Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (18)



"Baik, akan kumulai sidang atas kasus ini!" Zackley mengetuk palu sebanyak satu kali. Semua orang yang ada di ruang pengadilan langsung memfokuskan atensinya ke arah Zackley.


"Kasus ini tergolong kasus tingkat berat karena menyangkut perampasan kebutuhan rakyat, teror dalam wilayah, dan pembantaian kelas berat. Organisasi mafia adalah salah satu yang menghambat pasukan militer untuk beroperasi serta menghambat proses perdamaian kehidupan tembok ini. Sang pelaku utama, Nicolas Ravelis adalah pemimpin dari organisasi mafia ini, menggunakan alasan pribadi untuk menjalankan organisasi, yaitu ingin membunuh salah satu petinggi militer kami, Kapten Levi, menghancurkan Pasukan Pengintai, serta hampir membunuh salah satu anggota Pasukan Elite, saudari Petra Rall. Sekian penjelasan dari saya. Saya beri kesempatan kepada pihak pembela."


"Baik, Yang Mulia. Saya menyatakan bahwa organisasi mafia masihlah tergolong jarang sehingga tidak akan membahayakan dan mengancam kehidupan rakyat. Organisasi semacam mafia masih bisa diminimalisir oleh pihak pemerintah. Seperti yang kita ketahui pihak pemerintahan juga masih kurang tanggap dalam menangani rakyat sehingga munculah pemberontakan baik dari dalam maupun luar wilayah. Oleh karena itu, saya ingin menyanggah, bahwa kasus ini hanya tergolong sebagai kasus tingkat rendah. Sekian, Yang Mulia," terang sang pembela.


"Saya beri kesempatan kepada pihak korban dan saksi kedua."


Erwin mengangkat tangan lalu berdalih, "Menurut saya, pembelaan tersebut tidak berdasar. Seperti yang kita tau bahwa saat ini rakyat sedang mengalami krisis ekonomi dan kebutuhan rakyat dikarenakan banyak yang kehilangan lahan sejak kehancuran Shiganshina dan Wall Maria. Jika organisasi mereka dibiarkan, maka kehidupan rakyat akan menjadi semakin buruk. Selain itu, organisasi mereka sangat mengancam keselamatan prajurit-prajurit kebanggaan kami. Terlebih kebencian mereka terhadap Pasukan Pengintai, terutama Pasukan Elite. Kasus ini tergolong tingkat tinggi. Cukup dari saya, Yang Mulia Zackley."


"Saya beri kesempatan kepada pihak saksi utama, silahkan."


Salah satu perwakilan rakyat dari Distrik Krolva pun berdiri. "Terimakasih, Yang Mulia. Saya sebagai perwakilan dari masyarakat Distrik Krolva akan angkat bicara. Organisasi mereka dijuluki sebagai 'Mafia Pembantai Segalanya'. Kami selaku warga Krolva sangat tidak terima dan sangat terancam dengan kehadiran mereka. Mereka sudah merampas kami sejak bertahun-tahun. Jika kami tidak memberinya, mereka tidak segan menggunakan kekerasan. Mereka akan menjadikan kami santapan Titan bila kami berani melapor kepada pihak berwajib. Oleh karena itu, kami mengharapkan hukuman yang setimpal untuk mereka!"


Semua warga yang ada di ruangan tersebut bersorak-sorak menyetujui pernyataan yang dikemukakan perwakilan mereka. Zackley langsung mengetuk palunya sebanyak 3 kali.


"Hadirin harap tenang! Dengan ini, pernyataan ketiga pihak untuk sementara telah ditampung. Dikarenakan saudari Petra Ral belum sadar dari masa pemulihan dan tidak bisa memberi kesaksian, saya minta Kapten Levi sebagai perwakilan dari pihak korban untuk memberikan pernyataan."


Mendengar namanya dipanggil, Levi pun melangkahkan kedua kakinya ke tengah ruangan dan menghampiri Nico. Tatapan tajamnya sudah sedari tadi ia lemparkan ke arah pria bernama belakang Ravelis itu.


"Ha! Akhirnya kau disini! Bagaimana? Apa gadis itu sudah ma-"


DUAAKK!!


Semua orang sontak terkejut ketika melihat Levi yang langsung menendang wajah Nico begitu saja. Sedangkan Zackley dan beberapa pasukan militer yang lain hanya bisa terdiam melihat kebrutalan seorang Levi karena mereka tau perlakuan Levi adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Oluo, Eld, dan Gunther yang ikut hadir di barisan bersama Erwin pun hanya bisa meringis ngilu melihat pemandangan tak bermanusiawi itu.


"Maaf Yang Mulia, tapi kakiku sudah gatal ingin menendangnya." Levi menginjakkan kaki kanannya di bahu Nico.


"Brengsek! Sialan kau, Levi!" hardik Nico sambil memberontak.


BUGGHH!! DUAAKK!!


Masih dengan ekspresi yang sama, semua orang terbelalak dan terperangah melihat Levi yang begitu berani dan kejam. Pasalnya, pria yang menjabat sebagai kapten itu sedang menendang-nendang wajah dan perut sang pelaku. Wajah yang semula mulus itu langsung terlihat menyedihkan dalam sekejap.


