Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Draft~ Happy Ending (END)



“Sayang, kamu yakin mau berangkat? tanya Cakra yang berdiri di belakang tubuh Arini. Wanita dengan perut sudah membuncit karena kehamilannya sudah memasuki bulan ke delapan hanya tinggal beberapa minggu lagi untuk kelahiran anak mereka.


Arini sedang memilih pakaian dan dimasukkan ke dalam koper.


“Yakin, aku sudah mulai cuti padahal persalinan paling cepat satu bulan lagi. Sedangkan kamu mau ke Bali alu aku harus di rumah sendirian. Lebih baik aku susul Mamih ke Bandung, ikut liburan.”


Cakra membantu menutup koper miliknya, kembali mengikuti langkah Arini menyiapkan perlengkapan untuk wanita itu.


Cakra akan bertolak ke Bali karena ada urusan dengan kasus yang sedang ditangani. Ingin membawa Arini ikut serta tapi kehamilan wanita itu terlalu riskan untuk melakukan perjalanan jauh.


“Ikut aku saja ya,” bujuk Cakra sambil memeluk dari belakang.


“Mau dimarahi Mami? Lagi pula sudah nggak boleh perjalanan jauh, jadi pilihan aku susul Mami ke Bandung adalah pilihan yang tepat,” tutur Arini sambil tersenyum.


Tanti sedang berlibur bersama kedua cucunya, anak-anak Candra. Bahkan Bagas juga ikut serta, pria itu sudah mulai mengurangi aktivitasnya dan menyerahkan perusahaan pada asisten dan juga Candra. Cakra sudah tidak mungkin terlibat di perusahaan, kedepannya mungkin harus dipercayakan pimpinan kepada orang lain yang memang mumpuni sedangkan Bagas dan Cakra hanya mengawasi sebagai pemilik dan pemegang saham.


“Aku akan rindu dengan tendangannya.”


Cakra mengusap perut istrinya masih dengan memeluk dari belakang, karena memeluk dari depan tentu saja dah tidak bisa dilakukan terganjal dengan perut Arini yang membola.


Esok hari. Cakra sudah bersiap untuk berangkat, di bandara sudah menunggu rekan sesama pengacara. Dia akan diantar sampai bandara oleh Pak Agus, setelah itu Pak Agus akan mengantar Arini ke Bandung.


“Baik-baik di sana, jangan telat makan. Nggak usah aneh-aneh, ikut teman atau tawaran relasi kamu,” tutur Ariĝni serta nasihat panjang lainnya.


Cakra hanya tersenyum kemudian mendaratkan bibirnya di kening wanita itu, juga kedua pipi dan bibir Arini.


“Kamu juga jaga diri baik-baik, bukan hanya bawa diri sendiri tapi ini ….” Cakra kembali mengusap perut Arini. “Buah cinta kita,” ujar Cakra.


“Iya,” jawab Arini sambil mengusap wajah suaminya.


“Aku pergi ya?”


“Hm.”


Cakra melangkah menjauh, Arini masih menatapnya sambil melambaikan tangan.


“Pak Agus, hati-hati.”


“Siap Bu.”


...***...


Setelah keberangkatan Cakra, sore harinya Arini pun menuju Bandung. Tentu saja Tanti senang dengan kehadiran Arini, dia bisa mengawasi Arini dan kedua cucunya sekaligus. Sudah hampir seminggu berada di Bandung, Cakra belum kembali ke Jakarta.


Arini merasakan sakit di perutnya sejak tadi malam. Sesekali dia mendesis pelan lalu rasa nyeri itu akan hilang lagi.


“Masih sakit?” tanya Tanti menghampiri Arini yang duduk di gazebo memperhatikan dua keponakan Cakra yang asyik berenang bersama Ayah mertuanya.


“Hilang pergi, Mih.”


“Kita periksa ke Rumah sakit saja deh, Mami takut kenapa-kenapa atau malah kamu mau melahirkan.”


“Kayaknya aku kembali ke Jakarta aja, paling cepat Cakra pulang malam ini atau besok pagi. Lagi pula kalau melahirkan di sini malah repot Mih, perlengkapan aku dan baby di rumah. Masa harus beli lagi,” tutur Arini.


“Ya sudah, mami minta anak-anak bersiap pulang.”


