![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
Petra mengeratkan jaket hitam yang dipakainya, tak lupa menutupi kepala dengan tudungnya. Dimasukkannya beberapa lembar uang ke dalam saku. Segera ia melangkahkan kaki ke lantai bawah rumah, berharap tidak ada eksistensi ayahnya disana.
Namun, harapan tersebut hilang karena ternyata Tuan Rall tengah berdiri dengan penampilan serba hitam rapih disana, sembari memegang dua buket bunga Lily. Tampaknya ia belum menyadari keberadaan Petra di belakangnya. Barulah setelah Petra melewatinya, pria itu menginterupsi memanggil namanya.
"Petra.."
Gadis hazel itu hanya menghentikan langkahnya, tapi enggan untuk sekedar menoleh.
"Ayah ingin pergi ke makam Ibumu dan Revan nanti sore."
"Kau.. masih berani menampakkan wajah kepada mereka?" Petra pun akhirnya beralih menatap tajam ayahnya sebelum keluar, "Kau tidak punya rasa bersalah dan malu. Menyedihkan."
Tuan Rall hanya bisa tertegun mendengar perkataan putrinya. Bahkan, Petra tidak ingin memanggilnya dengan sebutan ayah lagi. Petra bersikap dingin karena kesalahan besarnya. Tuan Rall hanya terdiam menerima. Ini semua terjadi karena kebodohannya.
...• • •...
Gadis bernama belakang Rall itu kini telah menginjakkan kaki di sebuah bar yang beroperasi di jalan kecil, masih di daerah Distrik Trost.
"Sepertinya Ayah tidak tau identitas orang-orang itu. Mereka bukan orang sembarangan.. sama seperti yang dikatakan Nico."
Langkahnya pun memasuki bar tersebut. Seketika bau alkohol menyeruak ke dalam indra penciumannya. Pun terlihat pemandangan para manusia sedang bermabuk ria di pagi hari.
"Tapi aku tau julukan untuknya, 'Penguasa Jalan Tikus'. Pertama kali aku bertemu dengannya saat berjudi di kelab malam.."
Diam-diam gadis itu merutuki si brengsek Nico yang tidak memberitahu nama kelab malamnya. Memangnya kelab hanya satu di negeri ini?
"Terpaksa aku harus mencari dari sini."
Petra berjalan menuju ke arah pak tua penjaga bar yang tengah sibuk mengelap botol-botol minuman keras kesayangannya. Beruntung Petra adalah Pasukan Pengintai. Kalau ia menjadi Polisi Militer sudah daritadi ia memborgol pak tua ini.
"Selamat datang! Ingin pesan sesuatu?" sambutnya dengan nada ramah.
"Tidak. Tapi, aku ingin mencari informasi disini. Apa kau mau membantuku?"
Pak tua itu mengangguk, "Tentu saja, apapun untuk para pengunjung barku."
Petra berharap semoga ia tidak salah menilai kebaikan pak tua satu ini. Ia pun memutuskan untuk menarik kursi bar dan duduk terlebih dulu.
"Apa kau tau lokasi semua kelab yang ada disini?"
"Hei, Nona. Kau ini masih muda. Aku sarankan jangan ke tempat kotor seperti itu.."
"Bukan urusanmu kalau aku kesana."
Pak tua itu seketika bertopang dagu, mungkin sedang menerawang pikirannya. "Setahuku ada satu di distrik ini, namanya Kelab Hejin. Itupun kalau masih utuh tidak terkena serangan Titan sebelumnya. Ada dua di Distrik Yarckel, Kelab Sazdis dan Ivory. Satu lagi ada di Distrik Ehrmich, Kelab Oscar."
"Hanya ada empat?" tanya Petra memastikan.
"Iya. Untuk membangun tempat ilegal seperti itu butuh usaha keras untuk menyembunyikannya. Makanya banyak orang yang tidak mengetahui, sekalipun Polisi Militer. Tempat-tempat seperti itu biasanya berdiri di daerah terpencil."
"Begitu ya. Baiklah," Petra mengeluarkan uang tips dan menaruhnya di atas meja, "Ini untukmu. Terimakasih sudah menjawabku."
"Ah, terimakasih kembali, Nona!"
"Apa.. kau pernah dengar tentang.. Penguasa Jalan Tikus?"
Sontak raut wajah pak tua itu terlihat sedikit terkejut, namun berhasil disembunyikan kemudian karena tampaknya nona muda dihadapannya itu tidak menyadari.
"Tidak. Aku tidak pernah mendengarnya."
Petra terdiam sejenak, "Baiklah. Terimakasih, Pak."
Sepeninggal Petra keluar dari bar, pak tua itu buru-buru menghampiri salah seorang pelanggan yang tengah meneguk segelas alkohol di meja paling ujung. Pak tua itu segera membisikkan sesuatu.
"Dia orangnya, Bos."
Pelanggan yang mendengar bisikan itu tersenyum miring hingga berakhir menjadi tawa yang sangat mengerikan. Kedua kakinya ia hentakkan berulang kali.
