
“Cakra, duduklah. Kita sarapan bersama,” ajak Mami Cakra ketika melihat putranya yang sudah berseragam.
Papi Cakra hanya menoleh sekilas dan melanjutkan kembali sarapannya.
“Hm,” jawab Cakra melewati meja makan dan berjalan menuju dapur.
Terdengar percakapan Cakra dengan Bik Elah juga ART lainnya, hal biasa yang kadang Cakra lakukan kalau dia tidak terlambat bangun. Cakra sudah menduduki kursinya dan tidak lama kemudian Bik Elah membawakan sarapan.
“Loh, ini kenapa menunya berbeda Bik?” tanya Tanti pada Bik Elah.
Orangtua Cakra menikmati nasi goreng seafood sedangkan Cakra dihidangkan nasi dan sup bahkan saat ini sedang fokus pada makanannya.
“Maaf Nyonya, Den Cakra alergi makanan laut,” ujar Bik Elah.
Tanti menatap putranya yang berhasil membuat dirinya malu karena tidak tahu kekurangan putranya sendiri.
“Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu kamu alergi terhadap makanan.”
Cakra menghentikan suapannya lalu meraih gelas dan menghabiskan isinya.
Tak.
Dia meletakan kembali gelas tersebut lalu menoleh pada Maminya yang duduk sejajar dengannya.
“Sejak kapan? Mungkin sejak lahir,” jawab Cakra.
“Cakra, jangan sok jagoan dengan membuat Mami seakan bodoh dengan tidak memahami kamu,” ungkap Tanti saat Cakra sudah beranjak berdiri.
“Hentikan!”
Cakra dan Tanti menoleh, karena Bagas akhirnya bersuara.
“Jangan berdebat di meja makan. Cakra, berangkatlah,” titah Bagas.
“Oke. Ah, agar Mami tidak merasa tidak tahu apapun tentang aku mungkin Mami bisa ngobrol dengan para ART yang biasa mengurus aku,” tutur Cakra.
“Cakra!” teriak Tanti tapi yang dipanggil acuh saja berjalan meninggalkan rumah.
“Kamu lihat ‘kan kelakuan anakmu itu, dia tidak bisa menghargai aku sebagai ibunya,” keluh Tanti pada Bagas.
“Anak kita,” ujar pria itu mengingatkan kalau Cakra memang anak mereka berdua.
...***...
“Semalam kemana?” tanya Kama sambil asyik dengan game onlinenya.
Cakra bergeming, dia malas menjawab pertanyaan Kama. Setiap kedatangan orang tuanya, selalu saja ada perdebatan diantara mereka.
“Busyet, diem bae. Berasa kayak ngomong sama tiang listrik,” ejek Kama masih fokus dengan gadgetnya.
“Berisik lo,” sahut Cakra lalu meninggalkan kelas.
“Woy, Cakra! Mau, kemana?”
Cakra hendak duduk di tribun dan menonton yang sedang berlatih basket.
“Heh, ke mana lo semalam?” tanya salah seorang siswa.
“Bukan urusan lo,” jawab Cakra.
“Ck. Bilang aja lo takut kalau bentrok lagi seperti sebelumnya. Cemen lo,” ledek siswa tersebut.
Semalam memang jadwal geng motor yang diikuti Cakra berkumpul dan berkeliling seperti biasa. Cakra bukan takut tapi tidak mood karena kedatangan Mami dan Papinya yang selalu berakhir dengan perdebatan.
“Nggak ada kata takut dalam kamus hidup gue. Bukan kayak lo yang pengecut dan berani ngoceh doang. Kemana kemarin waktu anak-anak diserang? Ngumpet di mana lo.” Cakra meledek balik.
“Bacot,” pekik siswa tersebut lalu melayangkan pukulannya ke wajah Cakra tapi Cakra berhasil mengelak.
Bugh.
Balasan pukulan dari Cakra berhasil mendarat di wajah lawannya. Tidak lama kemudian para siswa malam berkumpul dan menyaksikan adegan perkelahian tersebut
"Pukul lagi."
"Balas."
Suasana semakin riuh, Iqbal dan Ucup yang mengetahui kalau Cakra yang berkelahi, berlari menghampiri dan berusaha menengahi.
Beberapa guru datang termasuk Arini.
"Kamu lagi, kamu lagi," ujar Yusron. "Ke ruang BK, termasuk pembimbing kalian."
Arini menghela nafasnya, Cakra menatap dengan rasa bersalah. Seharusnya dia tidak mudah emosi.
