![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
"Dua hari lagi.. angkatan kalian akan latihan tarung fisik."
"Apa?!" Keempat anggota squad Levi itu pun sontak terkejut. Baru saja mereka selesai memberi laporan terkait pelatihan tadi siang, kini mereka dikejutkan lagi oleh sebuah kabar-entah itu bagus atau tidak.
"Sama seperti angkatan-104 tadi?" tanya Oluo memastikan, dibalas dengungan oleh kapten mereka.
"Kenaikan pangkat dan level. Jika ada peningkatan, Erwin sepertinya akan mempertimbangkan posisi kalian dalam formasi ekspedisi."
Keempat manusia itu memasang wajah serius. Sepertinya mereka sudah tau apa yang harus dilakukan. Iya, apalagi jika bukan berlatih.
"Ada yang belum jelas?"
"Sudah jelas, Kapten!" koor mereka serempak.
"Bagus. Kalian boleh keluar. Terimakasih atas laporan kalian."
Semua anggota squad Levi itu tak lupa memberi salute, tak terkecuali Petra. Namun, ia membiarkan dirinya tetap berada di ruangan itu, sampai satu pertanyaan terlontar dari kaptennya.
"Ada apa?"
"Seperti biasa, mau kubuatkan teh?" tanya Petra.
Levi mengerutkan dahi, "Stoknya masih ada?"
Petra segera memeriksa stok teh di pojok ruangan. Dirinya mengacungkan jempol sembari tersenyum, "Ada dua lagi."
Begitu mendapat anggukan dari kaptennya sebagai tanda persetujuan, dengan segera Petra menyajikan secangkir teh hangat. Pria itu sekarang sedang beralih ke beberapa kertas di mejanya, lagi.
Petra menaruh cangkir teh dengan perlahan di atas meja, khawatir cangkir itu sewaktu-waktu akan mengkhianatinya dan menumpahkan semua isinya. Hanya membayangkannya saja sudah mengerikan.
"Terimakasih, Petra," ucap Levi sembari mulai menyesapnya. "Temani aku disini."
"Eh? B-baik, Kapten."
Petra pun memilih duduk di salah satu kursi yang tersedia di depan meja. Dilihatnya dengan seksama wajah serius nan tajam dihadapannya. Safir legamnya tengah berkutat sibuk ke arah lembaran-lembaran putih berisi itu. Mungkin Petra harus memulai sebuah topik agar tidak terlalu canggung.
"Kapten, dengan waktu yang sudah sejauh ini.. kita sudah menjadi tim yang baik kan?"
"Iya, aku juga berharap begitu."
"Apa.. selama ini kau sudah menaruh rasa percaya sepenuhnya pada anggotamu, termasuk aku?"
Kini Levi menoleh, menatap gadis dihadapannya cukup lama. Tidak ada balasan yang keluar dari mulutnya, karena sekarang otaknya tengah mencerna dan berpikir..
Apa sebenarnya arti dari sebuah rasa percaya?
Levi hanya bisa meyakini bahwa selama mereka masih percaya satu sama lain, pasti akan menjadi satu keutuhan yang lebih baik lagi.
Seorang prajurit percaya satu sama lain dengan tujuan yang sama, tapi apakah ia harus percaya pada pilihan yang rekan-rekannya buat?
Atau percaya pada dirinya sendiri?
"Aku tidak mau terlalu percaya pada seseorang, Petra."
"Tapi.. tanpa sadar itu sudah kau lakukan.. seperti kau pada Komandan Erwin?"
Perkataan Petra pun tidak salah. Seberapa besar dirinya telah mempercayai Erwin? Bahkan, ia selalu mengikuti semua keputusan yang diambilnya.
"Menurutku.. percaya adalah ketika kau sudah menanam keyakinan bahwa itu hal yang benar, tidak peduli apa hasilnya nanti. Itu berlaku juga untukku, Kapten."
Gadis itu menarik nafas untuk mempersiapkan diri memulai topik inti. Kedua tangannya tertaut kuat, mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Ya, kali ini ia harus mengungkapkan perasaannya, mungkin?
Tak peduli apa yang terjadi. Jika kaptennya memutuskan untuk menjauh, tak apa. Dia sudah siap untuk semua hasilnya.
"Aku selalu percaya padamu, Kapten."
"Petra, aku tidak bisa menjanjikan apapun. Kau tau aku tidak sebaik yang kau pikirkan."
"Tidak masalah. Aku tidak peduli dengan hasil akhirnya. Itu sudah menjadi keputusanku untuk mempercayaimu."
Levi tidak bisa berkata. Ia tidak tau ingin membalas apa. Haruskah ia berterimakasih? Bahkan, lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengucapkan itu.
