
“Dari mana kamu?”
Cakra yang tiba sudah cukup larut terkejut karena Papinya menunggu kepulangan dirinya.
“Tumben Papi peduli.”
“Papi tanya dari mana?”
Cakra baru pulang setelah berkumpul dengan geng motornya, seperti biasa mereka berkonvoi dan berkeliling di daerah tertentu.
“Main.”
“Main apa sampai larut begini? Kerjamu hanya berkelahi, tawuran dan ikut geng motor. Mau jadi apa nanti?”
“Telat Pih. Kalau Papi mau peduli dengan kegiatanku, seharusnya dari dulu bukan sekarang.”
Plak.
Wajah Cakra berhasil menerima tamparan. Sekian lama dia menantikan kepedulian dari orang tuanya, bahkan kenakalan yang dia lakukan hanya untuk mendapatkan perhatian itu. Namun, ketika semua dia dapatkan sekarang, rasanya sudah tidak seantusias dulu.
“Dasar bocah nakal, aku tanya mau jadi apa kamu nanti saat dewasa? Apa kamu mau jadi penjahat atau mafia?” bentak Papi Cakra.
Cakra hanya diam, sejak awal memang orang tuanya tidak pernah memaksakan sekolah dan harapan putranya di masa depan tapi Cakra memerlukan juga perhatian dan kepedulian yang seharusnya diterima seperti remaja seusianya.
Bahkan saat Cakra melewati usia tujuh belas tahunnya, hanya Bik Elah dan pekerja rumah lainnya yang merayakan karena orangtuanya sibuk lagi-lagi dengan alasan untuk kebutuhannya juga.
“Sekali lagi aku dengar kamu bermasalah, bersiaplah aku pindahkan pendidikan kamu di tempat yang tingkat disiplinnya tinggi,” ancam Papi Cakra.
Brak.
Cakra melempar jaket kulitnya ke atas meja belajar dan menjatuhkan sebuah pigura lalu membaringkan tubuhnya di ranjang, dengan kedua tangan diletakkan di belakang kepala. Kedua matanya menatap langit-langit kamar.
Bukan menyadari apa kesalahannya termasuk meresapi nasihat dari sang Papi, Cakra malah memikirkan Arini. Sejak tadi sore meninggalkan rumah gadis itu, lalu berkumpul dengan teman geng motornya, Arini belum membalas pesan yang dikirimkan.
“Kalau gue datengin sekarang, marah nggak ya,” gumam Cakra.
Entah ide dari mana dia ingin mendatangi kediaman Arini saat ini juga, di mana sudah lewat tengah malam.
“Tapi nanti Bik Elah marah, jangan deh besok aja.”
...***...
“Cakra, dipanggil ke ruang BK,” ujar salah seorang siswa dari kelas berbeda dengan Cakra saat jam istirahat tiba.
“Ck, ganggu kesenangan aja.”
“Masalah apaan lagi?”
Cakra hanya mengedikkan bahunya, “Eh, kalau lihat Arini suruh jawab chat dari gue.”
“Arini … Bu Arini. Gak sopan lo sama guru.”
“Lah … dia Cuma magang dan beda umur kita hanya dua atau tiga tahun. Pantesnya dia gue pacarin," cetus Cakra.
Cakra meninggalkan kelas dan menuju ruang BK. Betapa terkejut ternyata sudah ada Papinya di sana, bersama Pak Gala selaku kepala sekolah, Pak Yusron dan tentu saja Arini.
“Papi ….”
“Cakra, duduklah,” titah Pak Yusron.
“Kami sudah sampaikan kepada orangtuamu terkait kasus yang sudah kamu lakukan akhir-akhir ini, Ibu Arini juga sudah menghubungi orangtuamu sebelumnya dan kejadian kemarin cukup fatal karena perkelahian kamu bahkan melukai Bu Arini,” terang Pak Gala.
Cakra menatap Arini, bukan karena penjelasan kepala sekolah tapi memastikan lebam di wajah Arini sudah mulai hilang.
“Cakra apa kamu dengar?”
“Saya atas nama orangtua mohon maaf atas kelakuannya selama ini. Sepertinya ada yang terlewat dari penjelasan kalian,” ujar Papi Cakra membalas penjelasan dari pihak sekolah mengenai kondisi putranya. “Saya pilih sekolah ini untuk Cakra bukan tanpa alasan, selain biaya yang cukup mahal tapi sarana pendidikan cukup lengkap dan memadai. Bahkan keluarga kami menjadi donatur juga di sekolah ini, tentu saja untuk kebaikan pendidikan anak saya.”
