Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 36 ~ Deja Vu



“Apa aku terlihat sedang bercanda? Untuk apa aku berlari bahkan sampai ponselku terjatuh dan rusak begini karena khawatir kamu macam-macam, aku hubungi tapi tidak dijawab,” tutur Arini dibalas senyum oleh Cakra.


“Kita harus rayakan ini, bagaimana kalau kita makan di luar,” ajak Cakra.


“Tidak mau.”


Cakra mengernyitkan dahinya mendengar penolakan Arini, padahal wanita itu bilang kalau dia serius dengan perasaannya tapi malah berucap penolakan.


“Kakiku pegal, tadi tidak sadar kalau aku mengenakan heels saat berlari,” keluhnya tapi terlihat menggemaskan di mata Cakra.


“Mau aku pijat, kemarikan kakimu,” pinta Cakra menepuk pangkuannya.


“Apaan sih. Aku lapar,” keluh Arini lagi.


“Ya sudah, ayo kita makan,” ajak Cakra sudah berdiri dan mengulurkan tangannya.


“Bisa kita pesan saja, atau makan itu,” tunjuk Arini pada goody bag yang ada di atas meja kerja Cakra.


“Ah iya, tapi ini hanya satu box.” Cakra mengeluarkan box dengan menu premium dari bungkusnya lalu kembali ke sofa. “Tapi tak masalah, sama seperti satu piring berdua. Romantis.” Cakra tersenyum membayangkan dia akan menyuapi Arini.


.


.


.


“Biar aku antar kamu dulu ya,” ujar Cakra ketika sudah keluar dari lobby gedung di mana kantornya berada. “Maksud aku, Pak Agus yang bawa mobil.”


“Tidak usah, aku bawa mobil kok.”


“Kapan aku boleh menginap di rumahmu seperti waktu dulu?”


Arini terkekeh, “Itu bukan boleh, tapi darurat karena kamu hampir jadi korban geng motor.”


“Aku pun sekarang korban.”


Arini mengernyitkan dahinya tidak paham maksud Cakra, apakah yang dikatakan pria itu guyonan atau memang serius dia ingin menyampaikan sesuatu.


“Korban perasaan dari seorang Arini Septha,” bisik pria itu lalu terkekeh.


“Nyebelin.” Arini merapikan kerah kemeja Cakra sebelum pria itu masuk ke dalam mobil yang sudah berhenti tepat di hadapan pasangan itu. “Langsung pulang dan istirahat.”


“Tapi aku masih kangen,” rengek Cakra sambil memegang pinggang Arini.


“Masih banyak waktu,” sahut Arini sambil mendorong tubuh Cakra pelan. “Masuklah!”


“Biar Pak Agus mengekor mobilmu, aku pastikan kamu aman sampai rumah.”


Arini kembali terkekeh, “Cakra, masuklah!”


“Oke, kali ini aku turuti apa perintahmu Nyonya tapi besok-besok … nope. Kamu yang harus ikut apa perintahku,” ancam Cakra.


“Siapa takut.”


Mobil yang membawa Cakra perlahan menjauh, Arini pun menuju mobilnya lalu meninggalkan tempat itu menuju apartemennya. Bukan tergolong apartemen mewah tapi bisa digunakan untuk tempat tinggal yang layak.


Sedangkan di kediaman Cakra, setelah pria itu datang dan langsung ke kamar untuk istirahat. Tanti dan Bagas membicarakan masalah Cakra.


“Aku tidak peduli, kalaupun wanita itu saat ini seorang pemulung kalau dia pilihan Cakra aku akan berikan restu,” tutur Tanti sedangkan Bagas masih menatap kosong ke depan sedang memikirkan sesuatu.


“Mih, ini bukan lagi masalah restu. Sikap Cakra yang kalau benar karena menjauhi wanita itu bukan gembira karena kembali bertemu wanita itu yang harus kita pahami. Bagaimana kalau Arini ternyata sudah menikah atau siap menikah?”


