumah tangganya. Bagas mengeraskan rahangnya menyadari Arini adalah salah satu guru di sekolah Cakra walaupun statusnya hanya magang.
Bukan hanya itu saja yang membuat Bagas emosi, Bik Elah ibu dari Arini yang mengabdi sejak lama bahkan tempat yang mereka tinggali saat ini adalah pemberian Bagas. Bahkan sering pula Bagas memberikan tambahan uang karena tahu putri Bik Elah sedang kuliah di luar kota. Namun, dia merasa dikhianati saat tahu kalau putranya malah dekat bahkan berhubungan dengan putri dari Bik Elah.
Tanti yang memang ada di ruangan tersebut memijat dahinya karena bingung dan pusing memikirkan masalah ini. Dia ingin membela Cakra tapi akan kalah dengan suaminya.
“Pih, kita biarkan saja dulu. Toh, belum tentu gadis itu akan menjadi jodoh Cakra.”
“Tidak bisa, aku akan urus masalah ini.” Bagas berjalan menuju sofa dan kembali duduk di sofa tunggal tempatnya. “Kamu pergilah, informasi ini sudah cukup,” titah Bagas pada orang kepercayaannya.
“Apa yang akan papi lakukan?”
“Yang terbaik untuk Cakra dan keluarga kita,” sahut Bagas.
“Tapi apakah Cakra akan menerima kalau hal itu adalah yang terbaik?”
Bagas menatap istrinya, dia merasa Tanti akhir-akhirnya melunak dan selalu membela Cakra. Tentu saja Bagas tidak akan membiarkan hal itu.
“Itu akan menjadi urusanku,” ujar Bagas lalu berdiri dan meninggalkan ruang kerjanya.
Tanti menghela nafasnya, dia tahu Bagas akan membuat keputusan yang akan bertentangan dengan keinginan Cakra. Hubungan mereka dengan Cakra akan semakin renggang setelah Bagas memutuskan apa yang sedang direncanakan.
“Cakra, semoga kamu bisa mengerti kalau semua yang kami lakukan untuk kebaikanmu,” gumam Tanti.
...***...
“Bu Arini, sudah ditunggu di ruangan Pak Gala,” ujar Yusron saat Arini baru kembali ke ruangan setelah mendampingi salah satu guru yang sedang menguji praktek.
“Oh, ada masalah apa ya pak?” tanya Arini yang penasaran kenapa Pak Gala memanggilnya.
“Wah, saya kurang tahu. Ke sana saja dulu, nanti kasih tahu kami-kami di sini. Penasaran juga,” jawab Yusron.
Arini berjalan menuju ruang kerja kepala sekolah, melewati pinggir lapangan di mana kelas Cakra sedang melakukan penilaian olahraga. Bahkan Cakra baru saja berhasil menghasilkan poin dari permainan basketnya.
Laki-laki itu menatap Arini membelakangi teman-temannya, menjentikan jari membentuk simbol cinta bahkan menggerakan bibirnya seakan memberikan ciuman jauh.
Arini tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Cakra. Kama menghampiri dan membisikan sesuatu pada Cakra membuat laki-laki itu marah dan keduanya saling berkejaran di lapangan.
“Kamprett, gue sumpahin lo bucin sama Imas anaknya Mpok Leha,” teriak Cakra.
Arini sudah berada di depan ruang Kepala sekolah dan kebetulan pintu dibuka dari dalam. Keluarlah seorang pria dengan penampilan yang menunjukan kalau orang tersebut berkuasa dan memiliki pengaruh. Gadis itu bahkan menelan ludah karena pria di hadapannya menatap ke arahnya. Arini menganggukkan kepala sebagai tanda kesopanan.
Papinya Cakra, ada apa dia menemui kepala sekolah. Seingatku, Cakra sudah tidak bermasalah.
“Ah, Bu Arini. Masuklah!” titah Pak Gala yang melihat Arini berdiri di tengah pintu masih dengan kebingungan dan tanda tanya karena kedatangan Pak Bagas orangtua Cakra.
Pak Gala dan Arini sudah duduk berhadapan di sofa ruangan tersebut. Sama seperti saat Arini pertama kali menjejakan kakinya di sekolah itu ketika diterima untuk magang menjadi guru BK.
“Ada apa Pak Gala memanggil saya?”
Pak Gala tidak langsung menjawab dan menjelaskan apa yang terjadi, dia mengusap dagunya sambil menatap ke depan bukan menatap Arini. Entah apa yang dipikirkan pria itu, Arini pun tidak bisa menebak.
