Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 28 ~ Tidak Asing



“Sayang, kamu sudah pulang? Sudah makan belum?  Ke mana saja hari ini?” tanya Tanti yang melihat putranya tiba di rumah.


“Mami bertanya apa kasih soal ujian, banyak amat.”


“Ck, wajar seorang ibu perhatian dengan anaknya.” Tanti memeluk putranya sambil menengadah karena tubuh putranya sekarang lebih tinggi dan tentu saja masih tetap tampan.


Di balik senyum Tanti tetap hatinya perih seakan ada yang tersayat dan rasa itu seakan tidak kunjung sembuh. Apalagi melihat sang putra berjalan tertatih, karena cedera yang dialami beberapa tahun yang lalu.


“Habiskan, Mami tahu kamu pasti tidak makan siang,” ujar Tanti lagi saat berada di meja makan.


“Sudahlah Mih, nggak usah berlebihan nanti Papi cemburu. Dia juga butuh perhatian dari Mami.”


“Siapa yang cemburu?” Pria yang sedang dibicarakan sudah tiba. Bagas, walaupun sudah paruh baya tetapi masih aktif meneruskan bisnis keluarganya.


“Pih, perhatian Mami itu terlalu berlebihan dan aku yakin Papi pasti cemburu.”


Bagas yang sudah duduk di salah satu kursi, menatap istri dan putranya bergantian.


“Kalau tidak mau perhatian dari Mami yang berlebihan, cepat cari istri. Jadi Mami hanya akan fokus dengan Papi.”


Pria itu terkekeh, “Siapa juga yang mau denganku?”


“Kamu harus balik pertanyaannya, siapa dia mau denganmu,” sahut Bagas. “Cakra, perbaiki percaya diri kamu. Wajah kamu tampan, pekerjaan jelas dan … kalaupun ada yang membahas keluarga, tentu saja background keluarga kamu jelas.”


Pria itu adalah Cakra, putra dari Bagas dan Tanti. Tujuh tahun lalu dia terluka cukup parah bahkan harus beberapa kali menjalani operasi. Kuliahnya harus tertunda karena fokus dengan kesembuhan dan kesehatannya.


Akibat kejadian itu, kaki Cakra cedera membuatnya tidak bisa berjalan normal seperti pria normal lainnya. Namun, selalu ada hikmah dibalik semua kejadian. Orangtua Cakra yang sebelumnya selalu sibuk dan mengabaikannya, selalu mendampingi dan ada untuk Cakra bahkan sampai saat ini.


“Papi bisa carikan kamu pendamping. Banyak kolega Papi yang tentu saja putrinya cantik dan pasti cocok denganmu,” tutur Bagas.


Cakra terkekeh mendengar tawaran Papinya, padahal Mami begitu mendukung dan meminta Cakra menyetujui tawaran dari Bagas.


“Kalau dengan tawaran Papi aku dapatkan pendamping, berarti dia menerima aku karena keluarga kita bukan karena menerima aku apa adanya.”


Tanti menghela nafasnya, mendengar pernyataan Cakra. Penyesalan yang pernah mereka utarakan masih terpatri di hati. Bukan hanya fisik Cakra yang terluka tapi hati pria itu sepertinya sudah terluka dan tertutup untuk wanita manapun.


“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Bagas mengalihkan pembicaraan.


“Biasa Pih, tapi besok aku akan ke pelosok. Kalau ternyata memakan waktu pulang pergi, aku akan bermalam di sana.”


“Nanti dulu, di sana aman nggak? Pasti ada hotel atau penginapan? Kamu cari informasi dan pastikan dulu,” ujar Tanti begitu mengkhawatirkan putranya.


“Tenang saja Mih, kalaupun tidak ada penginapan aku akan tinggal di lokasi yang aku kunjungi. Lagi pula aku ditemani Pak Agus,” tutur Cakra. Ke mana pun Cakra pergi, memang selalu ditemani supir atau dia menggunakan taksi.


 “Cakra betul, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Mami lebih baik ikut aku, besok aku harus ke luar kota. Lagi pula Cakra tidak ada di rumah,” titah Bagas.


“Tapi ….”


“Tidak usah pakai tapi … Mami dengarkan Papi. Siapa tahu, aku di sana dapat jodoh,” ungkap Cakra sambil terkekeh.


