Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 23 ~ Kepergian Arini



Cakra bergegas karena sudah hampir terlambat. Biasanya Bik Elah selalu membangunkan dan memastikan dia untuk sarapan atau sekedar minum teh hangat tapi pagi ini tidak ada yang melakukan hal itu.


Kemarin begitu melelahkan ketika pengambilan nilai praktek olahraga, bahkan dia harus tidur lebih awal dan bangun kesiangan.


“Ah, pas banget,” ujar Kama yang berpapasan dengan Cakra di pintu kelas.


“Mau kemana?” tanya Cakra melihat Kama dan yang lainnya mulai meninggalkan kelas.


“Ruang kesenian, hari ini kita praktek seni. Ayolah, lo mau perform apaan?”


Cakra berjalan menuju mejanya, mengabaikan Kama lalu meletakan tasnya di sana. Kama ternyata masih menunggu di depan pintu.


“Apa mau kolaborasi?”


“Gue nyanyi lo joget,” cetus Cakra.


“Idih. Gue gitar loe nyanyi. Gimana?”


“Lihat nanti,” sahut Cakra. Keduanya menyusul teman sekelas menuju ruang kesenian, Cakra membuka ponselnya tentu saja melihat chat yang dikirimkan pada Arini semalam belum juga dibaca.


“Sibuk atau menghindar lagi,” gumam Cakra. “Eh. Lo lihat Arini nggak?”


“Bu Arini kali Cak. Nggak tuh,” jawab Kama.


“Kita ke ruang BK dulu yuk, gue khawatir Arini kumat lagi. Sering banget mengabaikan gue, katanya biar gue fokus belajar dan ujian.”


“Yang bener mah memang gitu. Selalu ingin yang terbaik untuk pasangannya bukan malah memanfaatkan apalagi bersikap posesif,” tutur Kama. “Nanti aja istirahat gue anter lo ke ruang BK.”


Cakra dan Kama akhirnya fokus pada ujian praktek hari ini. Cakra menunggu giliran dia tampil dan menunjukan bakat seninya, masih berusaha menghubungi Arini tapi kali ini kontaknya tidak aktif.


“Malah nggak aktif, aneh banget,” ujar Cakra lirih. Menjelang istirahat siang, Cakra yang akan meninggalkan ruang kesenian untuk menemui Arini akhirnya dipanggil untuk menunjukkan bakatnya.


Menghabiskan waktu hanya sepuluh menit untuk tampil bermain gitar akustik dan bernyanyi dan mendapatkan perhatian dari teman-temannya termasuk guru yang sedang menguji. Bahkan Cakra mendapatkan applause dan sorakan saat dia selesai perform.


“Anter gue,” ajak Cakra menarik kerah baju Kama.


Cakra dan Kama menuju ruang BK dan tidak melihat Arini ada di sana, Kama bahkan bertanya pada salah satu guru.


“Bu Arini ‘kan sudah selesai bertugas, kemarin dia pamit kembali ke kampusnya.”


Cakra mengernyitkan dahinya mendengar bahwa Arini sudah tidak bertugas, Kama menatap Cakra kemudian mengajaknya keluar.


“Lo nggak tahu hal ini?”


Cakra menggelengkan kepalanya, mencoba mengingat apa yang terjadi kemarin dan tidak ada hal aneh yang dia rasakan.


“Nggaklah, mana ada gue ribut sama dia. Orang lagi hangat-hangatnya,” sahut Cakra lalu mencoba menghubungi Arini lagi.


“Nggak aktif,” ujar Cakra. “Lo udah perform ‘kan?”


“Udah,” jawab Kama


“Anter gue cari Arini.”


Kedua laki-laki itu sudah berada di motor menuju kediaman Arini. Setiap Cakra melaju dengan kecepatan yang tidak masuk akal, Kama membunyikan klakson agar motor di depannya kembali melaju normal.


“Arini,” panggil Cakra yang berdiri di depan pagar yang terkunci.


Tidak ada jawaban.


“Arini,” panggil Cakra lagi.


Kama yang juga sudah turun dari motor mencoba bertanya pada tetangga Arini.


“Cari Ibu Elah?”


“Ehm, Arini bu,” jawab Kama.


Cakra menoleh.


“Iya, Bik Elah dan Arini,” sahut laki-laki itu.


“Sudah pergi, tadi pagi-pagi sekali.”


“Pergi ke mana Bu?” tanya Cakra yang berjalan mendekat ke arah  rumah tetangga Arini.


“Katanya pulang kampung, pamit juga sama Pak RT katanya akan ada pemilik rumah yang datang jadi kunci rumah dititip ke pak RT.”


Mendengar penuturan tetangga Arini, serasa ada yang menghantam di dada Cakra dan sungguh membuat sakit. Berharap yang dia dengar tadi tidak nyata dan Arini hanya pindah rumah atau keluar kota.


“Apa Bu Arini menghindar dari lo?”


Cakra bergeming, dia kembali membuka ponselnya memastikan pesan yang pagi tadi dia kirim sudah terbaca ataupun terbalas.


“Bik Elah. Kita ke rumah gue, Bik Elah pasti ada di sana.”


Cakra meyakinkan dirinya ada kalau Bik Elah memang ada di kediamannya. Walaupun ada keraguan, karena dia kesiangan dan Bik Ela tidak ada membangunkannya bahkan sampai dia berangkat belum melihat ada Bik Elah.


“Ayo,” sahut Kama.