
“Den Cakra dari mana? kenapa baru pulang?” tanya Bik Elah ketika mendengar deru mesin motor Cakra bahkan langsung menyambutnya.
“Ah, Bik Elah. Semalam ada perempuan galak tapi cantik yang menolong aku dari kejaran geng motor,” tutur Cakra yang merangkul pundak Bik Elah lalu berjalan ke dalam rumah.
Sejak kecil Cakra memang dekat dengan Bik Elah, bahkan banyak hal yang lebih diketahui asisten rumah tangganya dibandingkan orangtua.
Elah memukul pelan lengan laki-laki itu, “Makanya jangan ikut geng motor segala, bahaya. Kalau ditangkap polisi atau celaka gimana?”
Cakra mengusap lengannya yang dipukul Bik Elah.
“Ya sudah siap-siap dulu sana, Bibi sudah buatkan sop rempah kesukaan kamu.”
“Wah, Bik Elah memang the best.” Cakra memberikan dua jempol ke arah Bik Elah sambil berjalan mundur bahkan mengerlingkan matanya.
...***...
Arini baru saja kembali dari salah satu kelas setelah memberikan pengarahan mengenai pemilihan jurusan kuliah. Berkali-kali menguap, dia memerlukan kopi atau minuman lain yang bisa membuatnya membuka mata.
“Bu Arini, dari mana?”
“Dari kelas XII IPA 2,” jawab Arini.
“Cakra tadi terlambat, tapi sudah saya minta masuk ke kelas dulu dan temui Bu Arini saat jam istirahat. Sudah tidak mempan dengan omongan saya,” ungkap Pak Yusron.
Arini menghela nafasnya mendengar Cakra masih saja berulah.
Ruang BK kedatangan Pak Gala, yang membicarakan masalah perseteruan geng motor yang terjadi semalam.
“Kita harus cari tahu apakah siswa kita ada yang terlibat di kegiatan tersebut atau tidak. Sedangkan kita tahu kalau beberapa siswa memang ada yang ikut komunitas seperti itu,” tutur Pak Gala.
Para guru BK mendengarkan arahan dari Pak Gala dan Pak Yusron memberikan usul untuk memanggil siswa yang kemungkinan terlibat dan nama Cakra pun disebut juga.
“Bu Arini, coba diurus Cakra. Bukan hanya masalah terlambat lagi tapi juga masalah ini,” titah Yusron lagi.
“Baik Pak,” jawab gadis itu.
[Jam istirahat, temui saya]
Arini mengirimkan pesan pada Cakra. Tidak lama pesan tersebut terkirim dan dibaca oleh Cakra.
[Siap, Ibu Cantik]
Balas Cakra.
Arini menarik nafasnya dan memikirkan metode apa yang bisa digunakan untuk melakukan pendekatan agar Cakra mau berubah.
“Bu Arini.”
Arini pun menoleh.
“Iya, Pak Ari. Ada yang bisa saya bantu?”
“Owh, tidak ada. Justru saya di sini ingin bantu Bu Arini.”
“Bantu saya?”
“Iya, saya temani Ibu saat Cakra menghadap. Cakra itu bukan siswa sembarangan, tidak semua orang bisa mengatasinya.”
“Ahh, begitu ya.” Arini tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Benar saja, saat jam istirahat Cakra pun menemui Arini di ruang konsultasi. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya karena ada Pak Ari di samping Arini. Padahal pria itu bukan guru BK.
“Duduk, Cakra!” titah Pak Ari.
Cakra duduk di hadapan kedua gurunya, menatap Arini yang juga sedang menatapnya. Dari tatapan tersebut Arini bisa menangkap kalau Cakra bertanya kenapa ada Pak Ari.
“Kamu tahu kenapa dipanggil?” tanya Pak Ari.
“Nggak Pak, saya tidak merasa ada masalah dengan Bapak deh,” sahut Cakra.
Pak Ari mengoceh menasehati Cakra tanpa tahu permasalahan inti kenapa Cakra dipanggil, pria itu hanya ingin dilihat keren oleh Arini.
“Paham kamu?”
“Nggak,” jawab Cakra.
“Puff.” Arini tertawa ditahan melihat interaksi Cakra dan Pak Ari.
“Dasar berandal,” ujar Pak Ari.
