![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
...• • •...
"Sshhh.."
Petra mendesis pelan. Tangan terampilnya tengah membalut luka panjang di wajahnya itu dengan hati-hati dan penuh kesabaran. Alhasil balutannya sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih, dengan kata lain akan terlihat sangat jelas.
Helaan nafas keluar dari mulutnya begitu dirinya selesai bersiap. Yang dimaksud bersiap disini adalah membalut luka, mengganti pakaian atas dengan kaos latihan, dan merapikan penampilan. Tak lupa ia menguncir sedikit surai karamelnya yamg hanya sebatas tengkuk leher itu.
Begitu ia menutup lemari ganti miliknya, sebuah wajah lain terasa ada disamping kanannya, sontak membuat Petra terlonjak kaget.
"Nanaba!"
"Halo, Bocah Jahe-ADUH! SAKIT!!" rintih Nanaba begitu Petra memukul bahunya.
"Akan kutendang kau lain kali!"
Nanaba tertawa pelan, "Hei, kenapa cara bicaramu semakin sarkas begini? Apa ini akibat kau masuk squad elite?"
"Gayamu juga semakin mirip dengan si tukang endus itu, aneh," balas Petra tak mau kalah sembari menjulurkan lidah.
"Wah, sini kau!"
Dan.. terjadilah suasana bak kucing dan tikus yang sedang bermain kejar-kejaran. Sampai akhirnya si tikus karamel, Petra, tertangkap oleh si kucing blonde, Nanaba.
"Akan kuserahkan kau kepada Kapten Levi!"
"Argh!" Petra merintih pelan, membuat Nanaba terkejut.
"Petra? Kau tidak apa-apa?"
"Iya, aku tidak apa-apa."
"Sebenarnya.. bekas luka apa itu? Jawab dengan jujur," tanya Nanaba. Sekarang wajahnya berubah menjadi serius.
Petra tersenyum kecil, "Ini.. hanya lebam yang besar karena hasil latihan kemarin."
Jawaban itu malah membuat Nanaba semakin melempar tatapan menelisik bak detektif, membuat Petra memutar kedua bola matanya.
"Ck, aku serius, Nanaba."
Nanaba pun akhirnya manggut-manggut, "Baiklah, jawabanmu diterima."
"Haahh sudahlah, ayo kita ke lapangan!"
Nanaba menatap heran Petra yang sudah berjalan lebih dulu di depannya. "Itu niatku kesini tadi, dasar!"
...• • •...
Kini dua sahabat itu tengah berjalan beriringan. Perbedaan menonjol dari mereka adalah warna rambut dan ukuran tubuh. Yang satu berambut coklat jahe sebatas leher dan yang satu berambut kuning blonde bergaya undercut, sekilas terlihat seperti laki-laki memang. Nanaba memiliki ukuran tubuh yang lebih tinggi dari Petra. Karena itu ia selalu mengejek Petra yang lebih pendek, bahkan lebih pendek dari Kapten Levi.
Baru saja keempat kaki itu hendak menginjak pinggir lapangan, suara lantang memanggil Petra dari belakang sana. Dan.. itu Eld.
"Ada apa?"
"Kau dipanggil Kapten ke ruangannya," lanjutnya sembari menetralkan nafas karena habis berlari.
Sebenarnya Petra masih merasa bersalah karena sikap tidak sopannya kemarin, namun apapun yang menyangkut kaptennya baginya pasti penting. Jadi, ia harus menuruti perintah atasan juga.
"Baiklah terimakasih, Eld. Landak, aku pergi dulu ya!"
Eld sontak menahan tawa mendengar julukan itu, membuat Nanaba menatapnya tajam.
"Diam kau, jenggot tipis!" ejek Nanaba lalu pergi begitu saja.
Eld langsung saja mengelus dagunya, "Memangnya masih ada ya? Rasanya sudah kucukur semua kemarin.."
...• • •...
TOK! TOK!
"Masuklah, Petra."
