Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 33 ~ Tidak Punya Nyali



Cakra menyibukan diri dengan mengerjakan banyak kasus, untuk mengalihkan pikiran dan perasaannya dari Arini. Hanya berkomunikasi dengan wanita itu seperlunya saja itupun hanya urusan kasus Sasa. Sudah sidang ketiga kasus tersebut, Cakra bersikap profesional ketika bertemu Arini dengan menjaga jarak dan tidak mengumbar kalimat tentang isi perasaannya.


Tentu saja sikap Cakra menjadi tanda tanya bagi Arini. Dia ingat betul sikap pria itu saat pertama kali bertemu tapi semakin ke ini Cakra menjaga jarak. Arini menduga hal ini karena status mereka dan tentu saja karena campur tangan Bagas seperti dulu.


Ternyata perasaan seorang ibu begitu peka dengan yang terjadi pada anak-anaknya. Hal ini berlaku juga pada Tanti yang melihat ada sesuatu pada Cakra. Putranya tampak lebih murung dan akhir-akhir ini selalu pulang terlambat dan agak larut.


Seperti malam ini, Cakra baru saja tiba di rumah hampir jam sebelas malam.


“Pak Agus, besok pagi kita ke rumah sakit dulu. Waktunya cek up lagi,” tutur Cakra agar Pak Agus besok bersiap.


“Siap Den.”


“Pak Agus baiknya langsung istirahat, mobil besok saja cuci di luar,” titah Cakra lagi.


“Baik Den.”


Tanpa diduga ternyata Tanti masih menunggu Cakra di ruang keluarga.


“Lembur lagi?” tanya Tanti saat Cakra lewat sambil memijat tengkuknya.


“Mami belum tidur?”


“Akhir-akhir ini kamu sering kali pulang terlambat. Apa tidak bisa kamu atur lagi pekerjaanmu, Mami khawatir dengan kesehatanmu, sayang,” jelas Tanti.


Cakra tersenyum mendengar kekhawatiran wanita yang sudah melahirkannya. Ternyata wanita itu menyadari kalau Cakra sengaja larut dalam kesibukan untuk menata perasaannya.


“Mami aku baik-baik saja. Di dunia kerja hal ini wajar terjadi, kadang pekerjaan kita ringan tapi ada masanya begitu banyak seakan tidak ada habisnya.” Cakra menjelaskan berusaha membuat Tanti paham dengan kondisinya.


“Apa Papi harus terlibat untuk masalah kamu seperti dulu? Kami hampir kehilangan kamu dan tidak ingin melewati masa itu lagi,” sahut Tanti dengan mata berair.


“Tidak Mih, aku sudah dewasa. Sudah bisa menentukan mana jalan yang harus aku pilih dan konsekuensinya.”


“Apa karena masalah jodoh yang sering Mami ributkan? Mami tidak akan persoalkan hal itu lagi, kamu anak Mami dan akan menjadi tanggung jawab Mami,” tutur Tanti dengan isak tangis.


Cakra melihat wanita di hadapannya sudah mulai menangis ikut tersentuh dan merasa bersalah, dia menghampiri dan menyentuh kedua bahu wanita itu.


“Aku baik-baik saja Mih, percayalah.”


Isakan itu berubah menjadi tangisan, Cakra akhirnya merengkuh tubuh Maminya berusaha menenangkan dan menjelaskan bahwa semua baik-baik saja.


Setelah Cakra sudah berada di kamarnya, Tanti bersama suaminya memanggil Pak Agus dan bertanya apa yang terjadi selama ini. Khawatir ada hubungannya dengan sikap Cakra yang berbeda.


“Seingat saya tidak ada kejadian yang aneh. Saya hanya mengantar ke kantor, pengadilan, café atau tujuan sesuai arahan Den Cakra,” jelas Pak Agus.


Bagas menoleh ke arah istrinya, dia tidak menduga ada sesuatu pada Cakra dan menganggap semua biasa saja. Namun, berbeda dengan Tanti yang masih penasaran.


“Ada orang baru atau seseorang yang Cakra temui dan ada perubahan dengan sikapnya?”


“Wah, saya nggak perhatikan masalah itu tapi pernah Den Cakra bertemu dengan kliennya bahkan kami harus bermalam di sana. Den Cakra ikut dengan mobil wanita yang katanya psikolog klien Den Cakra. Saya diminta mengikuti mobil itu, bahkan saat di penginapan wanita itu mengantarkan den Cakra sampai kamarnya.”


