
Tanpa Cakra duga, kalau Arini sengaja disembunyikan oleh Tanti. Sementara Arini tinggal di apartemen bersama istri dari Kakak Cakra dan keponakan pria itu. Kakak Cakra bernama Candra masih berada di Singapura , sibuk dengan bisnisnya dan akan hadir saat pernikahan.
“Kalau nggak dipisahkan begini, bisa-bisa Arini hamil duluan. Cakra itu, aduh bener-bener nggak bisa dibilangin,” keluh Tanti.
Arini hanya tersenyum.
“Namanya juga anak muda Mih, biarkan saja yang penting di jalan yang benar. Mamih kemarin-kemarin khawatir dengan Cakra sekarang sudah ada jodohnya, masih khawatir juga,” tutur Kakak ipar Cakra.
“Bukan apa-apa, Mami kasihan dengan Arini. Udah kebaca deh otaknya Cakra itu macam mana. Pokoknya Arini tinggal sementara di sini sampai mereka menikah. Mami akan bilang ke Cakra kalau kalian dipingit tapi nggak kasih tahu keberadaanmu.”
“Iya Mih,” jawab Arini.
Sudah tidak ada orangtua dan keluarga, tentu saja Arini hanya bisa pasrah ikut apa yang diminta oleh calon mertuanya selama demi kebaikan semua. Cakra yang tidak berhasil menemui Arini tentu saja sempat marah tapi Bagas menasehati kalau ini bisa jadi godaan menjelang pernikahan.
“Jaga emosi kamu, kalau kamu memang sayang dengan Arini ya sabar. Hanya beberapa hari lagi,” nasihat Bagas.
“Tapi kami terpisah sudah tujuh tahun Pih, wajar kalau aku begitu merindukannya.”
“Beberapa hari lagi, Cakra. Kamu bisa menunggu tujuh tahun masa tidak bisa menunggu beberapa hari lagi,” tutur Bagas.
Cakra menghela nafasnya, berharap hari berganti dengan cepat.
...***...
“Mih, ini kayaknya belum benar deh,” keluh Cakra dengan dasi yang dikenakan.
“Sudah Cakra, sudah benar. Kamu hanya gugup, tenanglah,” ujar Tanti sambil mengusap dada Cakra yang sudah terbalut dengan setelan rapi.
Hari ini adalah hari yang akan menjadi catatan sejarah di kehidupan Arini dan Cakra. Mereka akan melangsungkan pernikahan yang mungkin tidak pernah mereka duga saat pertama kali bertemu di sekolah.
Tujuh tahun cobaan hubungan mereka akhirnya bisa dilewati, meskipun terpaut umur dengan Cakra lebih muda dari Arini tapi penampilan mereka tidak menunjukan akan hal itu. Cakra sejak tadi terus menarik nafas panjang untuk meredakan gugup, bahkan sesekali menghela nafasnya.
“Kayak gini sih, pas ijab qabul bisa-bisa lupa. Mengulang dua kali, kita gagalkan pernikahannya Pih,” goda Candra kakak Cakra.
“Bang, nggak usah bikin aku tambah kesel deh.”
Candra terkekeh.
“Ayo, sudah waktunya,” ajak Bagas.
Mereka sudah berada di hotel di mana dilangsungkan pernikahan Cakra dan Arini. Resepsi akan dilakukan siang nanti dan pagi ini akad nikah. Cakra semakin gugup saat Arini sudah berada di ruangan yang sama hanya terhalang sekat ruangan. Bagas dan Tanti sengaja masih memisahkan Arini dan Cakra sampai akad nikah mereka terlaksana.
“Udah bro, tenang aja. Dari pada nanti malam lo gagal eksekusi,” bisik Ucup sebelum Cakra duduk di depan penghulu.
Iqbal dan Kama yang juga sudah hadir ikut tertawa mendengar candaan Ucup. Cakra akhirnya melafazkan iqrar dengan benar dan disambut dengan kata “SAH” oleh para saksi dan yang hadir dalam pernikahan tersebut.
Bagas menepuk pundak Cakra setelah putranya mengusap wajah ketika doa setelah pernikahan selesai dilantunkan.
“Mih, aku sudah boleh bertemu Arini dong,” cetus Cakra,
Tiga sekawan rekan Cakra terbahak, karena pengacara muda itu tidak sabar ingin segera menemui istrinya. Tanti tersenyum dan memanggil menantunya. Arini digandeng oleh kakak ipar Cakra akhirnya dipertemukan dengan suaminya.
“Hai, istri,” sapa Cakra.
Arini tersipu dengan panggilan Cakra.
“Aku nggak nyangka kita sudah suami istri beneran.”
Ada berkas yang harus ditandatangani oleh pasangan itu, lalu Cakra menyematkan cincin pernikahan di jemari Arini. Tidak lupa Arini mencium tangan Cakra dengan takzim. Semua momen tersebut diabadikan baik oleh fotografer juga oleh rekan-rekan Cakra.
“Cium dong, udah sah nih. Kemarin-kemarin nyosor duluan sekarang mah bebas,” ejek Kama.
Cakra mendaratkan bibirnya di kening Arini tidak menuruti apa yang diminta oleh rekan-rekan gesreknya. Orangtua Cakra yang menyaksikan interaksi anak dan menantunya, merasakan bahagia dan sedih bersamaan. Mengingat kisah pasangan itu termasuk kondisi fisik Cakra.
Tanti mengusap punggung Bagas seakan tahu risalah hati suaminya.
“Yang penting Cakra bahagia dengan Arini, begitu pun sebaliknya,” ujar Tanti.
“Hm.”
Setelah sesi foto bersama keluarga, akhirnya Cakra dan Arini berfoto dengan ketiga rekannya yang sejak tadi selalu menggoda dengan kelakarnya.
“Resepsi masih dua jam lagi, Bu Arini jangan dipake dulu. Kasihan nanti nggak bisa nyambut tamu,” ejek Kama.
“Lo pikir istri gue baju.”
Arini hanya tersenyum, walaupun dia merasakan juga kesedihan. Jika Ibunya masih ada, tentu saja wanita itu akan merasa bahagia karena Cakra benar-benar menjadi putranya.
“Sayang, kamu cantik,” bisik Cakra saat yang lain sedang menikmati hidangan sedangkan pasangan itu melipir duduk di pojokan.
“Masa?”
“Hm.” Cakra merangkul Arini bahkan meletakan dagunya pada pundak wanita itu.
“Biasanya nggak cantik dong.”
“Cantiklah, hanya saja kali ini cantiknya kebangetan bahkan mau aku kurungin di kamar. Eh, kita ke kamar yuk?”
“Tapi ….”
“Sudahlah, tenang saja. Resepsi masih lama, ayo,” ajak Cakra.
Baru saja Arini dan Cakra melangkah sambil berpegangan tangan, Tanti sudah memanggil mereka.
“Arini bisa istirahat di kamar tadi, Cakra ikut Papi dan Candra. Ada yang ingin dibicarakan,” ungkap Tanti.
“Harus banget sekarang Mih?” Cakra bertanya dengan raut wajah kesal.
“Justru Mami yang tanya, harus banget sekarang kamu bawa Arini?”