
Bruum
Cakra sengaja menderu motornya lalu berhenti tepat di belakang Arini.
“Bu Arini.”
Perempuan itu pun menoleh.
“Ibu gimana sih tadi manggil saya tapi sekarang malah pulang.”
Arini mengernyitkan dahi, seingatnya dia tidak ada janji dengan Cakra.
“Kamu ada janji dengan siswa berandalan itu?” tanya Pak Ari.
Arini menatap bergantian Ari dan Cakra.
“Ehm, iya. Saya lupa,” sahut Arini.
Dari pada aku pulang dengan Pak Ari, nanti dia kegeeran lebih baik kembali ke sekolah, batin Arini.
Saat pulang tadi, Pak Ari sudah berada di ruang BK mengajak Arini pulang bersama dan perempuan itu tidak ada alasan untuk menolaknya.
“Kembali ke sekolah, urusan kamu belum selesai,” titah Arini pada Cakra.
“Saya temani,” usul Pak Ari.
“Owh tidak usah,” tolak Arini khawatir jika pria itu akan ikut kembali ke sekolah yang sebenarnya hanya alasan. Setelah Ari pergi, Arini menghela nafas lega akhirnya bisa menghindar dari pria itu.
“Nggak jadi ke sekolah nih?” tanya Cakra.
“Nggaklah, tadi itu hanya alasan. Untung saja ada kamu,” ujar Arini sambil tersenyum.
“Ngapain juga pulang sama Pak Ari?” tanya Cakra masih berada di atas motornya.
“Dari tadi dia sudah berada di ruang BK. Saya enggak ada alasan untuk usir dia,” ujar Arini.
“Ya bilang aja mau pulang dengan Cakra,” usul Cakra.
“Kalau saya bilang seperti itu, dia akan curiga ada hubungan apa saya dengan kamu.”
“Biarkan aja curiga, kalaupun ada hubungan memangnya kenapa?”
“Kamu kalau dikasih tau ngeyel ya.” Arini memukul pelan lengan Cakra karena selalu saja menjawab apa yang diucapkannya.
“Cepat naik!”
“Hahh.”
“Naik ke motor,” titah Cakra lagi. "Saya anterin pulang atau mau ke mana gitu, Cakra selalu siap mengantar," ujar Cakra sambil menepuk dadanya.
Ternyata Caka tidak mengantar Arini pulang malah membawa gadis itu ke taman.
"Kenapa ke sini?"
Arini turun dari motor Cakra sambil menatap sekeliling.
"Belum pernah ke sini 'kan? Tempatnya bagus, cocok untuk yang sedang pacaran," ujar Cakra setelah membuka jaket dan melepaskan helmnya.
Ternyata Cakra sudah berganti kaos pengganti seragam sekolahnya.
"Kenapa bawa saya, seharusnya bawa pacar kamu," sahut Arini.
"Ibu Arini yang mau saya prospek jadi pacar." Cakra merangkul bahu Arini dan mengerlingkan kedua matanya.
Arini mendorong tubuh Cakra agar menjauh.
"Siapa juga yang mau jadi pacar kamu."
"Ayolah, Bik Elah pasti setuju. Dia tau aku calon menantu yang baik."
Arini memilih meninggalkan Cakra dari pada mendengarkan ocehan laki-laki itu.
"Arini, hei. Aku belum selesai," teriak Cakra.
Arini berdiri menatap danau buatan di taman tersebut dan banyak gazebo di pinggiran danau.
"Kita duduk di sana," tunjuk Cakra pada sebuah gazebo.
Taman tersebut tidak terlalu ramai karena masuk berbayar dan berada di salah satu tempat wisata.
“Hahh.” Cakra menghela nafasnya sambil berbaring di gazebo yang berbentuk panggung dengan kedua kaki masih menjuntai ke lantai.
Arini duduk memandang ke depan ke arah danau. Dia ingin bertanya pada Cakra mengenai hubungan laki-laki itu dengan orangtuanya, untuk membuktikan kesimpulan atas pertemuan dengan Papi Cakra saat tadi di sekolah.
Namun, Arini bingung dan ragu untuk mulai bertanya. Khawatir jika Cakra tidak ingin membicarakan masalah keluarganya.
“Ehm, Cakra boleh aku bertanya tentang …”
“Tentang apa?” tanya Cakra menyela ucapan Arini. Bahkan sudah beranjak dari posisinya berbaring dan menggeser duduknya menjadi sangat dekat dengan Arini.
