Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 18 ~ Diam dan Menikmati



“Minggir!”


“Tidak semudah itu Nona,” sahut Cakra yang masih mengungkung tubuh Arini dan tidak beranjak meskipun perempuan itu sudah bertitah bahkan menamparnya.


“Cakra, aku bilang ….”


Arini tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Cakra kembali mendekatkan wajah dan menyambar bibirnya. Pesona seorang Arini benar-benar membuat Cakra luluh dan tersanjung. Bahkan kali ini sentuhan bibir Cakra tidak lembut seperti tadi melainkan lebih dalam dan rakus.


Sempat bingung dan kewalahan menerima serangan Cakra, Arini ingin melepaskan diri walaupun dia menyukai laki-laki itu tapi mereka bisa terlena dan berbuat lebih jauh kalau tidak berhenti. Alih-alih melepaskan Arini, Cakra malah semakin menahan tubuh Arini.


Cakra mengecap dan menghissap rasa manisnya bibir gadis yang dia cintai. Walaupun nalurinya ingin bertindak lebih jauh, tapi hati dan pikirannya menahan rasa itu.


“Bernafas dong,” pinta Cakra saat dia mengurai pagutannya.


Arini mengatur nafasnya yang terengah karena perbuatan Cakra, bukan hanya itu dia juga merasakan jantungnya kembali berdebar bahkan sentuhan bibir Cakra membuatnya merasakan ribuan kupu-kupu menggelitik di perutnya.


Cakra pun akhirnya beranjak dari posisinya dan duduk di salah satu sofa masih memandang Arini yang tampak kesal.


“Bicara atau aku lakukan lagi?”


Bugh.


Refleks, Arini langsung melemparkan bantal sofa ke arah Cakra.


“Lama-lama kamu makin menyebalkan dan mesum,” ujar Arini.


“Lama-lama kami makin menggemaskan bikin aku makin cinta,” sahut Cakra.


“Gombal, aku masih marah dan kecewa sama kamu.”


Cakra mengusap kasar wajahnya.


“Arini, aku nggak ngerti bahasa kalbu dan nggak ada kemampuan telepati untuk bisa dan paham apa yang kamu pikirkan dan rasakan. Tolong cerita atau kasih tahu apa yang buat kamu marah dan ….”


“Untuk apa suka sama aku kalau masih ada perempuan lain. Jangan-jangan aku juga akan kamu hempas kalau nanti tertarik dengan perempuan lain,” tutur Arini tanpa memandang wajah Cakra.


Arini hanya mengedikkan bahunya. Cakra terkekeh membuat Arini menoleh dan semakin tersulut emosinya. Bagaimana tidak, kalau hal yang menurut Arini sangat prinsip malah direspon dengan tertawa oleh Cakra.


“Dari mana kamu simpulkan aku menyukai perempuan lain?”


“Aku lihat sendiri, kamu didatangi siswi. Mana cantik dan seumuran dengan kamu. Cocok bangetlah kalian berdua dan aku dengar kalau kamu dulu menyukainya dan sekarang berubah. Bisa jadi aku akan mengalami hal itu juga. Mungkin ini resikonya suka sama laki-laki yang umurnya lebih muda,” jelas Arini.


“Oh maksudnya Sheryl? Arini, kamu tahu sendiri kalau hampir sebagian siswi di sekolah sering muji-muji aku bahkan banyak yang terang-terangan bilang suka tapi bukan berarti aku pacari semua atau balas menyukai mereka. Seleraku cukup tinggi, mereka semua lewat sama pesona mahasiswi yang magang jadi guru BK,” tutur Cakra dengan rayuan gombalnya.


“Sheryl dan Tiwi termasuk perempuan yang terang-terangan ngejar aku. Gimana aku mau terima mereka dan gimana nggak berubah jadi ilfeel karena aku tau kelakuan mereka dengan siswa menarik di sekolah selain aku. Walaupun tetap aku yang paling menarik.”


Arini bersedekap dan masih membuang pandangannya ke arah lain.


“Jangan merajuk begitu, bukannya bikin aku kesal malah tergoda. Kamu nggak selevel dengan mereka, karena level kamu lebih tinggi.”


“Sumpah Arini, aku sudah berusaha berubah itu karena nasihat kamu. Jangan patahkan semangat aku dengan merusak hubungan kita karena salah paham. Ini hanya salah paham, aku nggak seperti yang kamu pikir.”


Arini menghela nafasnya.


“Buktikan kalau kamu memang layak dan tidak seperti dugaanku. Senin sudah tryout, sebaiknya kamu pulang dan belajar yang giat.”


“Aku belajar sama kamu aja ya, besok ‘kan libur jadi aku kemari. Bilang sama Bik Elah kamu mau bimbing aku belajar.”


“Hm.”


“Jangan cemberut gitu atau mau reka ulang adegan tadi?”


“Jangan ngaco kamu. Berani kamu cium aku nggak bilang-bilang, aku tampar lagi kayak tadi.”


“Berarti kalau bilang boleh dong? Ya udah sekarang aku izin mau cium kamu lagi.”


Belum sempat Arini menjawab pertanyaan dan pernyataan Cakra, laki-laki kembali menyatukan bibir mereka. Arini awalnya berontak tapi lama-lama diam dan menikmati.