Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 40 ~ Belum Ada Judul



Cakra dan Arini memasuki restoran sambil berpegangan tangan. Cakra menghentikan langkahnya membuat Arini menoleh


“Ada apa?”


“Tangan kamu dingin, kamu gugup?” tanya Cakra sambil menyeka titik-titik keringat di dahi Arini.


Padahal Arini seorang psikolog, dia tahu ilmu menguasai diri sendiri tapi bertemu dengan orangtua Cakra ternyata semenakutkan itu.


Arini hanya tersenyum getir, “Entahlah, rasanya aku takut. Nanti orangtuamu ….”


“Hei.” Cakra menangkup wajah Arini agar menatapnya. “Tenanglah, mereka sudah setuju. Kamu harus bertemu mereka karena kita akan jadi keluarga.”


Arini menghela nafasnya lalu menganggukan kepala. Berkali-kali menarik nafas untuk menghilangkan gugup dan khawatir.


“Sudah siap?”


Arini mengangguk pelan, Cakra kembali meraih jemari tangannya lalu mereka kembali melangkah menuju salah satu ruangan private.


Saat pintu ruangan terbuka, detak jantung Arini semakin tidak karuan.


“Malam, Mih, Pih. Ini Arini,” ujar Cakra masih menggenggam tangan kiri wanita itu.


Bagas dan Tanti yang memang juga baru datang, berdiri menyambut wanita yang akan dinikahi oleh putranya. Tanti menyematkan senyumnya, Arini mencium tangan kedua orang tua Cakra. Bagaimanapun mereka akan menjadi orangtua Arini juga, jadi sikap hormat tetap ditunjukan oleh Arini sesuai didikan yang dia dapat.


“Duduklah!” titah Bagas.


Pelayan datang dan kembali meninggalkan ruangan setelah selesai mencatat pesanan.


“Arini, apa kabarmu?” tanya Tanti.


“Baik, Tante. Aku baik.”


Tanti tersenyum, ternyata Cakra memang tidak asal pilih. Walaupun Arini bukan perempuan yang lahir dan besar di keluarga berada tapi dia tetap terlihat menawan dan elegan.


“Kami turut berduka, karena baru tahu dari Cakra mengenai Bik Elah.” Tanti kembali bicara tapi kali ini dengan wajah sendu.


“Terima kasih Tante, memang sudah takdir Ibu. Kalau beliau bisa melihat, pasti bahagia apalagi melihat Cakra. Kadang saya merasa iri, yang putrinya saya tapi yang dikhawatirkan malah Cakra.” Arini bertutur sambil menoleh pada Cakra.


Cakra tersenyum dan mengusap punggung Arini.


“Ada aku,” bisiknya “Aku yang akan mengganti kasih sayang yang lewat dan yang akan datang.”


“Arini.” Akhirnya sang penguasa membuka suara, siapa lagi kalau bukan Bagas.


Arini pun diam dan menyimak sambil menatap pria itu. Walaupun sudah bertemu sebelumnya dan Cakra mengatakan Papinya sudah luluh, tetap saja masih ada kekhawatiran dalam hatinya.


“Kami sudah merestui kalian, tapi pernikahan kalian tetap sesuai proses. Tidak menikah terburu-buru seperti yang Cakra minta.”


Arini mengernyitkan dahinya lalu menoleh pada pria yang berada di sampingnya. Sedangkan yang dimaksud hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya.


“Tetap ada akad dan resepsi, bagaimanapun pernikahan tetap harus di publish. Orang sudah mengenal Cakra dan kamu. Kami juga ingin memberikan yang terbaik untuk kalian, prosesnya kamu bicarakan dengan Mami dan wedding organizer.” Bagas bertutur agak panjang membuat Arini menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti.


“Jadi, kita diskusikan lagi nanti. Kamu ada waktu luang ‘kan?” tanya Tanti pada Arini.


“Ada Tante, nanti aku kabari,” seru Arini.


“Jangan lama-lama, Mih,” keluh Cakra.


“Cakra!” tegur Bagas.


“Papi seperti nggak pernah muda aja, aku sudah tujuh tahun menahan rindu dan sekarang … Papi tahulah maksud aku sebagai pria dewasa.”


Arini melirik sinis Cakra yang ada di sampingnya. Pikiran pria itu sudah mengarah tentang hal mesum, jika orangtua Cakra tidak ada di sini sudah pasti Arini akan mencubit pria itu.