“Bu Arini, pengacara Sasa mundur lagi. sepertinya dia akan kalah kalau seperti ini terus.”


Arini menghela nafasnya, menjadi orang yang hidup dengan status ekonomi sulit ternyata sangat menyiksa. Saat ini perempuan itu sedang menangani korban yang mendapatkan pelecehan, selain mengalami trauma kasusnya belum juga ada panggilan di pengadilan. Pengacara korban selalu berganti  karena  kasus pro bono, jangankan untuk bayar pengacara untuk kehidupan sehari-hari keluarga korban sangat kesulitan.


“Iya, aku ke sana sekarang juga. Kemarin aku benar-benar tidak sempat,” sahut Arini yang baru saja tiba di kantor dan mendapatkan informasi mengenai salah satu kasus yang sedang mereka tangani.


Lokasi dari kantor ke tempat tinggal korban cukup jauh, hampir memakan waktu satu jam setengah dan terletak di sebuah perkampungan. Saat tiba dan keluar dari mobil yang diparkir agak jauh dari tempat tinggal korban, Arini mengernyitkan dahinya melihat sebuah mobil mewah yang sudah ada lebih dulu.


“Milik siapa ya?”


Parkiran tersebut adalah lahan kosong di kantor desa dan harus jalan kaki menuju rumah korban. Arini langsung berjalan menuju rumah korban dan terkejut saat tiba di rumah itu yang kondisinya berantakan dengan pintu yang hancur dan kaca jendela retak juga ada yang pecah.


“Bu Arini, kemarin ada yang menyerang rumah kami. Sepertinya saya akan mundur dari tuntutan pelaku yang sudah melecehkan Sasa,” ujar pria paruh baya yang merupakan ayah korban.


“Pak, kita tidak boleh menyerah. Sasa harus mendapatkan keadilan.”


“Untuk apa? Toh Sasa juga terlihat semakin mengkhawatirkan bahkan orang-orang di sini memanggilnya ODGJ,” sahut pria itu.


“Saya paham Bapak kecewa tapi kita harus memikirkan masa depan Sasa. Tuntutan Sasa bukan ranah saya, tapi kalau Sasa sudah sembuh dan pelaku mendapatkan hukuman paling tidak bisa membuat Sasa merasa mendapatkan keadilan.”


“Pengacara saja sudah mundur lagi, tapi tadi ada yang datang katanya pengacara Sasa yang baru tapi saya pesimis jangan-jangan minggu depan dia mundur juga.”


“Sekarang di mana pengacara itu?”


“Ehm, tadi izin ke kantor desa malah tadi ketika datang dia sudah mengunjungi balai kesehatan di sini.”


Arini mengernyitkan dahinya, mendengar orang itu sudah mendatangi lokasi-lokasi yang mungkin saja memang ada hubungannya dengan kasus Sasa.


“Saya temui Sasa dulu,” pamit Arini.


Cukup lama Arini bersama Sasa, memberikan terapi agar perempuan itu melupakan traumanya juga memberikan rasa percaya diri. Walaupun hal itu tidak mudah, bahkan di awal-awal Arini selalu mendapat makian dari tangisan dari Sasa.


Terdengar percakapan di luar, Arini yang memang sudah selesai memberikan terapi untuk Sasa keluar dari kamar dan menuju arah suara. Ternyata Ayah Sasa sedang bicara dengan seseorang, yang posisinya membelakangi Arini.


“Sedikit banyak saya sudah kuasai kejadian yang menimpa Sasa dan pergantian saya sebagai pengacara juga sudah kami urus. Bapak tidak usah khawatir, tidak lama lagi sidang akan dilaksanakan.”


Ayah Sasa menganggukkan kepalanya, ikut yakin dan semangat seperti yang disampaikan pria yang mungkin pengacara baru Sasa, padahal sebelumnya Ayah Sasa begitu pesimis.


“Permisi,” ujar Arini yang membuatnya menjadi perhatian Kedua pria di hadapannya.


Pria yang ternyata seorang pengacara itu menoleh, keduanya saling beradu tatap sampai akhirnya Arini berdeham.


Aneh, wajahnya tidak asing. Sepertinya aku pernah mengenalnya, batin Arini.