
Prang
“Arini, ada apa?” Bik Elah menghampiri Arini yang sedang memandang pecahan piring di lantai.
“Entah Bu, perasaan aku pegang benar kok jatuh ya.”
“Sudah, biar ibu yang bereskan. Kamu pasti lelah, istirahatlah,” titah Bik Elah. Arini hanya bisa pasrah, tidak seperti biasanya dia akan menolak kalau melihat ibunya yang mengerjakan urusan pekerjaan rumah.
Aku kenapa ya, kok rasanya tidak enak. Di sini rasanya sesak, batin Arini sambil menepuk dadanya.
Saat ini dia duduk di kursi yang berada di beranda rumah, sudah hampir seminggu mereka pindah ke rumah kontrakan yang tadinya tinggal di kosan Arini.
Arini mengeluarkan ponsel dari sakunya, menatap layar yang saat ini jarang sekali ada aktivitas komunikasi setelah dia mengganti kontak teleponnya. Hanya teman-teman di kampus yang tahu.
Cakra, apa kamu baik-baik saja?
“Huft.”
Gadis itu menatap langit yang tetiba mendung lalu turunlah rintik hujan.
“Kenapa aku tidak suka dengan hujan kali ini,” gumam Arini lalu melangkah masuk ke kamarnya.
Bik Elah yang melihat sikap Arini hanya bisa menghela nafasnya. Dia tahu kalau Arini sedang mengkhawatirkan dan merindukan Cakra. Sebagai seorang Ibu, melihat putrinya kecewa dan patah hati tentu saja Bik Elah ikut sedih tapi kenyataan dan situasi mengharuskan mereka menghindar dan sadar diri.
“Ibu yakin kamu bisa melupakan Cakra.”
...***...
“Apa yang kalian lakukan, kenapa bisa senekat ini?” tanya Pak Gala yang sudah tiba di rumah sakit bersama dengan Yusron.
“Cakra yang nekat bukan kami,” sahut Kama.
“Apa ini karena ...."
“Iya,” jawab Iqbal. “Salah satunya karena Ibu Arini, Cakra pasti kecewa setelah tahu kalau Papinya terlibat dengan kepergian Bu Arini,” jelas Iqbal.
Tidak lama orangtua Cakra sudah tiba di rumah sakit, keduanya terkejut mendapatkan informasi kalau putra mereka terluka karena terlibat tawuran.
“Bagaimana keadaan Cakra?” tanya Bagas.
“Di mana Cakra?” tanya Tanti.
“Masih di dalam, kondisinya … parah,” ujar Iqbal.
“Keluarga Cakra,” panggil petugas kesehatan.
Orangtua Cakra menghampiri, begitupun Iqbal yang ingin mengetahui kondisi sahabatnya.
“Kami orang tuanya,” jawab Bagas.
“Tolong setujui berkas ini, karena Cakra dalam kondisi kritis dengan luka parah. Kami akan lakukan operasi.”
Hampir tengah malam, orangtua Cakra masih menunggu di depan ruang operasi. Sedangkan ketiga sahabat Cakra sudah diminta pulang oleh Bagas. Wajah Tanti tentu saja sembab karena sejak tiba di rumah sakit dia terus menangis dan menyesal selama ini mengabaikan putranya. Berharap Cakra bisa selamat dan sembuh, dia berjanji akan memberikan waktunya untuk Cakra.
\=\=\=\=
“Kalian yakin?”
“Hm, ini datanya. Dia memang korban kekerasan orangtua dan teman-teman di sekolah.”
Arini meraih berkas yang diberikan Ira, membaca dengan teliti dan memperhatikan foto-foto yang dilampirkan.
“Bisa setega ini ya, hanya karena harta.”
“Bisalah, paling dua tahun lagi si anak sudah berhak dengan harta warisannya sendiri dan pasangan itu sepertinya khawatir tidak akan mendapatkan bagian lagi.”
“Ya udah aku ambil ini.”
“Hm, jangan lupa jadwal konsul Sasa,” ujar Ira mengingatkan.
“Oke, aku ke sana nanti sore.”
Arini Septha, sesuai dengan latar belakang pendidikannya sebagai psikolog dia bersama beberapa rekannya membuat layanan konsultasi kesehatan mental. Bukan hanya itu, Arini juga berprofesi sebagai dosen dan penulis tentu yang berhubungan dengan remaja juga korban kekerasan fisik dan mental.
Perempuan itu kini sudah berada di ruang kerjanya, ruangan yang cukup sederhana jauh dari kata mewah. Kantor layanan yang dia dan rekan-rekannya dirikan lebih banyak menangani kasus sosial bahkan terkadang tanpa mendapatkan bayaran.
Brak
“Arini, gawat Arini.”
“Ya ampun Reno, bisa nggak sih lo masuk ketuk pintu dulu.”
“Nggak bisa, udah setting aku begini. Kamu maklum aja ya,” tutur Reno yang sudah duduk berhadapan dengan Arini yang berdecak mendengar penjelasan rekannya.
“Apa yang gawat, kamu banyak nge prank dibandingkan serius.”
“Kali ini aku serius. Kita dapat peringatan untuk kasus ini,” ujar Reno sambil meletakan berkas ke hadapan Arini. "Keluarga lawan menggunakan jasa pengacara, sepertinya mereka ingin kita bertemu di pengadilan.”
“Huft.”
“Ini kenakalan remaja, yang mau mereka tuntut siapa? Anak mereka juga terlibat, aneh deh,” keluh Arini.
“Aku mundur ya, kamu aja yang terusin tukar dengan kasus yang Ira kasih ke kamu.”
“Ck, heran deh. Kerja pilih-pilih.”
“Masalahnya kita melawan keluarga berada, ujung-ujungnya orang kecil kayak kita pasti kalah.”
Deg
Arini mengingat bagaimana dia harus terlibat dengan orang yang berbeda strata dengannya. Bahkan harus didepak dari tempat dia magang.
“Deal ya,” ujar Reno lalu melenggang pergi meninggalkan ruang kerjanya.
Mengingat masa lalunya, Arini kembali teringat dengan sosok laki-laki yang pernah mengisi hatinya. Bocah SMA yang memacarinya dengan gaya berani dan berandalan.
“Cakra, apa kabarmu?” gumam Arini.