
Cakra tiba di rumah dengan langkah gontai dan lelah. Setelah hujan reda, Arini meminta Cakra untuk kembali ke mobilnya.
“Kamu sudah tahu saat ini aku sebatang kara dan aku sudah paham kondisimu serta penyebabnya. Aku ingin lembaran baru yang akan kita lewati dengan restu orang tuamu,” pinta Arini.
Cakra menatap wajah wanita di hadapannya. Dia mengira selama ini dialah yang sengsara tetapi dia salah, Arini bisa jadi lebih berat menjalani hidupnya.
“Aku akan bawakan restu padamu, tunggu saja,” ujar Cakra. Tidak tahan dengan emosinya setelah mengetahui kalau Bik Elah sudah tiada, Cakra meraih tubuh Arini ke dalam pelukannya.
“Seharusnya aku ada disampingmu saat kamu melewati masa-masa sulit,” tutur Cakra masih dengan Arini dalam pelukannya.
...***...
“Mih, di mana Papi?” tanya Cakra.
Hari ini weekend, Cakra biasa bangun lebih lambat dari biasanya. Setelah membersihkan diri dia langsung turun mencari Papinya.
“Ada di taman belakang. Sepertinya tadi Papi baru selesai berenang.”
Ternyata benar, Bagas yang mengenakan bathrobe setelah berenang masih berada di gazebo.
“Pih, ada yang ingin aku bicarakan,” ujar Cakra.
“Tunggu di dalam, Papi berpakaian dulu. Minta Mami ikut dengarkan apa yang akan kita bicarakan.”
Cakra tidak ingin membuang waktu, dia akan membicarakan masalah hubungannya dengan Arini pada kedua orangtuanya. Termasuk menyampaikan kalau Bik Elah sudah tiada, artinya Arini hanya sebatang kara dengan status keluarga yang semakin tidak jelas.
Kalau dulu, Bagas akan mempermasalahkan hal itu tapi sekarang … entahlah. Yang jelas, Cakra akan tetap bersama Arini meski Papi dan Maminya tidak setuju.
Pria itu sudah duduk bersama dengan kedua orangtuanya di ruang keluarga. Sedikit banyak, Bagas tahu apa yang akan dibicarakan oleh Cakra.
“Ada apa, sepertinya serius?” tanya Tanti menatap bergantian putra dan suaminya.
Cakra yang sejak tadi hanya diam, berdehem untuk menghilangkan gugupnya.
“Kenapa denganmu? Sebagai pengacara, masa berhadapan dengan kami saja kamu gugup begini,” ejek Bagas.
Cakra berdecak lalu menatap Papi dan Maminya. Bahkan dia menghela nafas pelan sebelum bersuara.
“Aku akan menikahi Arini, aku minta restu dari kalian. Arini sebatang kara, dia tidak perlu acara lamaran apalagi pertemuan keluarga,” tutur Cakra dengan tenang.
Tanti terkejut dengan apa yang disampaikan oleh putranya. Entah karena Cakra akhirnya mendapatkan jodoh atau karena kondisi Arini yang sangat jauh dari ekspektasi keluarga mereka.
“Pih,” ucap Tanti sambil menoleh ke arah suaminya.
“Hm.”
“Jadi Bik Elah sudah tiada?” tanya Tanti pada Cakra.
“Aku sudah tahu,” ujar Bagas.
Cakra mengernyitkan dahinya mendengar ucapan pria di hadapannya. Papinya sudah tahu mengenai kondisi Arini.
“Sejak kapan Papi tahu? Apa Papi akan memisahkan kami lagi karena masalah ini?”
“Baru beberapa hari ini. Dengar Cakra, Papi tidak persoalkan masalah keluarga Arini selama wanita itu bisa menerima kamu apa adanya Papi akan berikan kalian restu.”
Wajah Cakra berbinar mendengar penuturan Papinya.
“Papi serius?”
“Apa Papi pernah bercanda, apalagi masalah seperti ini?”
“Hahh.” Cakra akhirnya bisa bernafas lega, sejak tadi di khawatir kalau restu akan sulit didapatkan tapi ternyata alam semesta mendukungnya.
“Ajak Arini kemari, kita bicarakan kapan pernikahan kalian. Sebaiknya jangan ditunda terlalu lama,” tutur Tanti yang mendukung juga keputusan suaminya.
“Kalau perlu kami menikah hari ini, aku setuju saja,” usul Cakra yang mendapat recehan dari Maminya.
