
Arini berhenti berlari dan melepaskan tangannya dari genggaman Cakra. Mengatur nafasnya yang terengah karena berlari cukup jauh.
“Di sini belum aman,” ujar Cakra yang menatap ke arah di mana mereka datang.
“Ini sudah jauh, mereka nggak akan kejar sampai sini,” jawab Arini. “dan kamu dalam masalah, anak muda,” tunjuk Arini lalu berjalan menuju minimarket tidak jauh dari tempat mereka berada.
“Ibu mau laporkan masalah ini dan mengeluarkan aku dari sekolah?” tanya Cakra sambil berjalan di samping Arini.
Lebih memilih mengabaikan pertanyaan Cakra, Arini membuka pintu minimarket dan menuju lemari pendingin mengambil botol air mineral dingin juga minuman berasa lainnya.
“Bu,” panggil Cakra yang sudah membuka botol air mineral lalu meneguknya. Cakra merebut botol yang dipegang Arini dan membawanya ke kasir.
Keduanya sudah duduk di kursi yang tersedia di depan minimarket dan Arini sedang melepaskan dahaganya setelah berlari dan cukup membuatnya berkeringat. Cakra menghubungi sahabatnya dan mengatakan lokasinya saat ini.
“Teman-teman kamu selamat?”
“Aman Bu, yang tadi mah nggak seberapa Bu. Saya pernah terlibat tawuran yang lebih menyeramkan,” tutur Cakra.
Arini geram dengan pernyataan Cakra, dia melihat wajah murid di hadapannya dan ada lebam di sana.
“Auww, sakit Bu,” pekik Cakra sambil menghindar setelah jari tangan Arini menekan lebam di wajahnya.
“Kata kamu nggak seberapa, tahunya sakit juga ya,” ejek Arini.
“Maksudnya bukan begitu. Kalau ada luka ya tetap sakit bu, maksudnya mudah untuk dikalahkan.”
Cakra meringis sambil menekan kembali lebam tersebut, melirik Arini seakan takut akan disentuh lagi area lukanya.
“Masih sakit?”
Cakra menganggukkan kepalanya. Arini menyerahkan botol airnya yang masih berembun.
“Tempelkan di area yang lebam, anggap saja sedang dikompres. Saya heran dengan kalian,” cetus Arini sambil melipat kedua tangan di dada. “Apa sih manfaat ikut terlibat kegiatan tadi, hanya menyusahkan dan membahayakan diri. Kamu nggak takut, nyawa kamu melayang?”
“Entahlah,” sahut Cakra. “Yang jelas kejadian tadi, bukan sekolah kita yang mulai. Kita diserang dan membela diri. Kalau memang kita rencanakan pasti kita bawa senjata Bu,” jelas Cakra mengenai kejadian tadi.
Terdengar deru mesin motor, ternyata ketiga sahabat Cakra yang datang.
“Jangan-jangan dulu, janganlah diganggu,” senandung Ucup melihat Cakra yang ternyata ada bersama Arini.
“Kelamaan, udah bulukan gue di sini,” ejek Cakra pada teman-temannya.
Kama langsung turun dari motornya lalu duduk di sisi Arini, “Ibu nggak apa-apa?”
Arini sampai menjauhkan tubuhnya karena Kama yang terlalu dekat.
“Woy, jauhan sana,” usir Cakra. “Lo pikir duduk di angkot sampe harus nempel kayak perangko.” Cakra berdiri dan memberi tanda pada Arini agar bertukar kursi dengannya.
“Kalian baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” tanya Arini memperhatikan satu-persatu sahabat Cakra.
“Ada Bu,” jawab Ucup. “Di sini yang luka,” ujarnya lagi sambil menyentuh dadanya sendiri. “Ada luka di sini yang hanya bisa diobati dengan cinta dan kasih sayang. Ibu mau menjadi obatnya,” canda Ucup.
“Dasar gila,” ejek Iqbal.