"Hadiahku.."
...• • •...
"Gunther, kau terlalu lambat! Kalau seperti itu kau duluan yang akan diserang!"
"Baik, Kapten Petra yang terhomat!" goda Gunther. Tak beberapa lama pria itu langsung mendapat pukulan mutlak dari Petra.
"Hei, kenapa hari ini kau galak sekali? Suasana hatimu sedang buruk?" tanya Oluo sambil memasang ekspresi keheranannya.
"Apa pedulimu? Aku selalu begini kalau latihan!"
"Iya iya! Selalu aku yang diomeli!"
"Petra, tolong ajari aku sekarang," ujar Eld memotong perkelahian itu. Biarlah hasilnya jadi menggantung daripada harus melihat adu mulut mereka lagi. Beruntung Petra langsung mengiyakan, sepertinya ia juga enggan untuk meladeni Oluo sekarang.
Petra mengeluarkan pisau sakunya tiba-tiba, membuat semuanya tersentak kaget, terutama Oluo yang langsung meloncat ke belakang Eld.
"Kau ini lagi kenapa sih?!" teriak Oluo frustrasi.
"Apa? Aku hanya ingin memulai sesi memakai pisau kok. Besok pasti memakai pisau seperti biasa kan?" Petra mengayunkan pisaunya ke depan, membuat ketiga pria itu spontan memundurkan langkah, ditambah Oluo yang juga refleks berteriak lebih kencang lagi.
"Berisik! Kau juga mengagetkan kami, bodoh!" Eld langsung saja memukul kepala Oluo.
"Kau seperti ingin memotong kami layaknya daging Titan.." Gunther menambahkan sembari bergidik.
"Walaupun besok memakai pisau kayu, berlatihlah menggunakan pisau nyata," ujar Petra sembari memasang ancang-ancang, "Ayo, Eld! Gunakan pisaumu! Jangan seperti si bodoh itu yang hanya berani memakai Manuver 3D."
"Hei, kau membicarakanku?!" Oluo mendengus kesal, "Aku bahkan membunuh Titan lebih ba-CTAASS!!"
Dan itu dia.. lidahnya tergigit lagi..
"Sudahlah kalian! Petra, tolong bimbingannya."
Gadis hazel itu mengangguk. Dirinya segera memasang posisi siap bertarungnya sembari menggenggam erat pisau di tangan kanannya dan diarahkan ke atas.
"Jika musuh dalam posisi seperti ini, peluangmu untuk menerjang pisau ke arah depan sangat besar, Eld. Lakukan sekarang."
"Tapi, hati-hati dengan gerakan ini. Musuh bisa menangkis pisaumu. Jangan sampai kau kehilangan itu.. atau kau akan terpojok."
Eld selalu terkagum dengan cara pengajaran Petra, begitu juga dengan Oluo dan Gunther. Mereka sudah sering latihan bersama, namun tak pernah bosan diajari olehnya. Bahkan, sejak latihan bersama yang ketiga kala itu, mereka memutuskan untuk tidak anggap remeh kemampuan Petra. Mereka semua pun saling mengajari dan menghargai kemampuan masing-masing, dengan prinsip "semua harus bisa".
Tanpa sepengetahuan mereka, Levi telah memperhatikan sedaritadi. Pria itu cukup mengapresiasi perkembangan squadnya sejauh ini. Mereka adalah orang-orang hebat pilihannya sendiri. Levi tak pernah menyesal untuk mengandalkan mereka.
Sebuah tim yang sempurna.
Namun, seketika perhatian sepenuhnya langsung teralih ke arah Petra yang terhuyung ke belakang dan beberapa detik kemudian tubuhnya jatuh ke tanah. Segera ia langkahkan kaki menuju empat menusia yang sedang berkerumun itu.
"Petra, kau baik-baik saja?" tanya Eld cemas sembari memapah tubuh gadis itu, "Apa ini karena aku?"
"Aku tidak apa-apa. Ini bukan salahmu. Dadaku.. memang sedikit sesak tadi," jawab Petra setengah meringis.
"Cukupkan dulu latihan kalian."
Suara bariton Levi membuat semuanya tersentak. Sejak kapan kaptennya sudah ada disini?
"B-baik, Kapten!"
"Petra, kau harus ke pusat medis markas."
Oluo, Gunther, dan Eld yang mendengarnya cukup terkejut karena mereka menyadari nada bicara kaptennya seperti sedang mencemaskan Petra.
"Tidak perlu, Kapten. Ini.. hanya sesak tiba-tiba."
"Jangan membantahku! Kau harus kesana!"
"Kubilang tidak perlu, Kapten!!"
Spontan semuanya terperangah, termasuk Levi yang terkejut mendengar balasan Petra kepadanya. Gadis itu sekarang tengah menurunkan tatapan matanya, tidak mau melihat ekspresi balasan dari keempat pria dihadapannya.
"M-maafkan aku. Aku permisi.."