Semua menyimak penjelasan Papi Cakra yang belum tau arah pembicaraan dari pria tersebut.
“Tapi ketika anak saya … anggap saja bermasalah. Entah itu ikut tawuran, geng motor juga kenakalan lainnya kenapa malah memanggil saya. Kenapa kalian tidak intropeksi kenapa ada siswa yang melakukan kegiatan tidak berguna itu. Apa saja yang diberikan sekolah sampai para siswanya masih bisa meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan tanpa manfaat,” tutur Papi Cakra.
“Pih,” tegur Cakra. Rupanya Bagas malah menyalahkan pihak sekolah mengenai kenakalan putranya.
Pak Gala dan Pak Yusron saling pandang dengan penuturan orang tua Cakra sedangkan Arini walaupun belum lulus dengan pendidikan psikologinya sudah dapat menduga kalau orangtua Cakra mencari kambing hitam atas kondisi Cakra.
“Pak Bagas, untuk kegiatan Cakra di luar sekolah itu bukan ranah kami lagi. Tidak mungkin kami memantau semua siswa di luar sekolah, meskipun kami memberikan aktivitas yang padat pada mereka tapi peluang untuk hal-hal negatif tetap ada. Itulah alasan sekolah dan orangtua harus bekerja sama ….”
“Jadi saya harus menyalahkan siapa?”
“Pih, ini salah aku,” cetus Cakra.
Bagas menatap Cakra lalu beralih menatap Arini.
“Apa kamu akan menuntut kami atas ulah Cakra?” tanya Bagas pada Arini.
“Hm, tidak Pak. Saya yakin mereka tidak sengaja dan yang terpenting di sini adalah solusi untuk Cakra bukan masalah wajah saya,” tutur Arini.
Bagas menganggukkan kepalanya.
“Pih, ayo kita pulang,” ajak Cakra karena tidak ingin Papinya semakin bicara menyudutkan sekolah.
“Tunggu dulu,” ujar Kepala sekolah. “Cakra, Bu Arini adalah pembimbing kamu. Sekalian di sini ada orangtua kamu, silahkan berjanji kamu akan perbaiki sikap kamu apalagi kamu sudah kelas dua belas dan tidak lama lagi akan menghadapi ujian.”
“Bu Arini, aku janji akan berubah. Tolong jangan lelah membimbing dan menghadapi saya,” tutur Cakra lalu kembali mengajak Papinya pergi dari sekolah.
Setelah kepergian Papinya, Cakra kembali ke kelas dan mengirimkan pesan untuk Arini.
[Pulang bareng aku, ada yang ingin aku bicarakan]
Cakra tidak fokus dengan pelajaran, sesekali melihat ponselnya tapi belum ada balasan dari Arini. Sampai akhirnya jam belajar pun berakhir.
“Eh, mau ke mana buru-buru amat?” tanya Kama.
“Arini nggak balas chat gue.”
“Heran deh, kalian ada hubungan apa sih? Kok lo seenaknya panggil nama ke Bu Arini,” ujar Kama penasaran.
“Rahasia.”
“Cakra,” panggil Sherly.
Cakra yang akan meninggalkan kelas terpaku karena kedatangan Sherly. Siapa yang tidak kenal dengan wanita itu. Cantik dan putri salah seorang pejabat, membuatnya cukup terkenal di sekolah.
“Sabtu ini aku mengadakan party, datangnya,” undang Sherly dengan manja bahkan dia memasukan kartu undangan ke kantong seragam yang dikenakan Cakra sambil meraba tubuh laki-laki itu.
“Ehm, lihat nanti deh.”
“Aku tunggu banget loh, kalian berempat. Kabari aku ya, aku belum tentukan tamu spesial. Siapa tahu posisi itu untuk kamu,” ujar Sherly lagi.
“Oke, nanti aku kabari.” Cakra meninggalkan kelas termasuk juga Sherly. Bergegas menuju ruang BK dan menanyakan keberadaan Arini tapi tidak ada.
“Arini ke mana sih,” gumam Cakra lalu menuju parkiran.
Saat melaju meninggalkan sekolah, dia bernafas lega karena melihat sosok Arini berjalan menuju halte tapi yang membuatkan kesal adalah pria yang berjalan bersama Arini.