Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 44 ~ Setelah Pernikahan



Arini menggeliat pelan dan menyadari ada yang menahan tubuhnya bergeser. Setelah mengerjapkan matanya dan menoleh,  wanita itu terpaku memandang pria yang memeluknya dari belakang. Cakra, Cakra yang sudah sah menjadi suaminya.


Tubuh Arini berbalik dan kini berhadapan dengan tangan Cakra masih merangkul tubuhnya. Memandang pahatan sempurna wajah Cakra yang memang agak berbeda dari tujuh tahun lalu, lebih dewasa dan tampan yang mutlak.


“Baru sadar, suami kamu ganteng.”


Arini tersenyum menyadari kalau Cakra hanya berpura-pura terpejam lalu memukul pelan dada bidang pria itu. Saat kedua mata teduh Cakra terbuka, keduanya tersenyum. Senyum bahagia karena pagi mereka akhirnya sangat indah dengan menatap pasangannya.


“Ini kedua kalinya aku bangun tidur melihat kamu?”


“Kedua kali?” Arini bertanya dan heran kapan pertama kali mereka tidur bersama.


“Hm, kedua kali. Yang pertama waktu aku memaksa tidur di rumah kamu karena dikejar geng motor. Untungnya Bik Elah tidak ada di rumah, bisa-bisa kita dinikahkan saat itu juga,” tutur Cakra mengingatkan Arini akan kejadian beberapa tahun lalu.


“Maaf, semalam aku malah ketiduran.”


“Nggak apa, kamu sepertinya sangat lelah. Lain kali, untuk urusan kerja jangan seperti itu. Yang tahu kondisi tubuh kamu ya kamu sendiri.”


“Iya dok,” sahut Cakra.


“Aku serius, Cak.”


“Terus kita mau ngapain setelah ini?” Cakra bertanya sambil mengeratkan pelukannya, membuat Arini semakin menempel pada tubuhnya.


Semalam Arini akhirnya mengenakan piyama mengganti bathrobenya, tapi Cakra terlelap dengan balutan bathrobe.


“Hm, ngapain ya. Kerja nggak mungkin, kita sedang cuti.”


“Bagaimana kalau kita sarapan lalu ….” Cakra menaik turunkan alisnya.


“Lalu?” tanya Arini sambil mengernyitkan dahinya.


“Kita lakukan apa yang semalam tertunda.” Cakra mengatakan hal ini dengan senyum di wajahnya.


 Padahal beberapa hari sebelumnya, Cakra begitu ngotot untuk bertemu dengan Arini meskipun sedang dalam masa pingitan. Juga tidak sadar saat ingin segera meninggalkan acara akad dan resepsi untuk segera bersama Arini. Nyatanya mereka malah terlelap bersama melewati malam pertama pernikahan.


Obrolan mereka terhenti karena dering ponsel Cakra.


“Papi,” ucapnya.


Cakra menjawab panggilan telepon dengan Arini masih berada di pelukannya. Entah apa yang dibicarakan Arini hanya mendengar satu arah.


“Sayang, kamu mandi dulu. Aku temui Papi di bawah lalu kita sarapan di sini. Okey”


“Hm.”


Arini masih bergelung manja dengan selimut, saat Cakra mengganti bathrobe dengan pakaian dari koper. Hanya kaos abu-abu dan celana pendek hitam, tapi tetap membuat penampilannya terlihat keren. Tampannya seorang Cakra memang mutlak, itu terbukti saat ini Cakra belum mandi bahkan wajah khas bangun tidur masih terlihat dan sama sekali tidak mengurangi kadar kegantengannya.


Setelah kepergian Cakra, Arini menghubungi layanan kamar dan minta sarapan untuk diantar ke kamar. Lalu kembali membersihkan diri, padahal sebelum tidur dia sudah mandi. Arini khawatir jika Cakra benar ingin melakukan sesuatu dengannya pagi ini, ternyata ada yang tidak mengenakan dari tubuhnya.


“Papi minta kamu turun, pasti hal mendesak,” ujar Arini pada Cakra saat pria itu sudah kembali.


“Hm.”


“Papi dan Mami setelah ini langsung ke bandara. Perusahaan Opa, sedang ada masalah. Candra juga langsung berangkat. Mungkin kalau sudah sampai Mami akan hubungi kamu, mereka tidak ingin mengganggu kita jadi hanya panggil aku turun.”


Arini meletakan kopi di hadapan Cakra.


“Kenapa?” tanya Cakra karena Arini menatapnya.


“Nggak apa-apa tapi aku heran, kamu yakin pengacara adalah pilihan kamu. Sebab kalau ingat dulu dan profesi Pak Bagas, aku pikir kamu akan jadi pengusaha seperti Papi dan Kakakmu."


“Bukan, tapi kondisi saat itu membuat aku memilih pendidikan dan profesi ini,” jelas Cakra di sela sarapan mereka.


Arini baru saja meletakan gelas saat Cakra sudah berpindah duduk di sampingnya, bahkan memeluk dan berbisik membuat tubuh wanita itu meremang. Tangan Cakra juga sudah mulai nakal menyentuh dan bergerilya ke bagian sensitif dan membuat tubuh Arini lebih dari sekedar meremang.


“Cakra.”


“Hm.” Cakra mulai sibuk dengan menyapu leher dan bahu Arini dengan indra perasa dan mulutnya. Arini yang masih mengenakan bathrobe, memudahkan suaminya menyusupkan tangannya.


