Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 45 ~ Carka Junior



Cakra dan Arini akhirnya menginjakan kaki di rumah sakit, setelah Arini pagi tadi sempat tidak sadarkan diri, untung saja itu terjadi ketika masih di rumah. Lalu siang tadi Cakra muntah-muntah parah setelah menghadiri sidang.


Tentu saja Tanti panik melihat anak dan menantunya terkapar di ranjang. Langsung menghubungi dokter keluarga dan memeriksa Cakra lebih dahulu karena Arini berada di toilet ketika dokter tiba.


“Gimana dok, Cakra tidak mengidap penyakit serius ‘kan?” tanya Tanti khawatir.


“Mih, aku hanya muntah. Pasti pencernaan,” sahut Cakra.


Dokter hanya tersenyum dan menanyakan Arini. Tanti bahkan mengetuk pintu toilet untuk memanggil Arini.


“Iya Mih,” jawab Arini.


“Wajah kamu pucat banget loh,” ujar Tanti tidak kalah panik seperti mengkhawatirkan Cakra. Bahkan wanita itu merangkul Arini sampai ke ranjang.


Dokter kembali melakukan pemeriksaan dan menyampaikan beberapa pertanyaan, yang membuat Cakra mengernyitkan dahinya. Seperti pertanyaan terakhir datang bulan, yang menurut Cakra itu pertanyaan sensitif dan untuk apa sedangkan Arini itu pingsan. Bisa saja istrinya menderita anemia.


Seharusnya aku panggil Iqbal saja, batin Cakra.


“Jadi, gimana Dok? Ada apa dengan Arini?” tanya Tanti.


Dokter pun tersenyum dan mengatakan sakit atau gejala yang dirasakan oleh Cakra dan Arini saling terkait.


“Menurut prediksi saya dan gejala yang disampaikan Ibu Arini, sepertinya beliau sedang hamil. Untuk lebih pasti harus dilakukan pemeriksaan urine atau USG.”


Cakra dan Arini saling tatap mendengar penjelasan dokter, keduanya belum menyadari kalau mereka akan menjadi orangtua.


“Arini hamil? ini benar dok?” tanya Tanti.


“Untuk kepastiannya saya rekomendasi segera diperiksa lebih detail jadi saya tidak berikan resep obat apapun,” jelas dokter.


“Hamil, kamu hamil sayang,” ujar Cakra bahagia dan langsung mencium perut Arini yang tentu saja masih rata.


“Lalu bagaimana dengan Cakra?” Tanti bertanya lagi pada dokter mengenai kondisi Cakra.


“Untuk Pak Cakra tidak ada penyakit serius melainkan mengalami kehamilan simpatik, dimana seorang pria mengalami gejala kehamilan dari pasangannya yang sedang hamil. Kemungkinan besar mual dan muntah yang dirasakan Cakra karena kehamilan Bu Arini.”


Walaupun kurang paham, Arini dan Cakra merasa lega kalau mereka bukan terkena penyakit tapi akan segera mendapatkan keturunan. Setelah mengantar dokter keluar dan memberikan nasihat panjang kali lebar pada anak dan menantunya, Tanti membiarkan pasangan yang sedang berbahagia itu untuk istirahat dan melakukan pemeriksaan ke rumah sakit nanti sore.


Di sinilah Cakra dan Arini berada, UGD rumah sakit. Jangankan tunggu sampai sore, tidak lama setelah dokter pergi dan Tanti membiarkan Arini dan Cakra istirahat. Wanita itu kembali tidak sadarkan diri dan yang membuat panik, seluruh tubuh Arini terasa dingin dan berkeringat.


“Saya suaminya,” sahut Cakra yang berjalan tertatih menghampiri si perawat diikuti oleh Tanti.


“Ikut saya bertemu dokter, beliau akan menjelaskan kondisi pasien.”


Cakra pun menganggukkan kepalanya dan meminta Tanti kembali duduk di kursi stainless khusus keluarga pasien.


“Ibu Arini positif hamil, setelah dilakukan USG. Usia kandungan hampir delapan minggu, nanti akan kami jadwalkan pemeriksaan oleh dokter kandungan. Untuk saat ini, kami rekomendasikan rawat inap, tekanan darah Ibu Arini cukup rendah termasuk juga gula darahnya. Untuk awal kehamilan ini cukup beresiko,” tutur dokter yang sudah mengobservasi Arini selama Arini berada di UGD.


“Lakukan yang terbaik Dok”


Meskipun ada rasa bahagia karena di tubuh Arini ada kehidupan baru dan yang dirasakan Arini adalah bentuk penyesuaian tubuhnya, tetap saja Cakra dan keluarganya khawatir.


“Mami pulang saja, biar aku yang jaga Arini. Lagi pula ada Pak Agus yang standby,” ujar Cakra ketika Arini sudah berada di kamar perawatan.


“Kamu yakin?” Tanti juga khawatir dengan kondisi Cakra.


Arini sedang tertidur dan Cakra duduk di samping ranjang menatap wajah pucat istrinya. Tangan Arini yang bebas dari infusan berada dalam genggaman Cakra sampai akhirnya wanita itu menggeliat pelan dan terjaga sepenuhnya.


“Kamu butuh sesuatu?” tanya Cakra sigap.


Arini menggelengkan kepalanya.


“Ada yang sakit atau ….”


“Tidak ada,” jawab Arini menjeda ucapan Cakra. Sedangkan di ujung mata wanita itu sudah merembes air mata. Cakra panik melihat Arini menangis.


“Sayang, ada apa?”


Arini menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia bukan menangis dalam arti berada dalam kesedihan tapi tangisan bahagia.


“Aku tidak percaya, saat ini aku mengandung anakmu anak kita,” ungkap Arini.


Dengan hati-hati Cakra menaiki ranjang pasien lalu berbaring dan memeluk Arini.


“Aku sayang kamu Arini, kita akan semakin berbahagia dengan kehadirannya.”