“Wanita?”


“Iya Bu,” sahut Pak Agus.


Bagas dan Tanti saling tatap mendengar penjelasan Pak Agus.


“Cakra masih bertemu dengan wanita itu?” tanya Pak Bagas.”


“Ehm, kurang tau ya Pak tapi di pengadilan mereka pasti bertemu. Wanita itu cantik, wajar kalau den Cakra mungkin suka.”


“Siapa namanya?”


“Namanya, siapa ya? Saya lupa, tapi saya Rini bukan tapi Den Cakra panggil dia …. Arini ya Arini.”


Mendengar nama itu tentu saja membuat Tanti mengingat kejadian beberapa tahun lalu di mana Cakra nekat dengan aksinya karena putus asa ditinggalkan oleh wanita bernama Arini. Baik Bagas atau Tanti tidak tahu apakah Arini di masa lalu Cakra sama dengan Arini yang dijelaskan oleh Pak Agus.


“Terima kasih Pak Agus, maaf sudah mengganggu istirahatnya. Jangan sampaikan pada Cakra bahwa kami menanyakan hal ini.”


“Iya Pak, siap. Saya permisi dulu.”


“Hm.”


Pipi Tanti kembali basah dengan tetesan air mata, dia teringat lagi masa lalu mereka.


“Pih, apa dia orang yang sama?”


Bagas menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan istrinya.


“Bagaimana kalau ternyata ini adalah Arini yang sama. Cakra masih mencintai wanita itu tapi ditolak,” duga Tanti.


“Sudahlah, kita jangan menduga-duga. Kita harus percaya pada Cakra kalau semua baik-baik saja,” cetus Bagas.


“Tapi bagaimana jika dugaanku benar, Cakra kembali patah hati.”


...***...


Esok pagi, Tanti menghubungi Iqbal dan menjelaskan apa yang terjadi dengan Cakra menurut pandangannya. Iqbal yang menduga hal ini akan terjadi akhirnya harus menghela nafasnya. Waktu bisa membuat segalanya berubah. Bisa jadi Arini sudah memiliki pasangan atau bahkan sudah tidak memendam perasaan untuk Cakra. Berbeda dengan Cakra yang masih memiliki perasaan da harapan yang sama.


Akhirnya Cakra diantar oleh Pak Agus ke rumah sakit untuk melakukan cek up kondisi tubuhnya. Iqbal yang sudah mendapatkan penjelasan dari Mami Cakra menemui pria itu setelah mengikuti serangkaian pemeriksaan.


“Kita bicara dulu,” ajak Iqbal. keduanya duduk di kursi besi yang ada di taman rumah sakit.


Iqbal akhirnymengenaia menyetujui laporan dari Tanti kondisi Cakra. Saat ini pria itu hanya diam dan menunduk menatap kedua kakinya.


“Cak, ada apa? Lo bisa bohongi orang lain tapi nggak dengan gue,” tutur Iqbal.


“Ada apaan, perasaan nggak ada masalah,” sahut Cakra.


“Iya nggak ada masalah tapi nggak mungkin lo murung begini. Gimana kabar Bu Arini?” tanya Iqbal memancing huru hara.


“Baik, mungkin.”


“Loh kok mungkin? Lo masih sering bertemu dia ‘kan?” tanya Iqbal mulai mempengaruhi Cakra.


Pria itu menghela nafasnya mendengar pertanyaan Iqbal.


“Nggak, kita hanya bertemu di pengadilan.”


Cakra bicara dan menjawab pertanyaan Iqbal dengan perubahan sikapnya.


“Gue sengaja menghindari Arini,” ujar Cakra.


“Kenapa begitu?”


Cakra menjelaskan bagaimana kekhawatirannya kalau terus mengumbar perasaan malah sakit hati dan kecewa ketika cintanya malah tidak berbalas.


“Gue sadar diri, kondisi saat ini tubuh gue udah … cacat. Arini bisa mendapatkan calon pendamping hidup yang lebih baik dari gue,” tutur Cakra.


“Lo udah tanya langsung ke Arini apa dia masih mau hubungan kalian lanjut atau tidak?” tanya Iqbal lagi.


Cakra hanya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Iqbal.


Gue udah nggak punya nyali untuk bicara masa lalu dan masa depan bersama Arini,” batin Cakra.