Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (20)




...• • •...


Levi memutuskan untuk ikut langsung mengawasi Nico ke sel tahanannya. Hal ini pun juga sudah disetujui oleh Erwin. Bersama dengan satu prajurit Polisi Militer, mereka bertiga menuju sel isolasi khusus untuk bos mafia yang bisa dikatakan sudah menyerah dan pasrah itu. Beberapa anak buahnya juga telah dijebloskan ke penjara di bawah naungan Polisi Militer langsung, termasuk Nial.


"Ya ampun, kau sampai segitunya mau menemaniku, Levi," ejek Nico memberi seringaian.


Levi berdecih, "Aku hanya memastikan kau tidak akan bisa kabur karena kalau sampai itu terjadi aku akan menebas lehermu."


"Iya iya, haahh kau masih sama menyeramkannya seperti dulu."


Sampailah mereka di ruang isolasi tepat di ujung koridor penjara. Ruangan tersebut hanya memiliki satu ventilasi kecil untuk menghirup udara luar. Dindingnya kedap suara dan terdapat sebuah lampu remang-remang yang minim pencahayaan pula. Tersedia kloset dan tempat tidur yang tentu saja jauh dari kata king size. Ya, kriteria ruangan yang sangat cocok untuk penjahat kelas berat.


Prajurit Polisi Militer itu lalu memborgol kedua tangan Nico yang sudah kehilangan dua dari sepuluh jari akibat kekejaman seorang Levi.


"Aku akan mengurus babi ini sebentar," kata Levi pada prajurit itu sambil menyeret Nico ke dalam ruangan. Prajurit itu langsung meneguk ludahnya mendengar kalimat tajam nan mutlak kapten Pasukan Elite itu. Ia langsung mengangguk menuruti sembari memberi hormat.


"Bukankah itu terlalu sarkas, kapten Levi yang terhormat?" Nico meringis pelan mengingat sepertinya sudah dua kali dirinya dipanggil 'babi'.


"Pantas untukmu. Itu juga panggilan yang biasa."


Jadi.. ada yang lebih parah dari panggilan 'babi'..


"Langsung saja, bagaimana kau bisa naik ke permukaan?" tanya Levi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Hah? Kau kemari hanya ingin bertanya itu?"


"Jawab saja!"


Nico menghela nafas, "Simpel saja. Aku menyogok penjaga gerbang yang menjaga perbatasan menuju ke atas. Kau tau aku ke atas sana hanya demi urusanku denganmu! Sejak kau, Isabel, dan Farlan mencuri bagianku, Kalajengking Hitam menetapkan tujuan untuk memusnahkan kalian bertiga. Kemunculan kalian juga membuat reputasiku ternodai."


"Kalajengking Hitam, tch. Jadi, itu bukan hanya sebutan untukmu tapi juga perkumpulanmu. Juga.. bagian untuk membunuh Erwin dan mencuri gulungan dokumen itu?"


Nico mengangguk, "Karena itu juga merupakan misi paling penting untuk kami. Seharusnya, pak tua sialan itu memberinya pada kami, bukan kalian bertiga."


"Lalu.. kenapa sampai mengincar reguku juga?!"


"Karena.. regumu juga bagian dari kehidupanmu." Nico tersenyum menyeringai sehingga membuat Levi langsung menarik kerah baju Nico.


"Hei hei lepaskan.. itu dulu.. sekarang aku sudah menyerah kok, percayalah. Santai saja, okey?"


Levi menghempas kasar tubuh Nico, "Sampai mati pun, bajingan sepertimu tidak bisa dipercaya."


"Terserah kau saja. Aku hanya tidak percaya preman liar sepertimu bisa bergabung dengan Survey Corps yang dipimpin langsung oleh Erwin Smith, itu membuatku jijik. Kenapa kau mau menjadi prajurit Survey Corps? Dan.. aku tidak pernah melihat Isabel dan Farlan lagi. Kemana mereka?"


Levi terhenyak mendengar nama kedua sahabat berharganya disebut. Tidak, mungkin lebih pantas disebut sebagai keluarga keduanya setelah kematian Kuchel, sang ibunda. Pikirannya kembali menerawang kejadian miris itu yang membuatnya menghukum dirinya sendiri sampai sekarang.


"Bisa dibilang itu semua karena kebodohanku di masa lalu. Nyatanya, kau beruntung karena tidak mendapat bagian itu."