Hasil dari kepercayaan itu sendiri.. Levi bahkan tidak tau.
Tidak. Ia yakin tidak akan pernah mengetahuinya. Karena pada akhirnya pun ia hanya bisa menerima apa yang terjadi nanti.
Dan pada akhirnya.. semua hal hanya terus berlanjut..
Petra menghela nafas. Ia tau dirinya tidak akan bisa mengungkapkan perasaan yang 'sebenarnya'. Topik pembicaraan ini mungkin sudah dianggap terlalu aneh. Namun, tak bohong bahwa sebagian dari dirinya merasa lega sudah mengungkapkan salah satunya.
Pembicaraan ini tidak seperti saat dia dan Levi di balkon base waktu itu, mengalir secara alami. Kali ini Petra merasa bahwa kaptennya tidak banyak membalas. Apakah hanya dirinya seorang yang harus terus melanjutkan ini?
"Kapten.."
Levi hanya mampu menoleh. Tatapannya kali ini tidak setajam biasa, lebih seperti dipenuhi banyak pertanyaan.
"Aku.. bersyukur bisa mengenalmu. Berkatmu aku jadi mengerti.. apa arti sebuah perasaan pada seseorang."
Hingga ia pun memutuskan untuk mengungkapkan perasaan jujur lainnya sekaligus mengakhiri perbincangan beberapa menit itu.
"Mungkin hanya itu yang ingin kubicarakan. Terimakasih banyak, Kapten," ujar Petra sembari tersenyum. Kemudian dirinya segera beranjak meninggalkan kapten Pasukan Elite itu, yang masih menatapnya lekat.
"Tolong jangan bekerja terlalu keras. Biarkan dirimu beristirahat dengan cukup."
Sekali lagi gadis jahe itu mengukir senyuman lembut di wajahnya, membuat Levi merasa hangat dan tenang melihatnya, lagi. Lagi dan lagi, timbul perasaan aneh dalam hati kecilnya. Hingga bibirnya tergerak memanggil nama gadis itu.
"Petra-"
Namun, gadis itu ternyata sudah terlebih dulu keluar ruangan dan menutup pintunya.
Levi menghempas tubuhnya ke kursi, lalu memejamkan mata sejenak, masih dengan tema mencerna semua yang dikatakan gadis bernama belakang Rall itu. Entah kenapa otaknya kali ini terasa lambat menangkap sesuatu.
"Kenapa dia bicara begitu? Kenapa aku tak bisa menjawab tadi?"
Ada yang mengganjal lagi dalam benak dan hatinya, itu semua berkat Petra. Timbul banyak pertanyaan dalam dirinya, tapi bodohnya ia hanya bisa menampung semua itu.
Apakah inti pembicaraan Petra barusan adalah suatu pengakuan?
"Perasaan itu.. apa benar?"
Levi kembali teringat pada isi surat milik Petra yang sengaja dan tidak sengaja ia baca waktu itu. Ungkapan perasaan itu.. apa itu benar?
Dan ungkapan melanturnya saat tidur waktu itu.. apakah itu juga benar?
...• • •...
Melangkah menuju rumahnya ternyata membutuhkan usaha ekstra. Dengan segala perasaan yang masih berkecamuk, ditambah perbincangan dengan kaptennya yang bisa dibilang sepihak itu sukses membuat rumit pikirannya. Pun ia tetap memantapkan hati untuk ini.
Terlalu banyak pemantapan hati dan pikiran yang dilakukan hari ini.
"Kenapa aku sangat berani tadi-tidak.. kenapa aku sangat berani hari ini?"
Petra mengusap-usap dadanya. Ia harus yakin bahwa semua yang dilakukannya ini tidak apa-apa.
Kedua manik almond nya menyapu pandang, melihat lalu-lalang warga di sore hari. Sesekali ada yang menyapa, melambaikan tangan ke arahnya, dan tersenyum. Tak bohong hal sekecil itu menambah energi dan kekuatan untuk Petra terus melangkah.
Sampai dirinya di depan pintu itu lagi, ia menarik nafas panjang, mencoba memasang ekspresi biasa sebisa mungkin.
"Nona Petra?"
Gadis itu dengan cepat menoleh, mendapati tetangga yang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri, sedang tersenyum kearahnya.
"Ah, Bibi Yara!"
"Sepertinya.. aku baru melihatmu pulang lagi. Kau kemana saja, Nak?"
"Itu.. aku sangat sibuk di markas. Banyak tugas yang harus dikerjakan dan aku pun harus membantu atasanku. Jadi, aku tidak sempat pulang," jawab Petra setengah berbohong.
"Oh, begitu rupanya. Kau masih bisa mampir pun aku sudah senang. Nami terus menanyai kabarmu. Katanya.. dia ingin main bersamamu."
