Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (28)



Disinilah Petra, berdiri tepat di depan pintu sel tahanan narapidana brengsek itu. Setelah ia melalui beberapa perdebatan dengan Hanji setengah jam yang lalu, akhirnya sang ketua regu itu menyetujuinya.


...• • •...


"Aku ingin menemui Nicolas Ravelis. Kau memiliki akses untuk kesana bukan?"


"Si brengsek itu? Pelaku yang sudah membuat nyawamu di ujung tanduk? Untuk apa, Petra?"


Rentetan pertanyaan itu terlontar begitu saja. Namun, Petra sudah menduga Hanji pasti akan terkejut.


Sangat jelas.


Mana ada seorang korban yang ingin bertemu dengan pelaku yang hampir menghilangkan nyawanya kecuali dalam urusan mendesak. Ditambah dalam hal ini sang korban yang memintanya sendiri. Orang lain pasti sudah menganggap korban itu tidak waras.


"Aku.. ada urusan dengannya. Tapi, aku tidak bisa memberitahumu. Maaf."


"Untuk kesana setidaknya kau harus ditemani oleh pihak Polisi Militer atau Pasukan Pengintai yang berwenang karena posisimu disini adalah sebagai korban. Aku tidak mau mengambil resiko besar."


"Tidak. Aku ingin menemuinya sendiri. Tolong.. kumohon, Hanji-san," lirih Petra pelan.


"Itu sudah aturan, Petra!" tegas Hanji.


Tiba-tiba wanita kacamata itu dibuat terkejut dengan Petra yang langsung bersimpuh dihadapannya. "Petra-"


"Kumohon.. Aku benar-benar meminta bantuanmu. Aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya. Jika perlu hukum saja aku nanti. Aku mohon.."


Hanji terenyuh melihat tatapan memelas Petra seakan benar-benar memohon dan meminta bantuannya. Sepenting itukah bertemu dengan bajingan itu?


Apa dia sedang ada masalah? pikir Hanji.


Pikiran itu membuat Hanji terdiam cukup lama. Ketika terdengar helaan nafas dari wanita gila Titan itu, Petra semakin gugup saja.


"Bangunlah, Petra. Aku merasa menjadi tuan yang sedang mengomeli budaknya, hahaha!"


Petra pun perlahan bangun dari posisinya, tetap menundukkan wajah lesunya.


Hanji menghela nafas yang kedua kalinya. "Ya ampun, baiklah aku menyetujuinya."


Lima kata pasti itu terucap, membuat Petra langsung menegakkan wajahnya. "B-benarkah? Kau serius?"


Wanita itu mengangguk dua kali sembari melanjutkan eksperimennya.


"Aku tidak tau apa masalahmu dengannya. Tapi, tolong selesaikan dengan baik. Masalah tanggung jawab.. biar kita berdua yang menanggungnya."


Petra mengulum senyum. "Terimakasih banyak, Hanji-san. Terimakasih!"


"Iya, sama-sama, Petra."


"Tolong jangan beritahu Kapten tentang ini. Aku.. tidak mau menyusahkannya. Selama ini dia sudah banyak membantuku."


Hanji tersenyum tipis. Pikirnya, semua wanita yang ada di dekat Levi sangat baik dan setia. Beruntung Levi akan hal itu. Sayang, mungkin si cebol itu tidak menyadari sepenuhnya. Hanji yakin pasti Petra memiliki perasaan yang tulus kepada Levi, tentunya selain perasaan sebagai bawahan.


"Baiklah."


...• • •...


Petra berharap semoga Hanji benar-benar merahasiakannya. Sejujurnya ia takut ini akan menjadi masalah serius bila diketahui oleh para atasan. Namun, Petra pun sudah siap menerima resikonya. Lebih baik ia tau semuanya ketimbang terus hidup dilanda kecemasan dan penasaran.