"T-tunggu, Kapten.." cicit salah satu perwakilan warga, membuat Levi menghentikan aksinya sejenak dan menoleh ke sumber suara.


"Bagaimana.. jika nanti dia akan semakin dendam dan menghancurkan kota kecil kami?"


"Haahh? Kau pikir orang pengecut seperti dia.. bisa melakukannya?" tanya Levi sambil mengangkat kepala Nico. Sedangkan yang diperlakukan sedang memberikan tatapan bengisnya.


"Bahkan para cecunguknya saja sudah tidak mau diperbudak lagi olehnya."


"DIAM KAU! CEBOL BRENGSEK! KAU-"


BUGGHH!! DUAKK! DUAKK! DUAKK!!


"Aku tidak akan memberikan pernyataan. Tapi, bajingan ini yang akan memberikannya," tukas Levi masih dengan kaki kanannya yang menginjak kepala Nico.


"Tidak.. akan!!"


DUAAKK!! DUAAKK!!


Nico dibuat muntah darah. Ia meringis kesakitan karena dirasa wajahnya bengkak dan berdarah-darah. "Aku benci pasukan militer! Terutama Pasukan Pengintai!"


"Apa-apaan dia?!"


"Beraninya keparat itu!"


"Pasukan Pengintai sangat menyusahkan kami! Kalian nyatanya tidak pernah memakmurkan masyarakat! Semua sumpah komandan kalian hanyalah bualan! Palsu! Impian semata!" teriak Nico menggertak marah.


"Beraninya kau menghina Komandan Erwin!" balas salah satu prajurit Survey Corps.


"Lalu dia.. adalah musuhku sejak masih di bawah tanah! Aku dengar bahwa dia bergabung dengan Survey Corps. Aku ingin sekali menghancurkannya. Aku mencari seluruh data anggota Survey Corps dan aku ingin membantai satu persatu anggota Pasukan Elite yang dipimpinnya! Asal kalian tau, kapten yang kalian hormati ini dulunya adalah preman liar bawah tanah! Kalian tidak pantas tunduk kepadanya!"


Levi berdecih, dasar bodoh.


"Kami sudah tau, bodoh!"


Nico tersentak dengan balasan orang-orang yang ternyata sudah mengetahui identitas Levi. Semua orang langsung menyorakinya.


"Oi babi! Kau pikir aku masuk Pasukan Pengintai tanpa melaporkan identitasku?"


"Sial.." umpat Nico pelan.


"Yang Mulia Zackley.." Tiba-tiba di sayap kanan Erwin mengangkat tangan menginterupsi, membuat semuanya mengalihkan pandangan.


"Saya ingin meminta permohonan untuk mencabut tuntutan hukuman mati kepada pemuda ini."


Semua orang seketika terkejut mendengar pernyataan Erwin, termasuk Nico dan Levi.


"Komandan, tapi dia telah membahayakan kami-"


Erwin memotong terlebih dahulu sebelum terjadi kesalahpahaman, "Namun, sebagai gantinya dia harus dituntut hukuman seumur hidup penjara dan hukuman pelanggaran Pasal Undang-Undang, pembebasan bersyarat. Kasus ini didasarkan atas balas dendam sepihak. Saya pikir dia perlu diberi wawasan yang lebih luas melihat latar belakang pemuda ini. Sekian dari saya."


"Kenapa.. kau melakukan ini? Kau.. kau pasti akan memanfaatkanku kan setelah ini-ARGH!!" Nico merintih lantaran Levi kembali menginjak kepala berharganya.


"Sungguh tidak tau terimakasih. Apa otak kecilmu itu hanya berisi kebencianmu pada kami?"


Zackley berdeham untuk menyudahi, "Atas permintaan pihak korban, dengan ini saya putuskan bahwa.. saudara Nicolas Ravelis dijatuhi hukuman seumur hidup penjara dan pelanggaran Pasal Undang-Undang pemerintahan, namun tanpa pembebasan bersyarat. Tindakan terkait pencarian menyeluruh pihak pelaku akan ditanggung oleh Polisi Militer. Saya nyatakan bahwa kasus ini.. ditutup!" 3 kali suara ketukan palu itu sontak membuat seluruh manusia yang ada di ruangan itu menghela nafas lega dan bersorak, terutama masyarakat kota kecil Distrik Krolva.


Levi memegang erat bahu Nico, sontak membuat Nico menoleh. "Hiduplah sesukamu. Bencilah padaku. Tapi, jangan halangi kami untuk mencapai tujuan kami. Suatu saat kau akan mengerti.. kenapa aku memutuskan untuk membuang jati diriku di masa lalu."


Nico tersentak mendengar ucapan yang dilontarkan dari mulut seorang preman liar yang dulu ia kenal, "Levi, kau.."


Levi pun melangkahkan kedua kakinya, enggan untuk memperpanjang pembicaraan, meninggalkan Nico yang masih terdiam kaku di belakangnya..


...----------------...


Hai hai! Ada Author disini πŸ‘


Gimana ni kabar kalian??


Semoga sehat selalu yak πŸ™


Scene persidangan ini Author bikin sendiri soo maap banget yaa kalo kurang sesuai dengan aturan yang benernya 😌


Udah si gitu aja, enjoyy selalu yakk!!


Stay safe! Stay healthly!


Salam Author πŸ™