“Bu Arini.”
Arini memperbaiki posisi duduknya, siap mendengarkan arahan dari orang nomor satu di sekolah tersebut.
“Bu Arini kenal siapa pria tadi?”
“Maksudnya yang baru saja keluar dan bertemu dengan saya di pintu?”
“Hm.”
“Itu Pak Bagas, orangtua Cakra,” jawab Arini lirih.
Pak Gala menganggukan kepalanya, semakin membuat Arini bingung bahkan mengernyitkan dahinya.
“Bu Arini, sekolah ini sekolah swasta dan termasuk sekolah favorit. Ibu paham bukan, kalau sekolah swasta sangat mengandalkan partisipasi dari orangtua siswa untuk pembiayaan dan operasional sekolah.”
Arini menganggukkan kepalanya.
“Bahkan ada beberapa orang tua siswa yang menjadi donatur tetap di sekolah ini. Mereka bersedia memberikan sejumlah uang setiap tahunnya untuk mendukung kegiatan sekolah kita bahkan menunjuk perusahaan yang bisa menjadi sponsor di setiap kegiatan.
“Iya Pak, saya mengerti.”
“Bapak Bagas Candra Yuda adalah salah satu donatur sekolah ini. Ketika orangtua siswa apalagi donatur tetap menyampaikan keluhan kita harus segera mengatasinya dan Pak Bagas datang ke sini menyampaikan keluhan mengenai … Ibu Arini.”
“Saya? Masalah apa, ya?” tanya Arini.
Apa karena kedekatanku dengan Cakra? Apa Pak Bagas sudah tahu?
“Kami mendapatkan laporan kalau Bu Arini … maaf ya Bu, bukan saya menghina atau mendiskriminasikan Ibu. Ada laporan kalau Ibu hanya putri seorang pembantu dan sengaja mendekati laki-laki dari keluarga berada untuk mendapatkan keuntungan termasuk dekat dengan Cakra.”
“Hah, mana mungkin saya melakukan hal itu. Saya memang dekat dengan Cakra karena dia siswa bimbingan saya tapi tidak pernah terbersit niat seperti yang Bapak sampaikan.”
“Sabar Bu Arini,” ujar Pak Bagas yang mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Menggeser layar ponsel tersebut dan menunjukan pada Arini. “Ini Bu Arini?”
Arini tidak bisa mengelak melihat fotonya bersama Cakra di mall, dengan tangan saling menggenggam juga saat makan malam bahkan Cakra menyuapinya juga terabadikan.
“Iya itu saya, lalu masalahnya apa Pak?”
“Tapi … saya tidak memanfaatkan Cakra.”
“Bu Arini, saya tahu usaha ibu bisa membuat Cakra akhir-akhir ini tidak berulah tapi keluhan dan keberatan Pak Bagas sangat beralasan bahkan ada bukti konkret. Saya tidak bisa menolak permintaan Pak Bagas atau membela Bu Arini,” jelas Pak Gala dengan nada menyesal.
“Maksudnya saya ….”
“Mohon maaf, Bu Arini tidak bisa melanjutkan untuk magang di sekolah ini. Saya akan buatkan surat keterangan kalau Bu Arini sudah menyelesaikan tugas,” ujar Pak Gala.
Arini membuang pandangannya, kedua matanya sudah mengembun. Bukan pertama kalinya dia direndahkan hanya karena status keluarganya. Saat dia SMA pun pernah mendapatkan hinaan ini. Gadis itu menarik nafasnya sebelum bicara.
“Pak Gala memutuskan untuk menghentikan magang saya karena saya dekat dengan Cakra, saya anak dari seorang pembantu rumah tangga atau permintaan orang tua siswa?”
Pak Gala memandang Arini, “Maafkan saya bu Arini.”
Arini menganggukkan kepalanya.
“Saya tidak akan sampaikan pada yang lain masalah ini, Bu Arini bisa menggunakan alasan ditarik oleh kampus untuk kembali.”
Arini menganggukkan kepala lalu menggelengkan kepalanya, seakan bingung dengan sikapnya sendiri kemudian dia beranjak berdiri dan mengulurkan tangan pada pria di hadapannya.
Pak Gala pun berdiri dan menyambut uluran tangan Arini.
“Terima kasih, Pak.”
