![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
...• • •...
"Bagaimana perasaanmu sebenarnya?"
Petra terkejut mendengar pertanyaan itu, "Eh?"
Langkah kaki itu perlahan mendekat, membuat Petra pun tersentak mundur. Netra almond miliknya sebisa mungkin menghindari tatapan lekat dari safir legam itu.
Spontan menghindar..
Bagaimana tidak? Jarak diantara kedua insan itu kian terkikis.
Kenapa.. harus sedekat ini?! Apa sebenarnya yang ingin dikatakannya? batin Petra panik.
Dari sudut matanya, Petra melihat kaptennya seperti ingin mengangkat tangan, namun beberapa detik kemudian kembali dikepal dan diturunkannya.
"Apa menurutmu.. seperti ini selalu lebih baik?"
"Maaf, a-apa maksudmu, Kapten?"
Sungguh dua pertanyaan yang terlontar itu ia benar-benar tidak mengerti. Apa otak kecilnya kali ini tengah berkhianat agar bergerak lambat?
"Mengerti bagaimana perasaan terhadap seseorang.. kenapa itu berkatku?"
Petra tertegun. Ah, kenapa waktu itu bisa mulut bodohnya mengoceh hal seperti itu.
Lebih tepatnya.. ungkapan sepihak.
"Ah i-itu.." ucap Petra gugup sembari menggigit bibirnya, "Aku hanya ingin mengungkapkannya. Karena Kapten.. aku tau bagaimana arti perasaanku kepada seseorang."
Lagi-lagi gadis itu melontarkan kalimat yang penuh dengan beragam arti. Sejujurnya Levi tidak bisa berbuat apapun hingga dia hanya bisa menjawab, "Begitu rupanya."
Apa hatinya sedang mengharapkan hal lain dari Petra? Entah kenapa mendengar jawaban itu.. hatinya sedikit kecewa.
Terdengar helaan nafas dari gadis itu, meskipun terdengar pelan, Levi masih bisa mendengarnya.
Kenapa?
Kenapa Petra bereaksi seperti itu?
Apa ada yang salah dengan balasannya?
Saat Levi tengah bergelut dengan pemikirannya, satu pertanyaan membuatnya terkejut.
"A-apa.. Kapten juga.. sedang menyukai seseorang?"
"Kenapa kau memberi pertanyaan seperti itu?"
"Maafkan aku! A-aku akan menarik lagi pertanyaan lancang itu," cicit Petra dengan nada yang perlahan semakin pelan.
Levi terdiam sebentar. Sorot matanya menyiratkan kebingungan. "Hubungan percintaan adalah sesuatu yang rumit. Aku tidak pernah berpikir-"
"Ah, begitu rupanya," sela Petra. Ia tau kalau akan berakhir seperti ini, "Yah, itulah Kapten yang sebenarnya."
"Apa maksudmu?"
Sejujurnya Petra sedikit kecewa karena kaptennya terlihat jelas tidak mau melanjutkan topik ini.
"Tidak, hanya saja menurutku.. itulah Kapten Levi yang memang kukenal. Ah, kurasa aku harus segera ke lapangan. Maafkan aku karena telah mengganggu waktumu." Petra berusaha memasang senyum, tampak getir, sebelum keluar dari ruangan.
Namun, belum mencapai sepersekian detik menuju pintu, langkahnya kembali dicegah. Levi menariknya mundur dan seketika tangan kokoh itu memegang bahunya erat.
"Kenapa kau bersikap seperti ini, Petra?"
Sorot safirnya terlihat sangat serius kali ini, tatapan yang sangat dalam. Tanpa sadar Petra kembali mengalihkan pandangan. Dadanya terasa sesak.
Kenapa disaat seperti ini ia malah ingin menangis?
"Tidak apa-apa. Maaf.. kalau semua perkataanku membuat bingung. Kalau begitu.. tolong lupakan semuanya, Kapten."
Menyadari adanya nada bicara yang sedikit bergetar dan terdengar lirih, Levi perlahan melepas tangannya, berpikir tindakannya terlalu berlebihan.
Levi menatap sendu ke arah Petra, sembari membiarkan langkah kaki itu semakin menjauhinya, menghilang dari pandangan.
Bodoh sekali. Tubuhnya tidak tergerak kembali sedikitpun untuk menggapai eksistensi yang telah memberi banyak pertanyaan itu kepadanya.
Mungkin.. keduanya masih butuh pikiran jernih..
"Petra! Oi, Petra!"
Gadis yang sempat kehilangan fokus itu menoleh ke arah Oluo yang memanggilnya, "Iya?"
