Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 31 ~ Masih Mencintai



Pagi ini Cakra kembali ke kampung di mana Sasa tinggal, setelah bermalam di sebuah penginapan yang agak jauh dari lokasi.


“Den Cakra, Nyonya Tanti bilang agar hubungi beliau,” ujar Pak Agus.


“Iya.”


Cakra menyadari belum menghubungi Tanti, malah sejak tadi yang terpikirkan untuk menghubungi Arini. Bahkan sudah beberapa kali mengetik pesan tapi dihapus kembali sebelum dikirim.


“Mau jalan ke rumah yang kemarin? Saya sewakan motor saja ya Den, jadi tidak terlalu jauh jalan kaki,” usul Pak Agus.


“Ah, boleh. Saya akan datangi beberapa tempat untuk mencari tahu tentang pelaku,” sahut Cakra.


Sambil menunggu Pak Agus menyewa motor yang entah kepada siapa, Cakra akhirnya memberanikan  diri mengirimkan pesan pada Arini.


[Kapan datang lagi ke tempat Sasa?]


Satu menit, dua menit lewat pesan Cakra belum juga dibaca. Pria itu kesal sendiri dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku dan terkejut karena getaran ponsel.


“Mami?”


Ternyata panggilan telepon dari Tanti.


“Halo, sayang. Kamu di mana sih, kok nggak hubungi Mami. Kondisi kamu gimana? Sudah sarapan?” Tanti memborong pertanyaan saat Cakra menjawab panggilan.


“Aman Mih, tenang saja aku bersama Pak Agus.”


“Ck, kabari Mami ya. Jadi khawatir nih," seru Tanti.


Tidak lama panggilan pun berakhir dan wajah Cakra mendadak berubah ceria mendapati ada balasan pesan dari Arini.


[Tidak dalam waktu dekat, jadwal konsulnya per dua minggu karena kondisi Sasa sudah lebih baik]


Cakra tersenyum dan kembali mengetik pesan balasan.


[Bisa kita bertemu lagi?]


Pria itu menatap layar ponselnya menunggu simbol pesan terbaca dan kembali mendapatkan balasan.


“Den Cakra, ayo.” Pak Agus datang mengendarai motor matic.


“Ck, ganggu aja. Kenapa nggak yang jauh cari motornya, ke Bandung kalau perlu,” gumam Cakra lalu menghampiri motor setelah memastikan ponselnya sudah aman di saku.


“Kita ke mana dulu?”


“PT. ABC, pelaku bekerja di sana.”


“Berangkatttt,” teriak Pak Agus.


Sedangkan di tempat berbeda, Arini tersenyum karena berbalas pesan dengan Cakra. Jika ingin jujur, gadis itu masih merasakan ada getaran cinta tapi dia teringat siapa dirinya dan statusnya. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Entah apa yang akan dilakukan oleh Papi Cakra jika tahu putranya kembali bertemu dengan dirinya.


“Aku pikir hanya ada di drama, novel atau film tentang cinta tidak direstui. Nyatanya memang benar ada,” keluh Arini.


“Lalu aku harus bagaimana?”


Arini yang sedang termenung di ruang kerjanya terkejut dengan kedatangan salah satu rekannya yang akan mendiskusikan beberapa kasus yang mereka tangani.


...***...


Keempat sahabat itu masih terlihat akrab dan selalu mengagendakan pertemuan di sela kesibukan mereka, meskipun hanya satu bulan sekali. Jika Cakra sudah berhasil menjadi seorang pengacara, Ucup mengabdikan dirinya sebagai seorang guru di SMA Angkasa bahkan dia juga menjadi bagian kesiswaan yang terkadang berurusan dengan anak-anak seperti dirinya saat masih sekolah.


“Bedanya gue nggak dikerubutin cewek-cewek,” sahut Cakra.


“Gimana kondisi lo? Gue pikir ada keluhan lagi?” tanya Iqbal. Sahabat Cakra yang satu ini memang paling cerdas di antara yang lain dan saat ini berprofesi sebagai dokter, bahkan sedang lanjut menjadi spesialis.


“Udah pasti nggak adalah, lihat aja wajahnya ceria begitu. Apa udah balik ke perusahaan Papi lo ya? Boleh dong kita kerja sama,” ajak Kama yang saat ini berperan di perusahaan milik keluarganya.


“Nggak, bisnis dan manajemen bukan bidang gue.”


Di sela obrolan dan candaan mereka, Cakra kerap memandang ponselnya dan tersenyum. Hal ini diperhatikan oleh Ucup dan Iqbal.


“Lo kenapa sih? Senyam senyum nggak jelas sambil memandang layar ponsel,” tegur Ucup.


Cakra terkekeh, kemudian menggeser kursinya agar lebih dekat dengan meja.


“Beberapa hari yang lalu gue ke sebuah kampung, agak jauh dari sini. Ada kasus baru dan kalian bisa tebak gue di sana bertemu dengan siapa?”


“Nggak mungkin Norman Paris,” jawab Ucup.


“Bule kesasar juga nggak mungkin,” cicit Kama.


“Apaan sih, nggak penting yang lo sebut,” sahut Cakra.


“Siapa?” tanya Iqbal.


Cakra menatap ponselnya dan menggeser layar lalu mengangkat ponsel tersebut mengarahkan layarnya pada ketiga pria di hadapannya.


“Lihat, siapa dia?”


“Busyet Cak, cakep amat tapi masih cakepan istri gue Imas,” cetus Ucup.


Cakra hanya berdecak mendengar candaan Ucup. Iqbal mengernyitkan dahinya dia sudah bisa menduga siapa wanita itu.


“Siapa Cak, cantik bener. Romannya masih peraw4n ya?” Kama masih memandang layar di mana terpampang foto Arini.


“Ah, kelamaan bisa-bisa lo naksir. Istri lo lagi hamil jangan aneh-aneh,” tegur Cakra pada Kama.


“Dia Bu Arini,” seloroh Iqbal.


Ucup yang sedang menyeruput es jeruknya tersedak. “Pacar Cakra yang pergi nggak pamit terus bikin ini orang jadi gila dan nekat bahkan hampir kehilangan nyawa?”


“Bu Arini, guru BK yang sempat gue notice tapi ketikung sama lo,” ujar Kama.


“Iya, Arini yang itu. Cantik ya? Cantik banget dan … dewasa.”


Cakra tersenyum menjelaskan bagaimana Arini saat ini termasuk menceritakan pertemuan dengan wanita itu. Di antara ketiga sahabat Cakra hanya Iqbal yang terlihat tidak begitu menyukai pertemuan Cakra dengan Arini.


“Lo masih suka dengan dia?” tanya Iqbal.


Cakra tidak menjawab hanya mengulas senyum sambil menyentuh dagunya.


“Fix, lo masih bucin,” cetus Kama.