"Hah? Apa maksudmu?" Nico menautkan kedua alisnya, bingung.


"Alih-alih Erwin, mereka berdua yang terbunuh."


Nico sukses membelalakkan matanya terkejut, "Kenapa.. bisa?"


Nico menghela nafas pelan sambil menundukkan pandangannya, "Lalu.. itu mengarah ke Isabel dan Farlan?"


"Lebih tepatnya.. sudah membunuh mereka berdua." Levi mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras dan giginya mengatup sangat rapat.


"Levi.."


"Erwin sudah tau rencana busukku. Tapi, dia hanya memberitahuku untuk tidak menyesal dalam mengambil sebuah keputusan. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk menaruh kepercayaanku pada Erwin."


"Hoo, sekarang aku mengerti kenapa kau membuang jati dirimu di masa lalu."


"Akhirnya otak bodohmu itu berguna juga."


"Lebih baik aku memiliki otak yang bodoh dibandingkan tubuh cebol sepertimu."


Levi berdecih sambil menatap sinis ke arah Nico. Sedangkan yang ditatap hanya terkekeh pelan, "Bercanda bercanda.."


"Permisi, Kapten Levi!" Prajurit Polisi Militer yang sebelumnya ikut bersama mereka datang kembali. Dari gelagatnya, Levi tau dia pasti ingin menyampaikan sesuatu. Levi pun menutup ruang isolasinya dan memastikan Nico tidak bisa mendengarnya dari dalam. Sebelumnya dia memberi isyarat dulu kepada Nico dan Nico mengangguk paham. Meskipun mereka sempat berbincang, namun Levi tetap memprioritaskan privasi laporan, baik yang bersifat penting maupun tidak.


"Ada apa?"


Prajurit itu memberi hormat terlebih dahulu. "Saya ingin memberi kabar dari Ketua Hanji bahwa Nona Rall sudah sadar."


Levi terkejut. Hatinya terasa sangat lega mendengar kabar itu. Dalam hati ia mengucapkan rasa syukur. Tanpa sadar senyuman tipis terukir di wajah tajamnya. Apa dirinya juga merasa.. senang?


"Terimakasih atas informasinya. Kebetulan aku sudah selesai disini. Kau bisa berjaga sekarang," tutur Levi.


"Baik, kapten!" Prajurit itu kembali memberi salute sampai seperginya Levi dari hadapannya.


...• • •...


"Kapten!" Oluo, Eld, dan Gunther memberi salute sekembalinya kapten mereka. Sebelumnya, Levi memerintahkan mereka untuk menunggunya di depan gedung persidangan saja. Mereka juga sudah menyiapkan kuda sang kapten.


"Kita segera kembali ke base. Petra sudah siuman."


Oluo, Eld, dan Gunther sontak kegirangan dan langsung mengucap syukur. "Siap, kapten!"


...• • •...


Tubuh yang terasa kaku dan linu membuat gadis bersurai madu itu memutuskan untuk pergi ke balkon kamarnya dengan tujuan agar tubuhnya bisa sedikit rileks. Menghirup udara senja menurutnya juga sangat nikmat, terlebih sambil memandang hamparan rumput dan tanaman hijau di sekeliling kastil. Tubuhnya memang belum terlalu bisa bergerak bebas karena perban yang membaluti hampir setiap bagian tubuhnya, membuatnya merasa 'berat'. Namun, Petra bersyukur ia masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan bersama orang-orang yang ia cintai.


Petra menghirup nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, salah satu bentuk rasa syukurnya. "Ayah.. tadi aku bertemu Revan." Tatapannya lurus mengarah ke matahari terbenam di arah barat.


"Kau harus berterimakasih padanya karena kalau saja dia tidak membangunkanku.. mungkin aku sudah pergi ke dunia Revan, Ayah." Petra menyelipkan anak rambutnya, menambah kesan cantik pada diri gadis itu.


"Kau disini rupanya.."


Suara khas itu terdengar jelas di telinga Petra, membuatnya langsung menoleh untuk melihat perawakan tersebut.


Tampak tubuh mungil nan tegap itu sudah berdiri di belakangnya. Nafasnya terlihat kelelahan, namun Petra tau ia sedang berusaha menetralkannya. Gadis beriris almond itu mempersembahkan senyuman yang lembut di wajah pucatnya.


"Kapten.."


...----------------...