Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (27)



Keesokannya, Petra dikabari bahwa kaptennya mengadakan pertemuan mendadak pagi-pagi di markas pusat. Sialnya, gadis itu bangun terlambat karena ia baru bisa memejamkan mata pukul satu tengah malam. Benaknya yang sangat rumit membuat gadis itu tertuntut untuk memikirkannya satu persatu. Alhasil, Petra pun baru terbangun jam delapan lewat sepuluh, itupun karena teriakan sang ayah memanggil namanya yang mungkin sudah keberapa kali. Tuan Rall mengatakan bahwa Oluo menunggunya di depan rumah.


Tanpa pikir panjang gadis itu langsung berganti pakaian menggunakan seragam prajuritnya dan memakai polesan wajah sederhana dalam mode kebut. Ia tak kepikiran untuk bersih-bersih. Toh, gadis itu berpikir ia juga baru mandi semalam, jadi takkan masalah. Tentang tidak sarapan, ia sudah terbiasa dimarahi ayahnya.


"Petra! Sarapan dulu!"


"Tidak perlu. Aku buru-buru! Nanti aku akan diomeli Kapten!"


"Kalau dia memarahimu akan kubalas dia!"


Petra tersenyum miring, "Memangnya bisa? Yang ada nanti malah Ayah yang kena tebasan," candanya.


"Ayah punya kapak kebun yang lebih kuat dari pedang tempurmu itu."


Petra sontak tertawa. Ayahnya itu bisa saja mengalihkan kepanikan yang sedang melandanya.


"Petra! Kita sudah terlambat!" seru Oluo dari luar.


"Baiklah, Ayah. Aku harus pergi. Tolong jaga dirimu meskipun di rumah. Akan kuusahakan untuk pulang secepatnya."


"Tunggu sebentar!" Tuan Rall tiba-tiba saja beranjak dan menghampiri putrinya. Dia langsung menatap intens wajah Petra dari atas ke bawah.


"Ada apa?" tanya Petra tidak sabar.


"Jam berapa kau tidur semalam?"


Petra terkejut. Jangan-jangan kantung mata tebal ini sangat terlihat..


"Jam.. satu malam," cicit Petra jujur sembari menundukkan wajahnya.


"Haahh.. sudah Ayah bilang jangan tidur terlalu malam. Kau harus beristirahat dengan cukup."


"Iya, maafkan aku."


Tuan Rall menatap lekat belia hazel itu sekali lagi. "Kau.. baik-baik saja kan, Nak?"


Kenapa Ayah peka sekali?.. Semoga dia tidak tau kalau aku menangis semalaman..


Petra menarik nafas panjang. "Aku baik-baik saja. Tolong kau jangan khawatir."


"Baiklah," Tuan Rall menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya lagi. "Kalau ada hal yang mengganggumu, tolong katakan pada Ayah."


Petra tersenyum lembut nan sendu. Ayahnya memang selalu bisa membuat hatinya tenang. "Iya.."


"Hati-hati, Nak."


Petra hanya mengangguk dan segera keluar rumah. Tak lupa lambaian tangan tertuju pada sang ayah. Di depan pintu, tampaklah Oluo yang sedang berkacak pinggang.


"Ck, lama sekali," keluh Oluo.


"Maaf, aku hari ini bangun terlambat," ujar Petra sembari terkekeh.


"Pantas.. kau terlihat berbeda."


"Hah? Berbeda apanya maksudmu?"


Oluo terdiam kemudian. Entah kenapa mendadak pria itu tidak mau mengusik Petra. Ia bisa melihat kantung mata tebal milik gadis itu dan wajahnya sedikit pucat. Berpikir sepertinya Petra sedang punya masalah pribadi.


"Lupakan saja."


"Heee? Tumben kau bisa menahan untuk tidak mengomentariku. Kalau begini kan kudoakan lidahmu tidak tergigit hari ini." Petra menjulurkan lidahnya kemudian tertawa bercanda.


Oluo berdecih, "Besok aku akan kembali mengejekmu!"


