Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 11 ~ Bukan Saudara



Cakra dan rekannya berkelahi hanya mendengus kesal dan hanya bisa mendengar di telinga kiri dan keluar telinga kanan, rentetan ocehan nasihat dari Pak Yusron seakan tidak berarti. 


Arini ingin ikut bicara dan memberikan arahan yang mungkin lebih bisa di dengar tapi lebam di wajahnya cukup nyeri dan dia memilih diam. 


Cakra memandang Arini yang mendesis pelan karena nyeri di wajahnya dan tidak sengaja mereka pun bertatapan. 


"Maaf Pak, Bu Arini sepertinya kesakitan," ujar Cakra. 


What? Wajahku memang sakit tapi bukan kesakitan, batin Arini yang salah tingkah karena semua atensi mengarah padanya. 


"Benar begitu Bu Arini?" tanya Pak Yusron. 


"Ehm ... ini ...." 


"Biar Bu Arini saya antar pulang, sekalian saya antar ke dokter. Ini karena bentuk tanggung jawab saya," ujar Cakra. 


"Eh,  tidak perlu. ini hanya perlu dikompres," tolak Arini. 


Namun, Cakra memaksa dan Yusron sependapat. Dia khawatir juga kalau kejadian tersebut akan didengar oleh kepala sekolah. 


"Sudahlah, bawa Bu Arini ke dokter dan pastikan dia aman sampai di rumah," titah Yusron. "dan kamu ikut saya," titahnya lagi pada rekan kelahi Cakra. 


"Lah, mau ke mana ini?" tanya Ucup yang menunggu di depan ruang BK.


"Kencan," jawab Cakra asal. "Ayo Bu, tempat Ibu yang pilih ya," canda Cakra membuat ketiga temannya saling tatap dan semakin yakin kalau ada sesuatu dengan Cakra dan Arini. 


"Apaan sih, ini nggak terlalu parah tapi kamunya aja yang lebay." 


...***...


"Mau ke mana?" tanya Arini karena mengekor langkahnya. 


"Ke dalamlah," sahut Cakra. 


"Nggak usah, langsung balik ke sekolah," usir Arini. 


"Saya temani Bu, khawatir ibu butuh sesuatu bisa saya bantu." Cakra melewati Arini dan sudah berdiri di depan pintu. 


"Buka dong Bu, tangan saya sibuk nih." Cakra mengangkat kedua tangan yang memegang kantong plastik berisi makanan dari resto cepat saji dan cemilan dari mini market. 


Arini mengambil kunci dari tasnya dan membuka pintu depan. 


"Ini salepnya, saya bantu oleskan ya." 


"Jangan kurang ajar," sahut Arini, Cakra malah terkekeh. Gadis itu menolak ke dokter dan Cakra membelikan salep untuk mengobati luka dan lebam di wajah Arini.


"Sudah dioles belum?" 


"Sudah." 


"Ini makanannya, mau aku suapi?" 


Arini bergeming, dia menatap Cakra sambil bersedekap.


"Bik Elah belum pulang ya?" tanya Cakra.


"Belumlah, kamu 'kan anak kesayangannya. Kadang Ibu berangkat lebih awal untuk bangunkan anak majikannya taunya yang dimaksud adalah kamu. Bahkan dia pulang telat untuk memastikan kamu makan malam,” tutur Arini.


“Yups, Bik Elah memang the best tapi … menurutmu aneh nggak? Bik Elah lebih peduli dengan aku dibandingkan putrinya sendiri. Apa jangan-jangan aku anak Bik Elah yang diangkat oleh Mami dan Papi lalu ….”


Bugh.


Arini memukul tubuh Cakra dengan bantal sofa.


“Kepala kamu tadi kena pukul ya? Kayaknya posisi otak kamu bergeser, makanya mikir yang aneh-aneh.”


“Tapi jangan deh, kalau aku anak Bik Elah kita saudaraan dong,” cetus Cakra sambil membuka kemasan cemilan berisi keripik kentang.


“Memang kenapa kalau bersaudara?” tanya Arini sambil membuka botol minuman dengan rasa buah lalu meneguknya.


“Mana tahu nanti saya suka sama kamu,” sahut Cakra.


Arini yang sedang minum, tersedak mendengar ucapan Cakra bahkan sampai terbatuk-batuk.


“Minumnya pelan-pelan dong,” ujar Cakra sambil mengusap punggung Arini.


Arini mengusap area mulutnya yang basah karena tersedak, “Kamu bilang apa tadi?”


“Yang mana?” Cakra mengunyah sambil bicara.


“Tau ah.”


Tanpa setahu Cakra dan Arini, pihak sekolah menghubungi orang tua Cakra untuk datang ke sekolah esok hari.