“Saya nggak ada urusan dengan Pak Ari. Dia pembimbing saya,” tunjuk Cakra pada Arini.
“Benar begitu, Bu?” tanya Ari sambil berbisik.
Arini menganggukan kepalanya.
“Ya sudah, kamu konsul dulu. Jangan macam-macam, kamu,” ancam Pak Ari pada Cakra.
Setelah Pak Ari pergi, Cakra melipat kedua tanganya di dada dan menatap Arini.
“Simpan wajah songong kamu. Sekolah curiga kalau kejadian bentrok semalam ada siswa yang terlibat. Kamu bisa dikeluarkan kalau sekolah sampai tahu,” tutur Arini dengan suara pelan.
“Jangan sampai tahu dong, cuma ibu aja yang tahu.”
Arini berdecak dengan pernyataan Cakra yang mengandung ancaman.
“Siapa saja yang terlibat?”
Cakra mendekatkan tubuhnya menempel pada meja. “Lupakan saja Bu, tidak akan ada yang tahu.”
“Cakra ….”
“Sttt.” Cakra memberikan isyarat agar Arini diam. “Tadi pagi saya terlambat, ada hukuman yang harus saya kerjakan?”
“Tentu saja. Sebutkan siapa saja siswa yang terlibat!”
“No comment.”
“Cakra!”
“Aku baru beberapa hari di sini tapi kamu sudah berulah dengan tawuran dan terlibat geng motor. Belum lagi selalu datang terlambat, seharusnya kamu tinggal di asrama yang terkenal disiplin biar kapok sekalian,” tutur Arini. “Ayo ikut saya, untuk kerjakan tugas kamu.”
Cakra pun berjalan di samping Arini. Saat melewati koridor kelas, para siswi memanggil-manggil Cakra. Bahkan Tiwi yang melihat Cakra langsung menghampiri dan memeluk lengan laki-laki itu.
“Cakra temani aku ke perpustakaan yuk. Aku ada tugas dan nggak ngerti,” ujar Tiwi sambil mengerlingkan matanya.
“Hm, gimana ya?”
“Cakra,” panggil Arini.
“Sorry ya, gue lebih baik ikut dia dan dihukum daripada ke perpustakaan bareng lo. Entah siapa aja yang udah lo tawarin ke sana,” ejek Cakra yang langsung bergegas menyusul Arini.
Ternyata Cakra diajak ke toilet khusus siswa di dekat aula dan Arini mengarahkan untuk Cakra membantu membersihkannya.
“Yang bener aja Bu. Di rumah aja, gue nggak pernah ngelakuin ini dan Mami Papi nggak pernah memerintahkan hal beginian.”
“Kenapa begitu?” tanya Arini.
“Karena mereka sayang dengan saya, mungkin,” jawab Cakra.
“Nah, justru itu Cakra. Ketika kamu melakukan hal yang tidak semestinya dan sekolah memberikan arahan bahkan sampai memberikan sanksi, itu karena kami sayang dan peduli. Jadi, berhenti berulah dan melakukan hal bodoh lagi,” tutur Arini.
“Iyaaa,” sahut Cakra dengan nada dipanjangkan.
“Bersihkan, saya akan cek lima belas menit lagi,” titah Arini kemudian meninggalkan Cakra di depan toilet tersebut.
“Apa lo liat-liat,” bentak Cakra pada para siswa yang ada di sekitarnya dan menyaksikan arahan untuk Cakra. “Kayaknya gue harus cari orang lain untuk bersihkan ini semua,” usul Cakra.
“Woy, sini,” panggil Cakra pada salah satu siswa yang lewat.
Siswa yang dimaksud menghampiri Cakra. Penampilan siswa itu terlihat cupu, dengan kacamata tebal dan kemeja dikancing sampai paling atas.
“Ada apa?” tanya siswa itu pada Cakra.
“Bersihin toilet ini, gue tunggu di sini,” titah Cakra pada siswa itu.
“Hahh, kenapa harus saya?”
“Karena gue bilang begitu," ujar Cakra.
“Udahlah kerjain aja,” ujar Iqbal. Ketiga teman Cakra sudah bergabung dan semakin mengintimidasi siswa yang terlihat cupu itu.
"Tapi nanti baju saya kotor."
"Ya lo lepas aja baju lo. Gitu aja repot," usul Ucup.