
“Lain kali jangan film horror, yang romantis aja,” usul Cakra saat dia dan Arini sudah keluar dari studio.
Film yang mereka tonton adalah film horror yang kemarin-kemarin cukup ramai dibicarakan dan Cakra sengaja memilih film tersebut. Berharap Arini akan takut dan sepanjang pemutaran film gadis itu akan terus menempel pada Cakra. Nyatanya berbeda, Arini malah mengomentari kalau film kurang menyeramkan.
Arini hanya tersenyum mendengar usulan Cakra.
“Terserah kamu.”
“Mau kemana lagi?” tanya Cakra sambil merangkul bahu Arini.
“Hm, makan yuk. Aku lapar.”
“Boleh, makan apa?” tanya Cakra lagi.
“Terserah.”
“Aku sih pengennya makan kamu,” sahut Cakra yang langsung mendapat cubitan di pinggang dari Arini.
Keduanya menuju restoran cepat saja, makan sambil ngobrol setelah itu meninggalkan mall untuk pulang. Dalam perjalanan, tangan Arini yang memeluk pinggang Cakra semakin mengeratkan pegangannya karena Cakra tiba-tiba mempercepat laju motor.
Motor kembali berhenti di depan rumah Arini dan gadis itu pun turun. Hujan rintik-rintik, alasan Cakra mempercepat laju motornya.
“Kamu turun juga?” tanya Arini.
“Nggak, kamu masuk. Aku langsung pulang, salam untuk bik Elah.”
Arini menganggukkan kepalanya lalu berlari menuju pagar sedangkan Cakra kembali melajukan motornya. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Arini berbaring di ranjang lalu mengirimkan pesan pada Cakra.
[Sudah sampai? Pasti pada basah]
Hampir setengah jam, Cakra baru membalas pesan Arini.
[Kuyup, hujan deras. Ini baru selesai mandi]
“Ya ampun, Ibu sudah di sini lalu yang mengurus Cakra siapa?” gumam Arini.
[Tidak usah khawatir, ada art lain di sini yang sudah membuatkan aku minuman hangat]
Cakra kembali mengirimkan pesan karena tahu kalau Arini pasti khawatir.
[Tidurlah] pesan Cakra lagi.
Sedangkan di salah satu ruangan yang masih berada di kediaman Cakra. Bagas sedang berbicara pada seseorang melalui panggilan telepon.
“Cari tahu siapa perempuan itu. Keluarganya, pendidikan dan info lengkap lainnya. Aku pernah melihatnya di sekolah Cakra. Entah guru atau staf, karena masih cukup muda,” titah Bagas. “Fotonya sudah aku kirimkan ke kontakmu.”
Tidak lama panggilan pun berakhir.
“Papi yakin itu Cakra?” tanya Tanti yang duduk menatap cermin sambil mengoleskan sesuatu pada wajahnya.
“Yakin.”
“Namanya juga anak muda, biarkan saja dia menikmati masa mudanya.”
“Tapi aku harus tahu siapa gadis itu juga keluarganya. Kalau sepadan aku akan biarkan mereka melanjutkan hubungan selama tidak mengganggu pendidikan Cakra nantinya.”
Tanti beranjak dari meja rias menuju ranjang dan berbaring di samping suaminya yang masih duduk bersandar pada headboard.
“Aku hanya kepikiran dengan ucapan Cakra karena kita selama ini seakan tidak peduli dengannya. Walaupun cukup menyinggung tapi aku memang melewatkan banyak hal, banyak yang aku tidak tahu dari Cakra termasuk kesehatannya. Bagaimana aku bisa aku tidak tahu makanan apa yang tidak Cakra suka termasuk yang membuatnya alergi,” tutur Tanti.
“Terserah Papi, aku hanya ingin yang terbaik untuk Cakra.”