"Hei! Awas kau ya!"


...• • •...


"Kalian terlambat!"


Dengan nafas terengah-engah dan wajah kusut karena habis berlari, Petra dan Oluo tetap memberikan salute terbaiknya kepada sang kapten. Tampak Levi dengan muka masam tak sabarannya sembari melipat kedua tangannya. Sungguh sebuah sambutan yang bagus.


"Maafkan kami, Kapten!" ujar Petra dan Oluo serempak.


Tatapan tajam yang tak lepas itu dapat dipahami oleh mereka berdua. Kaptennya menginginkan alasan yang jelas.


"Itu-"


"Sebenarnya.. akulah yang membuat Oluo terlambat. Tadi, dia mengabari dan sekalian menjemputku. Maaf, aku hari ini bangun terlambat, Kapten." Petra memotong Oluo yang hendak berucap sambil menundukkan wajahnya.


Pria bertubuh 160 cm itu menatap sebentar, beberapa detik, kondisi Petra yang memang terlihat berbeda hari ini. Kantung mata tebal, wajah pucat, serta perangai tubuhnya yang entah kenapa terlihat lemas di netra safir kelam itu.


"Kau.. baik-baik saja, Petra?" tanya Levi pada akhirnya, membuat Eld dan Gunther pun langsung menoleh ke arah Petra.


Kenapa hari ini semua orang menanyaiku? Aku berbeda sekali kah?


"Aku baik-baik saja, Kapten. Jangan khawatir." Petra mengulum senyumnya.


"Baiklah. Kita mulai rapatnya." Levi pun duduk di kursi singgasananya sebagai tanda pembicaraan utama akan dimulai. "Kalian diberi tugas oleh Erwin untuk melatih kadet angkatan-104."


Sontak semuanya mengernyitkan alis. "Angkatan Eren?"


"Melatih bagaimana.. dan dalam rangka apa, Kapten?" tanya Gunther.


"Kalian akan melatih fisik mereka. Untuk caranya tidak ada aturan, lakukan sesuka kalian. Tugas ini termasuk dalam pengembangan kemampuan mereka. Anggaplah ini pemanasan sebelum nanti dilatih lagi oleh si botak itu."


Mereka mengerti yang dimaksud 'si botak' adalah mantan komandan Survey Corps, Keith Sadis. Memang kepala pria itu begitu mengkilap dan licin. Entah kenapa pria itu memutuskan untuk mencukur habis rambut coklatnya dan malah menumbuhkan janggut panjang. Karena setau mereka pria itu dulunya justru berambut dan tidak berjanggut.


"Kapan latihan ini, Kapten?" tanya Eld.


"Dua hari lagi karena aku meminta Erwin untuk meliburkan kalian setelah rapat ini."


Spontan semuanya memasang ekspresi kegirangan, bak anak kecil yang baru saja dibelikan permen. Namun, gadis bersurai jahe itu tampak memasang wajah biasa. Netra almondnya terpaku pada sudut pandang kanan bawah, terlihat berpikir keras.


"Satu lagi. Kalian tandai nama-nama yang unggul dalam latihan nanti," tambah Levi.


"Siap, Kapten!"


Levi mengambil beberapa kertas dari laci meja kerjanya dan memberinya kepada mereka berempat. Mereka pun mulai membaca kata perkata yang tertera.


"Annie.. Leonhardt? Bukankah dia yang paling bagus di angkatan-104?"


"Tidak juga. Sedengarku malahan si Ackerman itu yang lebih unggul," kilah Oluo.


"Bukankah ada kabar pertarungan mereka berdua hasilnya seri?"


Mendengar tambahan dari Gunther, Petra dan Oluo menghela nafas bersamaan, "Angkatan mereka penuh dengan keunikan.."


"S-siap! Dimengerti, Kapten!"


"Bagus. Kalian boleh pergi," titah Levi sembari dirinya kembali duduk di kursinya.