"Apa melamun adalah hobi barumu sekarang? Kau sudah dipanggil daritadi!"
Petra sontak menoleh ke arah lapangan tempat salah satu prajurit junior yang bertugas membacakan peserta latihan, memastikan kebenaran dari perkataan Oluo tadi.
"Senior dua Petra Rall dari Tim Kapten Levi! Senior dua Nanaba dari Tim Kapten Mike Zacharius! Harap menuju lapangan!"
"Wah wah, semangat Petra! Kami pasti mendukungmu!" ujar Gunther memberi semangat.
"Jangan lengah walaupun lawanmu adalah si Nanaba itu, oke?" Eld menepuk-nepuk bahu Petra, "Kami percaya kau pasti bisa."
"Aku tidak akan menggigit lidahku demi mendukungmu hari ini!" cibir Oluo.
Pertra hanya bisa tersenyum kecil membalas dukungan teman-temannya itu. Dirinya masih terkejut bukan main. Ia langsung mengalihkan atensi ke arah Nanaba yang berada tidak jauh darinya. Terlihat gadis blonde itu pun memasang ekpresi wajah yang sama sepertinya, sangat terkejut.
Lawanku.. adalah Nanaba? Kami berdua.. benar-benar akan bertarung?!
"Petra.. kau tidak apa-apa?" tanya Eld yang melihat Petra tampak terdiam saja.
"I-iya.. aku tidak apa-apa."
"Aku tau Nanaba adalah sahabat dekatmu. Tapi, meskipun begitu kau harus tetap melawannya."
Dengan berat hati, Petra hanya bisa mendengarkan perkataan Eld dan menuntun dirinya untuk segera ke lapangan. Semua langkahnya terasa sangat berat, ditambah banyak pasang mata tertuju padanya, membuatnya sedikit gugup dan takut secara bersamaan.
Kenapa harus Nanaba? Kenapa harus aku yang melawannya?
Ketika dua wanita itu sampai di titik arena, keduanya saling terdiam beberapa saat. Keduanya bahkan bisa melihat raut keterkejutan dan kekhawatiran satu sama lain.
"Oi, kenapa harus aku yang melawannya? Siapa yang membuat daftarnya?!" Akhirnya Nanaba angkat bicara terlebih dulu, sedangkan Petra hanya bisa terdiam.
Prajurit itu tampak ketakutan ingin menjawab karena melihat raut kemarahan Nanaba. Melihat itu Petra segera menenangkannya, sebelum mereka menjadi pusat perhatian sepenuhnya. Apalagi ini disaksikan langsung oleh banyak petinggi militer, termasuk Darius Zackley.
"Jawab aku, bodoh."
"I-itu.. divisi data militer, Senior. Sa-saya kurang tahu soal ini," jawab prajurit itu.
Nanaba berdecih pelan mengumpat, "Sialan, mereka itu!"
Petra tersenyum simpul. Sepertinya memang ia harus bertarung. Dirinya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mana mungkin mereka meminta untuk pergantian lawan? Bisa-bisa mereka didiskualifikasi karena dianggap telah menentang peraturan.
"Nanaba, kau bilang kita harus siap bukan?" Petra melempar tatapan yang serius, "Maka.. kita harus begitu apapun hasilnya."
Nanaba pun kemudian menghela nafas pasrah, "Kau benar. Apapun hasilnya nanti, kita harus menerimanya."
Dengan pemantapan hati dan diri yang mereka siapkan, mereka pun menerimanya. Spontan teriakan sorak-sorai terdengar dari segala penjuru. Tampaknya seluruh manusia itu pun antusias untuk melihat, karena bisa dikatakan ini adalah pertarungan dengan lawan sempurna dari dua anggota squad elite militer.
"Semangat, Petraaa!!!" teriak Oluo tak mau kalah, "Kalau kau berhasil, kau harus mengajariku bertarung sebulan penuh!!"
Si bodoh itu benar-benar membuatku malu..
Ketika netra karamel itu menyapu pandang ke segala penjuru, tampak sepasang safir legam tengah menatapnya dari sudut tempat petinggi militer berada.
Pastilah itu milik Levi.
Tak sampai tujuh detik kontak mata itu terputus dari keduanya, mencoba menghindar satu sama lain.
"Kalian berdua sudah siap?!" Suara bariton milik Keith memekakkan telinga, membuat Nanaba dan Petra mengangguk bersamaan.
"Kalian adalah prajurit! Situasi seperti ini buang sisi lembut kalian, mengerti?!"
"Siap mengerti, Pak!"
"Kalau begitu.. mulai sekarang!!"