"Mampuuss, moga aja lo dikeluarin dari sekolah," ejek teman berkelahi Cakra yang tentu saja membuat Cakra emosi dan naik pitam, kembali melepaskan pukulannya dan membuat lawannya tersungkur.
"Hentikan!" teriak Arini.
"Bro, udah bro," ujar Ucup ikut menengahi.
Arini mengarahkan agar keduanya segera ke ruang BK. Ternyata Cakra tersenyum sinis seraya mengejek membuat lawannya kesal dan hendak memukul Cakra tapi salah sasaran.
Bugh.
"Bu Arini."
Arini yang mendapatkan pukulan di wajah, terkejut dan tubuhnya oleng. Untungnya Cakra sigap menahan tubuh Arini.
"Parah lo," pekik salh satu siswa.
"Gue mau pukul Cakra bukan Bu Arini."
"Arini," panggil Cakra karena gadis itu tidak sadarkan diri.
"Bawa ke UKS," usul Iqbal.
Cakra membopong Arini menuju UKS diikuti oleh Iqbal dan Ucup. Masih terdengar riuh beberapa siswa karena saling menyalahkan.
"Arini." Cakra menepuk nepuk pipi Arini. Bagian wajah Arini yang terkena pukulan terlihat lebam.
"Ada apa ini?" tanya petugas yang berjaga di UKS.
"Bu Arini pingsan kena pukul."
"Kalian keluar, memangnya bisa mengurus pasien pingsan,” usir petugas UKS.
Cakra tetap berada di tempat, dia khawatir dengan kondisi Arini. Berbeda dengan dirinya yang sudah terbiasa berkelahi dan tawuran jadi pukulan tadi kalau mengenai tubuhnya tidak terlalu berdampak buruk berbeda dengan Arini yang langsung tidak sadarkan diri.
Tidak lama Arini pun siuman.
“Bu Arini,” panggil Cakra.
“Apa yang dirasa Bu?” tanya petugas pada Arini yang hanya dijawab dengan gelengan kepala. “Yang kena pukul hanya wajah dan tidak sampai jatuh ke lantai?” tanyanya lagi tapi kini pada Cakra.
“Iya, hanya yang lebam itu yang terkena pukul. Itu pun salah sasaran karena tadinya akan memukul saya malah kena Bu Arini. Pas oleng kebetulan saya ada di dekatnya jadi tidak sempat jatuh,” tutur Cakra.
Petugas UKS dipanggil ke ruang guru, meninggalkan Cakra dan Arini di salah satu brankar.
“Yakin nggak ada yang sakit?” tanya Cakra.
Arini beranjak bangun tapi ditahan oleh Cakra.
“Ck, aku bukan sakit parah hanya lebam,” ujar Arini.
“Lebam tapi pingsan, bikin khawatir aja,” gumam Cakra
“Sumpah aku kaget, tadi tuh kejadiannya cepat banget dan rasanya perih sakit, macam-macam lah,” keluh Arini. “Tunggu, tadi kamu bilang khawatir?”
Cakra hanya mengedikkan bahunya.
“Kalau khawatir jangan berulah dan menyusahkan aku terus. Aku hanya magang tapi dapat tugas berat bener,” keluh Arini.
“Kamu pulang aja, biar saya antar,” ajak Cakra.
“Tidak bisa, Pak Yusron pasti sudah menungguku dan kamu ayo ikut ke ruang BK.”
“Itu bisa nanti, tapi wajah kamu ….”
“Cakra, lo ditunggu di ruang BK,” ujar Kama yang menginterupsi perdebatan Arini dan Cakra.
Cakra berdecak, mau tidak mau dia harus memenuhi panggilan itu.
“Ibu Arini mau pulang, biar saya antar ya,” usul KAma pada Arini.
“Apaan lo, kagak ada. Bu Arini juga ditunggu di ruang BK, dia pendamping gue.” Cakra membantu Arini turun dari brankar. “Perlu saya gendong, Bu?”
“Lebay bener, geli gue lihatnya,” ejek Ucup yang melihat hal tidak biasa pada Cakra.
Setelah Cakra dan Arini meninggalkan UKS, ketiga orang itu mendekat.
“Gue curiga kalau Cakra kayaknya suka sama bu Arini,” cetus Kama.
“Menurut gue juga begitu,” dukung Ucup.
“Padahal gue duluan yang notice, kenapa Cakra yang dapet ya,” ujar Kama.
“Memang nasib lo pada, ya sudah kita susul ke ruang BK. Cakra pasti butuh dukungan kita,” ajak Iqbal.