Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (24)




...• • •...


"Hei, aku mau dibawa kemana?"


"Ikut saja mereka, Petra-san."


"Eh, Eren? Kau juga disana?"


Petra kini sedang dituntun oleh tiga pria, yang tak lain dan tak bukan adalah Oluo, Eld, dan Gunther, serta Eren yang juga ikut bersama mereka. Setelah Eren mengetahui kejadiannya dari Oluo, ia memutuskan untuk ikut dalam acara permintaan maaf ini.


Sejak pagi tadi, tepat setelah gadis Rall itu membuka kedua matanya, pintu kamarnya diketuk oleh Eld. Petra disuruh untuk bersiap seperti biasa dan ikut bersama rekan squadnya itu dengan syarat kedua matanya harus ditutup dengan kain.


"Nah, sudah sampai! Sekarang kau bisa buka kainnya."


Petra perlahan membuka helai kain hitam yang menutup matanya sedari tadi. Sedetik kemudian dirinya dibuat terkejut dengan penampakan dihadapannya.


"I-ini.."


Tampak satu set makanan beralaskan tikar berwarna pastel, diatas hamparan rumput di halaman depan base. Di dalam satu set makanan yang bisa dibilang sekaligus sarapan pagi itu, ada sebuah kue coklat berukuran sedang yang menarik perhatian gadis hazel itu sejak awal.


"Siapa yang berulang tahun hari ini?" tanya Petra bingung.


"Tidak ada, Petra. Ini.. untukmu," ujar Eld mewakilkan.


Petra mengernyit bingung. "Hah? Apa maksud-EH?!"


Petra dibuat terkejut karena Oluo dan Eld yang tiba-tiba bersujud dihadapannya sambil berkata, "Maafkan kami, Petra!"


"Ka-kalian.."


"Maaf atas perbuatan kami yang kemarin. Kami tau itu adalah perbuatan yang sangat bodoh. Kami sudah menyakitimu. Tolong.. ampuni kami," pungkas Oluo lalu diikuti dengan beberapa kali anggukan kepala Eld.


"Hei, sudahlah. Aku sudah melupakan itu. Aku jadi tidak enak pada kalian," jawab Petra sambil merangkul kedua pria itu untuk bangun.


"Kami yang merasa bersalah padamu. Kami.. minta maaf."


"Aku juga. Maaf.. aku terlalu berlebihan kemarin." Petra tersenyum kecil.


"Nah, akhirnya aku bisa melihat senyum cantikmu lagi-AAAWW!!" goda Oluo, yang kemudian langsung saja mendapat cubitan keras di lengan kirinya.


"Kudoakan lidahmu hilang, Oluo bodoh!"


Pertengkaran kecil itu mengundang tawa menggelegar dari Eld dan Gunther, sedangkan Eren terlihat sedang berusaha menahan tawanya melihat tingkah kedua seniornya.


...• • •...


"Tak kusangka kalian bisa membuat sup ikan seenak ini. Kalian belajar darimana? Bukankah aku tidak pernah mengajarkannya?"


"Hei, memangnya kami hanya melongo saat kau sedang memasak? Tentu saja kami juga belajar diam-diam," gerutu Eld.


"Ini makanan kesukaanmu kan?" tanya Oluo.


Petra terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, terimakasih."


"Oh iya, aku belum melihat Kapten daritadi. Dimana dia?" tanya Gunther.


"Kapten bilang padaku, pagi ini dia pergi ke perbatasan untuk memeriksa keadaan, sekaligus menemui regu Hanji untuk suatu hal," jawab Petra sambil menyuap sesendok kue.


"Wah, nyalinya selalu besar ya. Apa dia tidak punya rasa takut?" timpal Eren yang segera dibalas Oluo dengan memutar bola matanya sembari berdecak. "Jangankan Titan, langit pun takut padanya."


"Oh iya, Petra. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan dengan kapten semalam?" tanya Eld.


Petra langsung menghentikan acara mengunyahnya, terkejut. "A-apa?"


"Iya, aku tak sengaja melihat kalian di dapur semalam. Kebetulan aku terbangun karena ingin ke kamar mandi."


Oluo berdecih, lagi-lagi sambil meniru gaya kaptennya. "Sepertinya kalian berdua akhir-akhir ini sedang masa pendekatan. Kau menyukai kapten kan?"


"Hah? A-apa maksudmu?"


"Sudahlah, jujur saja. Tingkahmu itu terlihat jelas oleh kami tau."


Petra langsung gelagapan, "T-tidak. Aku dan kapten hanya.. sebatas atasan dan bawahan.."


"Kami tidak melihatnya seperti itu, Petra." Gunther kemudian angkat bicara. "Kau terlihat seperti.. istrinya?"


