Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (15)



"Apa yang terjadi, Levi?"


Keesokan paginya, Erwin, Mike, Hanji, dan Levi membicarakan kejadian semalam di ruang makan base Pasukan Elite, lebih tepatnya itu sekaligus menjadi ruang rapat para prajurit.


"Ulah orang-orang bodoh yang berusaha untuk membunuhku dan menghancurkan reguku," terang Levi singkat.


"Yaahh, tapi syukurlah lima hari lagi si Nico itu akan dieksekusi dan aku diizinkan ikut mengeksekusinya!" Hanji tertawa senang.


Levi memijat pelipisnya, "Apa itu tampak seperti permainan bagimu?"


Dengan polosnya Hanji mengiyakan sambil memasang wajah pelongo. Rasanya Levi ingin sekali menggamparnya.


"Levi, aku tau kau ingin menampar wajahnya," timbrung Mike yang mengetahui isi kepala Levi.


"Levi? Benarkah? Jangan jahat seperti itu padaku. Erwin, lindungilah aku!"


"Diamlah atau aku akan benar-benar melakukannya!"


Mike tertawa terbahak-bahak. Sementara Erwin hanya bisa menghela nafas melihat tingkah laku Hanji dan Levi.


"Hanji, Levi, kembali ke topik utama. Tampaknya.. kau adalah target sebenarnya," tukas Erwin.


"Ya, dia dan aku dulu memang sering berkelahi saat masih di bawah tanah. Sepertinya, dia menyimpan dendam padaku hingga sekarang dan berusaha untuk menghancurkanku beserta pasukanku."


"Mereka adalah mafia paling ditakuti di kota kecil itu. Mereka dikenal sangat kejam kepada para penduduk disana. Mereka mengambil semua harta, makanan, dan kebutuhan para penduduk disana. Lalu, markas kemarin adalah salah satu markas mereka. Begitulah informasi yang juga kudapat," lanjut Hanji menambahkan.


Levi membuang muka, "Mafia Pembantai Segalanya, tch! Mendengarnya saja aku sudah muak."


"Setidaknya, kita tau beberapa motif mereka. Berarti, tidak menutup kemungkinan anggota mereka masih banyak dan sedang berkeliaran, melihat organisasi mereka sepertinya cukup besar," Erwin menyimpulkan.


Mike mendengus kasar, "Haahh, mereka orang-orang bodoh yang hobinya melenyapkan kesejahteraan hidup."


"Erwin, aku akan bicara dulu padanya sebelum dia dieksekusi.." tegas Levi lalu menambahkan, ".. juga si wanita besar mulut itu."


Erwin mengangguk, "Regumu juga ikut denganku ke persidangan nanti selagi menunggu hingga Petra sadar."


"Ehh?? Lalu, bagaimana dengan reguku?" tanya Hanji.


"Regumu sementara kutugaskan untuk menjaga base ini. Dan.." Erwin menoleh ke arah Mike, "Kuserahkan pemantauan Distrik Karanese pada regumu, untuk ekspedisi kita nanti. Untuk menentukan jalur menuju Shiganshina, kita akan diskusikan nanti."


Levi, Hanji, dan Mike mengangguk mengerti dengan perintah komandan mereka itu, "Laksanakan."


...• • •...


"Kapten!"


Levi yang merasa dirinya terpanggil itu otomatis menoleh ke sumber suara. Ternyata Eren yang memanggilnya.


"Ada apa?"


"Aku dan Oluo-san sudah selesai membersihkan lantai atas. Kami akan segera memasak," lapor Eren.


"Kamar Petra sudah?"


"Sudah, Kapten! Kapten bisa melihatnya sendiri."


"Baiklah, terimakasih, Eren."


Eren langsung memberi salute, "Baik!"


...• • •...


Kamar yang enak dipandang.


Itulah kesan pertama Levi saat memandangi seluruh isi kamar Petra. Barang-barang tertata dengan rapih pada tempatnya. Tempat tidur yang terlihat selalu dirapihkan. Atmosfer kamar itu terasa sangat nyaman bagi siapa saja yang mengunjunginya, tak terkecuali Levi. Levi tidak salah untuk memilih dan mengandalkan Petra sebagai asisten utamanya.


