Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 15 ~ Pengakuan Cinta



“Cakra, ini di sekolah. Jangan macam-macam, orang yang melihat akan berprasangka negatif,” cetus Arini sambil menahan dada laki-laki di hadapannya dengan kedua tangan.


“Biarin aja, suruh siapa ngeliat kita. Jadi, kalau bukan di sekolah gue boleh macem-macem dong?” tanya Cakra masih dengan posisinya yang cukup dekat dan tatapan tajamnya.


“Cakra ….”


“Jawab dulu, kenapa lo menghindar?”


“Aku bukan menghindar,” sahut Arini.


Terdengar langkah kaki di luar ruang UKS dan suara obrolan. Arini dan Cakra sama-sama diam dan mendengarkan apakah langkah tersebut akan menuju ke UKS.


“Lalu?”


“Aku nggak ngerti,” jawab Arini sambil mendorong tubuh Cakra agar menjauh. “Kamu sebaiknya kembali ke kelas, aku pembimbingmu tapi kalau ada yang melihat kita berdua di sini ….”


Arini tidak melanjutkan ucapannya malah mengedikkan bahu.


“Pulang sekolah, jangan kabur. Ada yang harus kita bicarakan,” cetus Cakra lalu meninggalkan Arini.


“Huftt.”


Arini bernafas lega sambil memegang dadanya. Sama seperti semalam, jantungnya berdebar saat bersama Cakra bahkan kali ini lebih parah karena jantungnya seakan melorot ke perut ketika Cakra sengaja menghimpit tubuhnya. Posisi berbahaya untuk mereka berdua, apalagi kalau ada yang melihatnya.


Arini mematung di depan cermin di ruang UKS, menatap bayangan yang menampilkan wajah cantiknya.


“Apa mungkin aku menyukai Cakra, seperti yang Ibu khawatirkan?” gumam Arini.


“Bu Arini, anda baik-baik saja?” tanya petugas UKS yang sudah berdiri di belakang tubuh Arini.


Arini membalik tubuhnya, “Ahh, ya saya baik-baik saja.” Dia tersenyum, kemudian meninggalkan ruang UKS.


“Apa dia dengar apa yang aku katakan? Semoga saja tidak.”


...***...


Sudah tiga puluh menit berlalu setelah jam pelajaran berakhir. Bahkan hampir semua murid sudah meninggalkan sekolah termasuk para guru. Arini masih berada di mejanya, sedang mengisi jurnal magangnya sekaligus menghindar dari Cakra.


“Bu Arini belum pulang?” tanya Yusron.


“Sebentar lagi Pak, saya sedang melaporkan kegiatan saya dulu.”


“Kami duluan ya,” ujar guru lainnya.


Arini hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ponsel yang sejak tadi ada di atas meja terus bergetar, panggilan dari Cakra padahal Arini sudah mengirim pesan kalau masih ada yang harus dia kerjakan.


“Akhirnya.”


Ponsel Arini akhirnya berhenti berdering, gadis itu kembali fokus pada layar komputernya mengisi laporan kegiatan magang. Belum ada sepuluh menit, tiba-tiba ….


Brak.


“Ya ampun, Cakra,” pekik Arini.


Cakra datang dengan mendorong pintu begitu kencang.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Arini sudah berdiri dari duduknya, Cakra menatap seisi ruangan dan tidak melihat ada siapapun.


“Bersembunyi hah?”


“Saya tidak bersembunyi, ada tugas kuliah yang harus saya kirimkan.”


“Alasan.”


Arini menghela nafasnya, “Aku tidak beralasan, apa yang aku sampaikan benar. lihat saja kalau tidak percaya,” ujar Arini sambil menunjuk layar komputernya.


Cakra menghampiri meja Arini menatap layar yang ditunjuk, “Sudah selesai bukan? Ayo, kita harus bicara.”


“Pergilah! Kamu beruntung tidak ada yang melihat kelakuanmu tadi,” cetus Arini.


“Aku bilang ayo pulang.” Cakra mengatakan dengan penuh tekanan dan pandangan lekat pada wajah Arini.


“Cakra, kamu buat … aku takut.”


Cakra memundurkan tubuhnya.


“Ayo,” ujarnya pelan.


Arini mematikan komputernya lalu merapikan meja dan mengambil tas serta menggantungkan di pundaknya, berjalan mendahului Cakra. Sekolah memang sudah sepi, tidak ada beberapa siswa di perpustakaan juga tim basket yang sedang berlatih.