Petra terperangah, "Hah?! Apasih kalian ini!" Dan wajah Petra pun berakhir memerah bak kepiting rebus.


"Aku kecewa padamu, Petra. Harusnya kau jadi calon istriku. Sayangnya kau belum memenuhi standar-ADUH! SAKIT TAU!"


"Berhentilah bicara atau akan kupotong lidahmu!"


Gunther menutup mulutnya, menahan tawa. "Lihatlah, bahkan cara bicaramu semakin mirip dengannya." 


"Kalian ini!" Petra mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya.


"A-ano, Petra-san.." Eren menginterupsi, membuat semuanya menoleh, termasuk Petra.


"I-itu.. bekas luka dilehermu. Apa.. masih sakit?" tanya Eren.


Petra langsung meraba lehernya yang terdapat bekas luka cekikan tali dari kejadian sebelumnya. "Ah, ini ya.."


"M-maaf, aku hanya baru menyadarinya saat tadi kau mendongak."


"Petra, aku juga baru sadar!" seru Oluo sembari melihatnya, begitu juga dengan Eld dan Gunther.


"Ah, ini sudah tidak sakit kok. Hanya terkadang.. sedikit ngilu ketika aku memegangnya," jawab Petra sambil tersenyum.


Mereka semua terdiam sejenak, mengingat kembali kejadian naas yang hampir merenggut nyawa Petra waktu itu. "Maafkan kami. Waktu itu.. kami tidak bisa melindungimu. Seandainya kami-"


"Kalau kalian waktu itu tidak datang, mungkin aku sudah tidak ada dihadapan kalian sekarang. Aku yang harusnya berterimakasih pada kalian," ucap Petra memotong kalimat yang mengatasnamakan rasa bersalah dari Eld itu.


Diam kembali melanda diantara mereka. Berfokus pada Eren yang semakin menenggelamkan wajahnya, masih berasa bersalah. Seandainya ia cepat tanggap tentang surat ancaman itu, ia pasti bisa mencegahnya.


"Kau.. sudah mendapat surat ancaman dari mereka kan?


Sontak Oluo, Gunther, dan Eld terkejut mendengar penuturan Eren. "Benarkah itu, Petra?"


Petra mengangguk pelan. "Iya.."


"Kenapa kau tidak bilang pada kami?!" tanya Eld dengan nada yang sedikit tegas.


"A-aku.. hanya tidak mau membuat kalian cemas dan malah kepikiran. Lagipula itu salahku juga karena menganggapnya hanya sebatas pesan anonim. Maafkan aku.."


"Petra, lain kali jangan begitu. Berlaku untuk semuanya juga. Selalu lapor kalau terjadi hal yang buruk." 


Petra menarik nafas. "Jadi, dua hari sebelum kejadian.. tepatnya saat aku selesai giliran berjaga dan pergi ke kamar, aku terkejut ketika melihat ke arah jendela. Ada secarik kertas tertempel dengan tinta merah bertuliskan 'Levi dan pasukan elite akan hancur di tangan kami!'"


Oluo meringis pelan, "Jika aku jadi kau, aku juga pasti akan mengira itu hanya pesan anonim dari pihak yang membenci pasukan pengintai."


"Tapi Petra-san, tak kusangka pemulihanmu dari kejadian itu cepat. Daya tahan tubuhmu sangat kuat. Syukurlah."


"Hei, Eren, wanita itu harus kuat! Aku juga pasti kuat!"


"Kukira kau akan berbaring hingga berbulan-bulan."


"Kau berharap aku seperti itu?!" tandas Petra kepada Oluo, membuat pria itu langsung berdecak keras. "Apa kau selalu sensitif hanya kepadaku?"


"Hei hei, sudahlah. Lebih baik kita bersiap untuk latihan. Kalian ingin disambut omelan Kapten nanti?" Ucapan Eld yang menengahi mereka itu sukses membuat mereka langsung bungkam sembari menggeleng.


"Baguslah kalian berhenti. Ayo bersiap! Eren, kau juga jaga-jaga bersiaplah!"


"Baik, Eld-san!"


...• • •...


"Petra."


Petra menoleh, mengalihkan atensinya dari kegiatan motong-memotong dua buah wortel. Ya, gadis itu terpikir membuat sup sayur hangat untuk kaptennya. Mereka berdua sempat beradu mulut perihal acara memasak dadakan itu, namun akhirnya Levi mengalah dan membiarkan Petra melakukan apa yang dia mau.


"Ada apa, Kapten?"


Levi seketika menatap ke arah leher Petra. "Luka itu. Apa masih sakit?"


Petra kemudian langsung meraba-raba lehernya. "Ah, bekas tali ini? Ini sudah tidak sakit, tetapi hanya sedikit ngilu kalau aku memegangnya." 


