Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 43 ~ Tidur



“Sayang, udah nggak sabar berduaan dengan kamu,” bisik Cakra.


“Cakra, apa sih. Ini masih banyak tamu, tamu kamu dan Papi. Jangan gitu ah, nggak enak dilihat yang lain,” ujar Arini sambil mengulas senyum dan kembali berdiri karena ada tamu yang mendekat ke pelaminan.


“Iya, kenalan Papi. Biar aja Papi dan Mami yang sambut. Kita pergi yuk. Ucup udah siap mengantar, jadi kita jangan tidur di kamar yang sudah disiapkan WO. Pindah hotel biar nggak ada yang ganggu.” Arini tidak menduga, Cakra punya ide konyol bahkan di hari pernikahan mereka.


Resepsi pernikahan Cakra dan Arini yang berlangsung dari pukul satu siang sampai dengan pukul lima, hanya beberapa jam saja tapi Cakra seakan tersiksa berhari-hari.


“Cakra, duduklah,” pinta Arini yang melihat Cakra sudah lelah. Arini pun mengambil air mineral yang ada di meja di atas pelaminan yang memang disiapkan untuk pasangan itu.


“Minumlah, setelah ini kita ke kamar.”


“Tenanglah, aku baik-baik saja tapi kalau kamu memaksa untuk ke kamar, aku sudah siap,” sahut Cakra sambil terkekeh.


“Cakra, aku serius.” Arini memukul lengan Cakra karena pria itu masih saja bercanda di saat Arini sedang khawatir.


“Aku juga serius, tenang saja. Aku memang lelah, bukan berarti aku akan mati.” Cakra membuka botol air mineral dan meneguk isinya.


“Ini hari pernikahan kita tapi kamu membahas masalah kematian.”


Arini mengerucutkan bibirnya, membuat Cakra gemas lalu mengusap pipi wanita itu.


“Jangan begitu, aku tidak tahan lihat bibirmu,” ujar Cakra.


Meskipun sudah berakhir waktu resepsi, tapi Bagas memang sudah mengkondisikan kemungkinan masih ada tamu yang datang. Seperti saat ini masih ada beberapa rekan bisnis yang datang dan disambut oleh Bagas dan Candra.


“Kalian boleh istirahat, minta makan malam diantar ke kamar saja,” titah Tanti pada Arini dan Cakra.


“Iya Mih, aku sudah lelah,” keluh Cakra sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Arini. “Benar-benar lelah, kalian tega menyiksaku di pelaminan. Bisa-bisa malam pertamaku gagal,” canda Cakra masih bersandar pada Arini.


“Arini, cepat bawa suami kamu ke kamar. Lebay sekali dia,” ujar istri Candra.


“Kamu harus sabar Arini, dia manja kalau dekat kamu. Padahal dulu sok kuat dan hebat tapi dekat kamu malah manja nggak ketulungan.”


Pasangan yang sedang berbahagia itu meninggalkan ballroom menuju kamar pengantin mereka. Arini menenteng heelsnya karena tidak tahan sejak tadi berdiri menggunakan alas kaki dengan tinggi yang tidak biasa, agar tinggi badannya dengan Cakra tidak terlihat jauh berbeda.


“Sayang, aku tidak bisa menggendongmu sampai kamar seperti pengantin pada umumnya,” ujar Cakra sambil merangkul pundak Arini.


Ucapan Cakra serius karena keterbatasan fisiknya dia tidak bisa melakukan hal romantis Arini. Saat ini mereka berada di depan lift, kedua mata Arini mengembun mendengar apa yang diucapkan Cakra.


“Aku tidak perlu digendong tapi ingin dipeluk.”


Cakra tersenyum lalu meraih tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan.


“Selalu, aku akan selalu memelukmu.”


...***...


Cakra dan Arini sudah berada di kamar mereka dan baru saja menikmati makan malam.  


“Mau mandi? Aku siapkan air hangatnya.” Arini membantu Cakra melepaskan jas dan dasi pria itu.


“Kemarilah.” Cakra menepuk pangkuannya agar Arini duduk di sana.


Arini masih mengenakan gaun pernikahan dengan model sederhana tapi terlihat elegan, menghampiri Cakra dan perlahan duduk di pangkuan suaminya.