Petra tak berniat untuk meninggalkan ruangan. Ia membiarkan ketiga rekannya keluar dahulu. Sampailah suara bariton kaptennya mempergokinya yang masih setia berdiri dihadapannya. "Kenapa kau masih disini?"


"Mmm.. mau kubuatkan teh, Kapten?" tanya Petra dengan sopan.


Levi terdiam sejenak sebelum akhirnya kepalanya terangguk.


Petra pun melangkahkan kakinya ke sebuah sudut di ruangan Levi. Memang ruangan kerja kaptennya di markas pusat dilengkapi dengan pojok atau dapur kecil, hanya untuk melayani hobinya yang begitu menyukai teh. Sebelumnya itu belum dibuat hingga akhirnya Komandan Erwin memberikannya, mungkin sebagai apresiasi juga karena kaptennya itu sudah berjuang dengan keras. Jika dipikir lagi, hubungan Kapten Levi dengan sang komandan sangat dekat.


Tak heran, pikirnya. Pasti dia sangat berharga sampai kaptennya pun tunduk dan patuh pada setiap perintahnya.


Begitu gadis itu mulai mencelupkan kantung teh, ia baru teringat sesuatu. Ah, aku lupa membawa teh herbalnya. Untuk Bibi Yara dan Nami juga..


Helaan nafas dari mulut Petra membuat pria yang sedang berkutat dengan dokumen itu mengalihkan atensinya. "Ada sesuatu yang mengganggumu hari ini?"


Gadis itu cukup heran karena tak biasanya manusia dingin itu memperhatikan hal-hal kecil sejauh ini. Biasanya dia akan cuek saja. Ah, ralat. Bukan manusia dingin. Pandangan Petra terhadap kaptennya perlahan berubah semenjak dirinya bisa dibuat nyaman pasca pertengkaran dengan Oluo dan Eld.


"Hmm tidak juga, Kapten. Memangnya ada apa?"


Levi menghela nafas kasar. "Kalau kau balik bertanya, pada siapa lagi aku akan bertanya?"


"Iya juga.." Petra terkekeh pelan sembari menggaruk tengkuknya. "I-itu.. tadinya aku ingin membawakanmu dan yang lain teh herbal hitam. Tapi aku lupa membawanya karena buru-buru."


"Kebetulan.. stok teh disini hampir habis," tukas Levi sambil masih menggerakkan penanya.


"Kau.. ingin mencobanya, Kapten? Kebetulan toko langgananku ada produk baru itu, makanya Ayahku membeli banyak."


Sembari menyuguhkan secangkir teh yang sudah dibuatnya, gadis itu tersenyum mendengar dengungan pelan sang kapten yang berarti 'mau mencobanya'.


"Baiklah, kalau aku ingat besok akan kubawa. Sekalian untuk yang lain. Sebelumnya ada yang bisa kubantu?"


Petra bertanya begitu karena ia melihat kaptennya tampak berwajah masam, lebih masam dari saat ia datang terlambat tadi. Petra menebak pasti pria itu sedang jengkel dengan kertas-kertas dihadapannya.


"Tidak perlu, Petra. Tch, kacamata sialan," umpat Levi pada akhirnya sambil memijat pelipis.


Petra tertawa, mengerti makna umpatan itu. Sungguh pasti pria ini sudah sangat sabar menghadapi Hanji. Sifat gilanya yang selalu membuat orang jengkel sekaligus melatih kesabaran. Terlalu berenergi kalau kata orang banyak. Bahkan kalau dipikir, kaptennya pasti lebih muak lagi karena sudah lama berurusan dengan wanita kacamata itu.


"Bersabarlah, Kapten. Lebih baik kau minum teh dulu untuk menenangkan hati dan pikiranmu."


Levi menyetujui saran Petra. Ia perlahan mengangkat cangkir itu dengan cara khasnya dan menyesapi isinya. Tidak bohong kalau itu adalah sebuah kenikmatan yang sederhana.


"Terimakasih, Petra."


"Sama-sama, Kapten. Baiklah kalau begitu aku permisi dulu. Oh iya, apa kau tau dimana Hanji-san?"


