
“Bu Arini, sepertinya saya tidak bisa antar Ibu menemui Cakra. Ada kecelakaan dan saya dibutuhkan di rumah sakit,” seru Iqbal.
“Owh, tidak masalah. Cepatlah, ada nyawa yang bergantung padamu,” seru Arini.
Sebelum pergi, Iqbal mengirimkan alamat kantor Cakra kepada Arini. Wanita itu langsung melaju dengan mobilnya setelah memastikan daerah di mana kantor Cakra berada. Berharap tidak terjebak macet atau lama dalam perjalanan, Arini khawatir jika Cakra patah arang atau sudah tidak semangat menjalani hidup.
“Tidak bisa, Cakra tidak boleh menyerah. Aku tidak pernah permasalahkan fisiknya, kenapa bisa dia begitu tidak percaya diri,” gumam Arini sambil mengemudi.
Ternyata Arini terjebak macet dan langit sudah gelap karena menjelang malam, bahkan ketika mendekati perkantoran yang dituju lagi-lagi Arini terjebak macet.
Arini menghubungi Cakra, berkali-kali tapi tidak dijawab oleh pria itu.
Sedangkan di tempat berbeda, Cakra sedang rapat bersama rekannya. Mengevaluasi kasus yang sudah selesai dan pembagian kasus baru. Ponselnya tertinggal di ruangannya, tentu saja dia tidak tahu jika Arini sejak tadi menghubunginya.
“Ini makan malamnya Pak,” ujar sekretaris Cakra saat pria itu akan melewati meja sekretaris yang berada tidak jauh dari pintu ruangannya.
“Hm. Kamu sudah boleh pulang,” titah Cakra sambil menerima goody bag resto cepat saji makanan ala Jepang.
Sudah tidak dalam situasi formal, Cakra melepas jas dan dasi yang terasa mengikat lehernya setelah meletakan makan malamnya di atas meja. Mengingat ponselnya yang tertinggal sejak tadi sore, pria itu membuka layar dan melihat banyak panggilan tidak terjawab.
“Arini,” ucap Cakra. “Ada apa ya, apa terjadi sesuatu dengan Sasa?”
Cakra menghubungi balik Arini tapi tidak aktif.
“Kenapa malah tidak aktif, padahal sepuluh menit yang lalu dia menghubungiku,” gumam Cakra. Masih yakin kalau ada hubungannya dengan Sasa, segera dia menghubungi seseorang yang bertanggung jawab atas Sasa.
Mendengar tidak ada yang terjadi dengan kliennya, Cakra menghela lega tapi masih bingung dengan alasan Arini menghubunginya. Belum tuntas kebingungan dan bimbangnya, pria itu terkejut dengan kehadiran seseorang.
Brak.
“Astaga, Arini,” ujar Cakra yang langsung berdiri dari kursinya dan menghampiri wanita yang terengah seperti habis maraton bahkan tubuh wanita itu sedikit membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada kedua lututnya.
“Ada apa denganmu?” tanya Cakra karena kehadiran Arini tidak elegan, bahkan mendorong pintu begitu keras. Keringat terlihat di kening dan leher wanita itu bahkan cepolan rambutnya sedikit berantakan.
“Seharusnya aku yang tanya ada apa denganmu Cakra?”
Cakra mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Arini. Tidak tega dengan penampilan wanita itu, Cakra mengajak Arini duduk dan mengambilkan air minum. Tatapan mata Arini tidak luput dari gerakan pria itu, bahkan sampai mereka duduk berhadapan Arini masih menatap lekat wajah pria masih membuat hatinya ketar ketir.
"Minum dulu." Cakra mendekatkan ujung gelas ke depan bibir Arini yang langsung diteguk hingga habis hampir setengah isi gelas.
“Kenapa tidak menjawab panggilanku?” tanya Arini ketika nafas dan tubuhnya sudah stabil.
“Ah itu, tertinggal di meja. Aku rapat sejak sore dengan rekan-rekan,” jelas Cakra. “Belum lama aku hubungi balik tapi kontak tidak aktif.”
Arini mengeluarkan ponsel dari saku blazernya, terlihat layar ponsel itu retak. Pantas saja Cakra gagal menghubungi Arini.
“Lalu ada apa kamu berlari ke sini? Apa ada hal darurat yang ….”
