Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (17)



3 JAM SEBELUM PERSIDANGAN..


Gadis bersurai jahe itu masih enggan untuk membuka kedua matanya, tidak, lebih tepatnya Tuhan belum mengizinkannya untuk kembali menghadapi dunia. Disamping gadis malang yang terbaring itu, terdapat seorang pria yang masih menunggunya dengan sabar. Lipatan tebal di bawah matanya menunjukan pria itu mungkin hanya menghabisi sekitar 2-3 jam untuk sekedar memejamkan mata. Kedua safir redupnya terus menatap gadis dihadapannya, menunjukkan atensinya tak pernah luput padanya.


"Oi, bangunlah.. kenapa kau suka sekali tidur lama-lama?"


Tangannya terjulur untuk menggenggam tangan dingin nan pucat itu. "Kau hebat.. bisa bertahan sampai sejauh ini, Petra."


Selain dua manusia berbeda gender itu, ternyata terdapat eksistensi seorang pria di celah pintu kamar tersebut, diam-diam memperhatikan mereka. Pria itu terlihat sedang menatap lekat sang kapten.


Kapten Levi terlihat peduli sekali pada Petra. Pasti ia sudah menganggap Petra sebagai orang yang berharga dalam hidupnya..


"Aku tau ada orang disana."


Seketika lamunan pria itu buyar dan langsung mengembalikan lagi niat awalnya membawakan sarapan untuk kaptennya.


"P-permisi, Kapten.." Dengan kegugupan yang melandanya karena takut proses penguntitannya tadi ketahuan, pria itu buru-buru melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


"Apa yang kau lihat?" Terlihat sang kapten sedang menatapnya dengan tatapan maut diiringi dengan suara tajam khasnya. Pria yang sedang ditatap itu adalah Oluo, fans garis berat kaptennya sendiri.


"Ti-tidak, Kapten! Aku tidak melihat apa-apa," jawab Oluo.


Levi mengalihkan atensinya ke sebuah nampan yang dibawa Oluo, berisi sup sayuran hangat, sepotong roti, dan secangkir teh hangat, satu set sarapan yang sangat cocok di musim dingin namun tak bersalju kala itu. Levi tau sepertinya itu ditujukan untuknya.


"Apa Hanji yang menyuruhmu lagi?"


"Tidak, kali ini dariku dan yang lainnya juga. Sudah 3 hari kapten tidak makan. Kumohon pulihkan juga tenagamu, Kapten," bujuk Oluo.


Levi menghela nafas, "Aku tidak nafsu. Jangan memaksaku."


Oluo terkejut karena pertama kalinya ia melihat kaptennya tampak sedih meskipun ia tau kaptennya itu berusaha tetap bersikap tenang dan memasang wajah 'baik-baik saja'. Namun, ia bisa melihatnya.


Kapten Levi ternyata masihlah manusia berperasaan ya. Aku mengerti sekarang.. kenapa Petra selalu berusaha mendekati kapten, gumam Oluo.


"Petra.. pasti akan sedih jika kau seperti ini, Kapten." Oluo akhirnya angkat bicara.


Levi menoleh meminta penjelasan.


"M-maksudku.. kapten.. harus lebih memahami lagi bagaimana perasaan Petra. Aku dan bahkan yang lainnya tau.. dia tidak pernah menyerah untuk selalu memahamimu."


Levi terenyuh mendengar nasihat Oluo. Rasanya ia juga pernah diceramahi begitu oleh Eren, pun bocah Yeager itu juga mengatakan hal yang sama sebelumnya.


-FLASHBACK ON-


"Aku dan Oluo-san sudah selesai membersihkan lantai atas. Kami akan segera memasak," lapor Eren saat dirinya telah selesai dengan tugasnya. Siapa lagi kalau bukan Levi yang memberinya karena 'maniak kebersihan' nya itu muncul.


"Kamar Petra sudah?"


"Sudah, Kapten! Kapten bisa melihatnya sendiri."


"Baik, terimakasih, Eren."


