Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 17 ~ Bukan Bocah



Cukup lama Cakra meminta Sheryl untuk pergi, dia menoleh ke arah pintu menuju area sekolah.


“Lama amat, katanya udah beres,” gumam Cakra.


Sedangkan yang ditunggu tidak akan datang, karena Arini sudah pergi setelah melihat interaksi Cakra dengan Sheryl.


Cakra berkali-kali menghubungi Arini tapi tidak ada jawaban. Dari pada menduga-duga, akhirnya dia mencari Arini dengan kembali ke sekolah dan menuju ruang kerja gadis yang sudah diklaim menjadi kekasihnya.


“Hm, kumat,” cetus Cakra mendapati ruangan di mana Arini berada sudah kosong. “Lihat aja kalau sampai ketemu,” gumam Cakra dengan nada ancaman.


Sedangkan Arini sudah berada di angkutan umum untuk pulang ke rumahnya. Sengaja mengabaikan panggilan dari Cakra.


“Untuk apa hubungi aku, dasar bocah. Seharusnya aku tidak menyukainya, yang ada hanya bikin sakit hati,” gumam Arini.


Turun dari angkutan umum lalu berjalan kaki menuju gang di mana rumahnya berada, Arini terkejut karena sudah ada Cakra di depan rumahnya. Duduk di atas motor menatap ke arah Arini dengan tangan bersedekap. Tentu saja Cakra bisa sampai lebih cepat karena mengendarai motor.


“Sedang apa di sini?” tanya Arini tanpa memandang wajah Cakra mendekati pintu pagar.


“Kamu nanya? Seharusnya aku yang tanya, kenapa menghindariku lagi?”


“Ck, ngapain juga nggak menghindar. Lebih baik aku menghindar dari pada nanti sakit hati karena ditinggalkan,” tutur Arini. Tangannya sudah terjulur di celah pintu pagar untuk membuat selot pintu, menggeser dan membukanya.


“Ini maksudnya apa sih, jelasin aku nggak ngerti maksud kamu,” cetus Cakra yang sudah berdiri di belakang tubuh Arini.


“Aku lelah Cak, ditambah harus menghadapi bocah labil kayak kamu. Pergilah dan temui saja perempuan yang bisa dimodusin,” titah Arini yang sudah melangkah masuk dan saat ini telah berada di beranda rumahnya.


“Hei apa maksudnya bocah labil?”


“Ya kamu bocah labil.”


“Aku bisa buktikan kalau aku bukan bocah,” seru Cakra.


Arini yang mendengar pernyataan Cakra lalu menoleh, dia mengernyitkan dahinya. Membuktikan kalau bukan bocah, tidak terbayang di benak Arini apa yang dilakukan Cakra untuk membuktikan hal tersebut.


Cakra kesal dan tersulut emosi mendengar tuduhan dan ejekan dari Arini. Saat gadis yang sedang merajuk itu sudah membuka pintu rumah, Cakra mendorong tubuh Arini dan menghempaskan ke atas sofa.


Arini sempat menjerit karena terkejut.


“Cakra, gila kamu ya.”


“Ya, gue memang gila dan itu karena lo.” Cakra  kembali menghempas kembali tubuh Arini ke atas sofa lalu mengungkungnya.


“Minggir atau aku teriak!” ancam Arini.


“Teriak aja, tapi aku akan buktikan dulu kalau aku bukan bocah,” ungkap Cakra kemudian menautkan bibirnya dengan bibir Arini.


Gadis yang berada di bawah tubuh Cakra terbelalak dengan sentuhan tiba-tiba dari laki-laki itu. Ciuman pertamanya diambil oleh Cakra, walaupun mereka saling menyukai tapi Arini berharap bukan seperti ini. Cakra menyatukan bibir mereka dengan gerakan agar liar tapi tidak mendapat respon dan timbal balik dari Arini.


Menyadari Arini yang terlihat seperti kehabisan nafas, Cakra pun melepaskan tautan bibirnya.


“Bernafas, apa kamu ingin mati?”


Nafas Arini tersengal, segera dia meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar sirkulasi oksigen di tubuhnya kembali normal.


Plak


Arini menampar wajah Cakra yang masih berada di atas tubuhnya.


“Ternyata aku memang bodoh mencintai bocah yang bukan hanya labil tapi mesum.” Arini berkata dengan nada emosi.


“Aku hanya membuktikan kalau aku bukan bocah, mau bukti lain?”