Begitu gadis itu memasuki ruangan dengan seizin kaptennya, ternyata ada dua orang lain lagi di dalamnya, tukang endus-maksudnya Mike dan asisten kesayangan Hanji, Moblit.
"Hai, Petra," sapa Moblit tersenyum, dibalas senyum simpul oleh yang disapa. Sementara Mike.. seperti biasa memainkan hidungnya sembari mengendus-endus.
"Kapten memanggilku?" tanya Petra sembari memberi salute.
Levi terfokus pada balutan luka yang ada di wajah gadis dihadapannya. Ia hendak bertanya, namun diurungkannya untuk nanti. Dan.. melihat Petra yang mengikat rambut seperti itu, entah kenapa gadis itu terlihat berbeda. Baru kali ini Levi melihat penampilan itu. Kalau sekedar polesan wajah, gadis itu selalu memakai yang sama.
"Iya. Erwin memberi tugas kepada kalian untuk menentukan jalur menuju Shi-"
"Hei hei cebol, penjelasanmu itu terlalu langsung, santai saja," sela Mike yang membuat Levi langsung berdecak kecil.
"Setelah rapat kecil tadi, Erwin menugaskanku, kau, dan Moblit untuk menjelaskan jalur menuju Shiganshina nanti. Aku yang menjadi penanggung jawabnya dan Moblit yang membuat sketsa. Kudengar kau juga tau beberapa jalur distrik, bukan?"
Jawaban berupa anggukan dari Petra membuat Mike tersenyum sembari menjentikkan jari.
"Bagus, sepertinya waktu kita cukup dua hari saja karena ternyata sudah ada gambaran kasarnya dari Erwin," Mike mengeluarkan sebuah lipatan kertas dari saku rompinya dan membukanya.
Petra dan Moblit memperhatikan dengan seksama. Gadis itu mulai menerawang gambaran wilayah bentang Wall Rose hingga Wall Maria pada benaknya. Tak sampai lima menit dirinya segera izin menginterupsi.
"Kapten Mike, sepertinya aku mengerti maksud gambaran ini. Bolehkah aku memberi kesimpulanku?"
"Tentu saja, Petra."
"Karena Distrik Trost ditutup sehingga kita kehilangan jalur terdekat, tersisa tiga jalur lain. Tapi, mengingat Wall Rose ke Wall Maria berjarak 100 km yang itu saja sudah memakan waktu lama untuk menempuhnya, mustahil kita melewati Distrik Utopia, walaupun terbilang paling aman. Makanya Komandan memberi tanda silang disitu," jelas Petra.
Mike manggut-manggut, "Lalu?"
"Tersisa dari Distrik Krolva dan Distrik Karanese. Keduanya diberi tanda tanya, itu berarti memang perlu diperiksa secara langsung. Jika kita melewati Karanese, maka akan melewati Hutan Pohon Raksasa. Setidaknya jika ingin lebih aman, kita harus melewati dari posisi pinggir, tidak di tengah, namun tetap boleh memakai formasi. Intinya gambaran besar ini hanya memberitahu hipotesis dan prediksi Komandan tentang keadaan ketiga jalur."
Moblit sukses ternganga kagum, "Kau hebat sekali, Petra!"
"Benar, aku pun sependapat dengan penjelasanmu," ujar Mike kembali menjetikkan jari, "Levi, beruntung kau memilihnya dalam squadmu. Dia sangat handal."
"Ah, tidak. Aku masih mencoba untuk lebih baik lagi," kilah Petra sopan.
"Hahaha! Kau beda sekali dengan Nanaba," Pria hobi mengendus itu tertawa sembari menepuk-nepuk bahu Petra, "Dia sulit diatur dan sangat bersikap dingin."
Petra langsung tertawa renyah, itu hanya image depannya tau! Dia berusaha terlihat keren didepanmu!
"Oi, apa kau sudah selesai dengan urusanmu?" Pertanyaan ini berasal dari Levi yang tengah memandang Mike jengkel.
"Iya. Baiklah, besok kita bertiga akan mulai menelusuri dari Distrik Krolva. Lebih pagi lebih baik."