Manik safirnya tertuju pada secarik kertas yang terlipat di atas meja kecil kamar itu.


"Ck, kenapa bisa masih ada sampah? Dasar mereka," umpat Levi. Ia pun mengambil kertas itu dan tepat saat tangan mungilnya hendak meremukkan kertas itu, ia menyadari ada tulisan didalamnya. Otaknya menyuruhnya untuk segera membuang kertas itu, namun egonya menyuruhnya untuk melihatnya.


Levi menghela nafas, "Sekarang aku yang merasa diriku penguntit," ucap Levi pada dirinya sendiri. Ia pun membuka lipatan kertas itu perlahan.


"Surat milik Petra."


'Ayah, entah sudah yang keberapa kalinya aku menulis surat wasiat, padahal aku saja belum menjemput ajalku, hahaha.


Bagaimana kabar Ayah? Aku disini sehat selalu kok. Semua rekan, senior, dan juniorku saling menghargai dan menghormati. Terutama Gunther, Oluo, dan Eld, mereka adalah rekan terbaikku semenjak aku bergabung di Pasukan Elite. Aku juga sangat menghormati atasan dan senior. Jadi, Ayah tidak perlu khawatir lagi dengan sikapku karena aku sudah tumbuh dewasa. Tapi, aku tetap Bocah Jahemu hingga kapanpun :"D


Ayah, semoga kau tidak bosan mendengar ceritaku dengan 'nya', tapi tolong dengarkan saja. Hari ini.. aku melakukan kesalahan. Aku sedikit bertengkar dengannya. Aku merasa sangat bersalah. Seharusnya, aku tidak bersikap seperti itu kepadanya. Memalukan, aku berteriak di depan atasanku sendiri. Tidak.. mungkin lebih dari sekedar atasan. Ayah tau aku mengaguminya sejak lama bukan? Perasaanku padanya.. lebih dari sekedar kagum, Ayah.


Aku.. aku mencintainya..


Tapi, aku tau aku tidak berhak mengutarakan perasaan bodohku ini ataupun dicintai olehnya. Aku hanyalah seorang prajurit yang ditakdirkan untuk menjalani hidupnya di Recon Corps dan masuk Pasukan Elite. Ah, sudahlah. Pasti nanti Ayah banyak bertanya lagi, ahahaha!


Sampai jumpa, Ayah! Aku mencintaimu, Ibu, dan Revan selalu!


-Petra Ral



Tatapan Levi sendu. Pantaskah ia mengetahui hal ini? Tapi, ia merasa sangat senang, lega, bingung, dan terkejut sekaligus. Beberapa kali kedua matanya melebar dan memicing membaca kata perkata yang tertera di kertas itu, memastikan apa ia tidak salah baca. Hatinya menghangat. Namun, otaknya bingung memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini kepada Petra.


Levi menarik nafas panjang. Pantaskah ia dicintai? Pantaskah ia mendapatkan semua itu?


Ia melipat kembali surat itu seperti semula, tentu saja niat untuk membuangnya sudah sirna.


"Bagaimana bisa.. kau mengagumi dan menyukai orang sepertiku, Petra?"


Ingatan Levi langsung menerawang kembali ke saat Petra mengatakan sesuatu saat ia sedang tertidur..


-FLASHBACK ON-


"Kenapa kau bisa tidur disini? Dasar bodoh.." Levi mengusap pelan pucuk kepala Petra.


"Maafkan aku.. dan selamat malam, Petra." Levi tersenyum sangat tipis, sembari menatap cukup lama wajah damai dihadapannya itu.


"Aku.."


Levi terhenyak ketika Petra kembali meracau pelan. Ia tidak jadi melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.


".. menyukaimu.. Kapten.."


Sontak Levi melebarkan kedua matanya, terkejut mendengar penuturan dari gadis itu. Apakah Petra berkata seperti itu karena beban pikiran? Atau ia hanya sekedar meracau saja?


-FLASHBACK OFF-


Levi berusaha untuk percaya tidak percaya akan hal itu. Tapi, jauh di lubuk hatinya, ia ingin Petra mencintainya dan selalu berada di sisinya. Egois kah? Levi pun tidak tau apakah itu egois atau tidak. Tapi, jika boleh membenarkan, hati kecilnya.. sangat menginginkan itu.


...----------------...