Cakra yang kesal karena Ucup berani menggoda Arini, melemparkan botol minum ke arah temannya.
“Ibu kenapa bisa ada di sana sih?” tanya Kama. “Saya ‘kan jadi khawatir.”
Cakra mendorong kursi yang diduduki Kama dengan kakinya tapi hanya bergeser sedikit.
“Saya tidak sengaja lewat situ. Mau home visit ke rumah anak bimbingan saya, orang tuanya nggak ada dan siswa tersebut juga belum pulang. Malah melihat tawuran dan konyolnya anak tersebut malah terlibat tawuran itu,” tutur Arini.
“Mampuus lo,” gumam Kama pada Cakra.
“Ibu dari rumah saya?”
“Ibu ketemu orangtua saya aja, mereka pasti siap kok. Mana mungkin menolak menantu secantik Ibu,” goda Ucup lagi.
“Jangan didengar Bu, otaknya memang sudah tidak beres karena ssering ditolak cewek. Lagian mana ada cewek yang mau sama wajah yang lecek kayak dompet akhir bulan begitu,” ejek Iqbal.
Arini tersenyum karena teman-tman Cakra memiliki karakter-karakter yang unik dibalik keberandalan mereka dan begitu jelas rasa solidaritas mereka.
“Tapi kalian benar diserang bukan kalian yang mulai?”
“Iya bu, apa kami akan dilaporkan ke sekolah dan dikeluarkan?” tanya Iqbal.
Cakra dan ketiga sahabatnya menatap Arini menunggu jawaban yang akan berpengaruh pada kelanjutan sekolah mereka. Cukup berani melakukan tindakan tanpa berpikir akibatnya tapi khawatir jika benar kalau mereka akan dikeluarkan dari sekolah.
Arini menatap wajah Cakra dan trio bawel, terlihat kalau wajah mereka jujur dan serius.
“Buktikan,” cetus Arini.
“Di sini Bu?” tanya Ucup membuyarkan fokus ketiga temannya yang sedang mencerna maksud Arini.
“Buktikan apa?” tanya Cakra sambil mengernyitkan dahi.
“Buktikan kalau kalian memang diserang dan sedang membela diri.”
“Yah, gue pikir suruh buktikan kalau gue lelaki sejati,” gumam Ucap.
“Dasar otak gatal kayak koreng mau kering. Lo mending pulang terus kerokin emak lo dari pada di sini bikin rusuh,” titah Kama.
“Caranya gimana?” Iqbal memijat dahinya.
“CCTV,” sahut Cakra. “Ayo, saya antar ibu pulang,” ajak Cakra yang sudah berdiri. “Kunci!”
Iqbal menyerahkan kunci motor Cakra pada pemiliknya.
“Ya udah itu gue yang atur,” ujar Iqbal.
“Hm, kita ketemu nanti malam di tempat biasa,” sahut Cakra.
“Jangan ikut geng motor lagi dan peringatan ini untuk kalian semua,” ancam Arini.
“Bye Bu Arini. Kalau punya adik yang cantiknya nggak kalah sama Ibu, kenalin sama saya ya Bu. Ucup Saparudin anak pak RT, gang senggol.”
Cakra menghentikan motornya di depan rumah Arini. Perempuan itu turun dari motor dengan memegang pundak Cakra sebagai tumpuan lalu melepaskan jaket dan helm Cakra yang dipakai agar tidak dikenali.
“Hati-hati di jalan, nggak usah keluyuran lagi. Kalau kamu tidak berhasil membuktikan kalian membela diri, silahkan terima konsekuensinya,” tutur Arini.
“Aman Bu, Iqbal yang akan urus hal itu. Saya nggak ditawarin mampir?”
“Nggak.”
Pagar dibuka dan keluarlah Ibu dari Arini.
“Arini,” panggil Ibu.
Arini dan Cakra menoleh.
“Bik Elah.”
“Den Cakra.
“Kalian saling kenal?” tanya Arini menatap Ibunya dan cakra bergantian.