Petra dan Moblit mengangguk mantap serempak. "Siap!"
"Tidak. Aku dan Hanji juga ikut."
Petra melihat wajah sang asisten kesayangan Hanji itu yang mendadak tegang, entah apa alasannya. Dan gadis itu juga berpikir.. tumben sekali kaptennya ikut dalam misi sepele begini.
"Kenapa kalian harus ikut juga?" tanya Mike memastikan.
Levi memutar bola matanya kesal, "Wanita gila itu yang memaksa."
"M-maafkan Ketua Hanji, Kapten! D-dia tidak bisa kucegah!"
"Haahh.. dia pasti ingin menyapa Titan. Asal dia tidak meminta untuk membawa mereka hidup-hidup lagi.. tidak masalah. Hei, Moblit! Jaga si gila itu!"
Moblit memberi salutenya, "S-siap, Kapten Mike! Aku pasti akan bertanggung jawab!"
"Bagus! Aku bangga padamu!"
"Oi, keluar sekarang."
Mike hanya bisa menurutinya sebelum si cebol itu membunuhnya. Begitu juga dengan Moblit yang langsung pamit tergesa-gesa ketika melihat tatapan maut dari Levi.
Levi mengira Petra akan pergi juga, namun nyatanya tidak, membuatnya sedikit penasaran dengan itu. Seketika belia milik mereka bertemu pandang cukup lama, seperti mencoba menyampaikan maksud masing-masing.
"Petra."
"Kapten."
Panggilan bersamaan itu membuat keduanya terkejut, sampai kemudian Levi mempersilahkan lebih dulu.
Gadis itu pun mulai memberanikan-tidak, dia justru sangat berani. Tapi, entah kenapa nyalinya terkadang naik-turun tanpa alasan. Padahal dia tidak dalam posisi sedang diancam atau sebagainya.
Begitu netranya sudah berani menatap sang lawan bicara, jantungnya kian berdegup kencang. Hanya dengan melihat wajahnya saja Petra merasa gugup.
"Maafkan aku."
Levi mengernyit bingung, "Untuk apa?"
"Aku telah bersikap tidak sopan padamu. Pikiranku sedang tidak jernih. Aku.. sungguh tidak bermaksud-"
"Tak apa. Lupakan saja."
"T-tapi aku akan menerima konsekuensi darimu, Kapten."
Levi menghela nafas, "Aku tidak akan memberinya."
"B-baik, Kapten. Terimakasih banyak.." ucap Petra mengulum senyum.
"Luka apa itu?"
Gadis karamel itu tersentak sembari memegang wajah kanannya, "Ini.. lebam. Kemarin aku menambah latihan sendiri. Lebamnya begitu jelas kalau aku tidak menutupnya."
Kemudian, terciptalah selalu suasana diam nan hening dimana kedua insan itu saling mengatupkan mulut, bergelut dengan pikiran. Keduanya saling menunggu siapa yang akan memulainya lagi lebih dulu. Hingga akhirnya salah satu dari mereka sepertinya tak tahan dengan suasana yang entah bagaimana itu.
"Tentang perkataanmu waktu itu.. kurasa aku memang sudah melakukannya."
Petra menoleh, mencerna beberapa saat pernyataan kaptennya. Dan dirinya pun tersenyum lembut ke arah pria yang berjarak sekitar 90 cm dari hadapannya itu.
"Aku mengerti. Baiklah, ayo kita syukuri rasa percaya itu dan lakukan bersama."
"Petra.."
"Iya?"
Terdapat jeda sebelum kaptennya mulai berbicara lagi, membuat gadis itu merasa mendapat panggilan yang menggantung untuk beberapa saat.
"Bagaimana perasaanmu sebenarnya?"
...• • •...
Kedatangan Keith Shadis beserta jajaran petinggi militer lainnya membuat angkatan militer-99 yang telah menyesakkan lapangan itu langsung membuat barisan rapih.
"Hei, Eld. Menurutmu apa mereka akan melihat juga proses latihan kita?" Oluo mengekor matanya ke arah jajaran petinggi militer di depan.
