
“Bu, hari ini Cakra mau datang.”
Ibu Elah yang sedang memasak untuk dia dan putrinya pagi ini pun menoleh ke arah Arini yang sedang membuka lemari es.
“Untuk apa Cakra ke sini?” tanya Ibu.
“Belajar, dia minta bimbingan untuk try out besok.”
“Yakin, dia ke sini memang untuk belajar? Ini hari minggu, biasanya dia akan bangun siang lalu sore hari dia pergi mungkin dengan teman-temannya. selalu begitu, selama ibu kerja di sana,” tutur Ibu menjelaskan kebiasaan Cakra.
Namun, bukan hal itu yang menjadi pikiran dan alasan Ibu Elah tapi hubungan antara Cakra dan Arini. Sebagai orangtua tentunya hanya bisa mendoakan dan berharap yang terbaik untuk anaknya tapi kalau harus berhadapan dengan orangtua Cakra rasanya dia tidak punya nyali.
“Nggak tahu Bu, yang jelas dia kemarin bilang minta aku bimbing. Kalau di rumahnya sudah pasti aku nggak mau, dia sendiri yang mau ke sini,” sahut Arini.
“Ibu nggak masalah, yang penting kamu bisa jaga diri dan ….” Ibu Elah menghela nafasnya. “Apa kamu yakin dengan Cakra?”
“Ibu apaan sih, kita baru kenal belum lama dan dekat juga karena dia sering berulah. Masa udah tanya yakin atau enggak, masih jauh kali Bu.”
“Justru itu, karena kalian baru mulai kenapa nggak kamu pikir-pikir lagi. Kamu dan dia itu berbeda jauh, jauh sekali. Umur kalian, karakter dan yang paling penting status kita Arini. Ibu tahu Cakra tidak akan persoalkan tapi orangtuanya belum tentu,” tutur Ibu Elah sambil mematikan kompor karena masakannya sudah matang.
Arini membantu menuangkan ke atas piring saji, dia tahu Ibunya masih akan bicara.
“Kamu sudah bukan remaja, sudah bisa menentukan mana yang baik dan buruk. Yang jelas Ibu hanya ingin kamu bahagia dan tidak ingin ada yang menghinamu. Ya sudah ibu siap-siap dulu,” ujar Ibu Elah lalu meninggalkan dapur dan bersiap menuju kediaman Cakra
Arini duduk di salah satu kursi meja makan dan menghela nafasnya. Apa yang disampaikan oleh Ibunya benar lalu mau dibawa ke mana hubungan mereka. Hitungan bulan Cakra akan melanjutkan pendidikannya, tidak mungkin dia kuliah di kampus terdekat. Bisa jadi pilihannya adalah kampus ternama dan terbaik yang kebetulan ada di luar kota karena sempat diucapkan oleh Cakra, bahkan bisa jadi kuliah di luar negri mengikuti jejak sang kakak. Arini sendiri magangnya akan berakhir dan harus kembali ke kampusnya.
Sudah hampir jam sepuluh, Cakra belum ada datang. Arini sengaja tidak menghubungi bocah itu karena yang mengusulkan bimbingan belajar hari ini adalah Cakra.
“Palingan juga masih tidur, seperti yang Ibu bilang,” gumam Arini yang sedang berbaring malas di sofa berhadapan dengan televisi.
Tidak lama kemudian terdengar deru motor, Arini menduga motor tetangganya tapi tidak lama kemudian terdengar pintu diketuk.
“Kirain nggak jadi,” ujar Arini ketika melihat Cakra di depan pintu.
“Apaanya yang nggak jadi?”
“Ya belajarnya, sudah siang begini. Apalagi kata Ibu kamu biasa bangun siang kalau hari libur.”
Cakra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sekedar berekspresi karena ketahuan kalau dia selalu bangun kesiangan apalagi hari libur.
“Eh, jadi Bik Elah tahu aku ke sini?”
“Taulah, nggak mungkin aku nggak bilang.”
“Terus?”