Wajah Cakra benar-benar terlihat bahagia dan saat ini dalam perjalanan menuju apartemen Arini. Seperti biasa dia diantar oleh Pak Agus.
Cakra terkekeh, “Bukan hanya jatuh cinta, aku akan segera menikahi Arini. Papi dan Mami sudah merestui,” sahut Cakra.
“Wah, selamat ya Den. Cocoklah, yang satu ganteng yang satu Cantik. Nanti anak-anaknya nggak kalah bagus rupa juga,” ujar Pak Agus.
Tanpa memberitahu Arini kalau Cakra sudah berada di apartemennya, bahkan saat ini berdiri di depan unit Arini. Menekan bel dan menunggu wanita itu membuka pintu.
Tidak lama pintu pun terbuka.
“Cakra! Kamu … tahu aku tinggal di sini?”
Pria itu hanya tersenyum lalu memeluk Arini dan mencium kening wanita itu. Arini yang masih mengenakan piyama masih bingung dengan kedatangan pria itu.
“Aku datang padamu membawa restu sesuai dengan janjiku. Kita akan segera menikah, aku akan berada di sisimu bersama kita akan melewati hari-hari bersama dan aku akan berusaha mengganti saat-saat menyedihkan yang sudah kita lewati dengan kebahagian.”
Arini mengurai pelukan Cakra dengan mendorong dada pria itu.
“Apa maksudnya? Pak Bagas sudah ….”
“Ya, mereka setuju. Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Kita akan menikah secepatnya, bahkan kalau perlu sekarang juga. Aku sudah siap.” Cakra menaik turunkan alisnya lalu mendapatkan cubitan di perut dari Arini.
“Dari mana kamu tahu aku tinggal di sini?”
Alih-alih menjawab, Cakra malah menatap keliling unit apartemen di mana dia berada. Jauh dari kata mewah, bahkan ukurannya lebih kecil dari perumahaan tipe 36. Hanya ada kamar, toilet di dekat dapur dan space untuk ruang tamu dan ruang keluarga yang jadi satu dan ada balkon kecil juga area untuk menjemur pakaian dari arah dapur.
“Aku pernah ikuti kamu pulang?”
“Hahh, sejak kapan seorang pengacara menjadi penguntit?” tanya Arini lagi sambil tersenyum.
“Sejak kekasihnya selalu jaga jarak,” sahut Cakra. “Kamu belum mandi? Memang begini aktivitas kamu ketika weekend?” cecar Cakra lalu berjalan ke depan kamar Arini dan menatap ke arah dalam dari pintu kamar yang terbuka.
Arini menutup pintu kamar lalu menarik tangan Cakra agar duduk di sofa.
“Mau minum apa?” tanya Arini sambil menuju ke dapur.
“Aku lapar bukan haus.”
“Aku pesan online saja ya, kamu mau makan apa?” tanya Arini dari dapur.
“Makan kamu,” jawab Cakra yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa.
Arini datang dengan secangkir kopi dan diletakkan di atas meja sofa. Saat wanita itu hendak duduk di sofa lain, Cakra menarik tangannya membuat tubuhnya merebah di atas tubuh Cakra.
“Cakra, lepas!”
Alih-alih melepaskan Arini, Cakra malah memposisikan tubuh Arini agar tepat di atas tubuhnya lalu terkekeh karena Arini marah dan memukuli tubuh Cakra.
Apalagi menyadari bagian tubuh bawah Cakra menyentuh perut Arini, wanita itu membelalak dan berontak.
“Diam, kamu hanya akan membuatnya semakin tegang,” sahut Cakra tanpa rasa bersalah.
“Cakra!”
“Apa sayang? Kita jarang ada waktu me time begini,” ungkap pria itu yang masih menahan tubuh Arini.
“Cakra, lepas aku takut kita khilaf.”
Wajah Cakra berbinar mendengar ucapan Arini.
“Aku senang kita bahas ini, khilaf bagaimana maksudmu?”
Arini berdecak lalu membenamkan wajahnya di atas dada bidang Cakra, dia memejamkan mata dan mendengarkan detak jantung pria itu yang terasa … menenangkan. Bahkan parfum yang dipakai Cakra, aromanya bagai aroma terapi. Jika terlalu lama dalam posisi ini, Arini pasti terlelap.
Melihat Arini yang tenang Cakra melepas pelan pelukannya dan mengusap punggung Arini.
“Aku milikmu Arini, milikmu.”