Namun alih-alih jawaban itu, Levi menangkap rasa trauma gadis itu. Kedua belianya menyiratkan kesedihan. Gadis dihadapannya terlihat sedikit gemetar dengan kedua tangan yang sedang meremas pelan celemek yang dipakainya. Levi memegang bahu Petra, spontan membuat gadis itu terlonjak.


"Jangan mengingatnya. Lupakan, Petra."


Petra mengangguk samar sambil tersenyum kecil sebagai jawaban. Terdapat jeda yang cukup lama diantara mereka, namun akhirnya pria bermanik safir itu kembali membuka suaranya, sembari menatap dengan sendu, namun terlihat jelas sangat lekat.


"Kenapa.. kau melindungiku saat itu?"


Petra kembali mengulum senyum. "Karena.. itu sudah menjadi keinginanku untuk melindungimu."


Entah kenapa mendengar jawaban itu, hati Levi terasa tertohok seakan ada hal mengganjal yang ingin disampaikan. Kalimat itu sungguh mengandung banyak arti. Levi tidak bisa menyimpulkannya hanya dengan satu pandangan.


"Kenapa kau memiliki keinginan seperti itu?" Levi bertanya lagi. Nadanya terdengar seperti ia merasa penasaran, namun tetap.. manusia sepertinya pasti pandai bersikap datar seperti biasa.


Petra terdiam cukup lama, mencoba merakit kata-kata yang tepat dikepalanya. Ia belum memiliki nyali besar untuk mengungkapkan perasaannya.


Belum. Belum waktunya.


Biarlah dirinya memendam perasaan sepihak itu lebih lama lagi.


"Mungkin.. akan kujawab lain kali, Kapten." Petra kembali melemparkan senyuman, namun kali ini terasa lebih lembut dan tulus.


Sepertinya senyuman kali ini tidak mampu membuat sang kapten merasa tenang, alih-alih merasa tidak puas dengan jawaban itu. Petra bisa menebaknya dari wajah kaptennya yang terlihat tidak lega, meskipun tampak datar.


"Kau selalu menghindar, Petra," ucap Levi pada akhirnya.


"Maaf kapten, maksudmu?"


"Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan."


Hening. Petra tidak tau ingin menjawab apa untuk sekarang. Kini, mereka berdua lagi-lagi hanya bisa saling bertatap diam. Hingga sebuah suara lain memanggil-manggil namanya..


"Petra-san."


"Petra-san."


"Petra-san!"


Petra langsung tersadar ketika Eren menepuk bahunya cukup keras. Ah benar, dirinya sedang menyiapkan 3D Manuver Gear untuk latihan.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Eren.


"Tidak apa-apa, Eren. Tadi aku hanya sedikit melamun."


Kenapa aku terus memikirkan suasana canggung semalam dengan Kapten? gumam Petra.


Suasana semalam berakhir dengan kebetulan karena fokus mereka berdua teralih ke air yang sudah menggolak matang dan akhirnya Petra pun kembali melanjutkan acara membuat sup itu.


"Gunther-san sudah memanggil kita daritadi. Ayo!"


Petra mengangguk mengiyakan ajakan Eren, dan mereka pun langsung berlari kecil menuju depan base.


...• • •...


"Kapten, bagaimana kondisi sekitar perbatasan?"


"Cukup menjamin. Kita bisa kembali besok."


Jawaban dari Levi membuat semuanya menghela nafas lega. Akhirnya mereka kembali ke dalam kota. Bahkan merupakan suatu anugerah besar jika mereka berhasil pulang dengan selamat.


"Semuanya bersiap berlatih, kecuali Petra."


Petra bingung dengan pernyataan kaptennya. "Bukankah Kapten bilang kemarin 'kalian' ?"


"Aku tidak bilang 'kalian semua'."


"Tapi, aku juga ingin berlatih bersama mereka. Aku sudah baik-baik saja. Kumohon, izinkan aku," pinta Petra dengan sopan.


"Petra, tidak apa-apa. Kau istirahatkan dirimu dulu. Kau juga baru selesai dari pemulihanmu," ujar Eld.


"Sungguh, aku sudah baik-baik saja. Aku tidak mau mengacaukan formasi nanti. Kumohon, Kapten!" Petra langsung membungkukkan tubuhnya memohon. Tak peduli jika kaptennya akan menganggapnya bocah keras kepala.


Levi menghela nafas kesal, keras kepala sekali dia.


"Baiklah, kau boleh ikut."


Sontak Petra tersenyum lebar, tak lupa langsung memberi salute. "Terimakasih banyak, Kapten!"


"Kita menuju hutan selatan base."


...----------------...