“Kita ingin yang terbaik untuk Cakra, bukan berarti harus merebut jodoh orang lain.” Bagas kembali menjelaskan apa yang menjadi kekhawatirannya.


"Mih, sepertinya aku sudah menemukan jodohku," ujar Cakra saat berada di meja makan. Tanti tersedak mendengar ucapan Cakra. 


"Pelan-pelan Mih," pinta Cakra sambil menyodorkan gelas berisi air minum. 


Bagas hanya menatap Tanti dan paham kekhawatiran dari istrinya. 


"Siapa wanita yang kamu maksud, ajak dia bertemu kami," titah Bagas. 


"Nanti Pih, aku pasti ajak dia menemui kalian."


Ternyata sejak tahu kalau Cakra sudah bertemu lagi dengan Arini, Bagas sudah menyuruh orang untuk mencari tahu mengenai Arini dan hari ini dia akan bertemu dengan orang suruhannya untuk mendapatkan informasi mengenai Arini.


“Papi berangkat, kita akan bicarakan lagi nanti tentang jodoh kamu,” ujar Bagas pada Cakra.


...***...


Bagas mendengarkan informasi mengenai Arini dan beberapa foto wanita itu. Dengan latar belakang keluarga yang memprihatinkan, Arini bisa membuktikan dia bisa berdiri sendiri bahkan aktivitasnya lebih banyak bidang sosial dari pada komersial.


“Ibu Arini dan tuan Cakra sedang ada kerjasama membantu korban pelecehan. Ini yang membuat mereka bertemu lagi.”


“Bagaimana dengan Ibu Arini?” tanya Bagas.


Bagas terpaku mendengar penjelasan kondisi Arini dan Ibunya. Bahkan pria itu sampai memijat dahinya, entah apa yang Cakra akan lakukan kalau tahu masalah yang dia dengar saat ini.


Tujuh tahun lalu putranya kecewa dan hampir kehilangan nyawa, berharap kali ini Cakra bisa berbesar hati dan dia sendiri bersama Tanti akan menerima apapun keputusan Cakra walau harus memilih Arini sebagai jodohnya.


“Mana alamat kantor Arini!” pinta Bagas.


Menjelang sore Bagas mendatang kantor di mana Arini berada. Kebetulan sekali mereka bertemu saat Arini akan pergi.


“Arini,” panggil Bagas.


Arini menoleh dan terkejut, masih ingat betul sosok pria di hadapanya walaupun sudah paruh baya. Pria yang pernah dengan pongah mengusirnya secara halus dari sekolah tempat dia magang hanya karena status sosial.


“Pak Bagas,” ucap Arini.


“Bisa kita bicara?”


Arini menelan saliva sebelum menjawab permintaan pria itu.


“Bisa, mari ikut saya.”


Saat ini keduanya sudah duduk berhadapan di ruangan sederhana Arini, Bagas menatap keliling ruangan di mana dia berada. Arini tidak ingin terlihat takut atau rendah diri, dia menatap pria di hadapannya, walau dalam hati khawatir kalau kejadian tujuh tahun lalu akan terjadi lagi.


“Kamu bahagia dengan hidupmu saat ini?” tanya Bagas.


“Tergantung situasi Pak, jika dibandingkan dengan pasien-pasien yang menerima konsultasi dari saya tentu saja saya merasa bahagia karena bisa hidup lebih baik dari mereka.”


“Aku tahu  kalian sudah bertemu lagi dan Cakra sepertinya kembali menaruh hati padamu. Apa kamu bahagia dengan Cakra yang kondisi fisiknya seperti yang kamu lihat?” Bagas kembali bertanya.


“Bagaimana jika Cakra dan saya memutuskan untuk bersama, apa Pak Bagas akan bahagia atau sebaliknya?” Arini balas bertanya membuat pria di hadapannya menghela nafas.