Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (38)




...• • •...


Buram.. buram..


Perlahan jelas.. semakin jelas..


Begitulah kerja mata almond itu ketika mencoba melihat dunia kembali. Sekarang pemilik netra indah itu tengah mengaduh dalam hati karena tubuhnya yang begitu lemas seakan tak bisa digerakkan. Tubuhnya yang terbalut selimut terbangun di sebuah ruangan yang sangat dikenali, kamar asramanya sendiri.


Sayup-sayup terdengar pula suara dengkuran keras milik seorang pria yang-ah, gadis itu sangat membencinya.


Segera saja Petra menoleh ke samping mendapati Oluo yang tertidur di atas kursi dengan mulut terbuka sembari melipat tangan di dada. Sudah dua kali ia melihat pemandangan tidur seperti itu. Pertama kali saat mereka sedang giliran jaga base bersama.


Petra pun mengulurkan tangan kanannya berinisiatif untuk membangunkan. Pria itu terlonjak kaget dari posisinya dengan segala kalimat panik yang terlontar dari mulutnya, seakan dirinya baru saja terancam.


"Bangunlah, bodoh."


"Kau ini! Masih baik aku dengan tulus menunggumu-tunggu! Petra, sejak kapan kau sudah sadar?!"


"Belum lama. Mungkin 2 menit yang lalu," Lalu, gadis itu tersentak tiba-tiba, "Bagaimana dengan Nanaba dan Kapten?!"


"Mereka berdua baik-baik saja. Tapi.. untuk hasil pertarunganmu dan Nanaba," Oluo menghela nafas "kalian berdua didiskualifikasi karena.. dianggap membawa masalah pribadi yang hampir menyebabkan kejadian fatal."


"Kenapa.. kenapa seperti itu?! Kenapa Nanaba ikut didiskualifikasi?! Aku tidak mau. Dia lebih pantas menang," ujar Petra sembari hendak beranjak dari ranjangnya.


Melihat itu, Oluo segera mencegahnya, "Hei hei! Kau mau kemana, hah?!"


"Apa pedulimu?!"


"Kalau kau ingin protes pada Komandan Erwin ataupun Instruktur Keith, bisa-bisa kau dikeluarkan dari Survey Corps!"


"Aku tidak peduli, Oluo!"


"Petra! Petra, dengarkan aku! Baiklah, tapi tidak dengan kondisimu sekarang!" cegah Oluo, "Hahh ternyata kau lebih keras kepala daripadaku."


Sementara gadis jahe itu hanya bisa memasang wajah jengkelnya. Namun, beberapa detik kemudian ia menangkap ekspresi serius di wajah Oluo, membuat Petra pun terpaku sejenak.


"Kenapa kau menatapku beg-"


Sontak dihentikannya kalimat tanya itu karena Oluo tiba-tiba memegang bahunya. Tampak pria bernama belakang Bozado itu menarik nafas dalam-dalam.


"Kenapa kau bersikap beda akhir-akhir ini?"


"Apa.. maksudmu?"


Oluo menghela nafas lagi, "Jujur padaku.. kenapa kau seperti ini?"


"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Kenapa juga aku harus menjawabmu?" balas Petra.


"Aku tau itu bukan luka lebam, Petra. Aku juga sudah lama menyadari sikapmu yang berubah." Oluo memfokuskan atensinya pada balutan di wajah Petra, "Tolong jujurlah. Kau sudah kuanggap sebagai keluargaku, kau tau?"


"Kita baru kenal saat pelatihan kadet," jelas Petra, "Dan darimana kesimpulanmu itu-ARGH!!"


Oluo membuka paksa balutannya, membuat Petra terkejut dan meringis sakit. "Karena aku yang mengganti perbannya!"


Gadis itu langsung menolehkan wajahnya ke arah lain dengan gugup. Dirinya merasa skakmat sekarang.


"Sekarang.. katakan.."


"A-aku menggoresnya sendiri."


"Tch! Kau bahkan bukan orang seperti itu!"


"Iya! Ini ulah orang brengsek yang mencelakai diriku. Kau puas?"


Oluo tersentak kaget, "Kau.."