“Cakra ….”


“Ayo,” ajak Cakra yang sudah berdiri.


“Ke mana?”


“Kamu belum expert?”


“Ada waktunya aku akan ahli bahkan buat kami mendessah dessah,” ujar Cakra. “Ayolah, sudah nggak sabar nih. Kalau bisa, aku sudah gendong kamu dan pindahkan ke ranjang.”


Arini tersenyum lalu berdiri. Cakra langsung meraih tangan wanita itu dan bergegas menuju ranjang pengantin yang bentuknya sudah berantakan karena dipakai tidur dalam arti yang sebenarnya.


Tidak lama kemudian, keduanya sudah dalam posisi int*m dengan tubuh sama-sama polos. Cakra berhasil memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Arini terbuai bahkan melayang sampai akhirnya bagian tubuh Cakra perlahan memasukinya.


Arini sempat menjerit pelan dan tangan mencengkram bahu kokoh suaminya, hentakan ketiga berhasil bertandang sempurna dan mengoyak sesuatu di dalam sana.


“Sakit?”


Arini menggigit bibirnya dan mengangguk pelan.


“Maaf sayang,” ujar Cakra yang kembali memberikan sentuhan agar Arini tidak fokus pada rasa nyeri yang dirasakan.


Saat melihat Arini sudah lebih nyaman, pria itu kembali bergerak, membuat keduanya terlena bahkan jeritan yang tadi keluar dari mulut Arini berubah menjadi dessahan. Sampai akhirnya puncak kenikmatan berhasil mereka raih.


Cakra kembali mengulang kegiatannya hanya jeda beberapa menit. Akhirnya Cakra menghempaskan tubuh di samping Arini. Nafas mereka masih tersengal dan keringat membasahi tubuh.


“Hahh.” Cakra menghela nafasnya. “Pantas saja Kama mau nikah muda, rasanya luar biasa,” teriak Cakra lalu memeluk Arini dari samping dan mencium pipinya.


“Terima kasih sayang, terima kasih sudah menjadi wanita yang sempurna untukku.”


...***...


“Kamu nggak masalah ‘kan kalau kita tinggal dengan Mami dan Papi?”


Saat ini Cakra dan Arini baru meninggalkan hotel, tentu saja bersama Pak Agus yang mengendarai mobil.


“Tidak, memang kenapa?” Arini bertanya balik.


“Aku khawatir kamu tidak nyaman tidak dengan mertua.”


Arini tersenyum dan mengusap punggung tangan Cakra yang sedang menggenggam tangannya. “Aku sudah tidak ada keluarga, berada di tengah keluargamu pasti menyenangkan. Kalau salah satu diantara kita sibuk akan lebih tenang kalau pasangan kita berada di tempat yang aman.”


Cakra tersenyum lalu mengusap kepala Arini. Cakra mengatakan tidak akan membatasi Arini dalam peran dan profesinya selama tahu tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Walaupun dapat izin, Arini sudah mulai mengatur porsi pekerjaannya. Dia hanya akan fokus sebagai psikolog dan melepaskan kegiatan lainnya.


Kediaman Bagas saat ini berbeda bukan kediamaan yang dulu. Mereka sudah pindah setelah Cakra mengalami kecelakaan. Mungkin hal ini yang membuat Ibu Arini sedih ketika tiba di Jakarta tapi tidak berhasil menemukan Cakra.


Beberapa bulan sejak pernikahan, Arini melihat perbedaan seorang Cakra. Pria itu akan sangat serius, tegas dan tampak dewasa ketika di luar terutama saat bekerja. Namun, akan sangat manja ketika hanya berdua dengan Arini. Bahkan tidak jarang Cakra merengek pada istrinya.


Hubungan Arini dengan kedua orangtua Cakra sangat dekat, bahkan saat Cakra keluar kota untuk mencari tahu dan mencari bukti dari kasus yang dihadapi, Arini dan Tanti malah ke Singapura berlibur dan menemui keluarga Candra.


“Sayang,” panggil Cakra dengan manja.


Arini yang sedang menyiapkan setelan untuk Cakra, terpaksa bergegas menuju toilet.


“Kenapa?” tanya Arini.


Cakra yang menunduk di wastafel dengan kedua tangan bertumpu pada pinggirannya terlihat pucat setelah memuntahkan isi perutnya.


“Muntah lagi?” Arini mengambil handuk kecil dan menyeka wajah Cakra.


Pria itu mengangguk lalu memeluk dan mendaratkan wajahnya pada bahu Arini.


“Kita ke dokter ya, kamu sering muntah beberapa hari ini,” ajak Arini.


“Palingan pencernaan karena aku telat makan. Kamu yang harus ke dokter, wajah kamu pucat dan berbaring terus. Ini bukan karena kurang darah,” tutur Cakra malah mengkhawatirkan istrinya.


“Ya udah kita periksa bareng. Kamu diperiksa aku juga diperiksa.”


“Aku jadi deh yang periksa kamu. Aku teliti loh, luar dalam dan semua bagian,” ujar Cakra mulai menjurus ke adegan plus plus.


“Ck, nggak usah aneh-aneh. Barusan kamu habis muntah.” Arini meraih tangan Cakra dan mengajaknya keluar dari toilet.


“Sekarang juga aku mau muntah, Sayang.”


Arini menoleh.


“Bagian bawah aku yang mau muntah,” bisik Cakra.


“Cakra,” jerit Arini saat tubuhnya sudah direbahkan di atas ranjang.