Tanpa menunggu ucapan Gala, Arini meninggalkan ruangan itu. semakin lama berada di sana hanya akan membuat hatinya sakit. Air matanya lolos menetes di ujung mata bahkan membasahi pipinya. Tidak ingin Cakra melihat kondisinya, dia memutuskan memilih jalan memutar kelas lalu mengusap wajahnya yang basah sebelum masuk ke ruang BK.
“Bu Arini, ada apa?” tanya Pak Yusron. “Saya jadi penasaran.”
Arini hanya tersenyum lalu mendekat ke mejanya, berdehem agar suaranya tidak parau saat bicara.
“Pak Gala menyetujui percepatan kegiatan magang saya.”
“Eh, maksudnya magang Bu Arini sudah selesai?”
Arini menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibir berusaha menahan tangis.
“Bukannya masih satu bulan lagi. Harusnya Bu Arini ikut sampai kelulusan loh.”
“Maaf, kampus ada kegiatan lain dan menarik saya untuk segera kembali.”
Bukan hanya kecewa dengan apa yang dia terima, tapi Arini juga memikirkan Cakra. Bagaimana dia mengatakan pada laki-laki itu kalau dia harus pergi karena ulah orang tua Cakra. Bukan ide yang baik, hubungan Cakra dan orangtuanya akan kembali buruk, tapi Arini juga khawatir kalau dia pergi tanpa menjelaskan dan juga tanpa pamit.
Menjelang waktu pulang, Arini bergegas sebelum bel berbunyi agar Cakra tidak menemuinya. Setelah pamit pada rekan-rekan di ruang BK dan memastikan mejanya sudah rapi Arini pun meninggalkan sekolah.
Berjalan di koridor di mana dia lalui setiap hari, saat akan berbelok menuju meja piket dan lobi sekolah Arini terdiam. Dia ingat betul lokasi itu adalah tempat di mana dia bertemu dengan Cakra pertama kali.
Arini menghela nafasnya lalu menoleh ke belakang.
“Maafkan aku, kamu pasti bisa lebih baik meskipun kita tidak bersama,” gumam Arini.
...***...
Arini sudah berada di rumahnya, duduk termenung di ruang tamu. Hari ini dia bisa mengelak tapi besok Cakra pasti akan mencarinya. Menunggu Ibunya untuk pamit kembali ke luar kota di mana dia menempuh pendidikan.
[Aku tunggu di parkiran]
Pesan dari Cakra.
Arini mengusap wajahnya, entah apa yang Cakra akan rasakan kalau tahu dia sedang menghindarinya.
[Aku sudah pulang. Minggu ini ada laporan deadline, kamu fokus saja pada ujian]
Arini membalas pesan Cakra dan mengabaikan balasan pesan berikutnya.
Tidak lama Ibu Elah pun datang, Arini berdiri menyambut wanita paruh baya itu. Melihat raut wajah Ibunya yang tidak biasa, hati Arini terenyuh. Dia tahu kalau Pak Bagas sepertinya sudah memutuskan hal lain untuk ibunya.
“Maafkan Arini Bu, semua karena aku.”
Arini sudah tidak bisa membendung tangisnya.
“Apa salah menjadi putri seorang pembantu? Apa salah kalau ada laki-laki beda strata dengan kita mendekatiku? Apa salah kalau aku terlibat di tempat ….”
“Sudahlah, bereskan pakaian dan barang-barang yang bisa dibawa. Kita pergi besok pagi-pagi sekali, sebelum Cakra tahu semuanya.”
“Ibu akan pergi juga?”
“Rumah ini diberikan oleh Pak Bagas, kalau hanya kamu yang pergi Cakra masih bisa ke sini untuk mencari kamu.”
“Jadi kita diusir juga dari rumah ini?”
Ibu Elah tidak menjawab, dia hanya diam sambil menatap keliling tempatnya berada. Sekian tahun menempati rumah itu rasanya berat harus meninggalkanya. Bukan hanya Arini yang patah hati, Bu elah pun sama.
Kalau Arini harus meninggalkan Cakra dan cintanya, Bik Elah harus melepaskan Cakra yang sudah dianggap seperti anak sendiri.
“Bagaimana kalau aku temui Pak Bagas, cukup aku yang pergi dan mundur dari hubungan ini. Ibu … bisa berhenti bekerja di sana tapi tidak harus pergi juga.”
“Arini, cukup. Jangan lakukan hal yang akan membuat kita kembali dihina. Kita pergi, kamu lanjutkan pendidikanmu lalu hidup dengan baik dan bahagia.”