Dan pria itu kembali terkejut melihat bulir-bulir bening mengalir dari kedua netra milik rekan setimnya itu. Dirinya mulai panik, takut ini karena perlakuannya yang berlebihan.


"Petra.. maafkan aku. A-aku tidak bermaksud.."


Hilang kata sudah, tidak tau ingin berbicara apa. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah membiarkan Petra menangis, membiarkan suasana kalut diantara mereka.


"Aku.. melukai banyak orang. Aku melukai Kapten. Aku melukai sahabatku. Bahkan.. aku melukai Ayahku sendiri. Kenapa aku hanya menjadi beban orang lain?"


"Kenapa kau beranggapan seperti itu? Jangan pernah bilang begitu," tukas Oluo berkilah, "Keadaan yang membuatmu seperti ini kan?"


Petra menghela nafas sejenak, "Hal paling kubenci dalam hidupku, menyakiti orang yang kusayangi. Dan aku melakukannya.."


"Kau juga menyakiti diri sendiri dengan berpikir begitu," tegas Oluo. Wajahnya yang terbiasa mengurai canda kini berubah begitu serius.


"Mereka pasti akan mengerti kalau kau punya alasan tertentu, apalagi Kapten. Dia bukan orang yang seperti itu. Dia pasti akan mengerti kalau ada alasannya. Memang sudah berapa lama sih kita mengenalnya? Bukan baru setahun atau dua tahun kan?"


Petra terdiam sejenak, diikuti suasana diam lagi diantara mereka, memakan waktu beberapa menit. Tak satupun dari kedua orang itu yang ingin mengeluarkan sepatah kata.


Hingga.. gadis surai jahe itu pun memutuskan untuk mulai berbicara..


"Ayahku dalam bahaya.."


Sebisa mungkin Oluo menahan rasa penasarannya yang menggebu-gebu, memilih untuk memasang telinganya lebar-lebar.


"Dia berutang kepada rentenir untuk membayar biaya pengobatan Ibuku. Ayahku tidak tau bahwa mereka bukan rentenir biasa. Pemimpin mereka memiliki semacam ilmu hipnotis. Aku tidak tau.. dia mengenalnya darimana.." jelas Petra dengan nada gemetar sembari menurunkan pandangan.


"Ayahku dihipnotis.. dan dia memilih Adikku untuk dijadikan tebusan." Petra meremas erat selimut, berusaha untuk tidak menangis sekarang. "Revan tidak mati secara kebetulan.."


Pria bermarga Bozado itu tak bisa menahan rasa keterkejutannya lagi. Dia sangat kaget mendengar pengakuan Petra, tak bisa dipercaya.


"Kenapa.. bisa? Pak Rall.."


"Aku.. sangat tidak percaya mendengarnya," lirih Petra, "Hingga.. aku memutuskan untuk mencari tau keberadaan orang-orang itu."


Gadis itu pun memegang luka di wajahnya, "Ayah sama sekali tidak mengenal para rentenir itu. Nico berkata padaku bahwa orang-orang itu mengutamakan identitas asli. Mereka sering berpindah markas dan punya banyak identitas. Tapi, entah bagaimana caranya mereka menemukanku dan mengenalku-"


"Kau bertemu si brengsek itu di tahanan?" potong Oluo. "Kenapa kau berani sekali, Petra?! Bagaimana jika dia melakukan hal buruk lagi padamu?!"


"Ini demi Revan dan Ayahku! Aku akan melakukan semuanya!" balas Petra sedikit membentak, membuat Oluo kembali terdiam.


"Aku.. aku bertemu mereka kemarin.. setelah pulang berziarah. Ada empat pria berjubah hitam mengepungku." Petra memegang dadanya erat, "Luka ini.. aku adalah incaran mereka."


Seketika gadis jahe itu meremas erat surainya, menenggelamkan wajahnya dalam-dalam. Tubuhnya gemetar.


Oluo mengepalkan tangannya erat-erat. Rahangnya mengeras. "Sialan.. sialan mereka! Dasar brengsek!"


"Tolong pergilah," pinta Petra, "Aku ingin sendiri."


"Tidak, Petra. Aku akan-"


Petra langsung mendorong tubuh Oluo hingga terhuyung, "Pergilah! Kumohon, Oluo.."