“Apanya?” tanya Arini sambil mengernyitkan dahi.
“Apa kata Bik Elah, dia pasti tahu hubungan kita.”
Arini bergeming, tidak mungkin menjelaskan pada Cakra apa yang disampaikan Bik Elah termasuk kekhawatiran mengenai hubungan mereka.
“Heh, malah melamun,” ujar Cakra menyadarkan lamunan Arini.
Arini beranjak untuk mematikan TV dan mengambil air minum untuk Cakra. Tidak lama kemudian keduanya sudah larut dalam buku dan materi pelajaran.
Sebenarnya Cakra mudah menerima materi, jadi selama ini dia berulah memang murni hanya mencari perhatian dari orangtuanya. Sudah hampir tiga jam mereka berkutat dengan buku-buku pelajaran Cakra.
“Iya, nggak paham lah. Lemah aku materi yang ini,” ujar Cakra.
“Tapi … langkahnya sudah benar hanya masih keliru hitungannya. Coba diulangi mengerjakan ini,” titah Arini.
Cakra malah merebah di atas karpet, memang mereka belajar dengan duduk di lantai beralas karpet dan menggunakan meja sofa untuk meletakan buku dan menuliskan hasil mengerjakan soal.
“Kok malah berbaring, ini belum selesai.”
“Nanti dulu, penat aku.”
“Cak,” panggil Arini.
“Hm.”
“Setelah lulus, kamu akan kuliah ke mana?” tanya Arini sambil menandai soal-soal mana lagi yang harus dikerjakan oleh siswa bimbingannya juga laki-laki yang sudah mengenalkan cinta padanya.
Mendengar pertanyaan Arini agak serius, Cakra pun beranjak dari posisinya.
“Memang kenapa?”
“Aku tanya kamu jawab, jangan balas bertanya balik.”
“Kamu nggak suka kita LDR?”
Arini terdiam, menaruh pulpen yang tadi dia pegang lalu menoleh ke arah Cakra. Mungkin saja pertanyaannya memang ingin tahu ke mana Cakra akan melanjutkan kuliah walaupun ada rasa bimbang juga kalau mereka benar akan LDR.
“Atau aku kuliah di kampus kamu aja. Kamu kuliah di mana sih?”
“Ya nggak mungkinlah kamu kuliah di kampus yang sama dengan aku. Sayang dengan potensi kamu,” tutur Arini. “Jurusan apa yang mau kamu pilih?” tanya Arini lagi.
“Ehm, entahlah.”
Arini memukul pelan lengan Cakra, bisa-bisanya dia mengatakan entahlah padahal ujian sudah di depan mata dan ujian masuk perguruan tinggi juga pastinya sudah dekat tapi Cakra masih belum memutuskan tujuannya.
“Jangan bilang kamu ragu karena urusan kita?”
Cakra tersenyum dan menggeser duduknya.
“Aku suka pembahasan ini, memang kenapa dengan urusan kita?”
“Ck, maksud aku jangan sampai kamu ragu dengan pendidikan kamu karena hubungan kita. Kalau perlu lebih baik kita akhiri daripada jadi beban pikiran kamu.”
“Nah ini yang nggak aku suka. Jauh atau tidak hubungan kita nanti, yang jelas kamu adalah milikku,” ujar Cakra dengan yakin.
“Masa? Yakin nggak akan tergoda dengan teman-teman kamu nanti?”
“Yakinlah. Justru aku yang khawatir kamu dekat dengan laki-laki lain yang lebih pintar dan dewasa. Kalau tampan sih udah pasti aku paling tampan.”
Arini mencibir mendengar kenarsisan Cakra.
“Keluar dulu yuk, bosan aku,” ungkap Cakra lalu beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya agar Arini ikut berdiri.
Arini tersenyum karena Cakra memang bisa bertanggung jawab. Buktinya hari ini Cakra serius hanya ingin belajar tanpa berbuat macam-macam seperti kemarin yang berani menyambar bibir Arini.