
“Cak,” panggil Kama sambil menghampiri Cakra yang baru saja menghentikan motornya
“GImana Cak, udah jelas keberadaannya?” tanya Iqbal. Ketiga sahabat Cakra sudah mendekatinya menunggu informasi dari Cakra.
“Nggak ada, mereka sudah pindah dan tidak berkabar sama sekali. Sepertinya ini ulah Papi, dia tahu gue jalan sama Arini dan ….”
Kempat laki-laki diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing, mencoba mencari solusi untuk masalah Cakra, sungguh pertemanan yang sangat solid.
“Lo tahu kampus di mana Bu Arini kuliah ‘kan?” tanya Iqbal memecah kesunyian.
Cakra masih terdiam dengan pertanyaan Iqbal.
“Udah pasti taulah, secara lo bebebnya Bu Arini. Masa nggak tahu di mana Bu Arini kuliah,” cetus Ucup dengan raut wajah lega.
“Iya, paling nggak nanti lo bisa hubungi kampus itu atau datangi. Kalau lo bucin banget ya kulliah di tempat yang sama,” ungkap Kama.
“Gue … nggak tahu Arini kuliah di mana. Nggak pernah bahas hal itu.”
“Shittt.”
“Halahh, terus yang lo bicarakan selama ini apaan? Pikiran lo kalau dekat bu Arini nggak pernah mikir yang aneh-aneh ‘kan?”
“Ya nggaklah,” pekik Cakra menjawab pertanyaan Kama.
“Kita tanya rekan guru aja,” usul Ucup.
“Nah, bener itu. Karena lo yang usul, lo yang tanyakan ke mereka,” titah Kama.
Ucup walaupun menggerutu tapi tetap melaksanakan perintah itu, menuju ruang BK di mana rekan Bu Arini berada. Cukup lama Ucup pergi dan kembali tentu saja ditunggu dengan antusias oleh Kama karena kalau keberadaan Arini masih belum jelas dia khawatir Cakra akan berbuat sesuatu yang nekat ketika pikirannya kalut.
“Nihil bro, Bu Arini nggak banyak bercerita,” jelas Ucup.
“Gimana kalau temuin Pak Gala, bukannya semua guru akan bertemu kepala sekolah ketika perekrutan. Bisa jadi Bu Arini yang menerima di sekolah ini adalah Pak Gala,” cetus Iqbal yang lebih masuk akal.
Cakra tidak berbasa basi langsung berjalan menuju ruang kepala sekolah.
“Lah, kamprett malah ngeloyor aja,” celoteh Ucup karena Cakra berlalu tanpa berkata apapun.
“Ayo, kita ikuti Cakra. Siapa tahu dia butuh bantuan,” ucul Kama.
Cakra dan ketiga sahabatnya sudah berada di depan ruang kepala sekolah. Kebetulan Pak Gala ada di sana dan baru saja menerima tamu.
“Ada apa ini?” tanya pria itu sambil membetulkan letak kacamatanya. Didatangi oleh keempat siswa yang memang dikenal sering berulah terutama Cakra, apalagi beberapa guru dan siswa mengatakan keempat siswa tersebut dengan istilah berandalan.
“Ada yang ingin kami bicarakan, Pak,” ujar Iqbal mewakili.
Akhirnya Cakra dan ketiga sahabatnya duduk bersama di ruangan tersebut dengan Pak Gala pada sofa tunggal.
“Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan? Bukannya kalian sedang ujian?” Gala mencecar pertanyaan pada keempat siswa di hadapannya.
“Arini … maksud saya Bu Arini. Kenapa dia sudah tidak bertugas lagi?” Cakra akhirnya membuka suara.
“Karena sudah selesai,” sahut Pak Gala dengan tenang. Dia mulai tahu maksud kedatangan Cakra dan tiga serangkainya. “Kamu masih ada urusan dengan Bu Arini?” tanya Pak Gala.
“Apa karena Papi saya?”
Pak Gala sempat terkesiap karena Cakra bisa menebak apa yang terjadi.
“Memang ada apa dengan Papi kamu?”
“Sebaiknya Pak Gala katakan saja dengan jujur. Apa Bu Arini dihentikan magangnya karena permintaan Papi saya? Sekolah ini termasuk Pak Gala pasti akan memenuhi permintaan Papi karena beliau adalah donatur di sekolah ini.”
“Cakra,” tegur iqbal karena Cakra sudah mulai bertanya dengan memojokkan dan mengintimadasi.
“Sabar, Cak,” ujar Kama.
“Kenapa kamu bisa sampai berpikir ke arah sana. Apa alasan Pak Bagas meminta saya menghentikan magang Bu Arini.” Pak Gala mau tidak mau harus berkilah, posisinya seperti buah simalakama karena berhadapan dengan Pak Bagas dan Cakra putra dari Bagas.
“Jawab saja, pak.”
“Cakra, gila lo. Dia kepala sekolah, lo bisa diusir jadi siswa sini,” ujar Ucup.”
“Kegiatan magang Bu Arini sudah selesai, kami tidak mungkin merekrut beliau walaupun karakter dan kemampuannya baik karena statusnya masih mahasiswa.”
“Bu Arini kuliah di mana Pak?” tanya Iqbal. “Rasanya tidak mungkin Pak gala tidak tahu.”
“Kalau itu rahasia, karena Bu Arini sendiri yang tidak ingin diketahui dari mana dia berasal.” Untuk yang satu ini Pak Gala berdusta.
Brak.
“Woy, Cak.” Bukan hanya Ucup yang mencoba menenangkan Cakra, Kama dan Iqbal menahan agar Cakra tidak emosi. Bahkan di ruangan orang nomor satu di sekolah, Cakra berani menggebrak meja di hadapannya saat mendengar alasan yang tidak masuk akal.
Rasanya aneh ketika ada kegiatan magang dan asal peserta magang dirahasiakan.Tidak masuk logika Cakra dan dia tahu ada yang disembunyikan di sini.
Cakra berdiri, diikuti oleh Ucup dan Kama.
“Aku akan cari tahu sendiri apa benar Papi tidak ada hubungannya dengan kepergian Arini dan aku harap Pak Gala tidak termasuk dalam konspirasi ini,” ujar Cakra ada unsur ancaman. Laki-laki itu langsung pergi tanpa mendengar penjelasan kepala sekolah.
Hanya masih ada Iqbal di sana.
“Pak Gala, tolong dimaklumi karena Cakra sedang emosi dan adakah yang harus kami ketahui atau Cakra ketahui. Saya khawatir Cakra akan mencari tahu dengan cara yang tidak baik,” tutur Iqbal.
“Untuk kamu ketahui, Pak Bagas menekan saya dengan membawa bukti yang menunjukan posisi Bu Arini salah. Saya sudah berusaha mengatakan kalau Bu Arini sudah selesai bertugas walaupun kenyataannya berakhir karena keputusan sekolah.”
Iqbal menganggukkan kepalanya paham dengan situasi. Di sini Arini atau Cakra hanya korban, korban keadaan dan situasi.
“Bujuk Cakra dan pastikan dia fokus dengan ujiannya. Sudah hampir selesai dan jangan lakukan hal yang membuat kalian menyesal di kemudian hari,” nasihat Pak Gala.
Sedangkan Cakra sudah kembali melaju dengan motornya, melaju dengan kecepatan tidak biasa. Seakan jalan raya adalah sirkuit untuknya berlaga.