
Dia mirip dengan … Cakra tapi ini ….
“Ibu Arini perkenalkan ini pengacara baru Sasa, Bapak Kananta.”
Pria yang bernama Kananta menatap wajah Arini bahkan tanpa mengedip.
“Kananta ….”
Kenapa aku malah berpikir kalau dia …. Cakra.
Pria itu melangkah mendekati Arini, membuat perempuan itu yakin kalau di hadapannya bukan Cakra apalagi ….
Arini, kenapa kamu memperhatikan langkahnya. Dia tidak beruntung karena lahir tidak normal, bersikap sopanlah, batin Arini.
Arini mengulurkan tangannya “Saya Arini, psikolog Sasa. Saya harap anda tidak mundur seperti pengacara sebelumnya.”
Sebelum menyambut uluran tangan Arini, pria itu tersenyum lalu menjabat tangan Arini.
“Bisa kita bicara?”
Arini merasa pandangan pria itu terlalu menelisik, bahkan dia merasa terintimidasi. Ayah Sasa yang mengerti memberi kesempatan kedua orang yang akan membela dan menyembuhkan putrinya bahkan tanpa bayaran.
“Bicara di mana?”
“Menurutmu?”
Arini semakin merasa tersudut karena pria itu semakin melangkah mendekat.
“Tunggu … anda membuat saya takut.”
Pria itu terkekeh. “Kamu tidak berubah, tetap cantik bahkan terlihat lebih muda dari aku.”
“Kamu? Apa kita pernah kenal?” tanya Arini yang kembali melangkah mundur karena pria itu terus mendekat bahkan saat ini Arini sudah terpojok karena dibelakangnya pagar rumah.
“Apa wajahku berubah sampai kamu tidak mengenaliku?” tanya pria itu lagi bahkan saat ini kedua tangan berada di kedua sisi tubuh Arini seakan tidak ingin membiarkan perempuan itu pergi.
“Tunggu, aku tidak mengerti. Apa memang kita saling mengenal?”
Tanpa diduga pria itu malah meraih tangan Arini dan meneliti jemarinya.
“Belum ada cincin, belum menikah?”
Arini menggelengkan kepalanya. “Pertanyaan Anda terlalu sensitif untuk kita yang baru saja saling mengenal.”
“Tunangan? Kekasih?"
“Pak Kananta, anda tidak berhak menanyakan hal itu.”
“Ah, perset4n dengan kekasihmu. Selama janur kuning belum melengkung, aku bisa menikung dan kamu akan menjadi milikku lagi. Lagi pula, sebelumnya kita belum putus. Kamu yang pergi dariku.”
Arini semakin heran mengernyitkan dahinya. Degup jantung perempuan itu berdebar karena Kananta semakin mendekatkan wajahnya.
“Aku, Cakra Kananta Yuda.” Pria itu berbisik di telinga Arini membuat perempuan itu terpaku dengan mata terbelalak.
“Kamu tidak merindukanku?” tanya Cakra dengan wajah sudah berhadapan dengan Arini.
“Cak … Cakra.”
“Hm.”
"Cakra, kamu ...." Tangan Arini meraba wajah Cakra yang menurutnya banyak sekali perubahan, terlihat semakin dewasa dan tentu saja semakin tampan.
"Cakra ...." Arini menitikkan air mata, tidak menyangka dia bisa bertemu lagi dengan bocah yang pernah menyatakan cinta padanya dan saat ini bocah itu sudah terlihat sangat dewasa.
Masih dia ingat bagaimana tersiksanya terpisah dan berusaha melupakan Cakra.
"Tapi ... kenapa dengan ...." Arini tidak melanjutkan kalimatnya lalu menunduk menatap kaki Cakra.
Cakra tersenyum lalu mengusap air mata perempuan yang sampai saat ini masih ada di hatinya.
"Kita harus bicara," ujar Cakra lalu meraih tangan Arini dan menggenggamnya.
Sambil berjalan Arini memalingkan wajahnya menatap Cakra, sedangkan yang ditatap menatap ke depan dengan wajah tersenyum. Bagaimana pria itu tidak tersenyum, dia sudah menemukan kembali gadisnya.
“Lepaskan tanganku, mereka pikir kita berpacaran.”
“Memang kita masih pacaran,” sahut Cakra.
Sampai akhirnya mereka tiba di area di mana mobil mereka terparkir.
