Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 32 ~ Sadar Diri



“Cakra.” Iqbal sengaja menghampiri Cakra ketika pria itu meninggalkan café.


Cakra menoleh, ternyata Iqbal sudah berada di belakangnya. Dia tahu kalau diantara ketiga sahabatnya Iqbal adalah sahabat yang memiliki kepedulian padanya lebih dari Ucup dan Kama.


“Lo beneran bertemu bu Arini?”


“Iya, itu tadi fotonya. Masa lo nggak ngenalin wajahnya?”


“Gue tahu itu Bu Arini,” sahut Iqbal menghela nafasnya. “Maksud gue, setelah kalian bertemu lagi, lalu apa?”


Cakra hanya mengedikkan bahunya.


“Sebenarnya, saat gue lihat dia di sini rasanya nggak biasa,” ujar Cakra sambil menepuk dada sebelah kiri. “Berdebar, sama seperti waktu dulu dan gue yakin perasaan gue untuk Bu Arini masih sama.”


“Lalu, bagaimana dengan Bu Arini?”


Cakra berdiri menyandarkan punggungnya ke badan mobil lalu menengadahkan wajahnya menatap langit-langit.


“Dia belum menikah tapi kekasih atau tunangan, gue nggak tahu. Saat itu gue dengan penuh keyakinan dan percaya diri bilang akan merebut hatinya selama dia belum terikat pernikahan.”


Kedua pria itu terdiam, Iqbal sangat ingin menanyakan bagaimana sikap Arini pada Cara tapi ragu.


“Tapi kalau dipikir-pikir, apa iya Arini mau sama gue yang begini?”


...***...


Sejak pembicaraan dengan Iqbal malam itu, Cakra tidak menghubungi Arini kecuali membicarakan masalah klien mereka yaitu Sasa. Bukan karena dilarang oleh Iqbal tapi Cakra hanya membentengi diri, dia tidak tahu kalau Arini masih memiliki hati untuknya atau tidak.


Hari ini adalah sidang pertama kasus Sasa dan Cakra akan bertemu lagi dengan Arini.


“Kamu kenapa sih, Mami perhatikan beberapa hari ini murung terus,” ujar Tanti pada Cakra.


Bagas yang sedang menyeruput kopinya sambil menatap layar tablet yang menunjukan pergerakan saham pagi ini pun akhirnya menoleh dan menatap putranya.


“Masa sih? Perasaan Mami aja kali,” sahut Cakra sambil terkekeh. “Sepertinya Mami butuh diperhatikan Pih, makanya Papi jangan sibuk terus. Protes Maminya nih,” ujar Cakra mengalihkan pembicaraan.


“Yang jadi topik adalah kamu bukan Mami,” cetus Tanti.


Cakra kembali terkekeh, “Aku nggak apa-apa Mih. Siang ini ada sidang perdana kasusku, ya begitulah. Kadang di perdana ini banyak sekali pikiran dan dugaan,” tutur Cakra.


Setelah selesai dengan sarapannya, Cakra pun pamit dan berangkat seperti biasa bersama Pak Agus menuju kantornya sambil menunggu waktu sidang Sasa.


Bukan sidang yang membuatnya gugup tapi kemungkinan pertemuan dengan Arini yang membuatnya begitu gugup. Debaran cinta masih dia rasakan tapi entah dengan Arini, itulah yang membuatnya gugup karena dia merasa seperti cinta bertepuk sebelah tangan.


Beberapa jam kemudian.


Cakra sudah tiba di pengadilan, tiga puluh menit sebelum jadwal sidang. Dia bicara dengan Sasa dan perwakilan keluarga yang mengantar.


“Kalau ada pertanyaan menyudutkan kamu dan kamu keberatan menjawab, sampaikan saja,” nasihat Cakra yang dibalas oleh Sasa dengan menganggukkan kepalanya.


Akhirnya Arini pun datang, Cakra belum menyadari kedatangan perempuan itu kalau saja Sasa tidak menyapa perempuan itu.


“Aku pikir Bu Arini tidak akan datang.”


“Harus dong, aku pendampingmu dan akan memastikan apakah kondisi kamu siap untuk sidang ini atau tidak,” jelas Arini yang tersenyum pada Sasa.


Cakra menoleh dan ternyata Arini pun sedang menatap ke arahnya. Pandangan mereka bertemu sesaat lalu Cakra tersenyum dan membuang pandangannya. Arini mengernyitkan dahinya menyadari sikap Cakra yang aneh tidak seperti saat mereka bertemu dan isi pesan yang mengandung rayuan.