“Eh, jangan Mih. Biarkan saja mereka di sini, biar aku pulang diantar Pak Agus.”


“Terus kalau kamu sakit atau mau melahirkan, gimana?” tanya Tanti khawatir dengan kondisi menantunya.


“Masih lama Mih, HPL-nya sekitar lima minggu lagi. Yang aku rasakan, hanya kontraksi palsu dan aku inginnya melahirkan didampingi Cakra.


Akhirnya Tanti dan Bagas sepakat mengakhiri liburan mereka bersama para cucu. Lalu pulang ke Jakarta sore harinya. Cakra sulit dihubungi terakhir tadi pagi mengabari pekerjaannya sudah hampir selesai. Menjelang malam, Arini dan keluarga Cakra sudah tiba di Jakarta. Wanita itu langsung menuju kamarnya, beberapa jam dalam mobil membuatnya lelah.


Sambil berbaring Arini menghubungi Cakra dan tidak aktif.


“Kamu ke mana sih, bikin khawatir aja,” gumam Arini.


Baru akan beranjak, Arini kembali merasakan nyeri di perutnya bahkan terkadang kram dan kencang.


“Sshhh, sayang kamu kangen Daddy kamu ya? Mommy juga,” seru Arini sambil mengusap pelan perutnya.


Nyeri dan kram yang Arini rasakan semakin sering. Bahkan hampir tiap jam. Tanti khawatir, sepertinya Arini akan melahirkan.


“Papi, Mami bawa Arini ke rumah sakit saja ya. Papi tunggu di rumah dengan anak-anak,” ujar Tanti.


“Hm, Cakra sudah dihubungi?” tanya Bagas.


Arini menggelengkan kepalanya.


“Sejak tadi siang, ponselnya tidak aktif.” Arini mengeluh dan nada khawatir.


“Mungkin saja sudah dalam perjalanan pulang, kamu tenang saja. Fokus pada persalinan, Papi panggil Pak Agus dulu. Bik,” panggil Bagas. Seorang asisten rumah tangga menghampiri tuannya.


“Jaga anak-anak dulu, mana yang lain? Minta bantu Ibu bawakan perlengkapan Arini,” titah pria itu.


Arini danTanti sudah berada di rumah sakit, rasa nyeri semakin intens dan waktu jedanya semakin sempit. Menurut dokter Arini sudah mengalami pembukaan lima tinggal tunggu pembukaan lengkap dan siap melahirkan.


“Mih, aku mau Cakra,” keluh Arini.


 Walaupun dalam hati Tanti menggerutu karena Cakra tidak bisa dihubungi. Semakin lama Arini merasakan semakin sakit bahkan terkadang dia mengerrang dan mencengkram pinggiran ranjang. tanti tidak bisa berbuat apapun karena paham bagaimana rasa sakit yang dirasakan menantunya.


“Mih, Cakra sudah bisa dihubungi belum?” tanya Arini disela rintihannya.


“Belum, dia belum …..


“Mih, aku pi pis,” pekik Arini.


Tanti memanggil perawat dan dokter, karena Arini bukan pi pis seperti yang diduga melakukan pecah ketuban. Ternyata sudah pembukaan lengkap, dokter sudah bersiap memandu kelahiran bayi Arini.


“Cakra gimana Mih?”


“Aku di sini sayang.”


Arini dan Tanti menoleh, pria yang dimaksud berjalan tertatih ke arah mereka dengan wajah berkeringat. Arini yakin kalau Cakra bergegas mungkin sampai berlari untuk menemuinya.


“Aku di sini, aku akan dampingi kamu,” ujar Cakra lalu mencium kening Arini.


“Sshhh, sakittt,” rintih Arini yang mengeluhkan panas dan terasa pinggangnya mau lepas. “Dok, rasanya mau buang air.”


“Ayo bu, kita bersiap. Sudah mau lahir bayinya.”


Setelah perjuangan menahan sakit dan beberapa kali mengejan akhirnya Arini melahirkan bayi laki-laki sehat dan normal. Tanti sangat bahagia, bahkan menitikkan air mata. Bukan hanya kebahagiaan mendapatkan cucu dari putra kesayangannya tapi melihat Cakra yang lebih bahagia dari dirinya.