“Kita bicara di mana?” tanya Arini.
“Hm, aku lihat rumah makan tapi agak jauh dari sini. sekalian cari penginapan.”
“Penginapan? Kamu ingin bermalam di sini?”
Cakra menatap Arini, “Ehm, kamu ingin menawarkan untuk aku tinggal denganmu. Tentu saja akan aku terima dengan senang hati.”
Arini mencebik.
“Den Cakra mau pergi?” tanya seorang pria paruh baya menghampiri Cakra dan Arini.
“Iya Pak, kita makan siang dulu dan aku perlu istirahat. Besok baru kembali ke sini,” jelas Cakra. “Kendaraanmu?” tanya Cakra pada Arini yang langsung menunjuk mobilnya.
“Pak Agus, ikuti mobil ini,” titah Pria itu.
Arini mengernyitkan dahinya melihat pria yang sepertinya supir Cakra memasuki mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari mobilnya.
“Kamu ingin ikut mobil aku, serius? Sepertinya lebih nyaman mobil kamu sendiri,” tutur Arini yang menyadari mobilnya adalah mobil sejuta umat.
“Tidak masalah, asal kamu yang mengemudi. Mami melarangku mengemudi karena tidak direkomendasi oleh dokter.”
Arini tersentuh mendengar penurutan Cakra dia ingin sekali mendengar penyebab kondisi Cakra saat ini.
“Cuacanya terik, kamu sepertinya tidak biasa di lapangan,” cetus Arini yang membuka pintu mobil untuk Cakra.
Saat ini Cakra dan Arini sudah berada di dalam mobil dan melaju menuju tempat sesuai arahan Cakra, sedangkan mobil milik pria itu mengikuti di belakang.
Tidak banyak percakapan, karena Cakra tidak ingin membuat Arini tidak fokus saat mengemudi tapi perasaan pria itu sedang berbahagia. Beberapa tahun terpuruk akhirnya dia bertemu lagi dengan cintanya.
Sesaat Cakra teringat dengan kondisi fisiknya, lalu menoleh ke samping menatap wajah Arini. Perempuan itu terlihat semakin dewasa dan cantik, sedangkan dirinya tidak sempurna. Bahkan tadi Cakra dengan percaya diri akan merebut Arini walaupun dia sudah memiliki kekasih atau tunangan.
Apa Arini masih dengan perasaannya? Kalaupun iya, dia pasti akan mempertimbangkan kembali perasaannya. Aku tidak sempurna, batin Cakra.
“Di sini ya?” tanya Arini yang sudah berbelok memasuki area rumah makan yang dimaksud oleh Cakra.
Mereka bertiga termasuk Pak Agus, menikmati makan siang tanpa membahas apapun. Arini sebenarnya sudah tidak sabar untuk mendengarkan kisah Cakra selama ini setelah mereka terpisah.
“Ibu tanya kenapa Den Cakra belum balas pesannya,” ujar PAk Agus.
Cakra yang menyadari sejak tadi belum membuka ponsel bergegas mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada Tanti.
“Ada penginapan di ujung jalan, kita bicara di sana,” ajak Cakra.
Arini menganggukkan kepalanya dan hanya memperhatikan bagaimana Cakra akhirnya memesan dua kamar lalu supirnya mengantarkan koper milik pria itu. Begitu banyak tanya di benak Arini, termasuk saat melihat koper milik Cakra.
Apa dia berencana tinggal lebih lama, batin Arini.
Cakra mengajak Arini ke kamarnya bahkan pria itu langsung membuka alas kaki dan kemeja yang dikenakan dan menyisakan kaos yang terlihat pas di tubuh kekarnya.
“Maaf, tapi aku harus segera berbaring,” ujar Cakra yang sudah berbaring di ranjang sambil mengatur nafasnya.
Arini menyadari kalau Cakra tidak baik-baik saja.
“Cakra, apa kamu perlu sesuatu? Air minum atau obat yang biasa dikonsumsi?”
Cakra terkekeh masih dengan posisinya.
“Kamu pasti bertanya-tanya, aku akan jelaskan tapi sabar dulu.”
Arini duduk di kursi yang ada dalam kamar tersebut, menatap pria yang sedang mengistirahatkan tubuhnya dan merasa bersalah.
Cakra, apa yang terjadi denganmu