Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 7 ~ Tawuran



Cakra bersama ketiga sahabat se frekuensinya bercanda sambil mengawasi siswa cupu yang dipaksa untuk menggantika Cakra membersihkan toilet.


“Ehh, mau ke mana lo?” tanya Ucup pada dua siswa lainya yang akan masuk ke toilet.


“Bok*r, masa tidur.”


“Cari toilet lain, yang ini harus steril karena akan disidak sama bebeb Arini,” tutur Kama mengusir dua temannya.


“Eh, tunggu dulu,” cetus Cakra menghentikan lagi dua siswa yang sudah diusir. “Ini buat gue aja,” ujar Cakra sambil merebut botol soda yang belum dibuka.


“Yahh, jangan dong.”


“Udah sana, lo bisa beli lagi kali,” sahut Iqbal. “Nggak mungkin lo nggak ada duit bisa sekolah di sini.”


Terdengar suara bel istirahat berakhir. Ucup dan Iqbal pun akan meninggalkan toilet.


“Mau kemana?” tanya Cakra.


“Masuklah, habis ini mapel MAFIA. Mana berani gue telat masuk.”


“Mafia?” tanya Kama.


“Matematika, Fisika dan Kimia,” sahut Iqbal.


“Halah, lemah. Sama pelajaran aja takut,” ejek Cakra sambil melemparkan botol soda yang sudah kosong.


“Gue juga balik kelas ah.”


“Lemah,” ejek Cakra pada Kama yang sudah menjauh.


Brak.


Cakra membuka pintu dan memperhatikan area yang dibersihkan oleh siswa cupu setelah kepergian ketiga temannya.


“Belum bersih nih.” Cakra menendang ember air kotor bekas pel sehingga mengotori lagi lantai yang sudah dibersihkan.


“Saya sudah bersihkan tapi kamu yang kotori lagi.”


“Halah, banyak bac0t. Dalam lima menit nggak bersih, gue siramin air pel ini ke badan lo.”


Tanpa sepengetahuan Cakra yang menjauh dari toilet, Arini menyaksikan kalau bukan Cakra yang mengerjakan hukuman.


“Kamu, kembali ke kelas,” titah Arini pada siswa yang sedang mengerjakan hukuman Cakra.


“Tapi Bu, nanti Cakra marah.”


“Tidak akan, cepatlah! Kelas kamu pasti sudah mulai,” ujar Arini lagi.


Tidak lama kemudian Cakra kembali sambil bersiul dan melihat Arini sudah berada di depan toilet.


“Eh, Bu Arini,” ujar Cakra. “Sudah bersih loh bu, lihat aja kalau nggak percaya,” cetus Cakra dengan bangga.


“Coba buka pintunya sama kamu.”


Krek.


“Loh, kenapa kotor lagi. Perasaan si cupu udah pel lagi deh,” keluh Cakra.


“Cupu? Jadi bukan kamu yang bersihkan?”


“Yaelah Bu, masa saya suruh ngurus yang beginian. Nggak level kali.”


“Pulang sekolah nanti, saya mau mengunjungi rumah kamu.”


“Hah, mau ngapain?” tanya Cakra sambil terkekeh. “Ibu ngefans sama saya juga ya,” ledek Cakra.


“Saya mau bertemu Orang Tua kamu.”


“Mereka nggak ada Bu, sibuk. Paling ketemu satpam sama si Bibi.”


...***...


“Bener ini Neng?”


“Iya Pak.”


Arini pun mendekati pagar dan mundur saat hendak menekan bel, karena pintu pagar terbuka.


“Sore Mbak, mau bertemu siapa?” tanya salah satu penjaga keamanan rumah tersebut.


“Ini benar rumah Cakra?”


“Benar, Mbaknya dari mana?”


“Saya Arini, guru Cakra di sekolah. Boleh saya bertemu dengan orangtua Cakra!”


“Sebentar.”


Penjaga keamanan itu menanyakan lewat radio HT keberadaan majikannya.


“Tidak ada Mbak, masih di luar kota,” ujar penjaga keamanan.


“Kalau Cakra?”


“Den Cakra belum pulang Mbak.”


“Ya sudah, terima kasih Mas.”


Arini menghela nafasnya lalu berbalik dan membuka ponsel untuk memesan ojek online. Sepuluh menit kemudian ojek pun datang, mengenakan helm milik ojek menikmati perjalanan yang sudah mulai padat karena hari sudah sore sudah termasuk waktu traffic.


Terdengar teriakan dan riuh di depan sana.


“Mbak, ada tawuran. Kita putar balik ya, cari jalan lain,” ujar ojek tersebut.


Saat motor berbalik arah, Arini sempat menoleh dan ….


“Stop, Bang,” titah Arini sambil menepuk bahu ojeknya.


“Eh kenapa Mbak, itu makin dekat loh.”


Arini turun dari motor dan memberikan helmnya.


“Saya bayar non tunai,” ujar Arini lalu berjalan tergesa ke arah di mana tawuran terjadi.


“Cakra,” teriak Arini.


Cakra memang berada diantara pelajar yang sedang tawuran, pakaiannya sudah berantakan bahkan ada sedikit lebam di wajahnya.


Mendengar namanya diipanggil, laki-laki itu pun menoleh. “Bu Arini,” gumam Cakra. “Ngapain ke sini sih.”


“Woy, gue cabut. Lihat noh guru loe ngejar gue sampe ke sini,” pekik Cakra meninggalkan area tawuran setelah berhasil memberikan pukulan pada salah satu lawan bahkan sempat mendorong dan menginjak tubuh lawannya.


“Cakra, kamu ….”


Cakra meraih tangan Arini dan mengajak perempuan itu berlari berlawanan arah.


“Hei, teman-teman kamu ….”


Cakra tidak menggubris Arini lalu mengajaknya berlari memasuki salah satu gang dan berjalan pelan dengan nafas terengah setelah merasa aman dan tidak diikuti.


“Lo gila ya, tadi tuh bahaya,” pekik Cakra.


“Kamu yang gila, salah apa mereka sampai kamu serang dan pukuli.”


Cakra mengusap wajah dan menyugar rambutnya. Terdengar riuh dan teriakan dari jalan besar, sedangkan mereka berada di gang.


“Gawat, ayo,” ajak Cakra sambil kembali menarik tangan Arini dan kembali berlari. 


Arini menatap tangannya dalam genggaman Cakra dan tubuh yang berlari di hadapannya. ternyata Cakra menoleh menatap wajah lelah Arini yang masih ikut berlari bersamanya. Rambut Arini yang dikuncir ekor kuda bergoyang saat dia berlari.


Gadis itu tidak menduga kalau kegiatan magangnya harus terlibat dengan bocah berandalan bahkan berlari menghindari tawuran seperti saat ini.