
[Arini]
[Ariniiii]
[Aku nggak bisa tidur, video call yuk]
[Arini, balas dong atau aku ikut geng motor nih. Kebetulan ada kumpul malam ini]
Cakra meramaikan ponsel Arini dengan mengirimkan pesan. Arini sendiri belum tidur, sedang berbaring di ranjang menatap langit-langit kamar. Sengaja mengabaikan pesan Cakra walaupun sudah melihat lewat jendela pop up, teringat nasihat ibunya setelah Cakra mengantarnya pulang.
“Kita dan Cakra itu berbeda, Ibu yakin kamu mengerti.”
“Orangtua Cakra sudah banyak bantu kita, termasuk pendidikan kamu dan Ibu sudah ikut dengannya sejak lama. Ibu tidak tahu apa respon mereka kalau tahu kamu dan Cakra dekat, apalagi kalau dekat dalam artian berbeda.”
Memang kenapa kalau kami dekat, Cakra siswa bimbinganku. Apa aku tidak boleh dekat dengannya, batin Arini yang belum menyadari kalau ada perasaan berbeda dirinya begitu pula dengan Cakra.
“Huft,” Arini menghela nafas lalu menarik selimut menutupi tubuhnya. Sengaja tidak membuka dan membalas pesan Cakra agar laki-laki itu menduga dirinya sudah tertidur.
...***...
“Pagi Bik Elah,” sapa Cakra yang sudah berada di dapur.
“Pagi Den Cakra. Mau sarapan apa nanti bibi buatkan, den Cakra tunggu di meja makan saja,” titah Bik Elah.
“Bik, Arini sudah punya pacar belum?” tanya Cakra.
“Ehm, bibi kurang tahu.” Bik Elah khawatir jika dugaannya benar kalau Cakra dan Arini memang ada hubungan.
Interaksi antara Cakra dan Bik Elah menjadi perhatian Mami Cakra. Wanita itu heran karena Cakra malah langsung ke dapur, padahal orangtuanya sudah berada di meja makan. Pernyataan Cakra kalau asisten rumah tangga mereka lebih tahu bagaimana Cakra dibandingkan orang tuanya, harus dibenarkan oleh wanita itu.
“Cakra,” panggil Tanti.
Bahkan Bagas yang sedang menyesap kopinya menoleh karena pekikan istrinya.
“Untuk apa berteriak di meja makan?”
“Kita adalah orangtua tapi lihat kelakuan putramu yang malah menyapa ART dan akrab dengan mereka,” keluh Tanti.
Bagas menghela nafasnya, apa yang dikeluhkan Tanti tidak salah. Dia pun menyadari itu, termasuk laporan kenakalan Cakra yang semua itu karena kealpaannya dalam mendidik Cakra.
Cakra kembali ke meja makan, langsung duduk dan memulai sarapannya.
“Apa di sekolah, kamu tidak diajarkan sopan santun?”
Cakra menoleh dan tidak mengerti dengan pertanyaan Maminya.
“Maksud Mami apa sih? Ini masih pagi dan Mami sudah mengajak berdebat,” ujar Cakra. Selera makannya sudah menguap bahkan sendoknya sudah dia letakan kembali.
“Kami ini orangtua kamu tapi kamu malah dekat dengan mereka dan mengabaikan kami,” ujar Tanti lirih karena tidak ingin keluhannya didengar oleh para pekerja di rumahnya.
“Cakra.”
Setiba di sekolah, mood Cakra tidak baik, ditambah Arini tidak kelihatan dan belum menjawab pesannya sejak semalam.
[Apa aku harus berulah dulu untuk menemuimu?]
Cakra mengirimkan pesan pada Arini di sela pelajaran.
“Bangsatt,” gumam Cakra saat kelas hening dan seisi kelas mendengar bahkan menoleh ke arahnya.
“Siapa yang bangssat, Cakra?” tanya guru yang sedang mengajar.
“Fans saya Pak. Dari tadi kirim pesan terus.”
“Halah, fans dari mana? Yang ada pesan lo nggak di balas sama Bu Arini,” lirih Kama.
“Bawel banget macam mulut perempuan. Jomlo mana tahu rasanya berbunga-bunga dan sakit karena dicuekin,” sahut Cakra.
“Halah, paling juga lo yang ngarep sama Bu Arini,” ejek Kama.
Cakra akhirnya pamit ke toilet dan saat berjalan di koridor dia melihat Arini.
Kebetulan banget ketemu di sini, batin Cakra.
Tanpa kata-kata Cakra bergegas menghampiri Arini dan menarik tangan perempuan itu.
“Cakra, lepasin,” ujar Arini saat Cakra mengajaknya ke UKS.
Cakra menutup pintu UKS dan bersedekap menatap Arini yang memintanya untuk minggir agar dia bisa keluar.
“Kenapa pesanku tidak dibalas bahkan dibaca pun tidak?”
“Ponselku di tas.”
“Ck, alasan apalagi. Lowbat?”
Arini menghela nafasnya. “Biarkan aku lewat dan kembali ke kelasmu. Aku akan balas pesan kamu,” titah Arini.
“Udah basi, lo sengaja ‘kan ngehindar dari gue?” tanya Cakra sambil melangkah mendekati Arini. Perempuan itu bahkan menelan salivanya karena mendapatkan tatapan tajam Cakra dan melangkah mundur bahkan sampai membentur meja.
“Cakra … kamu ….”
“Kenapa? Takut?”
Arini bergeming bahkan untuk berkedip pun tidak berani.