Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 38 ~ Lupakan Masa Lalu



“Tunggu, kenapa di sini?” tanya Cakra sambil menatap sekeliling dari dalam mobil.


“Turunlah!” Arini sudah melepas seatbelt dan mematikan mesin mobil.


Cakra yang masih bingung sudah ikut turun dan menghampiri Arini. Pria itu menatap sekeliling di mana di hadapannya terlihat pemakaman yang cukup luas.


“Di mana Bik Elah tinggal? Kenapa kamu biarkan dia tinggal di sini?”


“Karena di sinilah tempat tinggalnya.” Arini berjalan menuju gerbang pemakaman.


“Arini,” panggil Cakra lalu menahan tangan wanita itu. “Apa maksudmu?”


Arini yang udah menghentikan langkahnya berbalik, membuat keduanya saling berhadapan. Wanita itu agak menengadahkan wajah agar bisa saling menatap.


“Ibu sudah tiada, dua tahun lalu tidak lama setelah kami pindah ke Jakarta,” tutur Arini.


“Apa?”


“Ayo, ada yang harus aku jelaskan setelah ini,” ajak Arini.


Cakra tidak menduga kalau maksud Arini mengunjungi Bik Elah tidak boleh malam hari karena wanita itu sudah tiada. Pria itu terlihat bungkam saat di pemakaman, masih shock dengan kenyataan kalau Bik Elah ternyata sudah tiada.


Arini bahkan mengatakan kalau dia sudah membawa Cakra dan mereka akan bersama lagi tepat di atas pusara Bik Elah.


“Ibu tidak usah khawatir, pria ini sudah dewasa dan sukses.Kalaupun kami berjodoh, aku yakin dia pria yang bertanggung jawab,” tutur Arini.


Tiba-tiba langit mendung, Arini mengajak Cakra kembali ke mobil dan benar saja hujan akhirnya turun. Cukup deras, bahkan Arini harus mengendarai mobilnya dengan pelan.


“Hentikan, menepilah!” Cakra meminta Arini berhenti ketika melihat SPBU.


Selain karena berbahaya berkendara dalam keadaan hujan lebat, Cakra tahu Arini menyembunyikan sesuatu.


“Katakan apa yang harus aku tahu!”


“Apa maksudmu?” tanya Arini sambil mengambil botol air mineral yang dia siapkan di pintu mobil dan membuka segel lalu menyodorkan pada Cakra.


“Apa yang terjadi dengan Bik Elah?” tanya Cakra setelah dia meneguk isi botol.


“Arini!”


Arini tidak ingin menatap Cakra, dia tidak ingin pria itu tahu kalau matanya berkata lain. Ada yang disembunyikan tapi mengapa Cakra bisa tahu ada sesuatu di balik kematian Ibunya.


Sambil menunggu hujan reda, Cakra membujuk Arini agar mengatakan apa yang terjadi dengan Bik Elah.


Arini akhirnya membuka suara.


“Setelah kami pindah ke Jogya, Ibu terlihat begitu cemas dan khawatir. Aku yang patah hati dia yang bersedih. Bahkan dia bekerja tidak fokus dan sempat kecelakaan walaupun tidak berat. Akhirnya aku larang Ibu bekerja dan aku mengambil semakin banyak pekerjaan paruh waktu. Ibu berjualan makanan karena kami tinggal di daerah kontrakan dan rumah kost para mahasiswa.”


Cakra masih menyimak Arini yang bercerita sambil memegang setir mobil.


“Akut idak tahu kalau Ibu ternyata masih berkomunikasi dengan sesama ART di rumahmu. Sepertinya Ibu tahu kondisi kamu kecelakaan, makanya dia terlihat terpukul bahkan cenderung depresi. Aku bisa menyimpulkan itu sekarang, sebelumnya aku tidak tahu hal ini hanya kecewa karena Ibu lebih peduli dan sayang denganmu dibandingkan aku putrinya sendiri,” tutur Arini diakhiri dengan kekehan.


“Apa yang menyebabkan Bik Elah tiada? Apa dia sakit?”


Arini menoleh dan menatap wajah Cakra.


“Setelah aku lulus dan mulai bekerja, Ibu selalu mengatakan ingin pulang ke Jakarta. Tentu saja aku belum menyanggupinya, karena kami belum memiliki cadangan uang. Kembali ke jakarta tanpa pekerjaan dan modal, hanya menuntun kami untuk terpuruk.”


Wanita itu menghela nafasnya saat menjeda cerita.


“Ibu mulai sakit-sakitan dan beberapa tahun setelah aku lulus kuliah akhirnya aku menyanggupi permintaannya untuk kembali ke Jakarta. Setelah itu aku sibuk dan tidak tahu kalau Ibu mencari dirimu, sepertinya dia tidak menemukan kalian di rumah lama. Lalu kondisinya semakin buruk dan akhirnya tiada. Baru beberapa hari yang lalu aku membaca pesan Ibu di buku harian yang aku simpan setelah kepergiannya.”


Cakra mengusap kasar wajahnya. Ternyata dari perpisahannya dengan Arini bukan hanya dirinya yang tersiksa, bagaimana bisa orang tuanya tega melakukan hal ini.


“Cakra, yang terjadi adalah takdir. Jangan pernah merasa bersalah, karena umur manusia bukan ranah kita. Jangan salahkan dirimu apalagi orang tuamu. Aku tidak pernah mengatakan walaupun hanya dalam hati, bahwa yang terjadi termasuk kesulitan hidup kami dan kepergian Ibu karena ulah Pak Bagas mengusirku."


“Tapi itu pemicunya.”


Arini menggelengkan kepalanya.


“Kalau kamu ingin kita bersama lagi, mari kita lupakan masa lalu.”