
“Lo balik ke sekolah, kita ketemu di sana,” ujar Cakra sambil memakai helmnya.
“Yakin?”
“Kita berdua ngilang, nanti malah jadi masalah, gue ke sekolah kalau sudah bertemu bik Elah.”
“Hm, oke.”
Cakra melaju mendahului Kama yang baru menaiki motor.
“Aneh, gue ngerasa ada keanehan dengan perginya Bu Arini,” gumam KAma memandang Cakra yang sudah semakin menjauh.
Tidak didampingi oleh Kama, membuat Cakra melajukan motornya begitu cepat dan tiba di rumah tanpa kendala berarti.
“Bik Elah,” panggil Cakra saat memasuki rumahnya.
Dua asisten rumah tangga lainnya, saling pandang ketika mendengar Cakra berteriak.
“Bik Elah, mana?” tanya Cakra yang sudah berada di dapur
“Hm, Bik Elah nggak ada Den.”
“Ke mana, ke pasar atau ….”
“Nggak masuk kerja.”
“Kenapa? Gue ke rumahnya katanya udah pindah. Sekarang Bik Elah tinggal di mana?” tanya Cakra lagi.
Kedua ART itu kembali saling pandang. Tentu saja Bik Elah sudah tidak bekerja di sana karena kemarin sore Pak Bagas memanggil Bik Elah dan meminta wanita itu untuk mencari pekerjaan lain.
“Cakra,” panggil Tanti yang sudah mendengar kegaduhan putranya mencari salah satu pembantu rumah tangga. “Ikut Mami!”
“Aku sedang cari Bik Elah, kalau Mami mau menasehati atau memarahi aku nanti sajalah.”
“Bik Elah tidak akan kemari lagi, dia sudah berhenti bekerja,” jelas Tanti pada putranya.
Cakra menoleh, tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Sejak tadi dia berusaha meyakini kalau Bik Elah dan Arini hanya pindah tempat tinggal. Mengesampingkan kenyataan magang Arini yang sudah berakhir, kontak yang tidak aktif juga tanpa memberi kabar apapun.
“Tidak mungkin, Bik Elah itu sudah menganggap aku anaknya sendiri. Tidak mungkin dia tidak bilang apa-apa, pasti ….”
“Cakra, ikut Mami!” titah Tanti lagi.
Cakra menghela nafas bahkan mengusap kasar wajahnya.
“Apa kalian tahu sesuatu?” tanya Cakra lagi pada kedua ART yang masih berdiri di hadapannya.
Kedua wanita itu menggelengkan kepalanya pelan, takut pada majikannya jika menyampaikan apa yang mereka tahu pada Cakra.
“Shittt,” maki Cakra setelah meninggalkan dapur. “Pasti ada alasan kenapa Arini melakukan ini, dia tidak mungkin pergi begitu saja.”
Cakra sudah duduk berhadapan dengan maminya di ruang kerja Bagas.
“Karena sudah bertahun-tahun dia yang mengurus aku. Tunggu … jangan bilang kalau kejadian ini ada hubungannya dengan kalian?”
Tanti semakin kesal karena wajah Cakra semakin tidak enak dilihat. Apalagi dia adalah ibunya, tapi Cakra seakan lebih menghargai dan peduli dengan kepergian Bik Elah daripada menjaga perasaan Tanti.
“Mami, katakan kalau kalian tidak ada hubungannya dengan kepergian Bik Elah juga Arini?”
Tanti bergeming.
“Kenapa aku menduga kalau kalian sudah tahu hubunganku dengan Arini lalu ….”
“Cakra, sebagai orangtua kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu? Lagi pula kamu masih muda, untuk apa mengorbankan waktu kamu untuk perempuan itu?”
“Aku tidak pernah mengorbankan waktuku untuk bersama Arini. Bahkan kalau perlu aku akan berikan semua waktuku untuknya. Dia yang membuat aku sadar kalau yang aku lakukan selama ini keliru, apa yang aku lakukan selama ini bukan jalan keluar dan ….” Cakra menunjuk wajah Maminya. “Aku semakin benci kalian.”
Laki-laki itu beranjak meninggalkan Tanti yang berteriak memanggil namanya.
Cakra kembali menaiki motornya dan melaju kencang. Pikirannya kalut, entah apa yang Arini rasakan saat ini. Tidak ada tempat tinggal bahkan Ibunya pun terusir dari pekerjaannya.
Ini semua salah gue, perasaan ini gue yang mulai. Harusnya gue lebih aware kalau Papi akan melakukan hal ini, batin Cakra.
...***...
Arini dan Bu Elah turun dari bus yang baru saja berhenti di terminal Giwangan Yogyakarta.
“Ibu tunggu di sana saja,” tunjuk Arini pada deretan kursi tunggu di terminal sedangkan dirinya akan mengambil koper dan tas milik mereka.
“Tapi bawaan kita banyak, kamu nggak akan bisa membawanya sendiri, sudahlah biar Ibu bantu.”
Setelah menurunkan semua bagasi milik mereka, Arini mengajak Ibunya untuk mengisi perut di salah satu warung makan. Sudah cukup larut mereka tiba di Yogyakarta, hanya berbekal pakaian dan barang yang bisa mereka bawa dan dapat digunakan seperlunya.
Keduanya tidak ingin menunjukan kesedihan mereka, saling menjaga perasaan masing-masing. Jika mengikuti perasaan Arini rasanya ingin menangis, bukan hanya memikirkan perasaannya saja tapi juga memikirkan kondisi Cakra. Entah apa yang akan dilakukan laki-laki itu ketika mengetahui kalau Arini pergi tanpa jejak dan tanpa pamit.
“Kita ke kosan kamu sekarang saja,” ajak Bu Elah setelah menghabiskan segelas teh manis hangat.
Arini menganggukkan kepalanya, membayar apa yang mereka nikmati dan membungkus beberapa kue potong kue dan roti karena keduanya tidak jadi makan malam dengan alasan yang sama, tidak lapar.
Karena bawaan mereka cukup banyak, Arini menggunakan taksi. Biasanya dia akan menggunakan becak untuk berkeliling dengan jarak dekat.
“Besok kita cari rumah kontrakan, jangan sampai ada yang mencari keberadaan kita di sini,” tutur Ibu Elah. Arini lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Tangannya sangat ingin membuka ponsel dan memasang kembali kartu selular yang diketahui oleh Cakra tapi permintaan Papi Cakra agar dia dan Ibunya pergi dari kehidupan Cakra, mau tidak mau Arini harus mengganti kontak ponselnya.
Aku harap kamu baik-baik saja, jalani hidupmu dengan baik. Semoga kita bisa bertemu lagi dengan situasi dan kondisi yang lebih kondusif meskipun diantara kita sudah bisa saling melupakan.
Air mata akhirnya lolos membasahi pipi Arini, dengan segera gadis itu mengusap dan menatap ke atas agar tangisnya tidak berlanjut.
Maafkan Ibu, seharusnya ibu bisa memberikan kamu hidup yang layak jadi kita tidak dihina seperti ini. Ibu doakan kamu menjadi orang yang sukses tapi jangan pernah menghina dan menginjak orang lain.