Sidang kasus Sasa yang ditangani Cakra juga Arini sebagai psikolog korban, akhirnya berakhir dengan pelaku dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman yang sesuai. Bukan hanya korban saja yang merasa lega walaupun ada masa depannya yang mungkin saja dipengaruhi oleh kejadian itu, paling tidak pelaku bisa jera dan bisa dijadikan pelajaran oleh orang lain agar tidak terulang kejadian yang sama.


“Aku rindu,” bisik Cakra sambil memeluk Arini.


Wanita itu mencubit perut Cakra membuatnya menjauh. “Kenapa sih, aku ‘kan peluk calon istri aku.”


“Tapi ini tempat umum, kamu jangan aneh-aneh deh.”


“Wah, kalau bukan tempat umum boleh dong lebih dari peluk,” ujar Cakra sambil mengerlingkan matanya.


Sasa dan keluarganya menghampiri pasangan yang sudah membantunya. Mengucapkan terima kasih dan pamit undur diri. Ternyata mereka tidak kembali ke desa melainkan tetap berada di Jakarta. Mengadu nasib dengan bekerja di ibukota.


Arini akan kembali ke kantor diantar oleh Cakra, tentu saja dengan Pak Agus sebagai supir. Jadwal sidang pagi ini, menjadi alasan Cakra untuk kembali menyambangi apartemen Arini dan berangkat hanya menggunakan satu mobil.


“Sepertinya aku akan titipkan Sasa di perusahaan Kama, dia bisa bekerja sebagai office girl atau apalah yang dibutuhkan di sana,” usul Cakra.


“Berikan saja rekomendasi, biar aku yang mengkomunikasikan dengan Sasa tidak perlu kamu yang menghubunginya.” Arini bicara sambil fokus pada ponselnya.


Cakra yang duduk di samping wanita itu menggeser duduknya semakin dekat dan mengeratkan rangkulannya.


“Sepertinya ada yang cemburu nih,” ejek Cakra sambil terkekeh.


Arini menoleh, “Aku bukan cemburu, tapi kamu terlalu ikut campur dalam urusan Sasa itu tidak baik. Kasus sudah selesai dan dalam benaknya kamu dianggap sebagai pahlawan. Semakin sering interaksi kemungkinan perasaan timbul itu sangat besar. Bagaimana jika dia jatuh cinta denganmu?”


Cakra hanya menganggukkan kepalanya.


“Atur saja oleh Nyonya,” sahut Cakra.


Tentu saja Cakra akan menuruti apa rekomendasi Arini, karena kekasihnya itu adalah seorang psikolog yang lebih tahu mana yang terbaik untuk korban trauma.


 “Jangan lupa nanti malam kita ada janji dengan butik, Mami bilang jangan sampai lupa lagi,” ujar Arini mengingatkan kalau malam ini mereka akan mengukur untuk busana yang akan dikenakan ketika akad dan resepsi.


“Hm.”


Sekitar pukul tujuh malam, Cakra dan Arini sudah berada di butik yang cukup ternama. Bahkan sudah menjelaskan desain yang diinginkan untuk kebaya dan setelan Cakra saat proses akad nikah.


“Jangan yang itu, aku tidak suka,” ujar Cakra saat melihat Arini dengan gaun yang dicobanya.


“Cakra, ini sudah gaun ketiga, tapi kamu tolak terus.”


“Ck, cari yang lain yang tidak terbuka. Para tamu akan terus memperhatikan dan para pria akan menatap pundak kamu yang terbuka begini.”


Arini mencebik, Cakra dengan langkah tertatih menghampiri lalu berdiri di belakang Arini yang menghadap cermin. Pria itu mendaratkan bibirnya di salah satu bahu Arini.


“Hanya aku yang boleh melihat dan menikmatinya.”


Arini menghela nafasnya.


“Ganti!” teriak Cakra. “Atau aku kurung kamu di kamar.”


“Tapi ini tidak terlalu terbuka, lihat hanya pundak saja yang ….”


“Hei, kamu sedikit menunduk membuat dua bola mu terlihat. Jangan aneh-aneh, cepat cari yang lain,” titah Cakra.


Dua orang staf butik saling tatap menyimak perdebatan Cakra dan Arini.


“Kalau gitu aku pakai gaun model syar'I saja sekalian dengan hijabnya. Tertutup dari atas sampai bawah,” usul Arini.


“Nah, itu aku setuju.”