Dia kenapa sih? Tiba-tiba nggak ada kabar dan sekarang cuek, batin Arini.


Akhirnya sidang berakhirnya dan akan dilanjutkan minggu depan. Untuk sementara Sasa akan tinggal bersama kerabatnya yang tinggal di Jakarta. Cakra dan Arini mengantarkan Sasa dan perwakilan keluarganya sampai taksi.


“Jangan sungkan hubungi aku,” cetus Arini.


“Kalau ada yang mencurigakan dan seseorang mengintimidasi, ancaman atau apapun, laporkan segera kepadaku,” pinta Cakra.


Keduanya berdiri menatap taksi yang sudah menjauh. Arini akan undur diri, dia akhirnya menyapa duluan.


“Ehm, ya begitulah,” jawab Arini.


“Sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan tapi ….”


“Sangat penting?” tanya Arini menyela ucapan Cakra yang terjeda.


“Tentu saja, tapi tidak masalah. Mungkin lain kali saja, karena pikiran kamu pasti sedang fokus dengan pekerjaanmu,” jelas Cakra.


Ternyata Cakra tidak sabar menunggu saat di mana Arini siap ditemui. Esok hari ketika jadwalnya tidak padat, Cakra pun mendatangi kantor yang didirikan oleh Arini dan beberapa temannya. Kedatangan Cakra tanpa kabar dan ternyata perempuan itu sedang diskusi dengan rekannya.


Cakra menatap sekeliling kantor sederhana itu dan menanyakan kesibukan Arini selain melayani konsultasi dan pendampingan pada resepsionis. Termasuk menanyakan siapa laki-laki yang sedang dekat dengan Arini saat ini.


Belum sempat dijawab, terdengar suara Arini dan seorang pria.


“Okelah masa nggak, makan siang doang dari pada kamu yang aku makan,” ujar pria itu.


“Dasar otak mesumm. Nggak bisa, aku mau langsung ke kampus, ada kelas,” seru Arini.


Pria yang bersama Arini masih saja membujuk dengan ajakannya. Makan siang gagal dia mengajak makan malam.


“Aku nggak janji,” sahut Arini.


“Bu Arini, ada yang mencari Ibu,” ujar resepsionis.


Arini pun menoleh dan mengernyitkan dahinya melihat pria yang berdiri di depan meja resepsionis menatap ke arahnya.


“Cakra,” ujar Arni.


“Siapa? Kamu kenal?” bisik pria rekan Arini.


Cakra berjalan dengan langkah tertatihnya menghampiri Arini, sempat melirik ke arah pria di samping Arini. Pria itu terlihat tinggi dan cukup tampan, terlihat sempurna dan cocok bersama Arini.


“Cakra, kamu … sudah lama?”


“Hm, lumayan. Sempat dengar juga masalah makan memakan,” jawab Cakra.


“Kita bicara di ruanganku saja,” usul Arini berusaha mengurangi kecanggungan yang terjadi.


“Oke.”


“Arini, kamu belum jawab,” pekik rekan Arini.


“Aku sibuk.”


“Ck. Hei, kamu pasien Arini ya?” tanya rekan Arini pada Cakra.


“Reno, bukannya kamu ada kesibukan lain. Pergilah!” titah Arini.


“Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat, mungkin lain kali aku berkunjung dan buat janji,” tutur Cakra yang kemudian pamit undur diri.


“Cakra, bukan begitu. Ayo, kita ke ruanganku,” ajak Arini.


Cakra melirik jam tangannya, “Lain kali, aku akan datang lain kali,” jawab Cakra.


Arini hanya bisa menghela nafasnya, karena Cakra malah pergi.


“Apa dia korban kejahatan sampai terpincang begitu? Tapi penampilannya bukan seperti orang miskin yang harus datang ke sini mengharapkan kita bantu tanpa memungut biaya,” terang Reno sambil menatap ke arah pintu di mana Cakra sudah tidak terlihat.


“Mulutmu seperti tidak mencerminkan seorang psikolog,” ejek Arini.


Sedangkan di tempat berbeda, Cakra yang sudah berada di mobil memandang ke luar jendela memikirkan interaksi yang terjadi antara Arini dengan rekan kerjanya.


Mereka terlihat sangat serasi dan sempurna. Kamu terlalu berlebihan dan over percaya diri kalau masih mengharapkan Arini bahkan dengan rasa bangga merayunya, batin Cakra.