“Hm, biasa aja. Bik Elah pasti tahu, kenapa tidak bertanya dengannya.”
“Karena aku perlu dengar langsung dari kamu,” sahut Arini.
“Papi dan Mami sangat sibuk, mereka mungkin yang melahirkan aku tapi yang mengetahui bagaimana aku lebih tahu para asisten rumah tangga termasuk Ibumu. Aku sengaja berulah ikut geng motor, kalau perlu aku ditangkap polisi dan mereka dipanggil agar mereka memperhatikan aku. Saat mereka ada malah aku merasa aneh karena mereka sok peduli untuk hal yang menurut aku sepele.”
Arini mendengarkan penuturan Cakra yang bisa jadi berasal dari hatinya yang paling dalam.
“Apa bisnis orang tuamu di luar kota atau …”
“Ada yang di luar kota tapi kalau Mami terlibat dengan perusahaan keluarganya di Singapura. Saudaraku pun menetap di sana bersama keluarganya.”
“Kenapa kamu tidak tinggal di sana juga, paling tidak kamu tetap dekat dengan mereka.”
“Kalau aku tinggal di Singapur, mana mungkin bertemu dengan perempuan yang sudah berani mengganggu kegiatanku,” ujar Cakra yang memandang lekat wajah Arini. Bahkan saat ini wajah mereka semakin dekat dan hembusan nafas Cakra terasa hangat di pipi Arini.
“Cakra.”
“Hm.”
“Minggir, ini terlalu dekat.” Arini mendorong wajah Cakra agar menjauh.
Cakra terkekeh lalu mengasak puncak kepala perempuan itu.
“Aku mau buat adegan romantis,” ujar Cakra. “Arini,” panggil Cakra membuat perempuan itu kembali mengalihkan wajahnya menatap Cakra.
“Seharusnya kamu panggil aku Ibu, seperti yang lain.”
“Seharusnya aku panggil kamu sayang.”
Arini bergeming lagi-lagi Cakra membuatnya salah tingkah dan jantungnya berdebar-debar. Ternyata Cakra bisa membuat lawan jenis terpesona seperti yang saat ini Arini alami.
“Ngaco,” gumam Arini.
Cakra mengernyitkan dahinya.
“Ngaco gimana?”
Arini mengedikkan bahunya.
“Kamu sudah punya pacar belum sih?” tanya Cakra penasaran.
“Menurut kamu?” Arini malah balas bertanya.
“Ck, aku serius dan jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain.”
“Aku juga serius. Serius untuk tidak menjawab pertanyaan kamu," ungkap Arini.
“Ya tidak masalah, tidak perlu dijawab tapi hanya perlu balas.”
Kini giliran Arini yang heran dan mengernyitkan dahinya.
“Apanya yang dibalas?”
“Perasaan aku.”
“Gombal,” ejek Arini.
...***...
Arini turun dari motor Cakra dan melepaskan jaket yang dia kenakan milik laki-laki itu dan mengembalikannya. Sudah jam tujuh malam saat Cakra dan Arini tiba setelah menghabiskan waktu mereka di taman sejak pulang sekolah.
Wajah Cakra berbinar sedangkan Arini tersipu saat Cakra dengan sengaja malah menggenggam tangannya saat menerima jaket.
“Sudah malam, lebih baik kamu cepat pulang.”
“Tapi aku belum puas, sampai rumah juga kangen lagi,” sahut Cakra dan sukses membuat wajah Arini merona. Untungnya sudah malam jadi tidak terlalu kentara dan terlihat oleh Cakra.
“Ck, kamu ternyata pintar gombal. Sudah di rumah nggak usah keluar lagi, apalagi berurusan dengan geng motor.”
“Besok aku jemput," ujar Cakra lalu memakai kembali helmnya. "Tidak usah menolak karena aku akan memaksa," ujar Cakra lagi.
Arini memandang kepergian Cakra, lalu memegang dadanya berdebar.
"Ada apa denganku?"
"Arini."
Arini pun menoleh. "Ibu," sahut perempun itu.
"Masuklah, ini sudah malam," titah Ibu sambil membuka pagar dan membiarkan Arini lewat. "Cakra yang mengantar kamu?"
"Iya, Bu."
"Kita dan Cakra itu berbeda, Ibu yakin kamu mengerti."