
Pekan try out yang dilaksanakan di sekolah Cakra sudah berakhir. Cakra dan ketiga sahabatnya serius mempersiapkan dan menjalankan proses rangkaian ujian. Mereka sadar kalau hal ini terkait pula dengan masa depan mereka.
“Kumpul tempat biasa,” ajak Iqbal
“Kalian duluan, nanti gue nyusul,” ujar Cakra.
Beberapa hari ini dia konsen dengan kegiatan try out, sepakat untuk tidak melakukan aktivitas di luar sekolah termasuk geng motor. Bahkan Arini tidak ingin bertemu Cakra agar laki-laki itu bisa banyak waktu untuk belajar.
Cakra berjalan sepanjang koridor menuju ruang BK, sempat mengirimkan pesan kalau dia menuju ke sana tapi belum ada balasan.
“Permisi,” ucap Cakra Setelah mengetuk pintu.
“Mau bertemu siapa? Saya nggak panggil kamu,” ujar Pak Yusron yang kebetulan berada tidak jauh dari pintu ruangan.
“Ehm. Bu Arini, Pak.”
“Arini, ke mana dia,” ujar Yusron bicara sendiri sambil menatap meja kerja Arini.
“Tadi antar berkas ke ruang kepala sekolah,” ujar guru lainnya.
“Saya tunggu di luar saja,” sahut Cakra.
“Hm. Ingat Cakra, jangan berulah lagi!”
Cakra hanya menganggukkan kepalanya, dia duduk di undakan tangga yang ada tidak jauh dari ruang BK. Terlihat Arini berjalan menuju ke arahnya, lak-laki itu sudah mengulas senyum. Sudah beberapa hari ini tidak bertemu hanya saling menatap dari jauh.
“Kamu ….”
“Aku rindu,” ujar Cakra lirih saat mereka sudah berhadapan.
“Cakra, ini di sekolah. Kalau ada yang lihat nanti ….”
“Nanti malam aku jemput ya, kita nonton atau makan,” ajak Cakra. “Tidak ada penolakan,” ujar Cakra lagi sebelum Arini menjawab.
“Tapi kamu harus persiapkan ujian praktek.”
“Kita luangkan satu malam tidak akan membuat aku gagal ujian atau tidak lulus. Aku tidak sebodoh itu,” ungkap Cakra.
Arini hanya mengangguk, dia pun sama seperti yang Cakra sampaikan … rindu. Keduanya hanya bisa saling sapa lewat pesan itu pun dirinya sering menghentikan balasan-balasan pesan dari Cakra agar kembali fokus dengan belajar.
“Sampai bertemu nanti malam ya.”
Arini menganggukan lagi kepalanya.
“Love you,” ujar Cakra tanpa bersuara.
Arini menatap punggung Cakra yang sudah melangkah menjauh lalu dia kembali ke ruangannya
“Cakra tadi cari kamu,” ujar Yusron. “Ada masalah apa lagi?”
“Oh, nggak ada Pak. Hanya konsul untuk ujian praktek dan perguruan tinggi yang sepertinya dia minati.” Arini terpaksa berbohong, tidak mungkin dia menyampaikan kalau Cakra mengajaknya kencan.
“Sebenarnya Cakra itu bisa jadi pria idaman. Udah ganteng, pintar dan berasal dari keluarga berada sudah pasti masa depannya terjamin tapi sayang berandalan,” ujar guru lainnya.
“Tapi anak-anak sekarang senang dengan laki-laki berandalan, katanya keren.”
Arini tidak berkomentar, hanya menjadi pendengar yang baik para rekan kerjanya. Walaupun ingin sekali merespon sesuai dengan yang dia tahu, bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh seseorang pasti ada dasar atau alasanya. Meskipun alasan itu terkadang tidak bisa diterima oleh logika atau kebenaran.
Sedangkan di tempat biasa Cakra CS kumpul, warung Mpok Leha. Keempat laki-laki itu membicarakan ajakan rekan sesama siswa yang akan mengajak tawuran. Ada informasi kalau sekolah lain menantang sekolah Cakra.
“Jadi kita bakal ikutan nggak?” tanya Kama.
“Gimana Cak?” Iqbal menunggu persetujuan Cakra.
Cakra terlihat merenung, dia memikirkan apa mereka akan selamat dari insiden tersebut atau sekolah mengetahui dan urusannya dengan kelulusan mereka.