"Kenapa menanyainya?"


"Aku.. hanya ada urusan sebentar," jawab Petra.


Levi terlihat berpikir sebentar. "Mungkin dia ada di laboratorium markas."


"Baiklah. Terimakasih, Kapten. Semoga harimu menyenangkan." Petra menyunggingkan senyum terbaiknya untuk menutup pembicaraan.


Seperginya gadis itu, Levi tanpa sadar menarik sudut bibirnya, tersenyum simpul.


...• • •...


Sampailah langkah Petra di depan pintu kayu bertuliskan 'LABORATORIUM', terpampang jelas di depan matanya. Tepat saat dirinya ingin mengetuk pintu, terdengar suara teriakan heboh dari dalam.


"Hanji-san? Kau baik-baik saja?!"


Terdapat jeda beberapa detik sebelum akhirnya Hanji menjawab, "Kaukah itu, Petra? Masuklah tidak apa-apa!"


Atas jawaban itu, Petra pun tak ragu untuk masuk sembari mengucap permisi. Kedua netranya menangkap sang ketua sedang mengutak-atik sesuatu, jangan lupakan kacamata persegi panjang yang bertengger di kepalanya.


"Apa.. aku mengganggumu?"


Hanji menggeleng. "Tidak kok. Lihatlah! Aku mengambil beberapa sampel kulit dari si Sawney kesayanganku! Waaaa sangat menarik strukturnya kau tau!"


"Sawney.." Petra tampak menerka-nerka, "Oh, Sawney, Titan yang berhasil kau tangkap itu."


Hanji mengangguk-angguk. "Kau mau lihat kulitnya?" Disodorkannya sampel kulit itu pada Petra.


"Bukankah.. harusnya bagian tubuh mereka cepat menguap?" tanya Petra dengan wajah sedikit berjengit.


"Jika aku mengambilnya saat kesadaran mereka penuh, entah kenapa ini tidak akan menguap. Lain halnya ketika aku mengambilnya saat Titan itu mati," jelas Hanji.


Petra tersenyum tipis. "Ternyata.. memang masih banyak hal di dunia ini yang harus kita cari tau. Sekalipun seorang penjelajah mengitari dunia, hal-hal baru akan terus bermunculan. Tidak ada habisnya."


Hanji mengangguk mengiyakan ucapan Petra. "Kau benar. Makanya bersyukurlah kalau ada manusia yang sepertiku. Orang sepertiku tidak boleh musnah tau! Aku heran mengapa Levi selalu membenciku kalau sudah menyangkut penelitian Titan. Padahal itu penting, kan Petra?"


Petra tertawa renyah sembari manggut-manggut. Itu.. karena sifatmu, Hanji-san.


"Oh iya, ada apa kau menemuiku?"


Petra menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya saling menggamit. Wajahnya tertunduk. "Itu.. ada sesuatu. Ini pribadi."


Air muka Hanji seketika berubah serius. "Apa itu?"


"Aku ingin menemui Nicolas Ravelis.."


...---------------...


Hai haii!! Author disini! 🙌🏻


Gimana kabar kalian? Semoga sehat slalu ya aamiinn..


Gess maap banget ni kalo akhir-akhir ini part nya panjang mulu ya :"v


Soalnya aku juga harus nyari pemisah antar part yang pas biar nyambung dan alurnya ga berantakan :"(


Tapi emng aku ga nargetin ampe berapa part si HAHAHA


Eh tapi kira-kira menurut kalian nulis ampe lebih dari 1500 kata per part wajar ga si? Apa kelebihan? Boleh banget ni para reader atau author lain yang pengen sharing about writing story, biar jadi evaluasi dan pengetahuanku juga 😁


Mmm semoga kalian ga bosen ya sama alurnya yang panjang ini.. maap banget ini mah 😭🙏🏻


Okee dee smangat bacanya ya! 😭✊🏻


Notes : Tokoh-tokoh tambahan saran aku jangan dilupain ya karena bisa aja mereka yang punya pengaruh penting untuk menunjang alur cerita.