![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
...• • •...
"Kak Petra! Kak Petra!"
Gadis yang merasa namanya terpanggil itu perlahan terbangun dari tidur panjangnya. Ia mengerjap beberapa kali, mengamati sekeliling, dan mendapati dirinya berada di atas hamparan bunga lily yang sangat luas, seperti tidak ada ujungnya. Entah kenapa tubuhnya terasa amat ringan, seperti ia terlahir kembali tanpa dosa di dunia yang berbeda. Dunia yang terasa asing baginya.
Putih.. putih.. putih..
"Dimana aku? Apa ini di alam baka?" gumam gadis yang diketahui bernama Petra itu.
"Kak Petra!"
Petra sontak terkejut ketika ada seorang bocah laki-laki mengagetkannya dari arah belakang. Diamatinya oleh Petra, rambut coklat madu bocah itu berkibar kesana kemari seiring gerakan tubuhnya yang lincah. Sedetik kemudian gadis itu terkejut ketika melihat wajah bocah laki-laki tersebut, wajah yang sangat ia rindukan.
"Re..van?"
Bocah itu hanya tersenyum menampakkan deretan giginya yang rapih. "Sudah saatnya kakak bangun tau! Banyak yang menunggumu."
Bibir ranum Petra bergetar. Perlahan, air mata membasahi wajah cantiknya. Kedua tangan pucatnya terulur, ingin menggapai eksistensi sosok yang ada dihadapannya sekarang. "Revan, ayo.. kita pulang ke rumah."
Bocah yang bernama Revan itu langsung menggelengkan kepala sembari berkata, "Rumahku sudah berbeda. Rumahku yang sekarang jauh lebih indah. Nanti, aku akan ajak kakak ke rumahku."
"Kakak tidak mau nanti, tapi sekarang, Revan.."
Senyum kembali terukir di wajah mungil itu. "Nanti.. kalau waktunya sudah tepat, kak."
Sosok Revan perlahan-lahan mulai memudar dari pandangan Petra, membuat tangis gadis itu semakin kencang.
Gadis itu.. takut kehilangan lagi.
"Tidak.. tidak! Revan!" jerit Petra berusaha menggapai tangan Revan kembali, namun nihil.
"Kita akan bertemu lagi. Aku janji, kak! Sampai jumpa, Kak Petra!"
"Tidak.. tidak.."
"Revan!"
Eren yang tertidur disamping Petra sontak terbangun karena mendengar sebuah teriakan. "Siapa-"
Manik emerald bocah bermarga Yeager itu seketika berbinar melihat senior yang sangat ia kagumi sudah tersadar. "Petra-san! Syukurlah, kau sudah sadar!"
"E.. ren-argh!" Petra sontak memegang erat kepalanya yang terasa sakit. Tangan kirinya meremas pelan dadanya yang entah kenapa ikut sesak. Nafasnya terengah-engah.
"Kau.. berkeringat dingin! Tarik nafas perlahan, Petra-san!" titah Eren cemas.
Petra pun mengikuti arahan Eren untuk menetralkan nafasnya yang memburu sambil mengelap keringat yang mengucur di dahinya. Perlahan, Petra pun mulai merasa nyaman dan baik kembali.
"Aku.. tidak apa-apa, Eren," tukas Petra meyakinkan Eren karena ia melihat Eren sepertinya masih panik dan khawatir.
"Syukurlah, aku lega mendengarnya-eh?" Eren melihat kedua mata Petra yang tampak sembap dan sedikit bengkak. "Kau.. habis menangis, Petra-san."
"Eh, iya?" Petra tersentak lalu ia buru-buru mengusap sisa air mata yang ada di wajahnya. "Aku.. bahkan tidak sadar kalau aku sampai menangis," ucapnya sambil memalingkan wajahnya.
"Apa.. kau bermimpi buruk?" tanya Eren kembali cemas.
Petra tersenyum pucat, "Revan yang membuatku bangun.."
Eren tersenyum kecil dengan tatapan yang sendu. Ia teringat kembali dengan apa yang terjadi dengan adik seniornya ini.