Saat ini Petra hanya bisa menuruti keinginan hatinya untuk pergi dari suasana itu.
Kenapa aku berani membentaknya lagi?
...• • •...
Tuan Rall menaruh perlahan buket Lily putih yang ia bawa diatas makam dua orang yang sangat dicintainya. Dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya.
Isak tangis pun terdengar, memenuhi area pemakaman yang cukup sepi kala itu. Tubuh pria berumur 50 tahun-an itu bersujud cukup lama, sembari langit menemani dengan menumpahkan ribuan jarum beningnya, mulai menghujani bumi.
"Marine.. Revan.."
Suaranya terdengar begitu lirih dan serak, meskipun tersamar oleh suara hujan. Tangisan itu, tanda rasa penyesalan yang amat besar.
"Aku tidak pantas hidup.. aku pantas dibenci.. aku tidak pantas menjadi seorang Ayah bagimu, Revan.."
Tanpa sadar suara langkah kaki lain sedang menghampirinya. Sosok pemilik langkah kaki itu berjalan semakin cepat hingga tepat berada di belakang Tuan Rall.
"Kau.. tidak perlu memaafkanku.. Marine.."
DUAARR!!
...• • •...
Iris almond itu memperhatikan dengan seksama objek yang berada dalam genggaman tangannya. Sebuket bunga Chrysanthemum sangat indah dengan warna putih. Keindahan warnanya seakan menyihir sang netra sehingga pemiliknya pun teralihkan dari guyuran hujan yang cukup deras.
Dari jarak sekian sudah terlihat kumpulan batu nisan para manusia yang telah selesai menjalani tugasnya di dunia. Tampaknya suasana di pemakaman cukup sepi, tak banyak orang yang berziarah.
Gadis jahe itu bergumam, menghitung perlahan setiap baris guna menemukan dua makam yang ingin ia kunjungi. Tulisan tanda baris makamnya tidak terlalu jelas karena hujan. Dan tak beberapa lama gadis itu menghela nafas lega karena telah menemukannya.
Diselipkan ke belakang telinga helaian rambut jahe miliknya agar tidak menghalangi pandangan. Tak sengaja kedua netranya menangkap dua buket bunga Lily di atas makam, ditaruh dengan rapih.
"Sepertinya dia mengunjungi kalian ya? Kukira tidak akan kesini setelah mendengar perkataanku.."
Diusapnya kedua batu nisan itu hingga terlihat dengan jelas dua nama milik orang yang sangat gadis itu cintai.
Revan Rall. Marine Rall.
"Apa.. yang kulakukan ini sudah benar, Bu?"
Satu pertanyaan retoris terucap dan gadis itu tau sang ibunda tidak akan pernah membalas perkataannya.
Petra pun duduk, menghela nafas panjang, mencoba mengukir senyuman untuk sang ibunda dan adik, walaupun seluruh tubuhnya mulai gemetar karena kedinginan.
"Bagaimana kabar kalian? Apa kalian tidak kedinginan di dalam sana?" tanya Petra sembari memeluk tubuhnya yang sudah basah kuyup, "Kalau kalian merasa kedinginan, aku pun harus begitu."
Maniknya kian meredup, bukan karena bulir hujan, melainkan karena bulir bening yang siap jatuh membasahi pipinya. Ditenggelamkan wajah sedih itu sangat dalam. Sekali lagi, sepertinya dunia telah memberi kenyataan yang kejam untuk seorang gadis berhati lembut ini.
"Hei bocah, kenapa kau selalu ingin bersikap heroik, hah?" Petra pun akhirnya mengangkat wajah dan menatap lekat makam sang adik, "Kau membuatku iri, dasar."
Gadis itu pun mencium lama kedua batu nisan bergantian, mengusapnya lagi karena ia akan beranjak meninggalkan pemakaman.
"Banyak yang ingin kuceritakan pada kalian, tapi saat ini aku bingung harus memulai darimana," Petra mengusap matanya, mencoba berhenti menangis dan menghilangkan sesenggukannya. Sekali lagi, gadis itu tersenyum sendu sebagai salam sapaan akhir.
"Mungkin.. lain kali akan kuceritakan. Tolong jaga diri kalian disana. Aku.. sangat mencintai kalian.."
Saat hatinya sudah merasa lega karena telah mengunjungi dua orang yang sangat dicintainya itu, rasa cemas menghampirinya beberapa detik kemudian.
Bekas selongsong peluru.. berjarak tiga jengkal dari makam sang ibunda..
Petra segera memeriksa lebih jauh lagi. Ia mencari apakah ada bekas lubang tembakan. Tak butuh lima menit tangan ajaibnya berhasil menemukan sebuah lubang kecil berdiameter seukuran peluru tersebut, walaupun sempat tersamar karena terkena air hujan.
"Ayah.. ayah!"
Petra langsung saja berlari meninggalkan pemakaman dengan hati serta pikiran yang telah dihantui rasa takut dan cemas, tertuju pada ayahnya.
...-----------------...