Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (9)



"Bar Olzu.." Eren membaca plang bar yang ada dihadapannya.


"Seperti bar yang sudah lama," sambung Oluo.


Levi dan yang lain pun masuk ke dalam bar tersebut. Seketika bau alkohol langsung menyeruak ke dalam penciuman mereka. Terlihat beberapa orang yang sedang mabuk dan sedang menikmati hidangan mereka. Juga para pelayan bar yang berlalu lalang. Bar yang tua namun ramai pengunjung, kesan mereka.


"Selamat datang-Pasukan Pengintai!" sambut bartender ramah.


"Kami ingin bertemu seseorang yang bernama Eric," ujar Levi tanpa basa-basi.


Raut wajah bartender itu seketika berubah menjadi dingin. "Dia tidak ada disini. Sebaiknya kalian segera-"


DUAAKK!!! SRIINGG!!


Levi langsung saja menendang kaki bartender itu dan mengacungkan 3D Manuver Gear nya. Semua pelanggan yang melihat kejadian sepersekian detik itu langsung berteriak panik. Sebagian ada yang berhamburan keluar bar.


"Itu Pasukan Pengintai kan?"


"Apa dia Kapten Levi?"


"Kenapa dengan mereka?"


Seketika para pelanggan di bar mulai membicarakan mereka karena rasa penasarannya. Namun, mereka tidak menggubrisnya. Hanya Eren yang tampak gelisah, khawatir akan identitasnya yang terbongkar melihat berita bahwa ia seorang Titan berwujud manusia telah menyebar dengan cepat.


"B-baik baik! Akan kuberitahu! T-tolong singkirkan itu.." ucap bartender itu gemetar ketakutan. Levi pun memasukkan pedangnya kembali.


"Wah wah, ada yang mencariku?"


Eric beserta beberapa anak buahnya muncul dari salah satu ruangan di bar itu. Eric tampak mengernyit sambil memperhatikan Levi dari atas sampai bawah.


"Hei! Kau sudah membuat semua pelangganku takut. Asal kau tau aku pemilik bar ini. Kau tidak mau minta maaf?"


"Dengar, kami tidak punya banyak waktu. Apa kau mengenal seorang wanita yang bernama Nial?" tanya Levi.


Eric tiba-tiba tertawa. "Apakah itu cara yang sopan untuk mendapat informasi? Menggali informasi dariku tidak mudah, lho."


"Kami akan membuatnya menjadi mudah."


"Wah wah, kalau begitu.. aku juga akan melakukan caraku."


Namun tiba-tiba bartender yang masih gemetar ketakutan itu menghampiri Eric untuk mencegahnya. "Bos, sebaiknya jangan lawan mereka."


"Bicara apa kau ini? Kau sudah kehilangan harga dirimu? Hah?!"


"Ti-tidak bos, hanya saja-"


Bartender itu hanya bisa meringis karena perkataannya tak digubris. Eric langsung memberi kode kepada para anak buahnya untuk menyerang Levi dan yang lainnya.


5 MENIT KEMUDIAN..


"Yosh! Ini harus diapakan, Kapten?" tanya Eren sembari menahan salah satu cecunguk Eric.


"Potong semua jarinya. Jika perlu, potong tangan dan kakinya juga."


Eren langung merinding mendengar jawaban sadis Levi seperti biasa.


"Kapten? Mungkinkah.. kau Kapten Levi it-"


SRETT!!


AAAAAAAAAAAA!!!!


Eric menangis sambil sesekali merintih meratapi nasib ibu jari kanannya yang dipotong secara tiba-tiba itu.


Levi melirik ke arah Gunther sesaat kemudian menoleh ke para pelanggan. Gunther yang paham akan maksud kaptennya bahwa ini tidak pantas disaksikan oleh warga sekitar kemudian menginterupsi kepada para pelanggan yang masih ada di bar.


"Maaf semuanya, kalau kalian tidak kuat melihatnya kalian bisa keluar. Kami tidak bermaksud jahat. Kami hanya ingin mencari informasi dari orang-orang ini."


Para pelanggan yang mendengar penjelasan Gunther pun langsung menurutinya dan segera keluar.


"Brengsek! Sialan kau-Pasukan Pengintai sudah gila!" teriak Eric.


SREETT!!