“Iya,” sahut Arini menyela ucapan Cakra. Wanita itu memukul lengan Cakra cukup keras membuat pria itu memekik pelan dan mengusap lengannya.
“Bisa-bisanya kamu bohongin aku. Kamu bukan kecelakaan ‘kan? Kamu sengaja dan tidak peduli dengan nyawa kamu sampai berakhir begini,” tutur Arini sambil terisak.
Cakra menggeser duduknya lebih dekat.
“Kamu membuat aku semakin merasa bersalah.” Arini menunduk masih dengan isak tangisnya.
“Hei, jangan begini. Aku baik-baik saja, semua yang terjadi bukan salahmu tapi pilihan hidupku,” sahut Cakra sambil meraih dagu Arini agar wajah mereka saling tatap. Pria itu juga menghapus air mata wanita di hadapannya.
“Maafkan aku, seharusnya aku tetap meninggalkan pesan bukan pergi tiba-tiba seperti itu. Aku pikir kamu tidak akan terluka sedalam ini tapi ….”
“Cukup! Jangan bahas itu lagi,” sela Cakra.
“Lalu kenapa sekarang kamu menghindariku? Apa sudah ada penggantiku di sini,” ujar Arini sambil menyentuh dada Cakra.
Alih-alih menjawab, pria itu malah terkekeh dan meraih kedua tangan Arini dan dia kecuup kedua punggung tangan itu.
“Sampai saat ini, Arini Septha masih berada di sini,” tunjuk Cakra menempelkan tangan Arini di dadanya. “Belum ada yang dapat menggantikannya tapi aku sadar diri, kamu mungkin sudah menemukan pria lain atau mungkin ada pria lain yang lebih sempurna. Aku akan bahagia kalau kamu juga bahagia,” tutur Cakra sambil menyelipkan helaian rambut Arini ke belakang telinga.
Arini menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada, belum ada yang bisa membuat hatiku kembali berdesir selain pengacara songong yang mengatakan akan merebutku dari pria lain tapi nyalinya ciut,” ejek Arini.
“Siapa bilang nyali ku ciut, aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”
“Dengan membiarkan aku patah hati karena diabaikan denganmu?”
Cakra menangkup wajah Arini dengan kedua tangannya. Mereka saling tatap cukup lama tanpa ada kata yang terucap.
“Nyaliku besar, bahkan aku berani menikahimu malam ini agar tidak ditikung pria lain. Apa kamu siap?”
“Tidak, aku ingin menikah dengan dihadiri dan direstui orang tua,” sahut Arini. “Justru aku yang sempat tidak percaya diri dengan perbedaan status kita, aku berniat mundur dan melupakan kamu karena tidak ingin kembali berurusan dengan orang tuamu. Maafkan aku Cakra.”
Cakra tersenyum lalu mengusap wajah wanita itu. Baginya restu bukan lagi hal utama, kalaupun Mami dan Papinya masih mempersoalkan masalah status keluarga Arini dia akan memilih pergi dan hidup mandiri lalu bahagia dengan jodohnya.
Interaksi keduanya terhenti ketika ponsel Cakra berdering, pria itu beranjak menuju mejanya dan menatap layar ponsel dan kembali duduk di samping Arini.
“Kenapa tidak dijawab?”
“Itu Mami, mengingatkan aku untuk makan.”
Arini menganggukkan kepalanya. “Segeralah makan, aku akan pulang dan ….”
“Hei, apa-apaan ini. Kamu sudah datang kemari sambil berlarian bahkan ponsel kamu rusak lalu ingin pergi begitu saja. Tidak bisa nona, kamu harus dihukum karena sudah mengejutkan seseorang dan membuat kesehatan jantung ini tidak baik.”
“Gombal,” gumam Arini. “Ayo, kita makan,” ajak Arini yang sudah beranjak dari duduknya dan kembali terhempas karena ulah Cakra.
“Cakra!”
“Aku mau makan tapi makan kamu,” bisik Cakra yang sedang memeluk Arini.
Wanita itu membelalakan kedua matanya karena ucapan dan ulah Cakra yang mulai nakal dengan mencium kedua pipi, kening dan berakhir kecuppan di bibir.
“Aku kamu serius mencintaiku yang tidak sempurna ini? Bukan karena rasa bersalahmu?” tanya Cakra sambil menatap wajah wanita yang beberapa tahun lalu telah memporak porandakan hatinya.