"Moblit mendapat bocoran kalau Komandan Nile dan Pixis hanya akan memberi sambutan kecil. Jadi, sisanya pasti melihat kita," jawab Eld dengan nada yang berbisik.
Sementara salah seorang manusia yang berada di tengah ramainya suasana itu tengah menenangkan hatinya karena kejadian tadi.
Tidak, dia tidak mau mengungkitnya dulu.
Entah suasana ini menjadi lebih panas baginya. Berkali-kali dirinya menarik nafas dan membuangnya.
"Petra. Petra!"
"Kenapa?" Petra sedikit menatap kesal ke arah Gunther.
"Daritadi aku memanggilmu. Aku ingin menanyai itu," Pria bernama belakang Schultz itu menunjuk wajah kanan Petra, "Itu kenapa?"
"Ini lebam besar."
Oluo mengernyit sembari menimpali, "Kau memukul dirimu sendiri karena banyak dosa?"
Petra langsung menyikut perut Oluo, membuat pria itu mengaduh. "Tutup rapat mulut menyebalkan itu kalau tidak mau kurobek!"
"Baik, Nyonya Pemarah. Lagipula.. kenapa kau membalut luka lebam dengan cara begitu? Aneh."
Semoga si bodoh ini tidak berpikir macam-macam, batin Petra dalam hati.
"PERHATIAANN!!"
Seruan bariton itu berasal dari si kepala botak-Keith Shadis yang sudah berdiri tegap di atas podium, menyihir semua mata untuk menaruh perhatian padanya.
"Saya akan menyampaikan tata cara latihan yang sudah disepakati bersama! Yang membuat keributan lebih baik angkat kaki monyet kalian keluar dari lapangan!"
Semuanya memasang posisi siap mendengarkan tanpa terkecuali. Yaa meskipun mungkin mereka berpikir lebih baik disundul oleh kepala botaknya ketimbang angkat kaki.
"Untuk senior satu akan dinilai langsung oleh para pimpinan setiap sesi yang nanti akan dibacakan oleh Hanji! Kalian diuji secara serentak untuk kenaikan pangkat menjadi senior dua! Peraturan masih sama seperti sebelumnya!"
Sontak para manusia yang memiliki pangkat senior satu militer pun saling berbisik, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut sang instruktur itu.
"Untuk senior dua akan diuji nanti setelah sesi senior satu selesai! Kalian akan dinilai langsung oleh Pimpinan Zackley dan saya! Maka dari itu, terdapat perbedaan peraturan, dimana kalian diperbolehkan untuk berlatih selama sepuluh menit! Persiapkan diri dengan baik karena harga diri kalian akan sangat dipertaruhkan kali ini!"
Petra tersentak kaget, berarti.. akan dilihat banyak orang.. dan juga Kapten? Yang benar saja..
"Untuk pasangan lawan akan ditentukan nanti! Sampai sini mengerti?!"
Seluruh manusia yang berjejer rapih itu serempak memberi salute, "Siap, mengerti, Pak!"
...• • •...
"Jadi.. kita akan dilihat semua orang?"
"Iya, kita.. akan menjadi tontonan."
Nanaba menjambak rambutnya frustrasi, "Petra, bagaimana dengan harga diri kita, huh? Kenapa peraturannya harus dibedakan sih?"
"Tumben kau begini, biasanya kau berani. Kemana jiwa kerenmu itu, hah?" goda Petra.
"Hei, kau tau tidak istilah 'mendadak kehilangan nyali'?" Nanaba menghela nafas, "Mungkin itu yang aku rasakan sekarang."
Gadis karamel itu tertawa, "Iya iya, itu manusiawi."
"Tapi, apapun yang terjadi.. kita harus siap bukan? Ayo, kita berjuang bersama, Petra!" seru Nanaba semangat.
Petra yang melihat semangat sahabatnya itu pun tersenyum, sembari mencoba membangkitkan rasa itu dalam dirinya.
"Iya, kita pasti bisa!"
...-----------------...