“Tidak usah takut, kalau hanya memangku seperti ini  kakiku masih kuat.”


Arini mengalungkan tangannya di leher Cakra, tidak percaya kalau pernikahan akan menjadi muara dari hubungan yang cukup dramatis bahkan cukup tragis.


“Aku tidak takut, karena aku yakin kamu bisa melindungiku bagaimana pun caranya. Walaupun kamu tidak bisa menggendongku, kamu bisa pikirkan cara lain. Aku yakin itu.”


Cakra tersenyum, dia membelai wajah Arini lalu wajah mereka semakin dekat bahkan hembusan nafas terasa di wajah masing-masing.


“Bibirmu selalu menggoda.”


Pagutan lembut itu perlahan berubah menjadi dalam bahkan salah satu tangan Cakra sudah berada di tengkuk Arini menahan agar tidak menjauh atau melepaskan pagutan mereka.


Nafas Arini terengah saat Cakra mengurai luma tan bibirnya.


“Cakra, kita ….”


“Mandi dulu, itu maksudmu?”


Arini menganggukkan kepalanya. Ibu jari Cakra menyentuh bibir Arini yang agak bengkak dan basah karena ulahnya barusan.


“Aku duluan atau bersama?”


“Kamu duluan, aku belum siap kalau kita harus ….”


“Lain kali kita akan mandi bersama,” ujar Cakra menyela ucapan Arini.


Cakra sudah selesai dengan ritual mandinya. Pria itu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe lalu menghampiri Arini yang kesulitan membuka resleting belakang dari gaun yang dikenakannya.


“Biar aku bantu.” Cakra menurunkan resleting yang macet dan terpampanglah punggung Arini yang putih dan terlihat halus. Rasanya pria itu ingin mendaratkan wajah pada kulit itu dan memberikan kecup4n serta meninggalkan banyak jejak di sana.


“Cakra, sudah?”


“Hm, sudah.”


Pria itu mengernyitkan dahinya melihat Arini menuju toilet tanpa melepaskan gaunnya.


“Sayang, kenapa gaunnya tidak di lepas di sini?” tanya Cakra.


“Ehm, aku malu karena di balik gaun ini aku hanya mengenakan cela na dalam,” sahut Arini.


Cakra tersenyum kemudian mendekati istrinya lalu memutar tubuh Arini agar membelakanginya. Menurunkan tali gaun yang masih tersampir di bahu Arini dan menurunkan seluruh gaun hingga teronggok di lantai.


Benar saja, Arini hanya mengenakan kain segitiga untuk penutup bagian bawah tubuhnya. Kemolekan tubuh Arini terlihat jelas oleh Cakra.


“Mandilah, aku tunggu di ranjang,” bisik Cakra membuat tubuh Arini meremang karena hembusan nafas dan bibir pria itu mengena pada telinganya.


“Tunggu di ranjang?” gumam Arini ketika sudah berada dalam toilet. “Ini maksudnya dia mau unboxing aku?”


Arini berjalan mondar mandir di dalam toilet. Dia merasa gugup karena malam ini apa yang selama ini dia jaga akan diberikan pada Cakra. Memang Cakra berhak atas dirinya, karena pria itu sudah menjadi suaminya.


“Bagaimana kalau sakit? Aku pernah dengar kalau pertama kali rasanya akan sakit. Aduh, gimana ini?”


Tok Tok Tok


“Arini, apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak ada bunyi kran air?”


“I-Iya, aku sedang bersihkan make up dulu,” ujar Arini beralasan. Tidak mungkin dia menjawab kalau saat ini dia sedang takut dan bingung karena akan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


“Jangan terlalu lama di dalam, nanti masuk angin.”


“Hm.”


“Lebih baik masuk angin daripada masuk pusaka kamu," ujar Arini lirih.


Arini akhirnya membersihkan diri dan bersiap untuk menyerahkan diri sepenuhnya pada Cakra. Keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe, sama seperti Cakra.


“Cakra, aku ….”


Kenapa dia malah … tidur, gumam Arini menatap Cakra yang sudah terlelap sambil memeluk bantal.