Dengan berat hati, pria bersurai abu itu pun mengalah dan memilih untuk meninggalkan Petra yang semakin tidak bisa menahan isakannya.


...• • •...


Terdapat entitas seorang pria yang berdiri menyandarkan punggung kecilnya ke dinding, sembari menatap lamat-lamat ujung sepatu boots miliknya. Kegiatannya adalah mendengarkan dua orang yang ada di dalam karena melibatkan dirinya dalam percakapan.


Wajah seriusnya kini menampakkan beragam raut. Entah dirinya harus merasa bagaimana sekarang. Namun ia tau rasa amarah dalam dirinya yang lebih mendominasi. Dan amarah itu tertuju kepada dirinya sendiri.


Lagi.. lagi.. Ia merutuki dirinya.


Lagi-lagi dirinya begitu bodoh dan tidak peka untuk sekadar mengetahui bahwa gadis itu tidak sedang baik-baik saja.


Terdapat sesuatu yang mengganjal dalam hatinya karena semua perkataan Petra. Rasa bersalah kian menggerogoti karena ia merasa secara tak langsung telah membuat gadis itu kecewa.


Levi menghela nafas guna menenangkan perasaannya. "Kenapa kau selalu pandai berbohong, Petra?"


Tepat setelah ia berkata, pintu ruangan perlahan terbuka dan menampakkan sosok Oluo dengan raut wajah sedih. Setelah menutup pintu, sontak pria itu terlonjak oleh eksistensi mungil sang kapten. Beruntung ia dapat menahan untuk tidak berteriak.


"Kap.. ten.."


Levi menatap sebentar wajah terkejut bawahannya itu, kemudian ia memulai langkah mendahului Oluo.


"Ikut ke ruanganku."


...• • •...


Keduanya saling diam, baik sang atasan maupun bawahannya itu. Suasana canggung kian memenuhi keduanya. Hingga pria fanatik peniru sang kapten pasukan elite itu tak tahan lagi dengan situasi tersebut. Entah kenapa dirinya selalu mengumpulkan seluruh keberanian ketika berhadapan dengan kaptennya.


"Apa.. Kapten mendengar semuanya?"


"Iya, aku mendengarnya."


Sejak kapan Kapten hobi menguping sih?


"Maaf, Kapten. Ka-kami.. tidak bermaksud membicarakanmu. Hanya saja.. Petra-"


Oluo menghentikan perkataannya. Sungguh ia sangat terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Kaptennya tengah mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Pandangan safir itu begitu tajam, membuat Oluo sedikit merinding.


Amarah Kapten pasti sangat besar..


"Kau, Eld, dan Gunther, besok temui Nico di tahanan. Jika ada yang bertanya, bilang atas izinku. Pastikan babi kotor itu memberi semua informasi."


Mendengar perintah mutlak dari Levi, Oluo dengan sigap memberi salute karena ia sangat mengerti maksud kaptennya. "Siap, Kapten! Kita.. harus menolong Petra."


"Besok aku, Petra, dan beberapa orang lainnya akan menelusuri jalur menuju Shiganshina," jelas Levi, "Bertindaklah secepat mungkin setelah mendapat informasi. Aku mengandalkanmu, Oluo."


Pria bersurai abu keperakan itu kembali memberi salute dan anggukan mantap, "Baik, Kapten. Serahkan padaku."


"Terimakasih, Oluo," ucap Levi tanpa disangka, membuat si pendengar yang tadinya hendak melangkah maju menuju pintu langsung mematung sejenak. Tak butuh waktu lama ia merasa bangga pada dirinya bak mendapat apresiasi.


Sungguh, hanya begini saja dirinya semakin ingin meniru kaptennya lebih dalam.


"Kapten.. percayalah, Petra tidak seperti itu.."


Levi menautkan alisnya, sedikit bingung. "Apa maksudmu?"


"Sepertinya.. aku mengerti perubahan sikapnya akhir-akhir ini, selain karena aku sudah mengenalnya cukup lama. Keadaan yang membuatnya menjadi begitu, "ucap Oluo menyimpulkan. "Kurasa.. hanya Kapten yang bisa menghiburnya."


"....."


"Rasa kepeduliannya padamu sangat besar, mungkin jauh melebihiku dan yang lain. Hanya dia.. yang bisa melakukannya, Kapten."


