Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 41 ~ Pingit



Kedua orangtua Cakra memang sudah memberikan restu tapi Bagas tetap ingin yang terbaik untuk keluarganya. Walaupun Arini adalah perempuan yang baik dan itu sudah jelas. Pria itu mempublish siapa Arini, dengan sengaja menerbitkan beberapa artikel tentang Arini di berbagai media online.


Tentu saja dengan kuasanya, bukan hanya Arini tapi lembaga sosial yang diusung oleh Bagas. Ini dilakukan untuk menunjukan siapa calon menantunya. Karena berikutnya adalah mempublish rencana pernikahan Cakra dan Arini.


“Kamu nggak marah ‘kan atau tersinggung dengan ide Papa?”


“Nggak, biarkan saja. Tidak merugikan kok, bahkan sekarang lembaga yang aku dirikan dengan teman-teman mulai dilirik oleh pihak-pihak lain yang mungkin saja akan bantu kami.”


Cakra menganggukkan kepalanya, sedangkan tangannya sudah merangkul bahu Arini.


Saat ini keduanya sudah berada di café, akan menemui ketiga sahabat Cakra yang tentu saja sudah Arini kenal.


“Wow, lihat ini siapa yang datang?” seru Kama saat Cakra dan Arini menghampiri meja di mana mereka berada. “Apa kabar Bu Arini, Ibu kok kelihatan masih muda aja sih?” tanya Kama sambil menjabat tangan Arini.


Cakra melepaskan jabat tangan antara Arini dan Kama. “Nggak usah lama-lama, inget anak istri di rumah.”


“Yaelah Cak, padahal dulu yang duluan notice Bu Arini itu gue,” sahut Kama lalu kembali duduk.


“Ibu Arini masih ingat saya?” tanya Ucup sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Masih dong, kamu Ucup ‘kan?”


“Mimpi apa gue semalam, Bu Arini masih ingat betul dengan pria paling tampan di kumpulan pria gesrek ini,” ungkap Ucup dengan bangga.


“Paling norak,” ejek Kama.


“Bu Arini,” sapa Iqbal sambil menjabat tangan wanita itu.


“Dokter Iqbal, senang bertemu lagi dengan Anda.”


Iqbal membalas senyum Arini.


“Tunggu, kalian pernah bertemu?”


Iqbal mengedikkan bahunya lalu kembali duduk di samping Kama.


“Arini, kamu pernah bertemu Iqbal? Hei apa yang aku tidak tahu di sini?”


Arini duduk di kursi yang dipersilahkan oleh Ucup, Cakra tentu saja di sebelahnya.


“Dia pernah datang ke kantor,” ujar Arini pada Cakra.


Cakra menatap Iqbal dengan dahi berkerut tentu saja banyak tanya di benaknya, untuk apa pria itu mendatangi Arini.


“Kalau gue nggak temui Arini, mungkin kalian masih saling mempertahankan ego masing-masing,” seru Iqbal kemudian meraih gelas minum yang ada di hadapannya.


“Aku temui kamu sambil berlari bahkan ponsel yang pecah, setelah bertemu dengan dokter Iqba,” tutur Arini, wanita itu menggenggam tangan Cakra untuk menenangkan pria itu. “Mereka sahabatmu, mau cemburu juga dengan mereka?” tanya Arini.


“Ya nggak lah, aku tahu mereka bukan tipe kamu,” seru Cakra sambil tersenyum bangga dan menepuk dadanya.


Arini, Cakra dan ketiga sahabat Cakra bernostalgia dengan menceritakan kisah mereka saat masih sekolah. Sesekali Arini bahkan terbahak mendengar kisah Ucup dan Kama yang kadang memang di luar nalar dan logika.


“Makanya gue bilang Ucup itu norak bin aneh, udah itu sebutan yang nggak bisa hilang dah,” cetus Kama.


Cukup lama Arini bersama keempat pria yang sudah menjadi bagian dari keluarganya juga, Cakra pamit lebih awal dengan alasan mereka harus istirahat menjelang pernikahan.


...***...


“Cakra, jangan temui Arini dan atur kesibukan kamu. Kamu akan menikah masih saja pulang larut,” tutur Tanti pagi ini.


Bagas hanya bisa menghela nafasnya. Ternyata Tanti tetap konsisten dengan kecerewetannya. Cakra belum ada jodoh, dia ribut sekarang sudah siap menikah masih saja ribut.


“Sudahlah Mih, biarkan saja. Cakra sudah dewasa,” seru Bagas.


“Tapi Pih ….”


Bukan tanpa alasan Tanti melarang Cakra menemui Arini, kadang Cakra malah menemui wanita itu ke apartemen dan pulang larut. Walaupun dia percaya pada Cakra tidak akan macam-macam tapi tetap saja dirinya khawatir.


“Aku pamit Mih. Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua. Memang Mami mau, papi cari lagi yang masih muda,” ejek Cakra setelah mencium pipi wanita yang melahirkan.


“Cakra!” teriak Bagas dan Tanti serempak.