Petra tiba-tiba menepuk pipinya, "Ini hari apa, Eren? Sudah berapa lama aku tidur? Yang lain sedang apa? Bagaimana dengan Nico dan organisasinya? Lalu, kapten-uh!" Petra kembali mengaduh sambil memegang dada kanannya yang masih terasa sakit.
"Tenanglah, Petra-san. Kau baru saja sadar dari masa kritismu. Akan kuambilkan makanan dan air hangat dulu untukmu." Eren membantu Petra duduk di ranjangnya, lalu ia pun keluar kamar.
Petra menghela nafas panjang. Kedua iris almondnya mengamati seluruh tubuhnya dan dapat ia simpulkan hampir seluruh tubuhnya diperban, bahkan sebagian wajahnya. Bekas semua luka itu masih terasa nyeri dan linu, terutama luka tembak di bagian dada kanannya.
"Kapten sedang apa? Apa.. dia baik-baik saja? Yang lain.. bagaimana ya?" gumam Petra pelan. Begitu banyak pertanyaan yang menghampiri dirinya, apa yang terjadi selama ia tidak sadarkan diri.
...• • •...
"Petra-san, ini.. makanlah. Maaf, hanya ada bubur, roti, dan air hangat karena kita belum kembali ke markas utama. Jadi.. belum sempat mengambil suplai dan bahan pangan lagi."
"Tidak apa-apa, Eren. Terimakasih ya." Petra tersenyum lembut.
Eren pun kembali duduk sembari menemani Petra makan. Ia mulai menjawab pertanyaan yang diajukan Petra tadi. "Kau tidak sadar selama hampir semingu. Kalau kau bertanya dimana kapten dan yang lain, mereka sekarang ada di pengadilan karena hari ini sidang penentuan tuntutan hukuman untuk organisasi mafia itu. Aku diperintah kapten untuk menemanimu disini," jelas Eren.
Petra menghela nafas, "Pasti aku sudah merepotkan kalian semua.. maaf.."
"Tidak sama sekali. Jangan berpikir seperti itu, Petra-san. Sudah seharusnya kita sebagai prajurit untuk menolong satu sama lain."
Petra tersenyum, "Terimakasih.."
TOK TOK TOK..
Nanaba langsung menghambur dan memeluk rekan sekamar sekaligus rekan satu angkatannya itu.
"Nanaba-sshh.. sakit tau!" keluh Petra.
"Ahahahaha! Maaf maaf! Akhirnya kau sadar juga! Tidurmu kelamaan, dasar!"
"Kau kelihatan girang sekali hari ini. Jangan-jangan.. kau sudah punya pacar baru ya, hm?" goda Petra sambil memberi seringaian.
Nanaba langsung menyentil dahi Petra, membuat Petra mengaduh. "Aku menyesal telah memelukmu.."
Petra tertawa terbahak-bahak, seketika melupakan rasa nyeri di sekujur tubuhnya.
"Nanaba-san, maaf aku tidak melihatmu dan regumu di lantai bawah tadi," celetuk Eren.
"Ah iya, memang tadi reguku ada urusan sebentar di Distrik Karanese. Dan reguku diperintah untuk sementara kembali kesini oleh Mike," terang Nanaba memperjelas.
Eren manggut-manggut, "Begitu ya."
"Aku dengar.. selama kau tidak sadar.. Kapten Levi menjagamu setiap malam alih-alih mengabaikanmu."
Petra langsung tersedak air yang ia minum ketika mendengar itu, terkejut bukan main.
"Petra-san!" Eren langsung mengusap-ngusap punggung Petra.
"Ya ampun, pelan-pelan Petra."
"Yang benar saja, Nanaba. Dia tidak mungkin membuang waktunya hanya untuk menjaga orang lemah sepertiku. Bahkan, ia mungkin berpikir aku.. adalah bawahannya yang paling lemah."
"Tapi.. itu benar kok, Petra-san," timpal Eren membenarkan.
"Eh? Kau juga Eren?" Petra membelalakkan mata. Pasalnya, dua orang yang ada dihadapannya ini bersaksi atas kebenaran topik tentang seorang Levi yang mau menjaga bawahannya secara langsung.