Akibat kehujanan malam ini, Cakra pun demam. Esok hari tubuhnya masih menggigil tapi dia tidak menyampaikan pada Arini karena tidak ingin membuat gadis itu khawatir. Bahkan ketika Bik Elah datang dan art lainnya memberitahu kalau Cakra sedang sakit, Bik Elah langsung menuju kamar anak majikannya.
“Den Cakra,” panggil Bik Elah. Wanita itu membuka sebagian tirai kamar Cakra dan membuka jendela agar ada sirkulasi udara lalu mematikan lampu kamar.
“Hm.”
Wanita paruh baya itu memeriksa tubuh Cakra dan menempelkan tangannya pada dahi laki-laki yang sedang berbaring.
“Demam. Bibi buatkan bubur ya, setelah itu minum obat. Ini pasti karena kehujanan semalam,” ujar Bik Elah.
Cakra membuka matanya, “Jangan kasih tahu Arini aku sakit Bik. Besok ujian dia pasti khawatir,” tutur Cakra.
Bik Elah hanya menghela nafasnya mendengar kepedulian Cakra pada Arini, padahal dirinya sendiri sedang tidak baik.
“Arini sehat ‘kan Bik?” tanya Cakra.
“Iya dia baik-baik saja. Pikirkan saja kondisi Den Cakra, Bibi ke dapur dulu.”
Seharian Bik Elah mengurus Cakra, untung saja hari ini adalah minggu. Lagi-lagi orangtua Cakra tidak mengetahui kondisi Cakra, pagi sekali mereka pergi ke luar kota dengan alasan ada undangan dari kerabat tanpa mengecek kondisi putra mereka.
Sudah dua kali Bik Elah mengantarkan makanan dan memastikan Cakra menghabiskannya. Termasuk memberikan obat demam.
“Ayo habiskan, katanya mau sembuh. Besok ada ujian praktek,” titah Bik Elah sudah seperti orang tuanya sendiri.
“Iyalah Bik, kalau aku nggak ke sekolah mana bisa bertemu Arini. Memang Bik Elah akan izinkan aku tiap hari berkunjung ke rumah?”
“Ck, dasar abg. Sudahlah den Cakra fokus pada sekolah, Arini juga. Jangan sampai nanti pendidikan kalian terganggu dengan hubungan ini.”
Cakra yang memang sudah lebih baik, beranjak duduk.
“Tapi Bik Elah setuju kalau aku dan Arini pacaran?”
Bik Elah menatap Cakra.
“Bibi hanya ingin putri bibi bahagia. Jika dengan den Cakra dia memang bahagia yang tentu saja Bibi setuju. Begitu pun dengan den Cakra, bibi ingin yang terbaik untuk Den Cakra.”
“Makasih ya Bik. Bik Elah memang the best.” Cakra memberikan dua jempol tangannya pada wanita paruh baya yang sudah mengurusnya sejak masih SMP.
...***...
Sesuai dengan perintah Cakra agar tidak menyampaikan pada Arini mengenai kondisinya kemarin, Bik Elah hanya berpesan pada Arini agar memastikan kondisi Cakra saat ujian praktek.
Saat di sekolah baik Arini ataupun Cakra sama-sama sibuk. Jika Cakra sibuk dengan ujian prakteknya, Arini pun disibukkan dengan membantu guru yang sedang melaksanakan ujian.
Namun, keduanya sempat bertemu. Saling memandang dan mengulas senyum, Arini juga memastikan kalau Cakra baik-baik saja walaupun dia melihat laki-laki itu agak pucat.
[Kamu sudah makan belum sih? Kok pucat]
Arini mengirimkan pesan pada Cakra setelah mereka tadi bertemu walau hanya saling pandang. Tidak lama Cakra membalas pesannya.
[Makan sudah, tapi belum dapat moodbooster dari kamu]
Arini tersenyum membaca pesan yang dia terima. Tanpa dia ketahui kalau dirinya dan Cakra sedang dalam pembicaraan seseorang. Yang mana pembicaraan tersebut akan berpengaruh pada hubungan Cakra dan Arini.