Kalimat tersebut kemudian diakhiri dengan senyuman tipis dan lanjutan ucapan permisi dari si pelontar rentetan kalimat itu.


Dan..


Terimakasih untuk Oluo, sang kapten Survey Corps itu pun sukses dibuat tenggelam dalam pikirannya kembali..


...• • •...


Perlahan tapi pasti, seorang gadis bersurai blonde undercut bisa mendengar suara isak tangis dari dalam kamar asrama bernomor 108 itu. Sedaritadi tangannya hanya diam menempel pada gagang pintu tanpa adanya reaksi lanjutan untuk membuka pintunya.


Apakah ia harus masuk sekarang?


Apakah Petra bersedia bertemu dengan dirinya?


Sungguh dua pertanyaan hasil pemikirannya itu membuat sifat keberaniannya seakan luntur begitu saja.


"Tapi.. aku khawatir padanya.."


Akhirnya, dengan setengah keyakinan ia membuka perlahan pintu itu. Tampak Petra yang sedang menangis dengan wajah terkejutnya, sama seperti dirinya yang tak menyangka melihat pemandangan itu.


"Maaf.. aku masuk tanpa izinmu," ucap Nanaba pelan.


Petra terlihat memalingkan wajahnya ke arah lain sembari berusaha keras mengelap air matanya yang terus saja berjatuhan seakan tak ada habisnya. Melihat itu, tatapan Nanaba menyendu.


"Jangan sok kuat di hadapanku. Sudah kuduga kau sedang tidak baik-baik saja." Nanaba menghampiri sahabatnya itu dan memutuskan untuk duduk disampingnya.


"Hei, bocah jahe, sampai kapan kau akan terus mendiamkanku begini, hm?"


"Kenapa.. kau kesini? Aku.. aku tidak boleh bertemu denganmu."


"Memang siapa yang melarangnya? Tuhan?" canda Nanaba, "Kalau aku yang ingin bertemu denganmu bagaimana?"


Petra meremas erat selimutnya, masih enggan untuk sekadar menoleh. "Maaf.. maafkan aku, Nanaba. Aku sungguh-"


GREBB!!


Nanaba memeluk erat Petra yang tampak hanya terdiam karena terkejut. Ditepuk-tepuknya pelan punggung kecil yang tak sebanding dengan punggungnya itu. "Tidak apa-apa, Petra."


Perlahan gadis jahe itu menangis lagi dan Nanaba membiarkannya. Ia tau bahwa ini yang dibutuhkan Petra sekarang.


"Maafkan aku. Kau jadi seperti ini karena aku. Maafkan aku. Aku bahkan hampir-"


"Hei hei sudahlah. Lihat? Ini tidak seberapa kok. Nanti juga cepat pulihnya," ujar Nanaba tertawa renyah sembari sengaja memamerkan semua balutan perbannya. "Haaahh kau beruntung punya sahabat yang kuat sepertiku."


Petra tersenyum kecil mendengar celotehan Nanaba, "Iyaa.."


"Petra, aku.. juga minta maaf padamu. Kurasa aku sudah sangat berlebihan sampai membuatmu juga seperti ini. Aku minta maaf."


"Tidak, kau tidak perlu minta maaf padaku."


"Sekarang tolong jujur padaku. Kau.. tidak baik-baik saja bukan?" tanya Nanaba sedikit tegas. "


Petra terdiam sebentar kemudian mengangguk pelan. "Iya. Bohong jika aku bilang baik-baik saja."


"Sudah kuduga. Aku sudah menyadarinya sejak kita bermain bersama Nifa. Kau itu tidak selalu pandai berbohong."


Gadis blonde itu pun merangkul erat Petra sembari tersenyum nyengir, "Kalau kau tidak mau cerita sekarang tidak apa-apa, Petra! Aku bersyukur kau sudah jujur padaku!"


"Hn, terimakasih, Nanaba."


Kedua sahabat itu pun.. saling bertukar senyum dan tawa kembali, menambah kesan hangat diantara mereka. Ya, mereka memutuskan untuk melupakan semua kejadian buruk itu.


Biarlah itu semua berlalu..


...-----------------...