Saat berjalan di koridor, tepatnya di pinggir lapangan basket. Salah satu siswa berteriak pada Cakra.


Cakra hanya menunjukkan jempolnya.


“Jalan biasa aja, buru-buru amat kayak yang mau diculik,” gumam Cakra tapi bisa didengar oleh Arini.


Bagaimana Arini bisa bersikap biasa, kalau tingkah Cakra saat ini tidak biasa. Tidak seperti biasanya, walaupun saat terlibat kasus tapi Cakra tidak pernah berteriak dan membentak Arini.


“Kamu memang seperti penculik,” ejek Arini tapi tidak dengan wajah bersahabat.


Cakra terkekeh mendengar ejekan Arini.


“Tidak perlu diantar, aku bisa pulang sendiri,” ujar gadis itu lagi saat akan melewati parkiran.


“Siapa juga yang mau mengantar kamu.”


Arini berhenti melangkah dan kini berhadapan dengan Cakra.


“Lalu untuk apa kamu berteriak memaksa aku segera meninggalkan sekolah?”


“Aku sudah bilang, akan mengajakmu ke suatu tempat. Motor aku ada di luar, tidak usah ke parkiran.”


Saat ini Arini sudah berada di atas motor Cakra mengenakan jaket milik laki-laki itu. saat tangan Arini melonggar dari pinggangnya, Cakra menarik kembali agar Arini berpegangan pada pinggangnya lalu melaju lebih kencang yang membuat Arini semakin mengeratkan pegangannya.


Arini segera turun dari motor Cakra walaupun harus berpegangan pada pundak bocah itu. Entah berada di mana dia sekarang, yang jelas mulutnya sudah tidak sabar untuk mengoceh. Cakra seakan tuli dengan ocehan Arini.


“Beuh, udah mirip pasangan bahagia lagi bertengkar aja,” canda Ucup.


Arini menoleh, ternyata sudah ada tiga motor lainnya juga Ucup yang berdiri di depan sebuah rumah mengajak Arini dan Cakra bergabung.


“Ini rumah siapa?” tanya Arini.


“Rumah Kama, dia ‘kan tinggal sendiri,” sahut Ucup.


“Saya mau pulang,” ucap Arini lalu melepaskan jaket dan melemparkan pada Cakra.


Ucup yang paham dengan drama antara Cakra dan Arini, memilih menghindar.


“Kita harus bicara.”


“Tapi tidak di sini,” tolak Arini.


Cakra berdecak, lalu memanggil Ucup dan mengatakan dia akan pergi.


“Cak, undangan Sherly nanti malam gimana?” tanya Kama.


“Lo aja sana datang, gue sih ogah. Mending gue mepetin yang ini,” sahut Cakra. “Ayo naik,” titah Cakra.


Akhirnya Cakra kembali mengajak Arini ke taman di mana sebelumnya mereka datangi. Arini menolak bicara di rumah Kama walaupun di sana hanya ada ketiga sahabat Cakra. Di rumah Arini pun, gadis itu pasti menolak.


“Mau bicara apa, aku nggak ada banyak waktu,” cetus Arini dengan pandangan ke arah danau.


Cakra duduk di samping gadis yang sedang merajuk.


“Aku tanya kenapa kamu menghindar dan aku belum mendapatkan jawaban.”


“Saya tidak menghindarimu.”


Cakra mengedikkan bahunya. “Terserah, yang jelas jangan lagi abaikan panggilan atau pesan dariku.”


Arini terkekeh seraya meledek Cakra.


“Memangnya kamu siapa memerintah aku,” sahut Arini.


“Dengar Arini,” ujar Cakra sambil meraih tubuh mungil gadis di hadapannya.


“Aku menyukaimu dan aku yakin kamu tahu itu.”


Arini menelan salivanya mendengar pengakuan cinta Cakra yang jauh dari kata romantis. Namun, bukan itu yang menjadi masalah saat ini, wajah Arini merona mendengar pernyataan isi hati Cakra bahkan debaran jantungnya seperti lagu jedag jedug yang sering meramaikan video di aplikasi tik t*k.


“Kenapa diam?” tanya Cakra.


Arini menggelengkan kepalanya.


“Tapi aku sudah ada kekasih,” sahut Arini.


Alih-alih Cakra akan mundur, laki-laki itu malah tertawa membuat Arini kesal dan mendorong tubuh Cakra agar menjauh.


“Mana buktinya?”