"Aaaarrgghhh!!! Baik! Baik akan kuberitahu! To-tolong.. jangan potong jariku lagi.. kumohon.." pinta Eric ketakutan.


Levi berdecih. "Aku tidak akan menjaminnya jika kau menyampaikan informasi palsu."


"Iya, k-kau tenang saja. Informasiku terpercaya."


Levi pun melepaskan Eric. Saat itu juga ingin rasanya Eric menangis. Tapi nyatanya ia hanya bisa merintih sambil memegang kedua jari tangan kanannya yang bersimbah darah.


"Banzo.. ambilkan aku ob-"


"Mau kupotong lagi?"


Eric sontak menegang. Ia pun memberi kode 'tidak jadi' kepada anak buahnya itu.


"Nial. Di-dia adalah salah satu anggota mafia paling ditakuti di distrik ini. Sebutan untuk organisasi mereka adalah 'Perampas Segalanya'. Mereka.. dikenal sangat kejam. Mereka mengambil semua harta, makanan, dan kebutuhan para penduduk disini. Jika para penduduk tidak memberikannya, mereka akan menggunakan kekerasan bahkan tidak segan untuk membunuh. Mereka juga sering melakukan.. penyelundupan senjata secara ilegal."


"Kenapa kau tidak lapor kepada pasukan militer atau pemerintahan?" tanya Eld.


"Kami diancam. Kami akan dijadikan makanan Titan bila kami menentang mereka. Mereka akan langsung tau cepat atau lambat jika ada yang berani melapor karena mata-mata mereka cukup banyak." jawab Eric terus terang sambil sesekali merintih.


"Kudengar Nial adalah asisten langsung dari bos organisasi itu. Mereka jarang mengekspos nama bos mereka, tapi sebutan untuknya.. 'si Kalajengking Hitam'"


Levi tersentak. Sebutan itu seperti familiar baginya. Seketika pikirannya mulai menerka-nerka. Tidak mungkin..


"Haaahh, kenapa mereka suka sekali memakai sebutan?" timpal Oluo.


"Mereka sangat rahasia. Yang kutahu ada salah satu markas mereka di seberang Sungai Azu. Jika dari sini kalian tinggal menuju arah Utara."


"Apa kau tahu target mereka?" tanya Levi agak lirih.


"Sebenarnya para penduduk hanyalah target biasa mereka untuk mencukupi kebutuhan. Namun sebenarnya, Mereka memiliki target yang lebih utama.." Eric terdiam sejenak kemudian melanjutkan, "Recon Corps. Terutama.. Pasukan Elite."


Levi meringis pelan. Ia menduga bahwa sepertinya ini ada kaitannya dengan masa lalunya ketika ia masih di 'tempat sampah' itu.


"Begitu ya. Baiklah, terimakasih atas informasinya. Kami berutang pada kalian," ucap Levi kemudian menitah pasukannya untuk pergi.


"T-tunggu!"


Levi dan yang lain dikejutkan dengan Eric beserta anak buahnya yang tiba-tiba bersujud di hadapan mereka.


"Oi, apa yang kalian lakukan?" ujar Oluo meniru gaya bicara Levi seperti biasa.


"Tolong.. selamatkan kami dari para penjahat keji itu."


"Hah?"


"Dan aku minta maaf atas sikap kami pada kalian. Aku mengandalkan kalian." ujar Eric mewakilkan.


"Oi babi, tugas kami adalah membasmi para Titan. Itu saja sudah mengancam nyawa kami."


Eric terkejut bahwa permintaannya mungkin terlalu lancang. "Ma-maafkan aku! Aku tidak bermaksud-"


"Jangan selalu bergantung pada orang lain. Bangun! Jangan jadi penakut!"


Eric tersentak mendengar ucapan seorang Kapten Levi yang terkenal dingin dan sadis itu.


"Ayo!" Levi menitah pasukannya untuk segera kembali ke kuda mereka.


"Kami hanya manusia biasa sama seperti kalian. Bedanya, kami bodoh karena bersedia memberikan nyawa kami." tambah Oluo sebelum pergi.


Eld pun melanjutkan, "Lebih baik kalian saling membantu satu sama lain daripada terus terjebak oleh para mafia itu."


"Kalian.." Eric tersenyum sambil berkata, "Terimakasih banyak!"


...----------------...