Eren langsung memberi salute, "Sama-sama, Kapten!"


"Anu-Kapten.."


"Maaf, bolehkah.. aku menanyakan hal pribadi?"


Levi menautkan kedua alisnya, antara penasaran dan juga otak serta hatinya menyuruhnya untuk meladeni bocah Yeager ini.


"Siapa Petra-san bagimu, Kapten?"


Levi terhenyak mendengar pertanyaan itu. Dia ingin menjawabnya, namun ia harus memilih kata-kata yang tepat untuk membenarkan itu. Dan pada akhirnya ia menjawab, "Entahlah.."


Eren bukanlah bocah 15 tahun yang kelewat bodoh tidak paham akan hal itu. Berkali-kali ia melihat Petra selalu berusaha mendekati Levi dan kaptennya itu tampak tidak merasa terganggu ataupun risih dengan kehadiran Petra. Semua orang tau bahwa berurusan dengan seorang Levi sama saja dengan menguji mental batin. Namun, hanya Petra lah yang terlihat tenang mendekati Levi.


"Kapten.. hanya terlihat berbeda jika menyangkut Petra-san."


Eren yang melihat Levi menatapnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan itu langsung tertunduk. "M-maaf jika aku terlalu lancang, Kapten.."


"Begitukah?"


Eren terkejut melihat reaksi Levi yang malah sebaliknya. Ia pikir dirinya akan kembali menjadi samsak empuk kaptennya.


Levi menghela nafas lalu menjawab sekenanya, "Dia adalah bawahanku.. sama seperti yang lain. Namun, dia juga lebih dari itu. Aku tidak tau posisi apa itu."


"Sebaiknya, kapten juga belajar untuk memahami Petra-san."


-FLASHBACK END-


Kata-kata Eren itu dalam sekejap telah menjadi acuannya untuk berubah. Jika dipikir lagi, ia memang tidak pernah berusaha untuk memahami para bawahannya. Bahkan, ia dengan gamblangnya bertanya kepada Petra mengapa ia mendekatinya.


"Tapi.. meskipun begitu, semua tahu bahwa kapten orang yang sangat peduli terhadap perasaan orang lain," tukas Oluo lalu segera memberi salute dan pamit.


"Kalau begitu aku permisi, Kapten."


"Oluo.."


Oluo langsung merinding ketika sang kapten kembali memanggilnya, berpikir mungkin ia terlalu kelewatan untuk menasihati kaptennya. "Siap, Kapten! Maafkan aku!"


Namun, dirinya dibuat tercengang ketika ia melihat kaptennya tersenyum tipis sambil berkata, "Terimakasih atas nasihatmu.."


Oluo tanpa sadar ikut tersenyum lega sekaligus senang mendengarnya. Dan jangan lupakan dirinya yang akan semakin fanatik terhadap kaptennya.


...• • •...


Suasana di ruang pengadilan tampak ricuh karena panglima militer tertinggi, jenderal sekaligus hakim untuk kasus kali ini, Darius Zackley belum menampakkan diri. Di tengah-tengah ruangan tampaklah Nico yang telah diborgol. Sementara, di sayap kanan ruangan sudah ada perwakilan dari Pasukan Pengintai dan sebagian Polisi Militer, perwakilan Pasukan Penjaga dan sebagian Polisi Militer di sayap kiri, dan perwakilan rakyat di bagian tengah.


"Levi! Dimana kau cebol?! Kubunuh kau!" teriak Nico.


Levi yang berdiri di bagian sayap kanan tengah menahan diri untuk tidak menghajar Nico sekarang. Kedua kakinya sudah gatal ingin menendang wajah pria iblis itu.


"Hadirin harap tenang!"


Salah satu pengawal militer memberikan instruksi sehingga suasana ruangan pun menjadi hening. Tampak Hakim Zackley sedang memasuki ruangan dan langsung duduk di kursi singgasananya.


"Baik, akan kumulai sidang atas kasus ini!"


...----------------...