Diliriknya pria yang enggan ia temui itu, masih tertidur di atas kasur tak layak tentunya. Namun, tak menunggu waktu lama, pria itu berhasil terbangun karena merasa ada seseorang yang berdiri di depan pintu selnya. Sungguh daya kepekaan yang sangat kuat.


"Siapa disa-hooo tak kusangka! Aku akan bertemu kau lagi, Nona Cantik!"


Petra mendelik tak suka, mengabaikan sambutan itu. Iris karamel dan iris kelam kembali saling bertatap. Mata itu, mata yang menyiratkan kejahatan dan kekejaman sebelumnya. Mata yang selalu mengintimidasinya.


Entah kenapa Petra selalu teringat kejadian yang membuatnya trauma beberapa hari itu, mungkin masih hingga sekarang. Tanpa sadar tubuhnya berkeringat dingin, bahkan gemetar ketika berada di dekat Nico. Beberapa kali dirinya menarik nafas, berusaha menenangkan diri.


"Tenanglah. Bergerak dan berjalan saja aku kesulitan. Kau tau? Selama ini aku makan langsung memakai mulutku."


Entah pria itu seorang cenayang pembaca pikiran, tapi nyatanya itu bisa sedikit menenangkan Petra. Benar, pria itu dalam kondisi diikat dengan rantai di bagian tangan, kaki, dan tubuhnya.


"Aku tebak. Kau kesini ingin menggali informasi dariku kan? Tentang adikmu?"


Bajingan ini benar-benar cenayang sialan..


"Kuharap kau akan memberitahuku kali ini."


"Sudah kubilang.. kau harus menikah denganku dulu."


"Wow, santailah. Kau mirip sekali dengan si cebol itu. Mulut kalian sangat menyakiti hatiku."


"Aku tidak akan pernah percaya orang kejam sepertimu berubah dalam sekejap. Kalau kau main-main denganku, aku tidak akan tinggal diam."


Nico malah menahan tawanya. "Aduh, aku takut sekali-"


BUGGH!!


Petra langsung saja memukul wajah menyebalkan itu, membuat Nico langsung tersungkur.


"Ini tidak seberapa dengan apa yang kau lakukan padaku."


"Iya, kau bisa memukulku sepuasnya sekarang," tukas Nico sembari meringis sakit.


Petra menggertakkan giginya rapat-rapat. Keinginan untuk membalas dendam harus ditahannya karena yang lebih penting sekarang adalah informasi mengenai adiknya.


"Beritahu aku semua informasi yang kau punya. Sekarang."


Nico menghela nafas panjang. "Baiklah, akan kukabulkan hanya untukmu, Cantik."


Petra pun terpaksa membantu Nico duduk di ranjang, dengan satu tarikan kencang. Sementara yang ditarik malah menyunggingkan seringai khasnya.


"Dulu.. aku punya partner dalam berorganisasi. Aku tidak tau nama aslinya karena dia sering berganti nama untuk mengamankan identitasnya. Setiap kali ia beraksi di tempat yang berbeda, namanya selalu berubah. Markas perkumpulannya pun selalu berubah untuk menghilangkan jejak mereka. Makanya orang lain tidak akan mudah untuk menemukannya."


Gadis itu kini memaksa telinganya untuk mendengar setiap kata yang diucapkan Nico. Ingat, demi informasi.


"Tapi, aku tau julukan untuknya, 'Penguasa Jalan Tikus'. Pertama kali aku bertemu dengannya saat berjudi di kelab malam. Aku menang taruhan dan akhirnya dia mengajakku mengobrol. Dari obrolan kami aku tau dia adalah tipe penjahat yang memburu banyak korban dengan ilmu hipnotisnya. Ya, dia bisa menghipnotis, entah bagaimana caranya agar korban mau menurutinya. Dia kaya. Dia cinta uang. Dia suka sekali taruhan. Dia.. juga memberitahuku beberapa nama korbannya, salah satunya.. Tuan Rall."


Petra tercekat mendengar pria itu menyebut-nyebut ayahnya. "Apa.. maksudmu?"