Petra tersenyum kecil, "Katakan padanya itu janjiku. Aku juga akan mengunjungimu lebih sering lagi."
"Terimakasih, Nak. Syukurlah, Bibi dan Nami tak pernah menyesal mengenalmu dan keluargamu. Kau anak yang sangat baik."
"Terimakasih banyak, Bibi."
"Sama-sama, Nak. Jika butuh bantuan, jangan sungkan untuk bilang padaku."
Petra tersenyum lembut sembari mengangguk, dan segera pamit masuk ke dalam rumah.
...• • •...
"Aku pulang."
Tampak raut khawatir dari wajah pria yang mulai keriput. Si empunya perlahan menghampiri dengan tangan yang sedang memegang sapu.
"Kau darimana saja, Petra? Kau tau aku mencemaskanmu. Sudah hampir tiga hari kau tidak pulang," tutur Tuan Rall.
Sungguh Petra sangat lega mengetahui ayahnya masih mengkhawatirkannya. Diam-diam gadis itu bersyukur. Namun, untuk sekarang ia tidak bisa menampakkan raut kerinduannya. Ia harus menahannya.
"Ayah, aku ingin bicara."
Melihat raut wajah putrinya yang serius, Tuan Rall pun ikut merelakan rasa cemasnya sejenak.
"Apa itu, Nak?"
"Kita bicara di ruang tamu saja."
Petra pun berjalan lebih dulu, diikuti sang ayah yang mungkin sudah terlahap rasa penasarannya. Kenapa putrinya tiba-tiba mengajak bicara setelah pulang ke rumah? Biasanya sambutan darinya dibalas dengan girang.
Begitu ayah dan anak itu sudah dalam posisi nyamannya, sang anak mulai menarik nafas panjang sambil menautkan kedua tangan.
"Beritahu aku.. apa yang terjadi sebenarnya?"
Tuan Rall memasang raut kebingungan, "Apa maksudmu, Nak?"
"Kalau kau berbohong padaku sekali lagi, aku tidak akan kembali ke rumah. Ayah.. tidak akan pernah melihatku lagi."
Betapa terkejutnya Tuan Rall mendengar ucapan putrinya. Rasa khawatirnya semakin bertambah ketika melihat Petra sudah berkaca-kaca dengan tubuh yang gemetar. Dan sang kepala keluarga itu menyadari bahwa putrinya sudah mencari tahu kebenaran dalam keadaan ini.
Tuan Rall menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Betapa gugupnya ia berhadapan dengan putrinya sendiri sekarang. Ia takut hal ini akan terjadi.
Tidak. Mungkin sudah saatnya untuk memberitahu yang sebenarnya. Sudah cukup ia menyembunyikan selama ini, karena cepat atau lambat Petra akan mengetahuinya.
"Aku berutang.. untuk membayar perawatan Ibumu."
Petra berusaha mendengarkan setiap kata pengakuan yang keluar dari mulut ayahnya, walaupun bulir-bulir bening sudah ingin mendobrak kelopak matanya sedaritadi.
"Aku sudah berjanji akan membayarnya. Ternyata.. aku salah memilih pihak. Mereka adalah orang-orang jahat dan kejam."
Tuan Rall menatap Petra yang masih tertunduk enggan untuk menatapnya. Dilihatnya putrinya sedang berusaha menahan tangis.
"Lalu?"
"Aku tidak tau.. bahwa mereka memiliki ilmu semacam itu. Salah seorang pimpinan mereka membuatkanku dua pilihan untuk dijadikan tebusan. Dua perempuan.. atau satu laki-laki.."
Petra sangat mengerti yang dimaksud dengan 'dua perempuan atau satu laki-laki' itu adalah dirinya, ibunya, dan Revan, sudah jelas.
"Dan aku pun berhasil dihipnotis. Mereka bilang padaku.. bahwa aku memilih satu laki-laki. Aku.. tak menyangka.. bahwa laki-laki itu adalah Revan.. anak Ayah sendiri.."
Petra tak kuasa lagi menahan tangisnya. Ia langsung meremas erat dadanya sambil menutupi wajahnya. Suara tangis pun terdengar dari sepasang ayah dan anak itu.
"Ya, Tuhan.. haaahh.."
Petra terus meremas dadanya yang terasa sangat sesak. Berapa kali ia mencoba mengatur nafasnya. Berapa kali juga ia menggelengkan kepala, mencoba menepis semua ini.
Tidak. Ia tidak mau mempercayai semua ini. Omong kosong. Bohong. Tidak mungkin perkataan Nico menjadi kenyataan.