Begitu instruksi didapat, keduanya pun langsung mengerahkan teknik pertarungan satu sama lain. Dua pasang mata itu saling bertukar atensi.
DUKK!!
BUAAGGHH!!
DUAGH!! DUAKK!!
Petra berhasil mendapat pukulan telak di wajah kirinya hingga sudut bibir itu mengeluarkan darah.
"Petra, kau tidak apa-apa-ARGH!!"
Tiba-tiba pergerakan Nanaba berhasil dibekuk erat oleh Petra. "Jangan lengah hanya karena lawannya aku!"
"Tch, baiklah.. kalau itu maumu, Petra. Kau yang akan kubuat lengah."
Kunci pergerakan, tumbangkan lawan..
Kunci pergerakan, serang titik vital, lumpuhkan lawan..
Kepalan tangan Nanaba berjarak beberapa senti dari wajahnya, hampir mengenainya lagi jika tidak segera menundukkan kepala. Langsung saja Petra menggamit kaki Nanaba dan menumbangkannya ke samping kanan. Gadis blonde itu tampak merintih beberapa saat.
Petra menahan kedua bahu Nanaba tetap berada di tanah. Ia hendak memukul wajah Nanaba, tapi entah kenapa kembali diurungkannya niat itu. Menyadari hal itu, Nanaba tidak membuang kesempatannya. Ia langsung menggamit pinggang Petra dengan kedua kakinya, membuat gadis jahe itu goyah dan terpaksa melepasnya. Keduanya langsung berada dalam posisi siap lagi, sembari memasang jarak cukup jauh diantara mereka.
Kenapa.. tadi kau tidak melakukannya? gumam Nanaba dalam hati.
"Sesi 1 telah selesai! Sekarang berlanjut ke sesi 2!" perintah Keith. Kemudian, salah satu prajurit memberikan dua pisau kayu.
Keduanya pun memperhatikan sejenak objek yang ada di tangan masing-masing. Meskipun dalam bentuk kayu, ujung pisau pastilah selalu tajam. Mereka sudah tau akan hal itu. Walaupun pisau itu dibuat khusus hanya untuk latihan dan pertarungan, pasti tidak mungkin hanya sekadar aksesoris.
Dunia militer.. tidak sebaik itu.
Nafas terengah-engah saling beradu di antara mereka. Tatapan dua pasang mata yang begitu lekat, mencoba mengawasi satu sama lain. Petra memasang posisi khasnya, tangan kanan memegang pisau di atas dan tangan kiri sebagai pelindung utama, sedangkan Nanaba dominan memegang pisau di tangan kirinya.
Didahului dua langkah, Petra pun menyerang lebih dulu. Netra almond itu kini bergerak kesana-kemari mengikuti pergerakan lawan dihadapannya, membaca dan menerka kemana arah terjangan pisau.
TRAKK!!
Pisau mereka sampai pada tahap saling beradu. Keduanya saling memberi tenaga untuk menahannya. Hingga Petra tampak tidak kuat lagi untuk menahannya melihat tenaga Nanaba begitu besar dikerahkannya.
SRET! DUAKK!!
Nanaba terkejut karena menyadari pukulannya telah mengenai balutan luka di wajah Petra, sekaligus berhasil menorehkan satu goresan di lengan kiri itu.
"Aaarrgghh.." Petra memegang balutan luka itu, tampak sudah berwarna merah tanda mengeluarkan darah. Ia pun menatap lekat goresan di lengan kirinya. Beberapa detik kemudian nafasnya terasa sangat sesak dan tubuhnya gemetar.
SREETT..
"Aarghh!!!"
"Lihat? Bentuk tandanya sama sepertiku bukan?"
"Kenapa kau melakukan ini? Apa aku bahkan mengenali kalian?!"
"Kau akan lebih mengenalku nanti. Tapi, tentu saja aku tau tentang dirimu, Petra Rall.."
Petra menggelengkan kepalanya, mencoba menepis semua ingatan buruk itu, sembari menepuk-nepuk dadanya yang semakin sesak. Dirinya tak mengindahkan beberapa kali panggilan dari Nanaba.
Entah kenapa kala itu.. waktu seakan dipaksa melambat oleh rentetan ingatan..
Ingatan buruk itu.. benaknya kembali membangkitkannya..
CUUPP..
"Wah, rasanya manis sekali," Pria itu mengusap bibirnya sendiri, "Barangku begitu sempurna.."
DEG!
"Petra!"
"Petra! Kau tidak apa-apa?"
Tiba-tiba tangan itu seakan tergerak sendiri untuk menepis keras tangan Nanaba yang sudah memegang kedua bahunya, membuat gadis blonde itu tersentak kaget.