“Kapan sih?” tanya Cakra.
“Ikutlah, untuk nama sekolah. Memang kita tawuran untuk kita sendiri, ‘kan nggak,” sahut Ucup sambil meneguk es tehnya.
“Pimpinan kita ini ragu, karena sudah mulai dalam mode siswa cupu arahan dari Ibu Arini,” ejek Kama.
“Kamprett, bukan begitu juga. Kita harus lihat situasinya, tahu sendiri kita sedang ujian akhir. Gimana kalau setelah kita ikutan malah di blacklist oleh sekolah terus dinyatakan tidak lulus,” tutur Cakra yang disambut dengan anggukan kepala oleh Iqbal.
“Iya juga ya,” jawab Ucup. “Kenapa gue nggak kepikiran ke situ ya.”
“Jadi gimana dong?”
“Tunggu minggu depanlah, toh tantanganya masih lama,” ujar Cakra yang masih ragu mengiyakan ajakan rekannya, walaupun dalam hatinya sudah tidak tertarik mengikuti kegiatan itu. Bukan karena arahan dari Arini tapi Cakra ingin membuktikan kalau dia bisa bertanggung jawab dan Arini tidak perlu meragukannya.
“Terus sekarang kita ngapain?” tanya Kama.
“Makanlah, udah laper gue,” cetus Ucup.
“Eh, ada Bebeb Cakra.” Imas keluar dari rumah karena mendengar keributan dari keempat cowok ganteng dengan levelnya masing-masing. “Udah lama nggak kemari, apa kabar?” tanya Imas sambil menghampiri Cakra.
Ucup langsung duduk diantara Imas dan Cakra agar perempuan itu tidak menempel pada sahabatnya.
“Cukup, gue yang akan jadi penengah,” ujar Ucup.
“Ih, apaan sih. Minggir sana,” usir Imas pada Ucup.
“Nggak bisa, yang ini udah ada pawangnya. Mending lo pilih gue, Kama atau Iqbal,” seru Ucup lagi.
“Ogah, maunya Bebeb Cakra.”
“Tapi sayangnya Bebeb Cakra nggak mau sama lo.”
“Woy Imas, masuk loh. Di dalem banyak cucian, baju yang belum disetrika juga numpuk. Ngapain lo malah ngumpul bareng dia orang,” pekik Mpok Leha.
“Yaelah Nyak, nggak ngerti amat anaknya lagi usaha memperbaiki keturunan. Emang nggak mau ya punya cucu wajahnya mirip Stefan William,” tutur Imas yang langsung beranjak ke dalam rumah.
“Yang dimaksud Imas mirip Stefan William, siapa ya?”
“Lo,” jawab Cakra, Kama dan Iqbal serempak.
...***...
Cakra bersiul sambil berkaca melihat tatanan rambutnya. Khawatir kalau helm yang tadi dia pakai merusak tatanan rambut yang sudah diatur menggunakan pomade. Saat ini laki-laki itu duduk di atas motor yang terparkir di depan kediaman Arini.
“Lama amat, nggak tahu gue udah kangen,” gumam Cakra.
Sedangkan di dalam rumah, Arini yang sudah mengenakan celana jeans dan blouse serta flatshoes dilengkapi sling bag terpaku mendapatkan wejangan dari Ibunya.
“Iya, Bu,” sahut Arini setelah nasihat dari ibunya yang cukup panjang.
Sebelum keluar, gadis itu mengambil jaket yang sudah diletakan di atas sofa sejak tadi sore.
“Ayo,” ajak Arini yang sedang menutup pintu pagar.
“Kirain kamu udah terlelap dari tadi nggak keluar-keluar. Eh, aku harus ketemu Bi Elah dulu nggak?”
“Untuk apa?”
“Ya izin kalau kita mau kencan,” sahut Cakra sambil tersenyum penuh arti.
“Nggak usah, aku sudah bilang. Kalau kamu masuk nanti malah lama sama nasihat Ibu.”
Cakra dan Arini berada di atas motor membelah jalanan ibukota menuju salah satu mall. Keduanya tersenyum bahagia bahkan jemari tangan saling terpaut berjalan di sepanjang koridor mall menuju lantai di mana bioskop berada.
Sesekali Arini terkekeh karena guyonan yang dikatakan oleh Cakra. Tanpa mereka sadari ada sosok yang memperhatikan keduanya, bahkan mengekor langkah mereka untuk memastikan identitas keduanya.