"Setelah aku mengetahui bahwa nama belakangmu sama sepertinya, aku berasumsi kau memang putrinya.." Nico menghela nafas lagi sebelum kembali melanjutkan, "..Aku menduga.. Ayahmu terlibat suatu utang dengan mereka."


Tak bohong bahwa firasat Petra sudah semakin buruk. Kebenaran mulai terungkap satu-persatu. Tanpa sadar emosi terpendamnya memuncak diiringi rasa tidak sabaran. Ia takut hal-hal yang ia percayai selama ini hanya omong kosong, terutama alasan kematian adiknya.


"Katakan semua yang kau ketahui. Jangan berani melewatkan apapun.." tegas Petra dengan gemetar. Kedua tangannya mengepal. Netra hazelnya kian memanas. Nafasnya perlahan tersengal-sengal. Sungguh suatu hal yang sangat mengejutkannya.


Nico yang melihat Petra sepertinya mulai syok terdiam sejenak. Ia menduga pasti gadis itu akan sangat terkejut mendengarnya.


"Ayahmu.. mungkin telah dihipnotis.. dan.. adikmu dijadikan taruhan oleh mereka.. dan sebagai tebusan. Adikmu memang bertemu sekelompok perampok dan itulah mereka. Saat itulah.. mereka membunuh adikmu."


Hancur.


Hancur sudah hati gadis itu. Bagai satu pukulan telak berhasil mengenai dirinya.


Rasa kecewa, marah, sedih, bingung, takut, syok dalam satu waktu sekaligus. Pikirannya linglung, seakan benaknya bertanya "Apa-apaan semua ini? Apakah ini sebuah lelucon belaka?"


Pertahanan belianya runtuh seketika. Ia menangis. Tangan kanannya meremas erat-erat dadanya. Nafasnya seakan tercekik kehabisan oksigen. Tubuhnya mendadak lemas mengetahui itu semua.


"Bohong. Omong kosong."


"Aku berkata yang sebenar-"


"KAU PEMBOHONG! BRENGSEK!!"


Ditariknya kerah pakaian Nico hingga tanpa sadar tubuh pria itu sedikit terangkat, memperlihatkan betapa meluapnya emosi gadis itu sekarang. Nico yang diperlakukan seperti itu sedikit terkejut karena sekarang Nona Cantik dihadapannya terlihat sangat berbeda. Pria itu pun memilih untuk diam saja.


"Omong kosong! Aku tidak akan pernah percaya kepada penjahat sepertimu!" teriak Petra dengan penuh emosi.


"Itu terserah padamu untuk percaya atau tidak. Adikmu tidak mati secara kebetulan. Lebih baik kau bertanya sendiri pada Ayahmu. Kurasa dia memang mengetahui sesuatu."


Setelah Nico selesai berkata, Petra langsung saja angkat kaki meninggalkan sel tahanan. Bahkan ketika mengunci kembali pintu jeruji itu, sempat beberapa kali dirinya tidak fokus memasukkan kunci. Tangannya begitu gemetaran. Perasaan gadis itu sedang tak terkendali sekarang.


Sementara pria Ravelis itu hanya bisa memandang lekat ke arahnya, entah apa yang dirinya pikirkan.


...---------------...


Gimana gimana? Konflik mulai muncul lagi ni. Asli, aku ampe nyesek sendiri ama part ini sumpaahh, gak tega nulisnya 😭


Kira-kira apa yang bakal Petra lakuin? Kasian Petra :"(


(Siapa suruh bikin alur kek gini 🙃)


Oh ya sekadar notes lagi, aku akan sedikit melencengkan sifat para tokoh disini ya. Jadi mungkin tidak sesuai banget dengan sifat aslinya mereka di aot. Tapi, tenang aja gabakal jauh-jauh kok, paling cuman ke Jakarta (apasih thor gajelas :"v)


Sebisa mungkin aku tetap mempertahankan identity dan vibes mereka sebagaimana mestinya. Semoga Author ini bisa yang terbaik ya! ✌🏻