Tatapan itu.. kini terlihat sangat berbeda..
Nanaba yang menyadari hal itu merasa bingung. Melihat Petra yang perlahan maju dengan tatapan tajamnya sembari memegang pisau membuatnya tergerak mundur perlahan.
Kembali Nanaba dibuat terkejut ketika sahabatnya langsung menerjang ke arahnya dan berhasil membuatnya kehilangan kendali atas pisau miliknya.
Petra, apa yang terjadi padamu?! Gerakanmu.. sangat berbeda dari sebelumnya!
Dengan segala pertanyaan yang memenuhi kepalanya, Nanaba tidak sadar bahwa Petra telah berhasil menggores lengannya sebanyak dua kali sehingga membuatnya kehilangan fokus.
DUAAGGHH!!
Satu tendangan dari Petra berhasil mengenai tulang rusuknya. Gadis blonde itu dibuat merintih sembari meringkuk. Tak sampai lima detik ia melihat Petra telah berdiri di atasnya, sudah dalam posisi siap memukul.
"Tunggu-"
DUAKK!! BUAAGGH!!"
BUGH!! DUAKK!!
"Pertarungan telah selesai! Pertarungan ini dimenangkan oleh senior dua Petra Rall dari Tim Kapten Levi!"
"Ayah tidak punya pilihan lagi, Nak. Ayah tidak bisa.. membiarkan Ibumu terus menahan rasa sakitnya. Ayah juga terlalu malu untuk terus bergantung pada hasil jerih payahmu.. sebagai seorang prajurit."
DEG!
"Aaarrgghh!! Petra-"
DEG!
"Aku tidak pantas menjadi seorang Ayah. Aku.. pantas dihukum. Aku telah membunuh adikmu.."
DEG!
"Hubungan percintaan adalah sesuatu yang rumit. Aku tidak pernah berpikir-"
"Ah, begitu rupanya. Yah, itulah Kapten yang sebenarnya."
DEG!
"Le.. paskan.. Petra.. ku.. mohon.."
DEG!
"Kenapa kau bersikap seperti ini, Petra?"
"Maaf.. kalau semua perkataanku membuat bingung. Kalau begitu.. tolong lupakan semuanya, Kapten."
DEG!
"Petra!"
"Petra, hentikan!"
SREETT!!
Suara pisau yang telah menggores sesuatu pun terdengar cukup keras. Tak hanya itu, terdengar suara rintihan seseorang, juga suara keterkejutan banyak orang di sekeliling yang memenuhi pendengaran.
Netra hazel itu.. kini sukses membulat sempurna..
Terlihat sahabatnya sendiri tengah merintih kesakitan akibat banyak luka memar di wajah, sembari memegang lehernya yang sedikit membiru.
Dan..
Sosok kaptennya yang sudah berdiri disampingnya dengan tatapan lirih. Tangannya.. mengeluarkan darah..
Petra menatap lekat kedua tangannya dengan tubuh yang semakin gemetar dan nafas tersengal-sengal.
Apa yang sudah kulakukan?
Kenapa.. kenapa denganku tadi?
"Petra.." panggil Nanaba lirih sambil dirinya sedikit terbatuk, "Kenapa.. denganmu?"
Petra menggelengkan kepala sembari mulai menangis pelan. "A-aku.. aku.." Dan kemudian tatapannya kembali beralih ke Levi.
"Kapten.."
"Ada apa denganmu, Petra?" tanya Levi dengan suara lirih. Safirnya menyiratkan banyak arti pandangan yang Petra sulit terjemahkan sekarang.
"Hei, kenapa kau sampai berani melukai Kapten Levi?!"
"Kau hampir membunuh mereka, dasar bodoh!"
"Kau pantas didiskualifikasi!"
Sontak teriakan amarah beberapa orang menggema memenuhi lapangan. Bahkan, tak sedikit yang mengeluarkan kata-kata buruk pada Petra.
Tanpa sadar air matanya semakin mengalir deras, membuat hati dan pikirannya semakin dipenuhi rasa bersalah. "M-maafkan aku.."
Dengan terburu-buru, dirinya langsung meninggalkan lapangan.
Namun.. beberapa langkah ia hentikan.
Semua yang ada disekelilingnya terasa berputar. Pandangannya memburam dan kepalanya terasa sangat sakit.
Dengan pasti.. Petra bisa merasakan ada darah yang mengalir dari hidungnya..
Hingga tubuhnya pun berkhianat.. terjatuh ke tanah begitu saja..
...-----------------...