
“Ada apa Ini? Kenapa Papi ada di sini?” tanya Cakra yang sudah berdiri di tengah pintu.
Arini dan Bagas menoleh.
“Cakra.” Arini pun menghampiri Cakra dan meraih tangan pria itu lalu menggenggamnya. Keduanya saling tatap seakan mengatakan ayo kita hadapi bersama.
Pasangan itu akhirnya duduk masih dengan tangan saling menggenggam.
“Ada apa Papi temui Arini? Apa ingin mengusirnya lagi dari kehidupan aku?”
Arini mengusap punggung tangan Cakra agar pria itu lebih tenang. Emosi Cakra mudah meluap-luap dan ini bisa berbahaya karena Cakra bisa berbuat hal yang tidak dipikirkan efeknya.
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, justru Papi menemui Arini karena ingin tahu apa dia bisa menerimamu. Papi tidak ingin kejadian lalu terulang bukan karena Papi memisahkan kalian tapi karena kamu patah hati,” jelas Bagas sambil melihat tangan pasangan di hadapannya masih saling menggenggam. “Kelihatannya kekhawatiran Papi terlalu berlebihan, sudah bisa Papi lihat kalau cintamu tidak bertepuk sebelah tangan.”
Cakra dan Arini salin tatap kemudian kembali menatap Bagas yang masih ada di hadapan mereka.
“Maksudnya Papi setuju aku dengan Arini?”
“Hm, selama dia menerima kamu apa adanya,” jawab Bagas.
Cakra tersenyum bahagia. “Jadi, aku boleh menikahinya segera?”
“Cakra,” tegur Arini.
“Apa-apaan ini, kamu seperti yang tidak tahan saja. Kita bicarakan baik-baik, kamu pikir kalian akan menikah karena digrebek masyarakat sampai harus dadakan.”
“Aku hanya takut Papi berubah pikiran,” sahut Cakra sambil mengangkat genggaman tangannya lalu menge_cup punggung tangan Arini. “Juga takut kalau ada yang menikung aku untuk mendapatkannya,” ujar Cakra sambil menatap Arini.
“Papi akan bicara dengan Mami, kalian bicarakan dulu untuk pertemuan keluarga membicarakan pernikahan," titah Bagas kemudian berdiri.
Arini mengajak Cakra untuk berdiri juga, karena pria itu undur diri.
“Ayo kita bertemu dengan Bik Elah. Aku harus sampaikan kalau aku akan menjadi putranya.”
Arini menghela nafasnya, “Besok saja, hari ini aku sudah lelah.”
“Ck, kamu hanya duduk diam. Biar Pak Agus yang mengantar. Ayo,” ajak Cakra.
“Cakra, please. Besok saja dan bukan menjelang malam seperti ini, sebaiknya agak siang kalau ingin menemui Ibuku,” ujar Arini.
Cakra melihat gurat lelah di wajah Arini, akhirnya dia menyetujui permintaan Arini untuk menemui ibunya esok hari.
Arini hanya terkekeh mendengar keluhan pria dihadapannya. Cakra terlihat seperti anak remaja yang sedang kasmaran dan tidak ingin berpisah dengan kekasihnya.
“Masih ada hari esok.”
“Aku ingin bersamamu malam ini, bagaimana kalau aku ikut kamu pulang. Aku tidak akan berulah, aku janji,” ujar Cakra.
“Pulanglah! Orang Tuamu pasti menunggu.”
“Ayolah Arini, aku sudah dewasa.”
“Justru karena kamu sudah dewasa, aku jadi takut kalau harus berduaan denganmu,” sahut Arini yang dijawab oleh Cakra dengan terkekeh.
Cakra pun akhirnya menyerah dia pulang seperti biasa ditemani oleh Pak Agus. Begitu pun dengan Arini yang sudah mengendarai mobilnya sendiri. Tanpa sepengetahuan Arini, ternyata Cakra tidak langsung pulang. Mobil pria itu bersembunyi dan mengikuti mobil Arini yang mulai melaju untuk pulang.
“Jangan terlalu jauh, Pak. Aku tidak ingin kehilangan jejaknya,” pinta Cakra pada Pak Agus.
Hampir lima belas menit berkendara, akhirnya mereka memasuki kawasan apartemen.
“Apartemen? Mengapa Arini tinggal di apartemen,” gumam Cakra.
Cakra meminta Pak Agus untuk menanyakan di mana Arini tinggal dengan bertanya pada resepsionis. Entah alasan apa, akhirnya Pak Agus mendapatkan lantai dan nomor unit apartemen Arini.
“Kita pulang, yang jelas aku sudah tahu di mana dia tinggal.”
...***...
Siang ini, sesuai dengan permintaan Arini bahwa mereka akan menemui Bik Elah agak siang. Cakra sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang juga sudah begitu dekat dengannya dulu. Bahkan lebih dulu Cakra mengena Bik Elah dibandingkan dengan Arini.
Cakra ikut dengan mobil Arini, Pak Agus tetap mengekor di belakang. Cakra mengernyitkan dahi ketika jalur yang dilewati Arini berbeda dengan jalan menuju apartemen wanita itu. Awalnya Cakra masih berpikir positif kalau Arini dan ibunya tinggal terpisah.
Rata-rata anak yang sudah mandiri dan dewasa memang akan tinggal terpisah dengan orangtuanya, bahkan Cakra sendiri sempat mengusulkan itu tentu saja dilarang oleh orangtuanya. Cakra semakin heran ketika mobil Arini memasuki komplek dan melewati sisi pemakaman.
Mengapa Bik Elah tinggal di tempat terpencil begini? Dekat makam pula, batin Cakra.
Mobil yang dikendarai Arini pun berhenti dan terparkir rapi tidak jauh dari gerbang pemakaman.
“Ayo, turun,” ajak Arini.