Pria itu mendaratkan banyak ciuman di wajah Arini, bahkan sempat menitikkan air mata.


“Terima kasih sayang, terima kasih sudah melahirkan keturunanku. Terima kasih karena sudah menjaga hati kamu dan menunggu aku datang akhirnya kita bisa bersama dan bahagia.”


Arini hanya bisa tersenyum menyambut kebahagiaan dari keluarganya.


Dua hari dalam perawatan, ketiga teman Cakra datang menjenguk bersama istri dan anak-anaknya. Hanya Iqbal saja yang masih sendiri.


“Cak, anak lo masih bayi udah keliatan calon ganteng. Ibu Arini gimana resepnya sih, kasih tahu istri saya biar dapat anak ganteng juga,” ujar Ucup yang menginginkan anak laki-laki karena anaknya perempuan.


“Yaelah, pake tanya resep. Cara ngadon juga lebih pengalaman lo dari pada Cakra,” ejek Kama yang berhasil mendapatkan cubitan di pinggang dari istrinya. Kama bersama dua anak kembarnya yang juga perempuan dan istri yang cantik.


“Jangan ribut, anak-anak kalian nanti pasti ngerebutin anak gue,” ujar Cakra yang sedang menggendong putranya.


“Tenang aja, nanti ada anak gue juga.” Iqbal yang mengenakan jas dokter karena memang masih dalam jam bertugas ikut buka suara.


“Ngomongin anak, cari perempuan dulu untuk lawan lo bikin anak,” seru Ucup pada Iqbal.


“Anak lo udah dikasih nama?” tanya Kama.


“Sudah dong,” sahut Cakra bangga. “Ivan Saskara Yuda.”


Keempat sahabat itu masih sama dekatnya seperti saat mereka masih duduk di bangku SMA. Walaupun intensitas kebersamaan tentu saja terbatas karena kesibukan masing-masing.


Empat tahun berlalu.


“Ivan, hei kemari nak,” panggil Arini karena putranya berlarian ke sana ke mari.


Cakra melihat Arini kesulitan mengejar Ivan putra mereka karena saat ini Arini sedang hamil anak ketiga mereka.


Abigail, putri Cakra dan Arini yang baru berumur dua tahun berada dalam gendongan kakeknya.


"Setelah kelahiran yang ini, jangan boleh Arini hamil lagi. Kamu pikir istrimu kucing harus melahirkan setiap tahun." Tanti mengejar Ivan dan menyuruh Arini duduk.


Cakra terkekeh menghampiri istrinya.


"Lelah ya? Kita cari pengasuh satu orang lagi ya," ujar Cakra. Awalnya pasangan itu tidak ingin menggunakan jasa pengasuh tapi melihat Arini keaulitan dengan dua orang anaknya dan akan lahir anak ketiga, Cakra menggunakan pengasuh yang sekarang mengawasi Abigail.


Saat ini keluarga Bagas sedang berada di taman belakang rumah, menikmati libur mereka dengan pesta barbeque.


"Parah kamu Cak, kejar setoran kali. Lima tahun pernikahan udah mau dapat tiga anak," ejek Candra.


"Mumpung aku masih muda," sahut Caka merangkul istrinya.


Arini menatap anggota keluarga satu persatu termasuk kedua mertuanya. Tidak pernah menduga kalau dia akan menjadi bagian keluarga itu bahkan tidak terlihat kalau dia hanya menantu. Perpisahan dan kecelakaan yang dialami oleh Cakra ternyata membuat perasaan dan cinta mereka semakin kuat.


"Aku sayang kamu," bisik Cakra.


"Masa?" goda Arini.


"Ck, perlu bukti apalagi?" tanya Cakra.


Arini menunjuk pipinya, Cakra yang paham dengan maksud wanita itu langsung mendaratkan bibirnya pada kedua pipi, kening dan bibir Arini.


Pasangan itu kemudian tertawa, tertawa bukan karena sekedar bahagia tapi begitu mensyukuri happy ending dari kisah cinta mereka.


...~~ TAMAT ~~...


Haiiii, Arini dan Cakra Say Good Bye yaaa. Terima kasih sudah ikut dengan kebersamaan kisah mereka. Sehat-sehat untuk kita semua. Jangan lupa mampir ke karya aku lainnya 🥰🥰🥰🥰