"Aku pernah melihat kapten masuk ke kamarmu di malam hari. Pagi tadi, Oluo-san juga bilang padaku kalau kapten ada di kamarmu dengan wajah yang lesu saat dia mengantarkan sarapan untuknya. Kapten Levi.. tidak mau makan tiga hari ini."
Petra terkejut untuk yang kedua kalinya, "Tidak.. mungkin.."
Kenapa.. kapten sampai segitunya? Bahkan, kapten mau melakukannya untukku?
"Saat kau dioperasi, dia sangat mengkhawatirkanmu. Aku bisa melihatnya walaupun Levi berusaha untuk menyembunyikannya."
Sontak ketiga manusia yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu dan mendapati Ketua Hanji yang ikut bersaksi membenarkan pernyataan.
"Hanji-san!" panggil ketiganya bersamaan sambil memberi salute dan langsung dibalas lambaian tangan oleh Hanji.
Apa maksud Ketua Hanji tadi? batin Petra.
"Hai, Petra! Bagaimana? Kau sudah baikan?"
Petra tersenyum menanggapi Hanji, "Aku baik-baik saja, Hanji-san. Kenapa kau bisa ada disini?"
"Yah, reguku diperintah Erwin untuk menjaga base ini."
"Begitu ya. Ah, tadi.. apa maksudmu?" tanya Petra memastikan.
"Iya, itu juga tambahan kesaksian dariku. Well, meskipun dia hanya bilang kau anggota wanita satu-satunya di regunya, tapi aku menangkap hal yang berbeda. Kau tau aku benci mengatakan hal yang tidak sesuai fakta pada saatnya. Dia lebih seperti.. takut kehilanganmu, Petra."
Bahkan.. Ketua Hanji juga membenarkan?!
Petra menyergah, berusaha untuk tidak besar kepala dan berpikir yang berlebihan. "Mungkin.. dia memang mengkhawatirkanku karena aku satu-satunya anggota wanita di pasukannya. Ya, mungkin seperti itu."
"Hee, tapi kalau lebih dari itu juga sangaatt tidak apa-apa kok, Petra. Aku akan mendukungmu selalu! Semoga kau bisa meluluhkan dan mencairkan hati batu si cebol itu ya!"
"Hanji-san.. i-itu mustahil!" Wajah Petra sukses memerah dibuatnya.
"Ayolah, sudah berapa kali aku mempergoki kalian berdua. Bahkan, aku tidak menyangka seorang Levi bisa berinteraksi cukup lama dengan seseorang. Bahkan, aku sendiri pun tidak tahan berlama-lama melihat wajah kaku dan menyeramkan itu karena akan berakhir aku yang dimarahi olehnya. Hanya kau yang bisa melakukannya."
"I-itu.. aku hanya mencoba untuk mengenal Kapten Levi lebih dalam karena kurasa itu harus dan karena kita berada di dalam tim yang sama." Petra semakin tersipu malu. Namun, hatinya menghangat dan merasa lega mengetahui hal itu. Keyakinannya tidak pernah salah, bahwa kaptennya bukanlah seseorang yang buruk.
"Wah, kau baik sekali, Petra! Beruntung Levi punya kamu di dalam squadnya." Hanji menepuk-nepuk bahu Petra.
"Ah, seharusnya aku yang berterimakasih padamu dan Komandan Erwin karena telah menerimaku di Survey Corps, terutama kepada Kapten Levi yang telah memilihku langsung di Special Operation Squad."
"Yaa ya, Bocah Jahe! Tapi, sesekali tidak apa-apa kalau ingin percaya pada hatimu sendiri, okey?"
Petra terenyuh mendengar ucapan Nanaba. Ya, mengutamakan kepercayaan pada hati kecil kita.. lebih baik ketimbang mengedepankan pemikiran kita..
"Iya iya, dasar rambut landak!" balas Petra tidak mau kalah. Mereka berdua pun berakhir saling menjulurkan lidah.
"Ya ampun." Hanji menepuk dahinya sedangkan Eren terkekeh melihat tingkah Petra dan Nanaba.
...----------------...