Tiba-tiba Petra dikejutkan dengan Tuan Rall yang langsung berlutut dihadapannya, membuat isak tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Ayah tidak punya pilihan lagi, Nak. Ayah tidak bisa.. membiarkan Ibumu terus menahan rasa sakitnya. Ayah juga terlalu malu untuk terus bergantung pada hasil jerih payahmu.. sebagai seorang prajurit."
Sungguh lidah Petra terasa kelu, tidak tau ingin berkata apa. Rasanya semua huruf yang ia pelajari telah hilang begitu saja. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dengan tubuh yang membeku total.
"Aku tidak pantas menjadi seorang Ayah. Aku.. pantas dihukum. Aku telah membunuh adikmu.." tangis Tuan Rall semakin tersedu-sedu.
Petra sudah tidak bisa menahannya lagi. Sebisa mungkin ia tidak ingin meluapkan semua emosinya disini.
Ia pun langsung beranjak dari posisinya. Sempat tangannya ditahan oleh Tuan Rall, namun langsung ditepisnya keras, meninggalkan sang ayah yang terus menangis disana.
...• • •...
Petra menjatuhkan tubuh gemetarnya di belakang pintu kamar, menenggelamkan wajahnya yang mungkin sudah terlihat berantakan sekarang.
Ini.. benar-benar terjadi.
Kebenarannya.. benar-benar sudah terungkap dengan jelas.. dari ayahnya sendiri.
Keadaan yang selama ini ia anggap baik-baik saja.. semuanya bohong.
Petra menggertakkan giginya kuat. Kedua tangannya mencengkram erat surai jahe miliknya. Kepalanya tergeleng kuat berulang kali.
"Aaarrgghhh!!! Aaaarrrgghhh!!!! Aaaaaaaa..."
Petra memukul dadanya yang terasa semakin sesak. Sejenak ia tidak bisa bernafas dengan baik. Dirinya tiba-tiba merasa sangat mual. Kepalanya terasa sakit hingga berakhir ia pun memukulnya juga.
"Kenapa.. Kenapa.."
...• • •...
Seseorang telah sampai di sebuah kelab malam yang beroperasi di jalan terpencil nan kecil di daerah pinggiran Distrik Ehrmich. Bisa dikatakan bahwa daerah tersebut adalah daerah yang sangat jarang diketahui orang banyak.
Sosok itu tampak sedang mengeratkan resleting jaket hitamnya. Langkahnya pun mulai memasuki tempat tersebut. Seketika terlihat pemandangan para manusia yang sedang sibuk dengan urusan duniawi. Bercinta, bermabuk ria, berdansa. Diiringi cahaya lampu terang yang berganti warna per detiknya.
Mengabaikan berbagai pemandangan itu, seseorang itu lebih memilih untuk menghampiri pria bertato lengkap dengan berbagai gambar di sekujur tubuh, yang tengah menikmati sebatang rokok di meja paling ujung. Tampak dua pengawal berbadan besar setia berdiri di belakangnya.
"Kau harus menepati janjimu."
Pria bertato itu menghembuskan asap rokoknya dengan tenang. Senyuman mengerikan terukir di wajahnya.
"Tetap pada pak tua itu.. atau.. gadis muda?"
Sang lawan bicara sontak tersenyum girang sembari bertepuk tangan cukup keras. "Ada gadis muda?!"
"Putri pak tua bodoh itu. Kau mau mengambilnya?"
"Tentu saja! Dia mangsa yang lebih menarik ketimbang seorang pria tua keriput."
Pria bertato itu tertawa pelan sembari memainkan batang rokoknya. Pandangan lekat memicingnya langsung mengarah pada sang lawan bicara.
"Tunggu hingga empat hari ke depan, kau boleh mengambilnya."
...-----------------...
Sumpaa.. part ini sedih bet menurutku asli (ga tega mode on) 😭
Bayangin ama kalian perasaan Petra gimana?? Pasti nyesek banget. Kira-kira dia bakal gimana ya nanti?
Oyaa untuk part ini ada inspirasi dari video visual novel rivetra. Judulnya [SNK Visual Novel : "Burning Bright in the Forest of the Night"
Because ada beberapa kalimat yang menurutku bagus maknanya dan relate ❤👌🏻
Kalo kalian mo cek link video ada dibawah ini yak!
-https://youtu.be/weKwDpLWi0s-
Oiyaa Author juga belum ngucapin nii..
HAPPY NEW YEAR!! WELCOME 2022!! 🎉🎉
Semoga di taun yang baru dan fresh ini banyak hal baiknya (aamiin), harapan tercapai (aamiin), makin sukses (aamiin), sehat selalu (aamiin), dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi AAMIINN 🙏🏻
Maapin yaa keknya taun baru disambut dengan sad part wkwkwk (senyum jahat Author 😈)
YUKK SEMANGAATT ATUH 2022!!